Berita Dunia Jitu - Video “Saya Pancasila” dari Pakde Jokowi sudah dirilis akhir bulan Mei 2017 yang lalu, untuk menyambut Hari Lahir Pancasila. Pakde Jokowi agaknya gemas dengan perilaku masyarakat Indonesia yang mulai melupakan dasar-dasar negara Pancasila. Pancasila adalah pengikat masyarakat Indonesia. Seperti sebuah rumah, Pancasila merupakan fondasi bagi terbentuknya sebuah bangunan. Bila fondasi lemah maka bangunan di atasnya pasti hancur. Fondasi bangunan Pancasila itu berisi antara lain ajaran-ajaran untuk saling menghormati keyakinan orang lain, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan dan bersama-sama mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Isi lebih lengkap dari fondasi bangunan Pancasila itu terkenal dengan sebutan 36 butir-butir Pancasila.
Persoalan yang berhubungan dengan 36 butir-butir Pancasila tersebut adalah kurang bersemangatnya masyarakat dalam mengimplementasikan butir-butir tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya adalah banyaknya lomba cerdas-cermat butir-butir Pancasila, yang disiarkan oleh TVRI. Sangat sedikit berita yang menyiarkan penerapan butir-butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Beruntunglah, kini telah lahir Desa Pancasila di Klaten Jawa Tengah. Nama desa itu sesungguhnya adalah Desa Manjung, yang berlokasi di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Desa Manjung adalah desa yang biasa saja seperti halnya desa-desa lain di Jawa. Meskipun demikian, kini Desa Manjung telah ditahbiskan pertama kali di Indonesia sebagai Desa Pancasila. Disebut sebagai Desa Pancasila, karena berbagai alasan.
Alasan pertama, di desa tersebut telah berdiri dengan tegak empat rumah ibadah yaitu masjid, gereja, wihara, dan pura sebagai rumah ibadah untuk penduduk desa yang beragama Hindu. Rumah ibadah terebut benar-benar dijaga oleh warga setempat. Mereka saling bergotong royong membangun, membersihkan dan menjaga keutuhan rumah ibadah tersebut.
Alasan kedua, perilaku sehari-hari warga Desa Manjung adalah saling bertoleransi dan guyub rukun membantu sesama tanpa memandang agama yang dianut. Bila umat Islam melaksanakan sembahyang tarawih, maka warga yang beragama lain ikut berjaga-jaga. Ketika Lebaran tiba, warga saling mengantar opor ayam dan ketupat. Warga yang beragama lain, tentu saja ikut menikmati lezatnya opor ayam. Ketika perayaan Natal tiba, maka warga Muslim, Hindu dan Budha bergotong royong menjaga tempat parkir. Bahkan mereka semua juga ikut terlibat merayakan Natal bersama-sama. Tentu saja, acara makan-makan bersama tidak ketinggalan.
Alasan ketiga, kepala desanya, Abednego Amanto, ternyata beragama Katolik, meskipun mayoritas warganya beragama Islam. Amanto pun sudah dua kali menjabat sebagai kepala desa. Hal ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan Kepala Desa tersebut sangat berkenan di hati warga. Mereka justru hidup sejahtera karena berbagai kebijakan kepala desa yang pro Pancasila.
Lalu apa persoalan di Desa Manjung? Hidup di Desa Manjung memang nyaman dan tenteram. Hiruk pikuk pertengkaran jauh dari benak warga. Begitu nyamannya suasana Desa Pancasila tersebut, sehingga kehidupan warga cenderung menjadi stagnan. Perilaku yang kreatif mungkin menjadi hal yang mewah, meskipun jarak dengan Yogyakarta dan tempat wisata kelas dunia yaitu candi Prambanan hanya sepelemparan batu saja.
Perilaku kreatif kurang muncul di Desa Manjung, mungkin karena budaya Jawa yang cenderung kolektif. Hal ini telah dikemukakan oleh peneliti terkenal yaitu Hofstede (2001), yang menggambarkan peta dunia tentang tingkat individualisme. Dalam peta tersebut, negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, dan sebagian negara-negara Amerika Selatan mempunyai tingkat individualisme yang rendah (tingkat kolektivisme yang kuat)
Pada sisi lain, kemajuan jaman ternyata sangat mementingkan adanya sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif. Organisasi yang tidak inovatif tinggal menghitung hari saja usianya. Indonesia sebagai organisasi yang sangat besar, tentu terancam keberadaannya bila masyarakatnya tidak kreatif. Bila kreativitasnya diarahkan pada hal-hal yang buruk, maka mungkin saja (ini yang dikhawatirkan) Indonesia bubar.
Apakah butir-butir Pancasila yang mengedepankan aspek musyawarah itu menghambat kreativitas? Inilah yang menjadi persoalan klasik. Orang yang mempunyai ide kreatif (tentu saja yang positif), cenderung dimusuhi orang banyak. Orang kreatif memang cara berpikirnya tidak lazim, yaitu selangkah lebih maju daripada orang lain. Wajar saja, banyak orang yang tidak bisa memahami jalan pikiran orang kreatif. Orang kreatif menjadi terisolir hidupnya. Dampaknya, orang enggan untuk kreatif. Mereka hidup seperti orang biasa lainnya, sebab yang dipentingkan adalah tidak bertindak anarkhis, tidak mengganggu lingkungan dan tidak menjadi sorotan orang banyak.
Kecemasan tentang tidak adanya hubungannya antara Pancasila dengan kreativitas, telah memecut Kepala Desa Manjung untuk membuat pelatihan yang bertajuk “Patriot Desa”. Pelatihan itu melibatkan beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Materi pelatihan antara lain “Strategi Menggali Potensi Diri dan Cara Melatih Berpikir Kreatif”
Hasil pelatihan menunjukkan bahwa para pemuda Desa Manjung terlihat kurang berani memunculkan ide-ide yang kreatif. Mereka sangat mempertimbangkan pendapat teman-temannya. Bila mayoritas teman tidak setuju, maka ide kreatif urung untuk muncul.
Sebenarnya ratusan ide kreatif bisa muncul dengan cepat, dengan dua syarat yaitu adanya kerjasama dan menghargai hasil karya orang lain. Dua syarat itu sebenarnya telah tercantum pada butir-butir Pancasila. Jadi sebenarnya cara berpikir yang kreatif sama sekali tidak bertentangan dengan Pancasila.
Implementasi butir kerjasama dan penghargaan hasil karya orang lain yaitu dengan membagi benda-benda yang telah disediakan fasilitator dan masing-masing anggota memberikan ide tentang fungsi kreatif dari benda tersebut. Bila jumlah anggota kelompok adalah 12 orang dan jumlah benda yang diberikan fasilitator adalah 15 buah (misalnya jarum peniti, botol kosong, sekrup, dan sebagainya), maka setiap 4 orang memegang 5 benda. Selama simulasi berlangsung, para peserta diminta tidak memberi komentar negatif (mengejek, menghina) terhadap ide temannya. Semua ide dicatat. Dalam waktu 5 menit, puluhan ide kreatif tentang fungsi dari benda-benda itu bisa muncul. Namanya saja ide kreatif, sehingga sering membuat mulut ternganga. Contoh satu ide yang biasa yaitu sekrup berfungsi untuk menyatukan papan kayu. Contoh ide kreatif yaitu sekrup berfungsi sebagai alat untuk menggambar hiasan pada pot keramik.
Jadi sesungguhnya kita bisa menjadi bangsa yang kreatif dan maju cara berpikirnya, tanpa meninggalkan Pancasila. Kreativitas itu juga bisa dilatih. Salah satu syaratnya, ya bergaul dengan orang-orang yang kreatif, tidak suka mencela / menghina, dan selalu berpikir positif. Tidak mudah, namun bukan mustahil dilakukan
Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar