Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2019

Laba Bersih PT PPA Naik 158 Persen


PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA mencatat kenaikan signifikan dalam laba bersih dan pendapatan usaha. Tercatat, laba bersih PT PPA hingga semester I 2019 melonjak 158 persen secara tahunan menjadi Rp 100,9 miliar.

Perolehan pendapatan usaha juga meningkat 13,59 persen menjadi Rp 2,24 triliun. Kontribusi pendapatan terbesar yaitu dari pendapatan jasa kontruksi sebesar 82,9 persen yang dijalankan PT Ninda Karya (Persero) sebagai anak perusahaan PT PPA.

Pendapatan lainnya berasal dari hasil investasi, pendapatan bunga dan provisi, serta pendapatan dari jasa konsultan.

Peningkatan pendapatan juga didukung oleh kontribusi dan kinerja dua anak perusahaan PT PPA, yaitu PT PPA Kapital (PPAK) yang telah melakukan investasi di beberapa investee companies, serta PT PPA Finance (PPAF) sebagai perusahaan multifinance yang kinerjanya akan terus ditingkatkan, ujar Direktur Utama PT PPA Iman Rachman dalam pernyataan resminya, Kamis (24/5/2019).

Tahun ini, PT PPA percaya bahwa laba dan pendapatan usahanya akan konsisten bertumbuh. Untuk tahun 2019, perseroan menargetkan pendapatan usaha sebesar Rp 9,81 triliun atau tumbuh 48,83 persen, sementara laba bersih ditargetkan sebesar Rp 520 miliar atau tumbuh 21,49 persen dibanding tahun 2018.

Iman Rachman menyebut kini PT PPA mendapat tugas pemegang saham untuk melaksanakan restrukturisasi sejumlah BUMN, di antaranya PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Industri Gelas (Persero), dan PT Survey Udara Penas (Persero) agar mereka dapat kembali sehat, baik karena bisnis model eksisting, baru, atau tanpa investor.


Ke depannya, Iman berharap dengan pengalaman PT PPA di bidang investasi, restrukturisasi BUMN dan pengelolaan aset, maka PPA dapat menjadi sebuah Nasional Aset Management Company (perusahaan pengelolaan aset nasional) yang salah satunya akan menangani Non Performing Loan (NPL) perbankan.

PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) memastikan, PT Kertas Leces mengalami pailit atau bangkrut. Hal tersebut sesuai dengan putusan pengadilan, yang menyebut perseroan penghasil kertas ini tidak bisa menjalankan operasional dengan sehat.

PT Kertas Leces (Persero) dinyatakan pailit sejak tanggal 25 Sempeteber 2018 sesuai dengan putusan No.43 PK/Pailit/Pdt.Sus-Pailit/2019 No 01/Pdt.Sus, ujar Corporate Secretary PPA Edi Winanto di Jakarta, Senin (9/9).

Usai dinyatakan pailit, Kertas Leces diwajibkan membayar kewajiban kepada negara dalam hal ini untuk PT PPA sebesar Rp 9 miliar. Namun seiring berjalannya waktu, Kertas Leces hanya menyetorkan Rp 1,2 miliar dari penjualan aset.

Hakim pengadilan niaga bermasalah yang keliru menerapkan undang-undang kapan pemegang hak tanggungan, memulai pelakasanaan haknya dan lelangnya.


Edi menambahkan untuk membayar utang, Kertas Leces telah menjual aset sebesar Rp 11 miliar di kawasan Radio Dalam. PPA selaku pelawan mengajukan perlawanan dan keberatan atas pembagian hasil lelang di mana PPA hanya mendapat Rp 1,2 miliar.

Tanggungan yang sebesar Rp9,5 miliar sampai sekian lama kurator menerbitkan daftar pembagian kuata di mana PPA hanya memperoleh pembagian Rp 1,2 miliar, PPA mengajukan keberatan alasan keberatan PPA seharusnya memiliki hak Rp 9,5 miliar.

Rabu, 22 Mei 2019

Jokowi Menyambut Baik Prabowo - Sandi Bawa Sengketa Pilpres ke MK


Berita Dunia Jitu - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyambut baik upaya kandidat capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membawa sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Jokowi menjelaskan, semua penyelesaian perselisihan terkait Pemilu 2019 telah diatur undang-undang. Secara konstitusional, perselisihan pemilu dapat digugat melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atau MK.

"Bahwa segala perselisihan, sengketa itu diselesaikan melalui MK. Dan saya menghargai Pak Prabowo-Sandi yang telah membawa sengketa Pilpres kemarin ke MK," ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Jokowi yakin, MK akan menangani semua sengketa Pemilu 2019 secara adil. "Saya juga meyakini hakim di MK akan memutuskan sesuai berdasarkan fakta yang ada," tuturnya.

Alasan Prabowo-Sandi Gugat MK

 


Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memutuskan mengambil langkah-langkah konstitusional atas hasil rekapitulasi suara nasional Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Langkah ini diambil setelah kubu pasangan capres cawapres 02 ini menolak membawa masalah Pilpres 2019 ke MK.


"Yang jelas Pak Prabowo Sandi memutuskan langkah-konstitusional. Di awal memang kita mendapatkan banyak masukan terkait dengan kondisi hukum belakangan ini yang sulit dipercaya maka kemudian kita sempat menyatakan tidak ke MK," ujar Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak di rumah Kertanegara, Selasa (21/5/2019).

Dia menuturkan, pengajuan gugatan ke MK setelah ada banyak masukan dari daerah-daerah di wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Papua, NTT, Sumatera Utara.

Daerah-daerah tersebut, kata Dahnil sudah menyiapkan banyak bukti-bukti pelanggaran kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif. Daerah-daerah itu menyarankan supaya BPN melakukan langkah langkah konstitusi.

"Maka Pak Prabowo mendengar aspirasi dari daerah itu walaupun terus terang kami mengalami distrust kepada institusi hukum tapi karena ada desakan dari daerah-daerah maka kami memutuskan langkah hukum, ya seperti apa kan tentu ada waktu beberapa hari ini," kata dia.

Sumber

Rabu, 15 November 2017

Over Spekulasi Agama, Buni Yani Di Anggap Pahlawan Al Maidah

Over Spekulasi Agama, Buni Yani Di Anggap Pahlawan Al Maidah

Berita Dunia Jitu - Dari pengedit video, peng-upload video, penjual mug, sampai kepada pahlawan Al-Maidah, semua gelar sudah dimiliki oleh BY, mantan dosen LSPR yang membuang diri dari jabatannya karena status tersangkanya pada tanggal 8 Oktober 2016 silam. Sudah satu tahun lebih orang ini lepas dari jabatan dosen/pengajar di London School of Public Relation.

Sempat luntang lantung dan mencari-cari jabatan, mulai dari berjualan mug, hingga pada akhirnya ia dianggap sebagai pahlawan Al-Maidah. Bahkan pahlawan Al-Maidah ini dicetak dan dikenang. Foto BY dan gelar penobatan pahlawan salah satu surat di Alquran ini bahkan dicetak di sebuah lencana plastik. Apa? Lencana plastik? Ya betul sekali! Pin yang biasanya anak-anak dapatkan.

Setelah fotonya terpajang di mug alias cangkir beling cantik, fotonya pun akan diabadikan di sebuah pin plastik, dengan peniti yang mudah bengkok jika dicoba colok ke baju yang tebal. Hahaha. Ini adalah bentuk penghargaan dari para laskar nomor togel kepada BY, sang pahlawan Islam. Lucunya, gelar dosen yang begitu baik, dibuang begitu saja karena mungkin ia ditekan secara mental dan disuruh keluar secara mandiri, ketimbang ditendang oleh pihak LSPR.

Sebenarnya pantaskah BY dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan? Sebelum kita membahas itu, izinkan saya untuk menjelaskan apa arti pahlawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani.

Pahlawan itu muncul dari bahasa Sansekerta yang aslinya phala-wan. Phala artinya buah pala, dan wan adalah orang yang mendapatkan buah pala yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama. Menurut Perpres 33 tahun 1964 tentang siapa yang layak mendapatkan gelar pahlawan ada beberapa syarat.

Pertama, pahlawan adalah WNI yang gugur atau tewas akibat tindak kepahlawanannya yang cukup memiliki mutu dan nilai jasa perjuangan. Kedua, WNI yang masih diberikan hidup, yang sudah melakukan tindak kepahlawanan yang membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan unutk bela negara.

Jadi dari penjelasan mengenai KBBI dan Perpres, sudah jelas bahwa BY itu sebenarnya jauh dari gelar pahlawan, apalagi pahlawan Al-maidah. Mungkin lebih cocok ia menjadi polwan atau abangan ketimbang seorang pahlawan. Ahok jauh lebih pantas mendapatkan gelar pahlawan, bahkan pahlawan Almaidah.


Saya yakin, dengan kasus Ahok, lebih banyak orang Islam yang mempelajari kitab sucinya, dan membuka kitab Almaidah. Jadi dengan demikian, Ahok lebih pantas masuk sebagai pahlawan yang membela kebenaran dan berjasa untuk membuka mata para muslim untuk lebih melek Alquran. Ini fakta, buktinya dengan teman-teman kuliah saya yang mulai bertanya-tanya dan penasaran mengenai surat ini. Terima kasih Ahok.

Selanjutnya, BY yang divonis 1,5 tahun penjara, menurut saya sudah menjadi pertimbangan yang matang oleh para hakim. Hakim memvonis BY 1,5 tahun penjara, mungkin tanpa pertimbangan tertentu, hanya berdasarkan pertimbangan jaksa penuntut umum dan tim kuasa hukum BY. Namun begini, saya lebih melihat bagaimanapun juga, Tuhan sedang mengintervensi hukum di Indonesia. Mengapa?

Saya melihat dalam waktu tersebut, BY dan Ahok diprediksi akan keluar bersama, dan kita dapat melihat siapa yang keluar sebagai pahlawan, siapa yang keluar sebagai onggokan sampah masyarakat. Kita lihat saja sekarang ini, sebelum BY divonis pun, ia sudah menjadi sampah masyarakat yang dibully, hidupnya sudah, dan bahkan ia mengakui hal tersebut. Tekanan-tekanan massa dan mimpi buruknya, membuat ia harus berada di bawah tingkat stress.

Mungkin ada saja orang yang menghibur dirinya dan menganggap dirinya sebagai pahlawan, namun percayalah, di dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa itu hanyalah pelipur lara. Gelar pahlawan Almaidah itu tidaklah pernah nyata. Kebenaran itu hanya menjadi sebuah informasi yang hambar, karena tidak ada korespondensi dan koherensi dengan kenyataan. Sederhananya, Buni Yani hanya diberikan sebuah placebo alias obat bohong-bohongan, untuk menghibur diri.

Bahkan menurut saya, sumpahnya di bawah Alquran pun tidak dianggap serius, karena ia yang sempat bersumpah tidak memotong video, malah divonis hal yang demikian. Inilah yang saya katakan bahwa BY tidak lebih dari sampah yang tidak lagi digunakan oleh masyarakat, karena sudah dengan sangat lancang bermain-main di bawah kitab suci.

Sumber

Buni Yani Di Vonis Bersalah

Buni Yani Di Vonis Bersalah

Berita Dunia Jitu - Akhirnya jatuh juga vonis untuk seorang dosen bernama Buni Yani. Persidangan yang telah berlangsung sejak beberapa bulan silam ini akhirnya memberikan keputusan yang sah setelah diketuk palu oleh ketua majelis hakim M Sapto hari ini 14 November 2017.

Oleh jaksa penuntut umum, Buni dituntut dengan pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan. Jaksa yang mewakili rasa keadilan publik Indonesia menilai Buni Yani terbukti bersalah atas kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 32 ayat 1 karena telah dengan sengaja dan tanpa hak menambah serta mengurangi informasi elektronik dan dokumen elektronik milik publik atau pribadi.

Buni Yani di sisi lain tentu saja dengan gagahnya merasa tidak bersalah sedikit pun atas kekacauan yang telah terjadi karena postingannya. Bahkan hari ini pun masih saja dia mengucapkan kata-kata seperti di bawah ini.

"Dalam persidangan yang mulia ini saya berulang kali menyampaikan mubahalah saya, sumpah paling tinggi dalam agama Islam. Saya tidak pernah memotong video." ucap Buni Yani

"Dan, apabila hari ini saya diputus bahwa saya dinyatakan bersalah dalam perkara ini, orang yang menuduh dan orang yang memutuskan perkara ini karena telah menuduh saya memotong video mudah-mudahan orang tersebut kelak akan dilaknat oleh Allah," ucap Buni Yani
Dan hari ini, kita semua telah mengetahui vonis untuk kasus ini. Pada akhirnya, terdakwa Buni Yani divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan penjara.

"Menyatakan terdakwa Buni Yani terbukti secara sah bersalah melakukan mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik," ucap ketua majelis hakim M Sapto dalam sidang di Gedung Arsip, Jalan Seram, Bandung, Jawa Barat.
Buni Yani Tidak Penting Lagi

Sebenarnya, menurut saya pribadi, tidak penting lagi apa vonis yang dijatuhkan kepada Buni Yani. Bagi saya dia mau dipenjara atau mau dibebaskan bukanlah lagi suatu hal yang amat sangat layak kita perdebatkan berbulan-bulan di acara talk show ataupun dalam portal opini.

Karena dampak dari yang ia lakukan telah terjadi. Penyebaran kebencian terhadap unsur SARA telah merebak luas di negeri ini. Salah satu pejabat terbaik yang dimiliki bangsa ini telah dipenjara. Konflik horizontal dimana-mana yang terjadi karena kurangnya toleransi dalam kehidupan beragama pun sudah tercatat dalam sejarah Indonesia (patung ditutup kain, acara keagamaan dibubarkan, dan lain-lain).

Buni Yani mau dipenjara atau dibebaskan sudah tidak penting lagi jika dilihat dari dampak yang telah terjadi karena perbuatannya. Namun demikian, menurut saya hal itu menjadi penting jika dilihat dari kacamata kemungkinan apa yang bisa jadi akan terjadi di masa depan.

Yang Saya Awalnya dan Kini Khawatirkan

Yang saya awalnya khawatirkan bukan perasaan para pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang akan sangat kecewa ketika Buni Yani divonis bebas. Yang saya khawatirkan awalnya juga bukan apakah para pendekar keyboard di negeri ini akan ketiban rejeki sehingga media sosial kita akan sangat ramai kembali.

Yang saya khawatirkan sebelum mendengar hasil vonis adalah apa yang bisa terjadi ketika Buni Yani bebas. Yang ada dalam bayangan saya adalah bebasnya Buni Yani akan berdampak sosial yang sangat besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Ketika seseorang yang telah melakukan provokasi dengan unsur SARA dan dampaknya telah sangat jelas terjadi di akar rumput masyarakat Indonesia divonis bebas, bukankah artinya tidak apa-apa melakukan hal yang sama dan tidak perlu khawatir akan mendapatkan hukuman pidana?

Ketika seorang sudah jadi terdakwa saja masih saja melakukan sumpah serapah dan mengeluarkan kata-kata yang bagi saya mengancam hakim seperti di atas lalu kemudian dibebaskan dari segala tuduhan pidana, entah apa lagi kata-kata yang akan keluar dari mulutnya?

Yang saya tadinya khawatirkan adalah hilangnya nalar akal sehat dari negeri ini. Yang saya khawatirkan adalah semakin merebaknya ajaran yang mengujar kebencian terhadap sesama warga Indonesia yang berbeda suku, ras, agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Yang saya tadi siang khawatirkan adalah masa depan anak-anak Indonesia yang beberapa bulan lalu meneriakkan 'bunuh... bunuh... bunuh si **' itu. Yang saya tadinya khawatirkan adalah bagaimana generasi penerus bangsa ini dapat fokus untuk membangun negerinya ketika terus diajarkan untuk menghakimi perbedaan ketika hidup di tempat yang mana orangnya berbeda-beda ini?

Kesesatan yang diteriakkan terus menerus akan dianggap sebagai sebuah kebenaran Ilahi. Kebatilan yang dibalut dengan agama dan digaungkan terus menerus bisa jadi akan dianggap sebagai sebuah kemuliaan.

Yang kini saya khawatirkan adalah kelompok mereka terus melakukan provokasi dan terus meneriakkan yang itu-itu lagi. Masalah agama lagi, pembelaan agama lagi, penzoliman terhadap kaum agama tertentu lagi. Itu lagi dan itu lagi yang dijual dan digoreng.


Mereka akan terus membodohi orang-orang bodoh (maaf) yang ada di negara kita. Dan pastinya mereka akan terus membawa-bawa unsur agama dan terus menekankan perbedaan di antara kita.

Belum juara berapa menit, hashtag "BuniYaniTidakBersalah" dan "BebaskanBuniYani" sudah menggema di media sosial Twitter. Memang hal ini tidak mengejutkan, namun kalau tidak dikelola dengan baik bisa saja jadi membahayakan. Orang-orang yang tidak paham ini harus cepat-cepat diselamatkan ke daratan, karena mereka juga adalah putra-putri bangsa ini.

Yang kini saya khawatirkan adalah proses hukum selanjutnya karena ini bukan akhir. Jangan sampai Buni Yani menang di tahap banding ataupun kasasi. Jangan sampai! Karena kalau tidak, orang-orang seperti dia tidak akan merasa bersalah karena telah mengakibatkan perpecahan bangsa kita. Karena kalau tidak, saya khawatir nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan mulia akan hilang dari dalam jati diri bangsa ini...

Penutup

Tuhan memang tidak pernah tidur. Saya sangat percaya akan hal ini dan tidak pernah sedetik pun saya meragukan hal itu. Hukum karma itu pasti ada, karena menurut saya itu adalah hukum yang paling adil yang menopang keberlangsungan alam semesta dimana kita hidup saat ini.

Akhirnya sang jagoan Buni Yani dijatuhi hukuman juga. Meski ini bukan akhir, tapi bagi saya ini adalah awal kemenangan dari keadilan sosial di Bumi Pertiwi kita tercinta.

Saya mau mengajak masyarakat Indonesia yang belum berubah untuk berubah. Mayoritas elemen bangsa ini harus bisa membedakan yang mana yang menyesatkan dan yang mana yang memberikan penerangan batin. Umat-umat beragama di Indonesia harus dapat membedakan pemuka agama yang mana yang patut didengar dan yang mana yang selayaknya tidak didengar. Rakyat Indonesia harus bisa membedakan yang mana yang menzalimi yang mana yang terzalimi.

Memang benar bahwa sang waktu akan membuktikan apakah dipenjaranya Buni Yani memang berdampak positif terhadap kehidupan sosial di masyarakat kita seperti apa yang saya harapkan.

Dan kemudian seorang putra bangsa Indonesia tersebut pun menyudahi tulisannya. Ia menutupnya dengan menyampaikan bahwa harapan dan doanya sebagai warga negara Indonesia yang mencintai negerinya hanya satu.....

yaitu semoga saja negaranya terus damai dan masyarakatnya dapat hidup berdampingan satu sama lain.

Dan untuk menjaga negara kita untuk terus damai adalah tugas kita bersama: ia sendiri, kamu, dan dia. Tanggung jawab kita semua, lepas dari apa suku, agama, ras dan kepercayaan kita.

Dari sebatang pohon yang ingin berdiri kokoh dan tegar di tengah badai dan topan…

Sumber

Selasa, 14 November 2017

Ruhut Mementahkan Klarifikasi PAN Tentang JR.Saragih Berduet Dengan Mumtaz Rais

Ruhut Mementahkan Klarifikasi PAN Tentang JR.Saragih Berduet Dengan Mumtaz Rais

Berita Dunia Jitu - Memanasnya Pilkada Sumut beberapa hari ini, menurut penulis disebabkan oleh bertebaran wacana-wacana dipermukaan bahwa JR. Saragih Bupati Simalungun 2 periode yang berniat mencalonkan diri dalam pertarungan Pilkada Sumut tahun 2018. Wacana yang betebaran adalah JR. Saragih yang telah resmi didukung Partai Demokrat berpasangan dengan putra dari Amien Rais yakni Mumtaz Rais.

Menurut penulis wacana ini dihembuskan terlebih dahulu ke publik, bertujuan untuk mengetahui bagaimana penilaian masyarakat bila kedua tokoh tersebut disandingkan. Bak gayung bersambut masyarakat langsung merespon atas tersiarnya kabar ini tetapi dengan respon yang kontra, penuh sindiran dan kritikan. Wacana JR. Saragih disandingkan dengan Mumtaz Rais yang merupakan putra dari Amien Rais yang beberapa waktu yang lalu dengan penuh semangat pada saat Pilkada serentak sebelumnya meneriakkan jangan pilih pemimpin kafir.

Wacana yang dihembuskan JR. Saragih berpasangan dengan Mumtaz Rias menuai tanggapan monohok yang jelas akan berpengaruh dalam pilkada Sumut tahun depan, Mayoritas masyarakat malah memberi sindiran dan kritikan karena JR. Saragih yang beragama Kristen protestan. Jelas menurut pendapat kelompok sebelah adalah golongan manusia kafir yang tidak layak jadi pemimpin.

Kondisi saat ini yang dirasakan oleh AR ibarat peribahasa mulutmu harimaumu dan menanam angin menuai badai. Dimana kata-kata “jangan memilih kafir” menjadi dilema bagi kelompok AR saat ini. Jika wacana ini benar adanya pada saat detik-detik akhir pendaftaran ke KPU maka penulis memprediksi bahwa JR. Saragih bersama Mumtaz Rais adalah pasangan calon penghibur saja.

Kemenangan tidak akan dapat diraih karena rakyat Sumut banyak yang tersinggung akan ucapan dari AR tersebut. Rakyat sumut yang heterogen dan terkenal dengan daerah yang menghargai pluralisme, dibuktikan salah satu kotamadya yakni Pematangsiantar yang didaulat menjadi daerah paling pluralisme di Indonesia. Meskipun daerahnya mayoritas non muslim tetapi tetap menerima dengan lapang dada dipimpin oleh pemimpin muslim.

Hasil yang diprediksi oleh penulis ini berdasarkan beberapa faktor-faktor pendukung selain kata-kata yang bernuansa SARA dari AR beberapa waktu yang lalu. Faktor pendukungnya adalah kinerja dari JR. Saragih memimpin Kabupaten Simalungun dalam 2 periode ini dapat dikatakan gagal. Penulis yang berasal dari Kabupaten tersebut telah melihat langsung bagaimana kondisi asli dilapangan, Meskipun dibeberapa media baik online dan televisi miliknya sendiri telah dibuat framing yang indah tetap saja sesuatu kebusukan tidak akan dapat disembunyikan.

Meskipun telah diklarifikasi oleh pihak DPP PAN dan AR bahwa wacana JR. Saragih dengan Mumtaz Rais tidak benar adanya. Efek negatip dari wacana ini akan berdampak bagi JR. Saragih yang membangun karakter seorang religious dan nasionalis, Serta efek negatip bagi AR dan PAN yang telah menyuarakan jangan memilih pemimpin kafir. Seperti peribahasa Menjilat Air Liur Sendiri.

Klarifikasi bahwa wacana-wacana dukungan terhadap JR. Saragih dan menyandingkan Mumtaz Rais yang diberikan oleh pihak PAN sudah termasuk terlambat. Masyarakat sudah terlanjur mencerna dan berpandangan negatip dengan wacana ini. Penulis menganalisa wacana yang menyebar ini dibantah karena respon dari masyarakat hampir semua kontra dan tidak sepakat dengan wacana ini.

Penulis sepakat dengan beberapa statement seorang tokoh dan masih marupakan kader Partai Demokrat yakni Ruhut Sitompul yang membongkar dengan terang-terangan bagaimana duduk cerita sebenarnya tentang wacana JR. Saragih Bupati Simalungun 2 periode dan Ketua Partai Demokrat Sumatera Utara disandingkan dengan Mumtaz Rais putra dari Anien Rais.

Statement yang disampaikan oleh Ruhut Sitompul via akun sosial media Twitter resminya @ruhutsitompul, antara lain :

Twitan ini dipublish pada pukul 8:08 WIB dan tanggal 13 Nov 2017
Ha ha ha inilah Politik 2+2= tidak selalu 4 tapi bisa 7-8 atau 9 hasilnya, Contoh AR Anaknya Calon Wakil Gubernur boleh berpasangan dengan Calon Gubernur yang KAFIR di SUMUT "Tuhan ma'afkan Dia karena tidak tau apa yang AR perbuat" aaaaaaamin MERDEKA.

Twitan ini dipublish pada pukul 17:21 WIB dan Tanggal 13 Nov 2017
Ha ha ha jangan sekarang ngeles itu HOAX kenapa dari beberapa hari sebelumnya di Medsos ramai Foto JR Saragi & Anaknya Calon Gubernur & Wagub SUMUT nggak dibantah HOAX dan Aku sudah Cek ke KaderKu di PD SUMUT Orang Dekat JR Saragih mengaaaaaaaminkan MERDEKA.

Twitan ini dipublish pada pukul 17:46 WIB dan Tanggal 13 Nov 2017
Ha ha ha PD bukan PartaiKu yang pertama tapi PartaiKu yang terakhir, sampai sekarang Aku masih Kader PD Pak SBY nggak mau memecat walaupun ada yang minta Aku dipecat, Gusti Ora Sare tapi sekarang tidak aktif "Kerja dulu cari sesuap Nasi" Lanjutkan MERDEKA.

Berdasarkan informasi dari akun resmi Twitter Ruhut Sitompul menerangkan secara terang benderang bahwa wacana JR. Saragih dan Mumtaz Rais adalah sebuah strategi politik yang diketahui oleh kedua kubu. Tetapi respon yang timbul dari masyarakat adalah sindiran dan kritikan sehingga harus beradegan dengan memberi pendapat di media seakan-akan itu adalah wacana hoax yang disebarkan cebong-cebong. Jadi berdasarkan fakta-fakta ini siapakah yang dimaksud cebong-cebong tersebut ?

Semoga artikel ini bermanfaat bagi semua sahabat Seword dalam menelaah dan mengamati, siapakah sebenarnya tokoh-tokoh negara yang memang jujur untuk melayani masyarakat dan siapa yang hanya beradegan seakan-sekan baik padahal penuh dengan kebusukan dan kepura-puraan. Terakhir terima kasih buat Ruhut Sitompul yang telah rela membeberkan kepada masyarakat tentang kebenaran wacana yang berkembang ini semoga saja tidak menuai kontroversi lagi kedepannya.

Sumber

Sebulan Anies - Sandi , Jakarta Berkumis Lagi

Sebulan Anies - Sandi , Jakarta Berkumis Lagi

Berita Dunia Jitu - Semakin ke sini semakin kacau saja ibu kota negara yang bernama Jakarta ini. Akibat perubahan ke arah yang katanya keberpihakan itu, ibu kota negara yang sudah capek-capek dan pontang-panting ditata dengan baik sejak era Jokowi, Ahok dan Djarot kini di era Anies-Sandi berpotensi berkumis (berantakan, kumuh, miskin) lagi.

Belum ada sebulan menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubenrur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sudah sepakat satu suara akan embat lima biji Pergub besutannya Ahok dulu. Ini baru sebulan lho menjabat, masih ada 59 bulan lagi yang sudah barang tentu akan dijejali dengan berbagai dagelan stand up komedi lainnya.

Sesuatu yang baik bukannya dikembangkan, ini malah sebaliknya, dikembalikan ke asal muasalnya dulu. Padahal Pergub-pergub tersebut disusun dan diterbitkan Ahok melalui kajian-kajian yang mendalam dari para ahli dibidangnya.

Bukannya bekerja mencari solusi banjir dan kemacetan di Jakarta, ini malah seolah-olah balas dendam kesumat ke Ahok dengan memutilasi semua Pergub yang dibuat Ahok. Saya kok melihat Anies-Sandi ini seperti orang yang kebingungan mau ngapain.

Ujung-ujungnya warga DKI juga yang jadi korban jika sesuatu yang baik diutak-atik demi tujuan politis yang terselubung. Pemimpin yang bijaksana seharusnya menyempurnakan peraturan yang sudah dibuat oleh pemimpin sebelumnya, bukan malah sebaliknya dengan mengacak-acak peraturan-peraturan yang sudah ada.

Ini bukan soal move on atau belum move on. Pilkada telah usai. Hanya orang TOLOL yang kurang kerjaan saja yang menghubung-hubungkan kebijakan-kebijakannya Anies-Sandi dengan soal move on atau tidak move on. Ini soal kinerja kepala daerah ibu kota negara dan harkat hidup orang banyak di kota ini.

Lihat saja lima biji Pergub besutannya Ahok yang disikat Anies-Sandi itu. Yang Pertama yaitu tentang kebijakan larangan sepeda motor melintas di jalan Protokol.

Pergub tersebut disundul Ahok untuk mengatasi kemacetan di jalan Sudirman-Thamrin hingga ke Medan Merdeka Barat yang berisi larangan sepeda motor dari pukul 06.00-23.00 WIB. Pengendara motor diizinkan melintas pada pukul 23.00-05.00 WIB.

Menurut Anies Baswedan yang super duper bijak itu, pergub tersebut adalah bentuk diskriminasi terhadap pengendara motor sehingga si beliau ini pun mencabut larangan tersebut agar tidak ada diskriminasi dengan membuka akses seluruh area.

Mbok ya jangan ada dusta diantara kita, boss. Tujuan dibuatnya aturan tersebut untuk mengurangi kemacetan dan agar masyarakat beralih ke transportasi umum sehingga tidak macet.

Ini bukan soal masalah diskriminasi, akan tetapi masalah pengaturan dalam kaitannya untuk mengatasi kemacetan. Dalih diskriminatif adalah alasan yang mengada-ada, tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Inilah akibatnya kalau salah menafsirkan arti diskriminatif. Kalau bicara soal disklriminatif, kalau begitu buka jalan tol untuk sepeda motor, trotoar boleh dilewati motor, hapus ganjil-genap, bukankah itu diskriminatif?

Bikin aturan kok bawa-bawa perasaan, bukan pakai logika dan fakta. Aneh. Lama-lama para Investor pada kabur semuanya karena Jakarta sudah tidak bersahabat lagi akibat kemacetan yang semakin menggila.

Yang kedua, aturan sepeda motor pada ruas jalan yang dikenakan sistem ERP. Anies ingin ERP tidak hanya diterapkan untuk mobil saja, akan tetapi juga diberlakukan buat sepeda motor. Dengan demikian maka menurutnya sepeda motor dapat mengakses jalan mana pun.

Dimana-mana tuh ya di negara manapun di belahan dunia ini ERP itu diberlakukan untuk menekan jumlah kendaraan, lha ini malah terbalik, motor juga diberlakukan. Apa tidak tambah menumpuk jumlah kendaraan? Sebenarnya Anies Baswedan ini mengerti apa tidak sih apa itu ERP?

Yang.ketiga, Pergub tentang Reklame. Pergub besutan Ahok tersebut mewajibkan agar reklame hanya boleh berupa LED, tujuannya untuk mencegah kecelakaan akibat reklame yang rubuh.

Lihat saja JPO di Pasar Minggu yang ambruk dulu karena Reklamenya terlalu berat. Saya heran kenapa aturan tentang reklame ini diutak-atik Anies-Sandi. Saya kok mengendusnya sepertinya ada modus keberpihakan terhadap pengusaha mengingat Sandiaga Uno juga pengusaha.

Sebaiknya jangan modus Abunawas dalam membuat kebijakan. Jangan merencanakan sesuatu yang justru hanya merugikan warga dan menguntungkan pengusaha.

Yang keempat, yaitu Pergub tentang konsep penataan kawasan Kota Tua. Pergub tersebut diterbitkan Ahok terkait penataan Kota Tua, termasuk di dalamnya penataan Museum Bahari dan Masjid Luar Batang.

Kini Anies akan bangun kembali permukiman warga yang dulu digusur Ahok di Kampung Akuarium, Jakarta Utara. Kampung Akuarium dan Pasar Ikan dulu digusur Ahok karena masuk dalam rencana induk penataan cagar budaya kawasan Kota Tua.

Disini saya merasa heran dengan kebijakannya Anies ini. Bukankah yang namanya cagar budaya itu dimana-mana harus dilindungi, dirawat dan dikelola dengan baik oleh pemerintah? Lha kok ini cagar budaya malah dipakai buat dibangun pemukiman warga liar yang menyerobot tanah negara? Aneh, bukan?

Yang kelima, yaitu pergub terkait larangan kegiatan keagamaan di kawasan Monas. Kini Anies ingin Monas digunakan untuk kegiatan keagamaan. Apa tidak salah Monas dijadikan sebagai kegiatan keagamaan? Untuk apa ada masjid Istiqlal sebagai masjid terbesar se-Asia Tenggara di dekat situ? Gereja terbesar pun juga ada kok disekitar Monas.

Selain itu, Monas itu kan Monumen Nasional, artinya bukan punya orang Jakarta doang, melainkan punya seluruh orang Indonesia dengan berbagai agama dan keyakinannya.

Kalau memang Anies-Sandi ingin Monas dijadikan tempat aktifitas keagamaan, maka semua agama boleh mengadakan acara keagamaan disitu, bukan hanya agama Islam saja.

Artinya orang Hindu, Budha, Kristen, dan agama lain juga berhak mengadakan aktifitas keagamaan disitu. Jangan nanti kalau orang Kristen bikin ibadah KKR di Monas, nanti dituding Kristenisasi lagi sama FPI.

Biarlah Monas tetap jadi monumen bersejarah sebagai salah satu sarana wisata kota, tidak usah pakai embel-embel aktifitas keagamaan lagi. Lama-lama Monas nanti dijadikan tempat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dengan embel-embel 212, 414 dan aksi-aksi nomor togel lainnya.

Pergub yang sudah bagus kok bisa-bisanya diobrak-abrik dengan alasan yang kurang kuat. Kelihatan banget niatannya mau balas dendam. Kalau mau balas dendam sama Ahok mbok ya mikirin kepentingan warga banyak.

Jangan hanya bisanya bersilat lidah dengan kata-kata manis, namun dalam pelaksanaanya hanya bikin susah orang banyak saja.

Sumber

Menanti Akhir Drama Buni Yani

Menanti Akhir Drama Buni Yani

Berita Dunia Jitu - Jam 4.30 subuh alias dini hari yang dingin pada hari Selasa 14 November 2017 ini. Aku terdiam di atas ketinggian balkon dalam atmosfer gelap yang menenangkanku sejak dalam pikiran. Sayup terdengar suara muazan menyerukan shalawat dan kidung pujian kepada Allah Yang Maha Segala.

Aku bergidik. Merinding. Entah karena suasananya begitu syahdu di tengah penantian fajar menjelang, atau hanya karena angin subuh dan gerimis yang membuat tubuhku ringan membeku? Atau karena aku teringat hari ini adalah hari puncak penantian pembacaan vonis putusan kasus manusia bigot bernama lucu, Buni Yani?

Ya manusia pembuat gaduh dan biang kerok kisruh Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak bulan September 2016 lalu itu masih berkeliaran seperti keledai liar dengan bebas hingga hari ini. Sementara sasaran antaranya, target jangka pendek gerakan Islam radikal mengoyak negeri, Bapak Ahok sudah 6 bulan ini mendekam dalam dingin ruangan sempit penjara Mako Brimob.

Itulah drama kehidupan. Tentang manusia dungu keblinger berotak kosong yang mengira dirinya adalah pahlawan, pejuang dan pembawa perubahan. Ya Indonesia memang berubah, ke arah yang lebih kelam, lebih jahiliyah, lebih segregatif, lebih bahlul, lebih primitif-negatif, lebih sensitif terhadap isu RAISA (Ras, Agama, Intoleransi, Suku dan Antargolongan).

Sekarang semuanya dikotak-kotakkan. Dengan mudahnya disematkan ke sesama warga dan umat beragama stigma kafir atau bukan. Juga pribumi atau pendatang. Atau sekedar penumpang. Bahkan tentang surga. Juga penghakiman tentang pemilik kavling syurga atau calon penghuni kerak neraka jahanam ditentukan oleh kaum bigot dari dimensi Bumi Datar ini. Ups, maafkan pemilihan diksi saya. Itu kenyataannya. Fakta di depan mata.

Buni Yani, seorang mantan dosen yang terbuang, yang pernah mengajar di London School of Public Relations, sarjana S2 lulusan dari Ohio State University, yang dulunya pernah berprofesi sebagai jurnalis dan wartawan juga, bertindak atas nama kaum bigot yang menyebar kebencian dan provokasi.

Dia profesional. Berpendidikan. Sayang nalar dan kewarasannya rusak ditelan nafsu bigotnya, nafsu memanfaatkan agama untuk dijual seperti keyakinannya. Miris memang. Setelah sukses memenjarakan Sang Gubernur DKI Jakarta yang fenomenal dan jujur itu, perlahan dia bangkrut dan ditinggalkan satu per satu kelompok yang dulu menungganginya.

Update terakhir tentangnya, kudengar ia berprofesi sebagai penjual mug, cangkir keramik yang memiliki telinga, yang bergambarkan wajah bigotnya. Dan, dia jadi pengepul dana, menggalang sumbangan untuk amunisi membayar kuasa hukumnya yang sama dengan dirinya. Terkadang dia diundang untuk berdakwah di acara-acara yang diadakan para alumni angka togel 212. Mungkin sepulang dari sana ia diganjar uang lelah sekadarnya, ala kadarnya.

Seluruh penduduk Indonesia bahkan warga dunia pun tahu apa yang sudah dilakukannya. Dia mengunggah video pidato Ahok di Kepulauan Seribu, ke dalam akun facebooknya, yang bertemakan tentang budi daya ikan kerapu, yang aslinya berdurasi 1 jam 48 menit diedit menjadi 31 detik, dan TANPA MENYEBUTKAN SUMBERNYA. Itu kelakuan busuk penuh intrik ala kaum bigot.

Atas perbuatan ini maka Buni Yani sudah sah dan mutlak dapat dikenakan pasal 32 UU ITE sebagai bentuk menambah/mengurangi dan atau mengedit yang menurut Jaksa dalam tuntutannya juga dianggap telah TERBUKTI.

Lalu manusia haus perhatian dan kurang suplemen otak berjudul Buni Yani ini secara SENGAJA menuliskan caption yang provokatif dan menghilangkan kata PAKAI. Dia menggiring opini menyesatkan dan menyeret penggunaan Ayat Al-Maidah 51 yang menghebohkan Indonesia. Ini mengakibatkan aksi demo angka togel berderet-deret sampai sekarang yang menghabiskan energi yang sia-sia. Itu menciptakan situasi yang tidak kondusif, tidak bermanfaat, dan menimbulkan riak konflik horizontal dan vertikal di tengah masyarakat, kelompok, dan mengadu domba dengan pemerintah yang sah dan berdaulat.

Atas perbuatannya, maka ia terbukti melanggar delik ujaran kebencian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat 2 UU ITE. Terlebih selama menjalani rentetan sidangnya, Buni Yani sering bertingkah arogan dan meledak marah, juga melecehkan Jaksa Penuntut Umum. Dengan aksi mengacungkan jarinya yang tak sopan, dan terus menatap (memelototi) Jaksa, dan melakukan ancaman. Itu wujud unjuk kekuatan yang ada di belakangnya. Songong. Besar kepala.

Kita semua manusia waras lelah melihat kegaduhan dan rentetan drama yang mengoyak persatuan bangsa ini. Kita semua menangis sedih saat Pak Ahok, salah satu pemimpin dan administrator terbaik yang pernah dimiliki Indonesia terpaksa menghuni sel penjara yang reyot dan dingin selama 2 tahun.

Hasilnya pemimpin baru DKI sudah terpilih dan resmi menjabat. Meskipun sarat dengan isu RAISA dan politik identitas, politisisasi ayat dan mayat, isu khilafah, pengerahan ormas radikal, dan penggerakan berita hoax oleh Saracen, orang baru di DKI itu jauh sekali dari kualitas seorang Ahok. Jauh panggang dari api yang garang menyala di neraka jahanam sekali pun.

Lihat hasilnya JKT-58% selama 5 tahun ke depan, di bawah kendali otoritas Gabener dan Wagebener pilihan kalian. Baru 1 bulan saja, sungai meluap dan banjir menggenang di mana-mana. Aksi penggusuran kembali terjadi. Jalanan semakin semrawut, aturan perda diobrak-abrik demi nafsu memenuhi dendam semua yang Ahok-Djarot-Jokowi buat harus diberangus. Dinafikan.

Kekumuhan dan ketidaktertiban kembali hinggap di DKI. PKL berkuasa lagi di Tanah Abang, trotoar aman digunakan oleh kendaraan beroda dua. Dan para pejalan kaki sebaiknya belajar ilmu meringankan badan supaya bisa melompat atau terbang saja sekalian saat nyaris terserempet motor.

Program-program Ahok dan Djarot yang sudah terbukti bagus dan berjalan baik, diacuhkan lalu dikeluarkan program baru yang mengawang. Dibongkar. Kalau ada yang dirasa bisa diklaim, maka akan berganti namanya menjadi Rumah Lapis, Pajak Kemacetan, Pembubaran Alexis, dan seterusnya.

Sementara Wagabener yang ngganteng dan unyu sibuk berlari (dengan mengenakan celana training khusus untuk berlari, tentunya.) Dan dia sibuk mengoceh tentang Bala Tentara dari Pasukan Langit, memuliakan trotoar sekaligus menyalahkan pejalan kaki, curcol tentang tukang ojek yang tidak sopan dan menghina Kepala Negara, dan merindukan kehadiran Bi Narti dalam wawancaranya.

Gabenernya sendiri belum lama ini memanen sorakan "Huuuu" dari para emak-emak dan relawan di acara pernikahan Kahiyang, kehilangan dukungan dan dianggap penipu oleh KSPI dan buruh di Jakarta, lalu dihadiahi aksi walk-out di acara Alumni Kanisius kemarin.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, ini semua merupakan efek domino dan efek bola salju dari aksi Buni Yani manusia rasis dan diliputi kebencian itu. Sayangnya hingga kini, ia tampak tidak merasa menyesal sedikit pun. Dan dia tetap bertahan bahwa dirinya dikriminalisasi. Semuanya rekayasa dan konspirasi untuk memenjarakan dan membungkamnya. Khas otak kaum Bumi datar.

Dan hari ini adalah titik kulminasi nasib Buni Yani. Penentuan pembacaan vonis Majelis Hakim. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebenarnya terlalu rendah, hanya 2 tahun. Sama dengan vonis Ahok. Seharusnya 14 tahun atau seumur hidup kerja sukarela dan menghapal Pancasila, menghormat kepada Sang Saka Merah Putih tiap pagi. Menurutku.

Mari kita bersama mendoakan para Majelis Hakim yang terhormat dan berintegritas ini, supaya diberikan kesehatan, akal sehat, dan nurani yang murni, bebas dari intervensi pihak mana pun, kuat dan gagah melawan para mafia peradilan yang beraksi di belakang layar dengan tumpukan duit tak bernomor seri, dan bisa menjatuhkan vonis yang seadil-adilnya atas nama Kebenaran, Keadilan dan Kemanusiaan. Meskipun faktanya peluang dia bebas begitu besar 49-51. Kegelapan fajar pagi ini apakah akan sama dengan yang menyelimuti Indonesia hari ini?

Sumber

Senin, 13 November 2017

Indonesia Dorong Myanmar-Bangladesh Repatriasi Pengungsi Rohingya

Indonesia Dorong Myanmar-Bangladesh Repatriasi Pengungsi Rohingya

Berita Dunia Jitu - Pemerintah Indonesia mendorong pemerintah Myanmar dan Bangladesh untuk bekerja sama dalam upaya merepatriasi atau memulangkan para pengungsi Rohingya dari Bangladesh kembali ke Myanmar.

"Diperlukan kerja sama antara Myanmar dan Bangladesh untuk menangani repatriasi pengungsi," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat ditemui di Manila, Filipina, Minggu (12/11/2017).

Untuk itu, menurut Menlu, pemerintah Indonesia terus mendorong agar pemerintah Myanmar dan Bangladesh segera menyelesaikan dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Repatriasi Pengungsi dari Bangladesh kembali ke Myanmar.

"Kami menekankan bahwa semakin cepat draft MoU repatriasi ini ditandatangani mereka maka akan semakin baik. Maka kita dorong agar draft MoU repatriasi ini dapat segera ditandatangani," ujar Retno.

Selain itu, Menlu RI juga menegaskan bahwa Indonesia akan terus mendorong kemajuan perbaikan keadaan di Rakhine State, Myanmar.


"Keinginan Indonesia itu untuk terus membantu proses perbaikan di Rakhine. Kami bisa saja setelah suasana tidak memanas lagi, kita tinggal, tetapi kami tidak seperti itu," ucap Retno seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, Menlu Retno Marsudi menyerahkan prakarsa Formula 4+1 kepada pemimpin Myanmar Daw Aung San Suu Kyi sebagai solusi untuk menangani krisis di Rakhine State.

Solusi Formula 4+1 untuk Rakhine State itu terdiri dari empat elemen utama, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan; menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama; dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan.

Satu elemen lainnya adalah pelaksanaan rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan.

Indonesia dan ASEAN terlibat dalam penyaluran bantuan kemanusiaan di Rakhine State. Mekanisme penyaluran bantuan dipimpin oleh pemerintah Myanmar, namun melibatkan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan beberapa negara, termasuk Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya.

Sumber

Menguak Sosok Misterius BI Narti Dengan balutan Over Spekulasi

Menguak Sosok Misterius BI Narti Dengan balutan Over Spekulasi

Berita Dunia Jitu - Kita harus mengembalikan AKSESBELITAS eeee.. walaupun dalam eeee.. sebuah BALUTAN yg eeee.. betul betul tertib, nah ini yang lagi dikaji eeee.. supaya kita tidak perlu OVER SPEKULASI kita tunggu designnya karena sekarang eeee.. desainernya dan BINARTI bahwa eeee..koordinasi Bina Marga lagi mencoba meee.. menata eeee.. dan mempresentasikan kepada kita bentuk desainnya yang bisa menghadirkan eeee.. keberadilan yang buat eeee.. pengemudi eeee....” – Sandiaga Uno ketika mengomentari desain jalan MH Thamrin.

Saya sudah mengulang berkali-kali rekaman video Sandiaga Uno yang berbicara mengenai jalan MH Thamrin. Kabarnya, jalan MH Thamrin yang akan dirancang ulang oleh Pemprov DKI Jakarta. Sungguh saya masih sampai saat ini tidak mengerti apa maksud Sandiaga Uno. Mungkin indikator ini sehat, karena saya sampai masuk kepada sebuah kesimpulan bahwa “jika saya mengerti kalimat Sandiaga, maka saya sudah mengalami dekonstruksi yang sangat tidak memberikan aksesbelitas kepada sinyal otak saya”.

Sederhananya, selagi otak saya berjalan normal, saya tidak akan mengerti apa yang dikatakan. Namun saya memiliki ulasan menarik mengenai apa itu aksesbelitas, balutan, over spekulasi dan Bi Narti. Ketiga hal ini rasanya harus kita bongkar. Namun namanya saja over spekulasi, maka saya akan berspekulasi, dengan harapan dapat mendekati logika Sandiaga Uno. Begini selengkapnya.

Pertama, mari kita membahas aksesbelitas. Aksesbelitas yang dimaksud Sandiaga Uno sebenarnya mudah dipecahkan. Teka-teki level satu ini masih bisa kita simpulkan dengan cara yang paling sederhana. Buka Microsoft Word yang bisa mendeteksi bahasa Indonesia. Ketik aksesbelitas, maka akan muncul warna merah di bawa font kalian. Ini sederhana, karena kita tahu bahwa ada fitur mengecek kebenaran sebuah kata. Sederhananya, jika ada garis merah, artinya kata itu tidak dideteksi sebagai kata baku dari bahasa Indonesia.

Pelafalan Sandiaga sebenarnya salah, atau ia terlalu cepat berpikir, sehingga ia kehilangan satu huruf saja. Huruf “i” merupakan kunci untuk memecahkan kode pertama dari Sandiaga Uno. Sebenarnya apa yang dimaksud aksesbelitas adalah aksesibilitas. Aksesibilitas adalah sebuah kata keterangan yang memiliki makna. Aksesibilitas adalah derajat kemudahan yang dicapai oleh seseorang terhadap suatu objek, pelayanan, ataupun lingkungan. Jadi maksud Sandiaga Uno adalah jalan MH Thamrin akan membuat orang mudah. Level satu masih mudah. Cih.

Level kedua, mengenai balutan. Awalnya saya mengalami kesulitan untuk memecahkan kode Sandi. Apa yang saya tahu selama ini adalah pembalut. Pembalut adalah semacam perangkat yang digunakan oleh wanita saat menstruasi. Pembalut ini sebenarnya berfungsi untuk menyerap darah yang luruh dari dinding rahim, agar tidak berceceran. Alat ini sangat membantu perempuan selagi masuk masa menstruasi, atau setelah melahirkan.

Namun saya yakin, ini bukan maksud dari Sandiaga Uno. Balutan yang dimaksud bukanlah pembalut, ini jelas salah. Lantas apa yang benar? Balutan bisa diartikan sebagai sebuah layer atau lapisan-lapisan jalan. Mungkin jalan yang dibuat akan berlapis-lapis. Jadi begini, saya berspekulasi bahwa ada beberapa lapisan yang dibuat, pertama untuk PKL, kedua untuk motor, dan ketiga untuk mobil. Loh? Jadi di mana lapisan untuk pejalan kaki?!?! Ah ini hanya over spekulasi saya.

Ketiga, mengenai Bi Narti, sosok misterius yang disebutkan oleh Sandiaga Uno. Bi itu bisa merupakan panggilan untuk “Bibi”, dan Narti adalah nama dari sang bibi. Namun benarkah itu maksud dari Sandiaga Uno? Apakah sosok Mukidi kelak akan kalah pamor oleh Bi Narti? Ataukah Bi Narti adalah seorang desainer jalan berbalut? Ini adalah sebuah kalimat yang menjadi hot di situs google trend. Wah. Namun sebelum sang Bibi menjadi masyhur, rasanya saya menyerah dan mengaku kalah dalam menebak sosok misterius yang disebutkan oleh Sandiaga Uno.

Keempat, over spekulasi. Ini cukup mudah untuk dibahas. Over spekulasi adalah sebuah kata lain dari spekulasi yang berlebihan. Ini sangat mudah ditebak. Modal gugel translet saja sudah cukup. Maka untuk menjelaskan mengenai over spekulasi, kita tidak perlu over interpretasi dan mencari struktur, sistematika, dan masifitika dari kalimat Bi Narti… Eh… Maksud saya… Eeee.. Bukan Bi Narti, melainkan Om Sandi…

Sumber

Minggu, 12 November 2017

Jokowi Tak Terbendung,Bagimana Peluang Prabowo?

Jokowi Tak Terbendung,Bagimana Peluang Prabowo?

Berita Dunia Jitu - Kalau kamu punya dua bawahan atau pembantu, yang satu sering kelihatan, kerja dan hasilnya pun ada. Satunya lagi jarang keliatan, hanya muncul sesekali dan gak ada hasilnya. Kira-kira mana yang akan kamu pecat? Orang waras pasti bakal mecat yang gak kelihatan hasilnya dong, masa sih yang kerjanya bagus malah dipecat.

Antara Jokowi dan Prabowo, jelas lah selama 3 tahun ini Jokowi terlihat diberbagai media dan berbagai peristiwa. Jokowi bekerja keras dan hasilnya pun jelas serta bisa dirasakan. Jadi wajar kalau elektabilitasnya tetap tinggi.

Tapi Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria memiliki pendapat lain. Menurutnya berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia ada 17-24 September 2017, menunjukkan peluang kuat bagi Prabowo Subianto maju Pilpres 2019.

Alasannya karena angka elektabilitas Presiden Joko Widodo sangat beragam, mulai dari 34,2 persen (tanpa pilihan jawaban); 54,6 persen (dengan pilihan jawaban) dan 58,9 persen (bila head to head dengan Prabowo).

Ia menganggap, angka 34,2 persen merupakan angka elektabilitas yang rawan bagi petahana.

"Kalau incumbent, apakah di berbagai pilkada atau pilpres kalau di bawah 50 persen, menurut hemat saya ini justru rawan," kata Riza di Gedung KPU Pusat, Jakarta, Selasa (17/10/2017) malam.

"Ini justru memberikan peluang yang luas bagi penantang incumbent. Sementara elektabilitas Prabowo terus meningkat," tambah dia.

Orang boleh bebas berpendapat tapi orang juga bebas menyanggah bukan? Mari kita lihat angka-angkanya.

Dari sumber yang sama, hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan Jokowi masih berada di peringkat teratas dan Prabowo di urutan kedua.

Awalnya, responden ditanya mengenai sosok calon presiden yang akan dipilih apabila Pemilu 2019 digelar saat ini. Namun, responden tidak diberikan pilihan jawaban.

Hasilnya, sebanyak 34,2 persen memilih Jokowi melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua.

Sebanyak 11,5 persen responden lain memilih Prabowo.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan 2,1 persen, disusul Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo 1 persen, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo 0,7 persen.

Tiga tokoh yang bersaing dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, yakni Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mendapatkan angka 0,5 persen.

Tokoh lainnya hanya mendapatkan angka 0,1 persen. Sementara responden yang tidak memberikan jawaban sebanyak 47,4 persen.

Sampai sini rasanya jelas, Prabowo jauh tertinggal dibandingkan Jokowi. Ternyata 34% elektabilitas yang disebutkan oleh Riza adalah angka ini. Nampaknya Riza kurang paham soal metodologi penelitian. Perlakuan pada survei ini berbeda, responden disuruh memilih dari sekian banyak kandidat. Efeknya ya jelas lah kita semua juga tahu, suara tersebar kemana-mana mengikuti pola sebaran normal.

Hal menarik lainnya adalah elektabilitas Anies yang hanya 0,5 persen saja, padahal ia menang dengan cukup telak di Pilkada DKI kemarin. Kemenangan tersebut ternyata tidak mampu mendongkrak elektabilitas Anies dan juga Prabowo sendiri.


Saat simulasi delapan nama, Jokowi mendapat 54,6 persen, disusul Prabowo (24,8 persen), Anies (3,1 persen), Agus (2,9 persen), Gatot (2,8 persen), Tito Karnavian (1,2 persen), Soekarwo (0,6 persen) dan Sri Mulyani (0,4 persen).

Perlakuan berbeda kembali dilakukan, kali ini hanya 8 kandidat. Disini kita bisa melihat kemana larinya sebagian besar suara ketika disuruh memilih dari 8 saja. Kita bisa melihat bahwa suara tersebut banyak yang lari ke Jokowi. Jadi disini bisa kita asumsikan bahwa suara swing voter cenderung memilih Jokowi.

Sementara saat simulasi "head to head" layaknya pilpres 2014 lalu, Jokowi mendapatkan 58,9 persen suara responden. Sementara Prabowo mendapatkan 31,3 persen. Dan lagi, Jokowi unggul jauh dari Prabowo.

Jadi alasan besarnya peluang Prabowo karena angka elektabilitas Presiden Joko Widodo sangat beragam 34% sampai 54,6% sebenarnya terjadi karena perlakuan yang berbeda. Jelas saja akan terjadi variasi dari hasilnya karena perlakuannya berbeda. 34% ketika responden bebas memilih, 54% ketika 8 kandidat dan 58,9% ketika head to head.

Banyak survei yang mengunggulkan Jokowi jauh diatas Prabowo dan semuanya konsisten diatas 50% ketika kondisi head to head. Menurut saya hasil survei-survei yang demikian adalah sesuatu yang wajar. Jokowi sering terlihat, bekerja keras, dan hasilnya bisa dilihat semua orang.

Mungkin orang akan membandingkan dengan situasi Pilkada kemarin dimana Ahok yang juga sering terlihat, bekerja dan ada hasilnya bisa kalah oleh Anies. Kalau Ahok pun bisa tumbang, maka Jokowi juga bisa. Memang yang namanya prediksi kan selalu didasari kondisi normal, kondisi ekstrim seperti Pilkada kemarin siapa yang bisa menebak?

Artinya pada kondisi biasa-biasa saja, Jokowi kemungkinan besar akan menang lagi. Namun jika situasinya berubah seperti Pilkada DKI kemarin maka bisa saja Jokowi kalah meski tetap saja menurut saya peluang tersebut kecil. Kenapa? Berbeda dengan Pilkada DKI, Jokowi akan bertarung secara nasional dimana pemilihnya lebih beragam.

Jadi sebenarnya justru peluang Prabowo itu yang kecil, optimis sih boleh-boleh saja tapi fakta dilapangan yang berbicara. Selain itu rasanya kita semua cukup paham bahwa keributan-keributan yang belakangan ini terjadi adalah upaya untuk mengkondisikan Indonesia seperti Pilkada DKI kemarin. Oleh karena itu Jokowi dan para pendukungnya harus tetap waspada dan solid.

Sumber

Fadli Berbicara Parlemen Anti Korupsi Sedunia,Setnov Di Tetapkan Kembali Tersangka Korupsi

Fadli Berbicara Parlemen Anti Korupsi Sedunia,Setnov Di Tetapkan Kembali Tersangka Korupsi

Berita Dunia Jitu - Tidak terhitung lagi jumlah literatur yang membahas dan mengulik tentang permasalahan korupsi seperti apa konsep dan tata cara dalam menangani korupsi. Tetapi faktanya teori-teori penyelesaian permasalahan korupsi tidak dapat menyelesaikan segala permasalahan korupsi di Dunia ini. Kita hanya bisa mengeluarkan kata-kata indah tentang solusi pemberantasan korupsi dapat diselesaikan dengan tuntas hanya dengan kata-kata yang keluar dari mulut.

Korupsi adalah permasalahan pidana yang masih dirasakan hampir diseluruh negara yang ada di bumi. Berbagai negara masih sangat sulit untuk memberangus tindakan korupsi yang sudah menjadi wabah moral yang sangat massif dan terkesan terstruktur. Beberapa hari ini kita mendengar berita hot bahwa negara Arab Saudi yang merupakan negara yang memiliki 2 kota suci tidak bisa menghindari tindakan Korupsi.

Para pangeran yang merupakan keturunan dari kerajaan yang telah bergelimang harta diduga masih saja melakukan tindakan korupsi yang dapat mengakibatkan rakyat semakin sengsara. Meskipun masih dalam tahapan ingin penyelidikan oleh lembaga anti rasuah negara Arab Saudi. Memang sangat memalukan bila kejadian ini benar adanya dengan dibuktikan oleh vonis yang berkekuatan hukum tetap.

Baiklah itu lah sekilas tentang permasalahan korupsi dalam salah satu negara yang sangat dihargai oleh dunia. Wabah moral kerakusan dan ketamakan tidak hanya terjadi di luar negeri tetapi didalam negeri juga sangat kencang tindakan amoral tersebut. Pelaku tidak hanya dari kalangan elit tetapi kalangan menengah kebawah juga telah banyak tertular penyakit mematikan ini.

Lembaga yang paling banyak kasus korupsinya adalah lembaga penyalur aspirasi rakyat yakni DPR RI makanya lembaga ini diberi gelar lembaga terkorup. Disaat rakyat Indonesia masih terpuruk didalam kemiskinan dan kemelaratan padahal wakil yang telah terpilih untuk duduk di parlemen tetap ingin menimbun kekayaan. Sebelumnya Ketua DPD RI telah tercyduk oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilaksanakan oleh lembaga anti rasuah terbaik di nusantara yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Meskipun lembaga parlemen di Indonesia adalah merupakan lembaga terkorup tetapi Fadli Zon yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI dan juga penulis baru ketahui bahwa FZ yang sering nyinyirin Presiden Joko Widodo adalah Presiden Organisasi Parlemen Antikorupsi Sedunia atau Chairman on Global Organization of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di kota Wina, Austria. Fadli Zon Malah dengan percaya diri yang tinggi berani berbicara peran parlemen dalam pemberantasan korupsi pada acara akbar yang bertaraf Internasional. Organisasi parlemen anti korupsi atas nama dunia ini malah dikomandoi oleh seorang anggota parlemen di Indonesia yang tidak punya rekam jejak dalam memberantas korupsi.

Ketika Fadli Zon berbicara didepan rekan-rekan yang pernah duduk dan masih menjabat anggota parlemen di negaranya masing-masing. Seakan FZ telah memilih prestasi menyelesaikan permasalahan korupsi di negara sendiri, Dewan Perwakilan Rakyat dinilai sebagai lembaga paling korup di Indonesia pada 2016 dari hasil survei Global Corruption Barometer. Hasil survei itu terkonfirmasi antara lain dengan adanya sejumlah anggota DPR yang terlibat dalam kasus korupsi.


Salah satunya adalah kasus pengadaan KTP elektronik (KTP-el) tahun anggaran 2011-2012. Kasus ini masih mandek sampai saat ini belum ada titik terang bahwa seluruh maling uang rakyat dapat mendapatkan ganjaran dari perbuatannya. Para tersangka yang telah dikandangkan hanya segelintir dan jumlah uang yang telah dikembalikan ke kas negara masih tidak sebanding dengan total kerugian negara dalam kasus ini.

Tidak berselang lama, Ketua DPR RI yakni Setia Novanto (Setnov) kembali dinyatakan menjadi tersangka untuk kedua kalinya dalam kasus yang sama yakni kasus KTP Elektronik. Setnov juga saat ini menjabat sebagai Ketua Umum partai berlambang beringin yang sangat ternama. Beberapa waktu lalu Setnov menjadi tokoh yang trending oleh karena adanya dugaan percakapan tentang pembahasan Freeport Papua sehingga sering disindir dengan “Papa Minta Saham”.

Ditetapkan Setnov menjadi seorang tersangka dugaan korupsi untuk kedua kalinya, sudah merupakan salah satu tolak ukur ketidaklayakan seorang anggota Dewan dari Indonesia untuk menjabat sebagai Presiden Organisasi Parlemen Antikorupsi Sedunia. Realitas kondisi lembaga parlemen di Indonesia tidak berbanding lurus dengan nama baik organisasi tersebut.

Seharusnya perbaiki dulu internal lembaga parlemen Indonesia baru bisa koar-koar di kancah Internasional tentang peran serta parlemen dalam pemberantasan korupsi. Sebagai seorang tokoh seharusnya jangan munafik dan merasa sudah layak. Ibarat sebuah peribahasa Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat.

Sumber

Sabtu, 11 November 2017

Ahok Lebih Baik

Ahok Lebih Baik

Berita Dunia Jitu - Selamat malam Batfans! Sudah berapa lama Anies-Sandi jadi Gubernur dan Wakil Gubernur? Belum sebulan yah? Baru mulai sudah di demo lagi oleh buruh, kasian sekali yah. Wajar aja sih kecewa, lah Anies dan Sandi sudah janji, sudah ada kontrak politik segala tapi menurut buruh keduanya ingkar janji.

Bagi saya yang menarik demo buruh kali ini adalah ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh para demonstran tentang Anies dan Sandi. Luapan kekecewaan dan sakit hati yang seharusnya tidak perlu terjadi jika mereka mau mendengarkan yang 42%.

“Kami rela berjuang hingga bergesekan dengan buruh lain hanya untuk memilih Anies-Sandi kami yakinkan buruh lain untuk pilih kalian. Tapi apa balasan kalian?. Kalau sudah jadi begini, segala janji dilupakan, semua janji di ingkari,” kata orator diatas mobil komando.

"Kita mulai dari Balai Kota ini kita nyatakan cabut mandat Anies-Sandi, gubernur pembohong," ujar Said saat berorasi.

"Ayo untuk Anies pembohong!" kata para buruh.

"Masih sakit nih hati kita, orkes sakit hati, untuk gubernur pembohong," timpal buruh lainnya.

Hingga pukul 14.13 baik Anies maupun Sandi tidak ada yang keluar dari Balaikota untuk bertemu dengan perwakilan buruh. Hal itu membuat massa berang dan memaksa untuk tetap masuk ke Balaikota DKI.

“Kalau tidak terima kami siap memaksa masuk. Lebih baik hari ini kami masuk penjara daripada sengsara selamanya,” ujar orator diatas mobil komando.

Itulah beberapa kumpulan ungkapan kekecewaan yang bisa saya peroleh dari berbagai sumber. Memang menyenangkan kalau kita bisa berkata "Noh, gue bilang juga apa"....

Rasanya tidak salah apa yang diungkapkan oleh para buruh, sejauh ini Anies dan Sandi hanya berputar-putar dikebijakan yang tidak penting bagi warga Jakarta. Termasuk penutupan Alexis yang seperti "Ah kebetulan nih ijinnya habis, ya sudah gak usah diperpanjang". Padahal yang sejak lama gak memperpanjang ijin Alexis justru Djarot, saya jadi ingat ayam...bebek...mengerami...apalah itu.

Soal Ancol saja yang mudah ternyata malah batal. Alasannya pun lucu, karena kebanyakan yang kesana justru orang yang mampu begitu katanya. Terlihat seolah-olah ingin berpihak pada rakyat kecil tapi justru terdengar bodoh. Kalau di gratiskan justru rakyat tidak mampu akan berdatangan. Bilang saja gak mau terlihat seperti Djarot yang mengatakan alasan pembatalan tersebut karena Ancol akan penuh sesak, logis kalau itu alasannya.


Sejak kampanye Pilkada kemarin, pasti kita bisa melihat bahwa apa yang dijanjikan oleh Anies sulit diwujudkan. Rasanya Anies dan Sandi seperti melempar ide yang tidak matang dan pokoknya asal berbeda dengan Ahok, yang penting jadi Gubernur. Urusan janji-janji? Ah tinggal rangkai kata-kata indah untuk ngeles kalau tidak bisa dipenuhi.

Terlebih Anies adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan kata-kata. Dan benar saja mereka kerap ngeles dan ngeles. DP 0 persen saja berubah jadi 0 rupiah dan itu dia permasalahkan. Rumah tapak kemudian ngeles lagi jadi rumah lapis dan akhirnya mengakui kalau itu sama dengan rumah susun.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Said Iqbal dan mengatakan Ahok lebih baik dari Anies.

Said juga membandingkan Anies dengan Ahok. Menurutnya, Ahok ketika itu lebih baik lantaran tidak melakukan kebohongan seperti Anies. Ia melihat penggantian gubernur malah membuat kondisi lebih buruk.

"Karena hanya memainkan retorika kata-kata untuk menyenangi kaum buruh," tuturnya.

Ahok pun dulu pernah mengingatkan soal ini saat kampanye kemarin.

Ahok, mengatakan, seharusnya para calon kepala daerah tidak perlu membohongi warga saat berkampanye.

Para calon semestinya jujur mengatakan apa yang seharusnya. Ahok sendiri memperlihatkan hal itu ketika blusukan ke kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Kamis (26/1/2017).

Di depan warga setempat, dia mengatakan, pinggiran Kali Pesanggrahan perlu dinormalisasi. Akibatnya, sejumlah tempat tinggal warga akan dibongkar.

"Tadi ada ibu bilang begini, 'Kalau Bapak janji enggak bongkar, saya mau pilih Bapak'. Dia punya warung, saya ngerti ya, ada usaha," kata Ahok.

Ahok mengatakan, perumahan di bantaran Kali Pesanggrahan rawan longsor. Oleh karena itu, warga setempat perlu direlokasi. Saat bertemu warga, Ahok juga mengatakan bahwa tempat tinggalnya tetap akan dibongkar.

"Saya kira kami tidak boleh bohongi warga dalam rangka pilkada. Bilang warga kalau rumah mereka tidak perlu dibongkar," kata Ahok.

Dalam kata-katanya pun Ahok berusaha untuk jujur meski dia sedang butuh suara untuk menang di Pilkada. Kalau saya perlu bantuan orang untuk menitipkan uang saya, sudah pasti akan saya titipkan kepada orang seperti ini. Kita semua pun demikian, rasanya tidak mungkin kita akan menitipkan uang dalam jumlah besar kepada orang yang mulutnya manis namun suka berbohong.

Sumber 

Kontrak Politik Anies - Sandi Kepada Buruh Tidak Di Tepati

Kontrak Politik Anies - Sandi Kepada Buruh Tidak Di Tepati

Berita Dunia Jitu - Anies dengan jujur mengakui bahwa dia pernah menandatangani kontrak politik bersama dengan para buruh. Dia mengatakan akan melaksanakan itu semua.

Kemarin pada tanggal 10 November, buruh melakukan demo karena penetapan UMP DKI yang tidak sesuai dengan keinginan para buruh dalam kontrak politik yang pernah ditandatangani bersama Anies. Dalam demo tersebut, mereka membawa spanduk berukuran besar yang berisi kontrak politik buruh terhadap Anies-Sandi .

Menurut saya, demo sih boleh-boleh saja, yang penting tidak anarkis dan masuk akal. Jangan sampai demo gak masuk akal , misalnya yang di demo Anies-Sandi mengenai UMP tetapi yang diserbu Istana Negara, ini sudah konyol.

Sebagai seorang buruh, saya sangat paham perasaan menjadi buruh, karena saya pun mengalami itu. Sumber pendapatan kita hanya didapat dari satu sumber, tidak ada yang lainnya. Terkadang, hitungan kita dalam memenuhi kebutuhan rutin buyar karena ada kebutuhan-kebutuhan yang mendesak. Kenaikan UMP sangatlah berpengaruh buat buruh, itu sudah pasti.

Namun sebagai buruh, saya tidak pernah menggantungkan hidup saya hanya dengan kenaikan UMP, karena pernah saya mengalami ketika pendapatan saya sebagai buruh lebih besar pasak dari pada tiang. Hal itu terjadi tidak sebulan dua bulan, tetapi hampir dua tahun, dan itu semua harus dipenuhi. Meskipun sudah berusaha hemat, dan irit sampai seperti orang kejepit, tetap saja kurang. Jadi jangan bilang saya menulis ini tidak tahu mengenai perasaan buruh.

Tetapi karena tuntutan kebutuhan yang lebih banyak daripada penghasilan tersebut, saya meskipun seorang buruh tidak mau menyerah begitu saja. Dengan segala cara saya mencari option pendapatan tambahan, dengan catatan tidak menggangu pekerjaan utama.

Untuk itu, mengenai buruh yang marah terhadap Anies-Sandi lantaran kontrak politik tidak ditepati , itu menurut saya salah sendiri. Karena kontrak politik itu tidak ada sangkut pautnya dengan hukum jika tidak ditepati. Kontrak politik tidak akan membawa Anies-Sandi menjadi pesakitan di penjara lantaran tidak menepati janji-janji yang terdapat dalam kontrak politik tersebut.

Oleh sebab itu, buruh semestinya bijak dalam mempercayai calon pemimpin saat ingin mendukung calon tertentu pada masa kampanye. Semua harus dipahami dengan cermat, apakah potensi dapat dilaksanakan janji tersebut lebih besar dan masuk akal atau tidak. Jika tidak masuk akal ya jangan mau dibohongi pakek janji palsu , Cuma diberi mimpi tanpa ada realisasi. Ingat kawan hidup itu tidak mudah, jadi jangan pernah menggantungkan diri hanya kepada orang lain, apa lagi kepada calon pemimpin yang belum pernah memimpin sehingga kinerjanya belum jelas.


Untuk para buruh hendaknya legowo, jika kontrak politik tidak ditepati, dan jadikan ini menjadi pelajaran. Sudah lupakan saja kontrak politik di bawah ini, dan mari belajar dari pengalaman dan berfikir produktif. Untuk yang belum mengetahui isi spanduk kontrak politik tersebut, bisa dilihat di bawah ini:

1. Menghentikan sistem kerja outsourcing, kerja kontrak, dan pemagangan buruh di DKI Jakarta sesuai dengan UU Ketenagakerjaan dan tidak sesuai dengan Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2013, yang membatasi outsourcing hanya untuk lima jenis pekerjaan.

2. Subsidi kepemilikan tempat tinggal murah di Jakarta (rusunami) untuk buruh bekerja dan berdomisili di wilayah DKI Jakarta dengan DP Rp 0.

3. Menyediakan transportasi publik terjangka dan bersubsidi untuk buruh termasuk di kawasan industri.

4. Mengupayakan penetapan semacam sistem jaminan sosial bagi buruh korban PHK, serta mewajibkan perusahaan-perusahaan di wilayah DKI Jakarta untuk memprioritaskan warga DKI untuk mengisi lowongan kerja di perusahaan yang bersangkutan, termasuk mempertahankan pekerja PPSU yang sekarang ada, dan meningkatkan kesejahteraannya.

5. Pendidikan gratis hingga tingkat SMA/sederajat, beasiswa pergurua tinggi (KMJU), KJP Plus bagi buruh dan keluarganya yang merupakan warga resmi DKI Jakarta.

6. Tolak reklamasi teluk Jakarta dan penggusuran dengan cara-cara yang tidak manusiawi di DKI Jakarta.

7. Angkat guru dan tenaga pendukung honorer sekolah-sekolah negeri di wilayaj DKI Jakarta menjadi aparatur sipil negara, serta tingkatkan upah dan tunjangan guru swasta setara UMP bagi yang memenuhi syarat dan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

8. Mengupayakan penerapan semacam sistem jaminan sosial kesehatan yang meliputi jaminan kesehatan gratis, KJP Plus untuk buruh dan keluarganya dan mewajibkan seluruh perusahaan di DKI Jakarta untuk memiliki prograk jaminan pensiun.

9. Mengusahakan koperasi-koperasi buruh untuk menjadi mitra Pemprov DKI Jakadta dalam membantu kesejahteraan buruh DKI Jakarta, serta memberi peluang bagi buruh untuk berpartisipasi dalam program OK OCE.

Sumber

Jumat, 10 November 2017

Anies - Sandi Dan Mereka Yang Gagal Move On

Anies - Sandi Dan Mereka Yang Gagal Move On

Berita Dunia Jitu - Menarik untuk menyimak perilaku dari mereka yang masih belum bisa move on terhadap terpilihnya Anies – Sandi di tampuk kekuasaan Jakarta. Cibiran kepada Anies langsung terlontar manakala kata “pribumi” muncul di pidato selepas pelantikannya.

Dengan hanya modal satu kata tersebut, para kontraners Anies ramai-ramai menghantam sang Gubernur yang baru saja menjabat. Lontaran ‘gubernur rasis’ langsung disematkannya, tanpa mau mendalami terlebih dahulu konteks dari keseluruhan isi pidato.

Setelah kejadian tersebut, para kontraners ini seakan-akan langsung pasang mata dan telinga untuk mencari kesalahan dari setiap gerak-gerik Anies - Sandi. Kesalahan yang ditemukan, walau sekecil apapun, akan diramu untuk jadi bahan ejekan yang tujuannya adalah untuk mendowngrade sang Gubernur dan Wakil Gubernur baru.

Maka tidaklah heran kemudian muncul plesetan ‘Gabener dan Wagabenr’. Juga muncul istilah ‘kue lapis untuk rumah lapis’. Apalagi Anies – Sandi yang minim atau bahkan tanpa pengalaman dalam memimpin suatu wilayah, terlihat masih gamang menghadapi insan pers saat menjelaskan kebijakannya untuk Kota Jakarta. Tidak mengherankan, kemudian banyak bermunculan meme-meme yang mengoolok-olok mereka.

Kemungkinan, mereka belum bisa move on sebagai akibat terlalu mendramatisir kekalahan Ahok dan meyakini bahwa kekalahan tersebut terjadi karena proses yang tidak wajar. Bahwa Ahok kalah karena lawan jual ayat dan stop mandiin mayat.

Meskipun mungkin ada pengaruhnya, namun sejatinya bukan itu penyebab utama kekalahannya. Ahok kalah karena memang orang yang tidak mau dia menjabat Gubernur lagi, lebih banyak dibanding yang masih menginginkannya. Sesederhana itu.

Penulis tidak tahu pasti kapan para kontraners tersebut bisa move on dan berhenti ngulikin dan mendramatisir kesalahan-kesalahan kecil Anies – Sandi. Namun begitu, tidak perlu ada yang dikawatirkan terhadap aksi-aksi mereka. Karena, para kontraners adalah kaum waras, yang percaya bumi itu bundar, sehingga apapun yang mereka lakukan tetap masih dalam koridor kewajaran. Jadi teruslah bekerja dengan amanah.

Tantangan Anieas sebagai Gubernur DKI memang banyak dan kompleks, mulai dari pemenuhan janji-janji kampanye, penataan kota yang mulai semrawut lagi. Para pekerja yang masih belum puas terhadap kenaikan UMP, serta yang utama adalah meningkatkan kualitas sosial-ekonomi warga Jakarta.

Namun begitu, sebenarnya ada tantangan lain lebih besar yang harus dihadapi oleh Anis – Sandi. Tantangan besar tersebut justru datang dari para pendukung yang masih belum bisa move on. Malah terkesan mereka tidak mau move on dan ingin terus ikut berpesta kemenangan.


Meski jumlahnya sedikit, namun orang – orang ini sebenarnya patut diwaspadai karena berpotensi merongrong pemerintahan Anis-Sandi. Mereka ini adalah kelompok yang paling merasa berjasa dalam menggotong Anies ke kursi empuk Gubernur. Mereka bagian dari dari kelompok pergerakan GNPF-MUI.

Memang, sebagian besar tokoh dan ulama dari gerakan tersebut yang berjumlah tujuh juta umat sebetulnya sudah move on, setelah Ahok dinyatakan kalah oleh KPU dan oleh pengadilan. (Note: Jumlah tujuh juta sebenarnya salah, terlalu dibesar-besarkan. Namun, karena angka tersebut sering diucapkan dan dituliskan diberbagai media sosial, maka kita anggap benar saja).

Para tokoh tersebut langsung menjauh dari dunia politik praktis. Mereka merasa sudah selesai dalam menyuarakan kebenaran dan tidak perlu lagi ikut berpesta dan bereforia dalam kemenangan Anis-Sandi.

Sebaiknya Anis-Sandi harus mewaspadai orang-orang yang secara terus menerus meminta ‘perhatiannya’. Bahkan dengan rasa kecewa, mereka sudah mencap Anies bagaikan kacang lupa kulitnya, hanya karena tidak mendatangi peringatan 411. Mereka ini menginginkan agar Anies terus bersama dalam gerak dan ideologi.

Anis-Sandi harus bisa melepas jeratan dari para pendukung yang gagal move on ini, agar tidak terkungkung oleh mereka. Harus tegas berani mengambil jarak dan menempatkan diri berdiri di tengah-tengah rakyat Jakarta yang heterogen.

Penulis berharap, Anies, yang pada minggu pertama kepemimpinannya sudah ‘nekat’ datang untuk meresmikan gereja dan pura, menunjukan bahwa dia masih tetap seperti yang dulu. Seorang yang moderat dan pluralis. Semoga Gubernur Anies bisa menempatkan diri sebagai pemimpin seluruh lapisan masyarakakan, sehingga mampu membawa kebaikan dan kemajuan bagi seluruh rakyat Jakarta. Sekian.

Sumber

Demo Buruh Sikat Anies,Karma Itu Nyata.


Berita Dunia Jitu - Dalam rangka memperingati hari pahlawan, ribuan buruh yang tergabung dalam anggota Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan mengadakan demonstrasi massal secara besar-besaran di Jakarta.

Aksi besar-besaran tersebut melibatkan 8.000 sampai 12.000 buruh sebagai dampak dari keputusan sepihak Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini yang teken Upah Minimum Provinsi 2018 hanya sebesar Rp 3.648.035 saja.

Besaran UMP tersebut tidak sesuai dengan janjinya terhadap kaum buruh saat kampanye dulu. Anies berjanji akan mencabut PP no.78 tentang upah minimum sebagai bentuk keberpihakannya terhadap kaum buruh. Begitu janjinya.

Yang lebih konyol lagi, Anies Baswedan bahkan teken kontrak politik yang ditanda tangani bersama Koalisi Buruh Jakarta soal penetapan UMP DKI Jakarta 2018. Kontrak politik tersebut yaitu nilai UMP lebih tinggi dari PP 78 tahun 2015.

Sekarang janji angin sorgawi dan kontrak politiknya dengan kaum buruh itu tinggal kenangan hilang lenyap dihembus angin malam yang mencekam.

Kini dengan entengnya dan tanpa rasa bersalah dengan janji-janjinya terhadap kaum buruh semasa kampanye pilkada DKI, Anies Baswedan menetapkan UMP hanya sebesar Rp 3.648.035 saja.

Begitu pula dengan janjinya untuk menghapus PP 78 tahun 2015 itu tidak direalisasikan sama sekali. Akibatnya para buruh pun meradang karena merasa telah kena tipu mentah-mentah dari Anies Baswedan.

Mereka telah memilih Anies-Sandi secara berjamaah. Giliran sudah menang, selamat tinggal juga janji-janjinya itu. Emang gua pikirin? Yang penting sudah berhasil dan resmi jadi Gubernur DKI Jakarta. Mungkin begitu.

Uang sebesar Rp 3.648.035 per bulan itu mana cukup buat hidup di Jakarta? Sangat jauh dari standard kebutuhan hidup layak. Bayangkan saja sekelas ibukota negara cuma digaji Rp 3.648.035 per bulan, mana cukup?

Bayar kontrakan, bayar listrik, bayar sekolah anak, beli beras, langsung ludes. Sisanya telan ludah sama tepok jidat doang. Padahal para buruh menuntut kenaikan upah minimum 2018 tidak banyak-banyak, hanya sebesar Rp. 650.000 per bulannya.

Dulu dia sikat Ahok dengan menuding Ahok tidak berpihak terhadap kaum bawah, hanya berpihak kepada pengusaha dan orang kaya saja. Sekarang giliran dia yang kena batunya.


Hukum karma memang tidak pernah ingkar janji. Makanya betul Ahok bilang, Gusti ora sare. Besok dia kena batunya kena sikat dari para buruh yang menolak upah murah, menuntut janjinya menghapus PP No. 78 tentang Pengupahan, dan menuntut kenaikan upah sebesar Rp. 650.000.

Yang jelas akibat kebijakan Anies Baswedan yang tidak sesuai janji kampanyenya itu, besok dipastikan kemacetan lalu lintas parah akan terjadi karena pengamanan yang berlapis dari pihak Kepolisian serta pengalihan lalu lintas di sekitar Monas, Istana Negara, Balai Kota Jakarta, dan Gambir.

Kenapa sih kebijakan Anies Baswedan dampaknya selalu bikin susah orang banyak saja. Heran. Para buruh jelas punya kepentingan untuk demo besar-besaran karena Anies Baswedan telah mengingkari janji-janjinya semasa kampanye dulu.

Selain itu, upah yang layak adalah bentuk tanggungjawab terhadap keluarga yang dinafkahi. Pengusaha tambah kaya raya, mereka yang kerja mati-matian banting tulang memperkaya para pengusaha yang mempekerjakan mereka justru hidup serba pas-pasan. Dimana keadilan itu?

Itulah sebabnya saya tidak heran jika bossnya para buruh se-Indonesia Said Iqbal memberikan gelar kepada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dengan gelar Bapak Upah Murah dan Gubernur Tercepat Ingkar Janji.

Kedua Gelar tersebut memang pantas disematkan kepada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno karena mereka telah menipu para buruh agar bisa menang jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Faktanya Anies Baswedan obral kebohongan demi ambisinya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kasihan para buruh yang dikibulin mentah-mentah yang memilihnya karena terbuai dengan janji-janjinya saat kampanye pilkada DKI Jakarta.

Sekarang baru mereka gigit jari akibat kena tipu mentah-mentah dan terbuai janji angin sorgawi itu. Lagian kok mau saja dikibuli. Sekarang baru sadar ya.

Jadi ingat dulu saat debat Pilkada DKI Jakarta. Ahok bilang jangan karena kebelet ingin jadi Gubernur DKI Jakarta lalu menipu rakyat kecil dengan program kerja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Ternyata kata-kata Ahok dulu ada benarnya juga. Sekarang terbukti juga kan? Karma itu nyata.

Sumber

Kamis, 09 November 2017

Jangan Malu Dan Gengsi Lanjutkan Program Ahok - Djarot

Jangan Malu Dan Gengsi Lanjutkan Program Ahok - Djarot

Berita Dunia Jitu - Apa kabar kalian warga DKI Jakarta? Bagaimana rasanya dipimpin oleh pemimpin baru kalian? Mereka berdua adalah pilihan kalian mayoritas warga Jakarta yang 58%. Kalian menginginkan seorang pemimpin baru yang bisa “merangkul” semua pihak tanpa ada yang tersakiti. Hasilnya, kalian sudah mendapatkan mereka berdua yang bermulut manis dan tidak marah – marah.

Tapi saya rasa bukan hanya itu yang kalian cari, kalian juga tentunya ingin mereka merealisasikan janji – janji kampanye mereka. Mulai dari DP rumah 0%, penghentian reklamasi teluk Jakarta dan masih banyak lagi janji – janji lainnya.

Saya yang bukan warga DKI Jakarta pun menunggu hasil kerja ataupun terobosan – terobosan baru dari pasangan pemimpin baru ini. Saya rasa mereka berdua harus sadar bahwa beban di pundak mereka berdua tidaklah ringan karena yang mereka pimpin adalah ibu kota dari negara kita. Mereka harus mampu mengubah wajah ibu kota kita ke arah yang lebih baik karena inilah etalase dari negara kita di mata internasional.

Bicara tentang internasional, tugas mereka berdua akan lebih berat karena kita akan kedatangan tamu – tamu internasional yang akan berlaga pada ajang Asian Games 2018 tahun depan. Bahkan presiden kita sudah mewanti – wanti mereka untuk menjaga penampilan ibu kota kita demi kehormatan kita sebagai sebuah bangsa.

Pertanyaannya adalah apakah mereka berdua mampu mengemban tugas maha mulia dan berat ini selama 5 tahun kedepan. Tentunya bayang – bayang kinerja pasangan Ahok – Djarot yang moncer dan tokcer adalah beban tersendiri bagi mereka. Apa mereka mampu bekerja dengan tulus dan sebaik Ahok – Djarot untuk warga DKI Jakarta?

Setelah melihat beberapa minggu kepemimpinan mereka berdua, saya agak pesimis mereka bisa melampaui kinerja Ahok – Djarot. Mulai dari ketidakjelasan tentang DP 0% yang akan berubah nama menjadi “rupis” (rumah lapis). Lah apa bedanya dengan “rusun” (rumah susun) yang merupakan program Ahok – Djarot.

Saya juga meragukan janji sang gubernur yang mengatakan akan merangkul semua pihak. Buktinya saja di hari pertama pidatonya sudah menunjukan istilah pribumi dan non – pribumi. Apakah ini yang dimaksud dengan merangkul semua pihak? Jika memang ingin merangkul semua pihak, tentunya pidato yang disampaikan tidak sampai mendiskreditkan pihak atau golongan tertentu. Harusnya pidato yang disampaikan mampu merekatkan kembali berbagai pihak yang tercerai berai pada saat Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.


Yang terbaru adalah penataan kawasan Tanah Abang Jakarta yang terkenal dengan kepadatan dan kemacetannya. Solusi yang muncul dari pasangan pemimpin ini adalah merangkul para preman di Tanah Abang untuk mencari solusi kemacetan dan kepadatan di sana. Apa ga salah ide mereka ini. Saya tidak habis pikir para preman yang tidak mampu mencari solusi untuk kehidupan mereka sehingga memilih menjadi sampah masyarakat mau diajak kerja sama.

Walaupun begitu sejauh ini hanya janji kampanye penutupan Alexis yang bisa direalisasikan. Menurut pengamat pun dari semua janji kampanye, menutup Alexis adalah yang paling mudah dilakukan oleh pasangan pemimpin baru ini. Kita masih menunggu mereka berdua melunasi semua janji kampanye mereka tanpa adanya cacat sedikitpun.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, ada baiknya segala kebijakan yang akan diberlakukan harus untuk kepentingan masyarakat Jakarta. Saran saya adalah lanjutkanlah program – program Ahok – Djarot yang sudah bagus. Lalu perbaiki apabila masih ada yang kurang. Jika pasangan pemimpin baru ini mempunyai program baru yang baik untuk kepentingan masyarakat luas, tentunya tidak masalah apabila diterapkan.

Jangan karena ego dan gengsi sesaat sehingga tidak mau mengakui program Ahok – Djarot yang sudah baik. Masyarakat akan lebih menghormati Anda berdua sebagai pemimpin baru jika kalian mau melihat realita bukan menjadikan ibu kota negara kita sebagai kelinci percobaan kebijakan – kebijakan kalian yang tidak masuk akal.

Masyarakat luas tidaklah buta dan tuli, saya yakin para pendukung Ahok – Djarot pun akan mendukung kalian jika kalian bekerja demi kepentingan rakyat. Bukan tidak mungkin mereka akan mendukung dan mencintai kalian sebagai pemimpin mereka seperti mereka mencintai Ahok – Djarot ketika mereka memimpin ibu kota Jakarta.

Yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. Kalian sekarang adalah pemimpin baru Jakarta. Bekerjalah demi Jakarta dan rakyatnya. Bukalah ruang diskusi secara trasnparan kepada publik dan jangan kecewakan para rakyat Jakarta yang memilih maupun tidak memilih kalian. Hidup hanya sekali jadi tinggalkanlah nama baik dihati dan pikiran setiap orang.

Sumber