Rabu, 02 Agustus 2017

Indonesia Siap Saingi Pelabuhan Di Singapura

Indonesia Siap Saingi Pelabuhan Di Singapura

Berita Dunia Jitu - Terminal I Pelabuhan Kalibaru sudah diresmikan tahun lalu. Pelabuhan tersebut sengaja dibangun untuk menjawab kebutuhan pelayanan petikemas internasional di Indonesia. Pelabuhan yang terletak di Tanjung Priok itu, menjadi pelabuhan terbesar yang ada di Asia Tenggara.

Terminal yang memiliki panjang 800 meter, 32 hektare tempat penumpukan dan 16 meter kedalaman mampu menjadi pesaing dari Singapura. Berdasarkan data yang dihimpun, terminal ini memiliki 8 crane sehingga mampu mengurus 32 kontainer per jam. Bahkan, pelabuhan ditambah perangkat sistem informasi dan teknologi turut diperbarui dengan yang paling modern untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok ini dengan pelabuhan lain.

Dalam hal ini, pelabuhan mampu menampung kapasitas sebesar 1,5 juta TEUs per tahun. Dengan total panjang dermaga mencapai 450 meter. Sedangkan pada akhir 2016, panjang dermaga mencapai 850 meter. Serta kedalaman mencapai 14 meter LWS (akan dikeruk secara bertahap hingga -20 meter LWS). Terminal baru ini diproyeksikan untuk dapat melayani kapal petikemas dengan kapasitas 13 ribu 15 ribu TEUs dengan bobot di atas 150 ribu DWT.

Menurut Jokowi, terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh dari pengoperasian terminal tersebut. Pertama, terkait dengan waktu tunggu bongkar muat (dwelling time). Pengoperasian Terminal Kalibaru dapat membantu pencapaian target dwelling time yang ditetapkan oleh Jokowi yaitu 2,2-2,5 hari. Sedangkan waktu tunggu bongkar muat di Pelabuhan Priok saat ini masih mencapai 3,7 hari.

Kedua, menurunkan biaya logistik. Dalam hal ini, Indonesia masih memiliki biaya logistik yang lebih mahal dua kali kali lipat dibandingkan negara lain. Ketiga, pengoperasian terminal ini dapat menjadi penghubung perdagangan barang dan jasa antarpulau dan antarnegara. Dengan demikian, ekonomi Indonesia akan semakin memiliki daya saing dan kompetitif.

Konsep ini memungkinkan Kapal-kapal besar bolak-balik membawa logistik dari barat ke timur atau sebaliknya. Pengembangan pelabuhan juga mendorong keberadaan pelabuhan laut dalam sehingga bisa disinggahi kapal-kapal besar.
Dalam pembangunannya, pelabuhan ini dikembangkan oleh PT Pelindo II (Persero) dengan nilai investasi Rp 4,2 triliun. PPI sendiri merupakan anak usaha Pelindo II yang diberi tugas membangun Pelabuhan New Tanjung Priok.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada Terminal 1 sudah dipenuhi alat-alat bongar muat seperti Container Crane Super Post Panamax sebanyak 20 unit, Rubber Tyre Gantry Crane, Mobile Tractor sebanyak 60 unit, Reach Stacker sebanyak 1 unit dan Handling Empty Container Equipment.

Jalan akses antara New Priok Terminal 1 dengan jalan utama di luar pelabuhan juga telah tersambung. Dalam 1 lajur, terdapat tiga ruas. Artinya, tiga truk kontainer bisa sejajar berbarengan masuk dan keluar pelabuhan. Di saat bersamaan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang mengebut pembangunan Tol Akses Tanjung Priok yang bisa menghubungkan New Priok dan Cikampek.


Pelindo II juga menggandeng investor untuk membangun Tol Cilincing-Cibitung sepanjang 34,8 Kilometer. Sehingga, New Priok akan tersambung dengan dua akses tol. Yakni, ada Tol Cikampek dan Tol Cibitung-Cilincing. Saat ini, yang bertindak sebagai operator adalah PT New Priok Container Terminal One (NPCT One). NPCT One merupakan perusahaan patungan atau join venture internasional antara anak usaha Pelindo II dengan Mitsui, NYK yang berasal dari Perusahaan Jepang, dan PSA yang berasal dari Perusahaan Singapura. Saat beroperasi, New Priok Terminal 1 akan beroperasi 24 jam dengan masa konsesi 25 tahun.

Pengembangan New Priok akan terus berlanjut pada Terminal 2 dan Terminal 3 yang bakal dibangun di atas lahan reklamasi, berbeda dengan New Priok Terminal 1 yang dibangun memakai konstruksi deck on piles. Skema ini mirip dengan pembangunan tol atas laut Bali yang dibangun memakai tiang pancang tanpa melakukan reklamasi atau pengurukan area pantai.

Dalam hal ini, Jokowi mangalokasikan anggaran sebesar Rp 11 triliun untuk pembangunan tersebut. Perampungan seluruh terminal di Pelabuhan Kalibaru direncanakan akan selesai pada 2019. Serta, Jokowi juga meminta pihak Pelindo II menggandeng pihak swasta atau investor. ”Pesaing sudah di depan mata, begitu terlambat ditinggal kita. Semua harus selsai 2019,” tegas Jokowi.

Dalam pembangunannya, tentunya berdampak pada masyarakat. Baik pada hal penunjang atau pada pembangunan utama. Dalam hal pembangunan jalan akses Terminal Kalibaru, pemerintah pusat merevisi dari rencana pembangunan sebelumnya. Pada rencana sebelumnya, akses jalan tersebut akan melawati lahan HPL Pelabuhan Tanjung Priok yang berada dipemukiman pada penduduk. Yakni, pada Rukun Warga (RW) 08,09 dan 10 di Kelurahan Kalibaru. Pada tahun 2014, pihak pengembang memindahankan. Sebab, hingga tahun tersebut belum ada pembahasan terkait pembebasan lahan. Pada akhirnya, pihak pengembang memindahkan ke lahan HPL Pelabuhan Tanjung Priok yang digunakan oleh PT Medco Sarana Kalibari dan PT Dharma Karya Perdana.

Berdasarkan hasil wawancara, secara umum terdapat masyarakat tidak bermasalah terkait dengan rencana pergeseran trace tersebut. Sebab, mereka sadar bahwa lahan yang mereka tinggali merupakan lahan HPL Pelabuhan Tanjung Priok. Namun mereka berharap akan dilakukan pembebasan lahan untuk fasilitas pelabuhan lainnya dilakukan sesegera mungkin dan meminta PT Pelabuhan Indonesia II (persero) dan Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok untuk segera melakukan sosialisasi kegiatan pembebasan lahan tersebut.

Saat ini, terminal I Pelabuhan Kalibaru memasuki tahap kegiatan operasional. Di mana pengunaan Jalan Akses Terminal Kalibaru oleh kendaraan pengangkut container, pegawai terminal, dan pihak lain yang berkepentingan. Kapasitas jalan akses ini dapat menampung bangkitan dari operasional terminal Kalibaru tahap 1 sebanyak 30.000 unit kendaraan/hari. Pada jalan akses terdapat pintu gerbang masuk keluar (gate) Terminal Kalibaru, untuk mengatasi gangguan lalu lintas khususnya pada simpang Jalan Cilincing Raya dan Jalan Kalibaru Barat/Jalan Akses Terminal Kalibaru dilakukan pengaturan lalu lintas oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polantas) dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Sebagai mitigasi jika terjadi kecelakaan lalu lintas, maka PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) akan menyiapkan mobil derek dan ambulance dengan jalur. Untuk mengurangi antrian, maka sebelum kendaraan memasuki ramp, harus memasuki buffer area (tempat parkir sementara) selanjutnya diatur untuk masuk ke jalan akses via ramp. Dampak ini telah dibahas dalam AMDAL 2012.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar