Kamis, 03 Agustus 2017

Harry Tanoe Mendukung Jokowi , Buni Yani Bebas Dari Penjara??

Harry Tanoe Mendukung Jokowi , Buni Yani Bebas Dari Penjara??

Berita Dunia Jitu - Hary Tanoe membelot mendukung Jokowi. Buni Yani dipastikan akan lepas dari jerat bui? Buni Yani telah berjasa menjadi pahlawan bagi Anies-Sandi, FPI, gerakan Islam radikal, Prabowo dan SBY. Dia adalah sosok kuat yang tengah dijanjikan jalan tidak dibui. Kepercayaan dia sangat tinggi akan lepas dari jerat terali besi. Bagaimana penggambarannya hingga provokator tersangka pelanggar UU ITE itu lolos dari bui? Fenomena politik apa di balik itu dan peran besar atau deal apa yang dilakukan oleh MUI, cq. Ma’ruf Amin? Mari kita kupas.

Hary Tanoe Membelot ke Jokowi

Malang-melintang, kesal dan frustasi dengan Wiranto dan Surya Paloh, akhirnya Hary Tanoe selama 4 tahun mendukung Prabowo. Media besarnya pun dikerahkan untuk melakukan pemelintiran berita, untuk kampanye menentang Presiden Jokowi.

Aliansi dengan Prabowo sama sekali tidak menghasilkan keuntungan politik bagi Hary Tanoe. Kesalahan mendasar Hary Tanoe adalah berdiri di kaki para manusia yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Prabowo dan SBY tak segan bersekutu dengan FPI dan kalangan Islam radikal hanya demi mendukung Anies yang antek FPI.

Itu latar belakang imej terhadap Hary Tanoe sudah hancur. . Hary Tanoe malah bermasalah dengan Mobile 8 yang membuatnya mengirim SMS yang akhirnya menghancurkan karir politiknya. Menyadari hal itu, berupaya lepas dari jerat bui Hary Tanoe mencoba melakukan pendekatan hukum-politik dan politik-hukum dengan merapat ke Presiden Jokowi.

Ini malah lebih menghancurkan dirinya karena terbukti Hary Tanoe hanyalah ayam sayur yang selalu mencari kesempatan berdasarkan perputaran uang. Kelompok Prabowo-SBY adalah lingkaran kroni dengan gelimangan uang yang luar biasa besar. Dia kira dengan bergabung dengan mereka akan mendapatkan dukungan rakyat. Tidak.

Maka menghadapi kasus Mobile 8 dan ancaman bui karena SMS kebablasan, maka dia hanya dibela oleh para pendemo Presiden Jokowi dan Ahok yakni mereka yang menyebut gerombolan 212. Hary Tanoe mengira mereka akan bergerak mendukungnya seperti ketika mendemo Presiden Jokowi dan Ahok. Tidak.

(Ini berbeda dengan Ahok. Ahok mencari jalan normal dan kenormalan sehingga didukung oleh bangsa Indonesia yang waras.)

Ancaman bui baginya menyadarkannya untuk kompromi. Hary Tanoe memiliki jaringan media hebat. Ini daya tarik tawaran bagi Presiden Jokowi. Bagi Presiden Jokowi yang menawarkan bergabung mendukung Hary Tanoe sendiri, bukan dirinya. Nothing to lose! Dukung silakan, tidak gak apa-apa.

Tentu kubu Prabowo-SBY yang kehilangan media coverage milik jaringan Hary Tanoe yang hebat sangat dirugikan. Dengan menguasai 80% media saja Prabowo kalah di 2014, apalagi kini tinggal menyisakan kelompok Chaerul Tandjung dan ARB, Parbowo-SBY akan pontang-panting.)

Alasan membelot pun dicermati. Takut masuk bui dan secara politik dukungan 212 merusak karir politik Hary Tanoe. Bagi SBY dan Prabowo 212 sejak awal adalah framing dan aliansi strategis untuk berkuasa melawan Presiden Jokowi. Ini berbeda fungsi dengannya. Dia adalah pencari identitas yang terus mengambang untuk meneruskan ambisi berkuasa secara politik.

Akhirnya, langkah kompromi Hary Tanoe di saat injury time ini lebih memerdalam tenggelamnya dia dalam kancah politik nasional. Pun dipeluk oleh Hary Tanoe bagi Presiden Jokowi tidak memberikan dampak yang hebat secara politik.

Ini berbeda hubungan politik Presiden Jokowi dengan Ahok. Mereka sama-sama berjuang untuk bangsa dan NKRI. Sementara Hary Tanoe hanyalah seorang oportunis yang kehilangan arah.

Keyakinan Buni Yani Lolos dari Bui

Buni Yani yakin diri pengadilan terhadapnya ini diarahkan untuk membebaskannya. Tampak sekali adanya deal-deal di permukaan yang mengarah kepada alineasi terhadap Ahok. Ahok sengaja disingkirkan dari kesaksian di persidangan. Pun jalannya persidangan mengarah kepada pelecehan persidangan. Pengunjung sidang meneriaki dan menyerang dengan kata-kata verbal.

Pertama, Buni Yani yakin pengadilan tidak akan menghukumnya karena Ahok sudah dipenjara. Artinya, apa yang disebarkannya terbukti sabagai penistaan agama. Dengan demikian maka tidak ada yang salah dengan postingan-nya. Itu pola pikir hukum orang linear lurus tanpa menengok kanan-kiri.

Padahal kenyataannya dampak postingan Buni Yani menjadi gaduh dan kegoncangan politik yang besar. Hanya karena kecerdikan Presiden Jokowi yang melakukan pemetaan saja hingga akhirnya upaya makar, pemakzulan dapat dikendalikan. Intinya postingannya membuat kegaduhan yang nyata. Ini tidak bisa dinafikan dan tetap akan kena.

Kedua, Buni Yani merasa dilindungi karena pengadilan dilakukan di basis Islam radikal, Jawa Barat. Pengadilan di tempat aman bukan berarti hukuman linear dengan tempat. Kasus Ahok misalnya, pengadilan di tempat aman dan netral. Hasilnya, konspirasi kompleks yang menang, dengan mengorbankan Ahok demi kestabilan nasional. Lagi-lagi ini dampak dari postingan Buni Yani yang diedit dengan menghilangkan kata ‘pakai’ menimbulkan kegaduhan.

Ketiga, saksi tidak kompeten dan kurang menggigit Buni Yani. Dia boleh menertawakan para saksi. Dia pun menyepelekan berbagai fakta tentang kebobrokan para hakim di Indonesia. Faktor ini menjadi penentu yang akan menjadi rebutan pengaruh antara kekuatan Prabowo-SBY dan Islam radikal yang ingin dirinya bebas, dengan lawan mereka yang menginginkannnya dibui.

Peran Ma’ruf Amin
Buni Yani harus ingat bahwa yang kini tengah berlangsung adalah persidangan hukum-politik dan politik-hukum dengan pertaruhan kredibilitas Presiden Jokowi.

Dia tidak menyadari kekuatan besar tengah bermain untuk menegakkan keadilan. Dia  dan kawan-kawan serta para pemakai jasanya, seperti Anies-Sandi, Prabowo, SBY, harus kalah dan disingkirkan dan dijauhkan dari kekuasaan.

Dia tidak paham tentang bermainnya kekuatan besar yang tengah berlangsung. Hary Tanoe pun menyadari kekuatan tersebut makanya dia membelot berbalik mendukung Presiden Jokowi.

Dalam perang kepentingan tersebut peran (sementara) Ma’ruf Amin harus dipahami secara benar. Strategi di permukaan nyata adalah menarik Ma’ruf Amin dari lingkaran Islam radikal dan kelompok Prabowo-SBY adalah hal yang wajib dilakukan. Kadang deal harus diambil. Kekuatan dukungan TNI dan mayoritas purnawirawan jenderal ada pada Presiden Jokowi. Prabowo hanyalah pecatan TNI bukan jenderal TNI sama sekali.

Dalam kisruh pengadilan Ahok, Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan mendatangi Ma’ruf Amin. Seketika Jawa Timur mereda. Namun deal sesungguhnya adalah kesabaran satu-satu masalah diselesaikan. Ada waktunya.

Maka ketika kasus Ahok telah diputus, maka saat itu juga secara pelan namun pasti, Ma’ruf Amin dikembalikan ke khittah sebagai pengikut Islam rahmatan lillamin, bukan mendukung FPI yang menungganginya dengan GNPF MUI.

Maka dengan posisi seperti itu, terkait kasus chat mesum Rizieq, MUI menyatakan bukan kriminalisasi ulama. Pun MUI memerintahkan Rizieq menghadapi hukum kalau tidak bersalah. Pendeknya MUI dan Ma’ruf Amin telah bersatu dengan Presiden Jokowi dan Polri serta TNI.

Polda Metro Jaya pun mendekat ke Ma’ruf Amin sebagai bukti pengaruh dan perangkulan terhadapnya. Kini, MUI diberi kesempatan oleh Presiden Jokowi untuk berperan sebagai spear head melawan Islam radikal dan intoleransi.


Peran besar Ma’ruf Amin adalah dia menjauhkan diri dengan Islam garis keras, FPI, HTI, ini tentu akan menyasar ke bidang yang luas. Kasus Buni Yani pun akan diselesaikan dengan pendekatan politik-hukum dan hukum-politik. MUI jelas menjauhi kasus ini dan tidak memiliki kepentingan sama sekali.

Maka pembelaan dari MUI pun tak akan didapatkan olehnya. Kasusnya tidak bermanfaat untuk dibela. Justru Presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin memiliki kepentingan politik, dengan pendekatan hukum-politik dan politik-hukum agar pengadilannya bertindak tegas dengan menghukumnya. Hanya dengan memenjarakannya maka keadilan ditegakkan.

Pengaruh Politik Ahok bagi Presiden Jokowi

Ahok yang fenomenal adalah sahabat Presiden Jokowi. Suka atau tidak suka. Ahok membantu Gubernur Jokowi dan Presiden Jokowi. Peran saling menguatkan dalam memimpin Jakarta menjadi kunci bagi kemenangan Presiden Jokowi.

Ahok pun tampil menjadi pejuang demokrasi dan pendukung gerakan melawan para koruptor. Puluhan pajabat Pemda DKI dipenjarakan oleh Ahok. Jakarta menjadi percontohan uang APBD tidak dirampok dan disalahgunakan oleh DPRD dengan tata kelola keuangan yang transparan.

Maka ketika kriminalisasi terhadap Ahok terjadi, diawali dengan postingan Buni Yani, maka muncul gerakan melawan intoleransi. Penyebabnya adalah merebaknya radikalisme dan intoleransi akibat kampanye SARA di Jakarta. Ini berdampak nasional.

Pada saat itu kekuatan aliansi Prabowo, SBY dan Islam radikal tengah mencapai puncaknya. Jelas Buni Yani menjadi pahlawan dan dielukan. Berkat jasanya maka Ahok terancam bui dan kalah. Gerakan mereka tidak sampai di situ.

Dengan euphoria kemenangan, sasaran sebenarnya adalah penjatuhan Presiden Jokowi. Maka dalam setiap kesempatan, maka teriakan revolusi berkumandang. Jokowi jatuh. Itu teriakan mereka.

Mereka tanpa menyadari adanya pemetaan perlawanan tengah berlangsung menyikat habis nafsu kekuasaan – dan politik – Rizieq FPI, Buni Yani, Ma’ruf Amin, SBY dan Prabowo berikut gerakan Islam radikal.

Satu per satu para tersangka makar diciduk. Penghina Presiden Jokowi ditetapkan menjadi tersangka. Ma’ruf Amin dikembalikan ke khittah Islam rahmatan lil alamin dan tidak menjadi bagian dari FPI dan Islam radikal. Rizieq FPI dibuang ke Arab dan takut pulang. Buni Yani dipenjarakan. Kenapa?

Posisi Tawar Politik Ahok

Jika Buni Yani tidak dipenjara, maka keadilan tidak ditegakkan. Buni Yani akan dijadikan deterrence  agar tidak muncul manusia kompor seperti dirinya. Perpetrator kisruh politik harus dihukum. Yang menjadi beban berat adalah publik akan memberikan penilaian negatif kepada Presiden Jokowi yang dianggap membiarkan pengorbanan Ahok – dengan bebasnya Buni Yani.

Maka, tawaran posisi politik Ahok masih besar. Ahok memiliki pendukung yang nyaris sama dengan pendukung Presiden Jokowi. Dalam perang kampanye 2019, suara Ahokers tidak bisa dinafikan begitu saja. Selisih kemenangan Presiden Jokowi Pilpres 2014 yang diperebutkan hanya 3%. Angka kemenangan 53% versus 47% sangat kecil. Pun polarisasi itu tetap relatif sama.

Buni Yani pun sudah tidak memiliki manfat sama sekali sebenarnya. Namun, karena adanya persaingan politik terkait rasa keadilan kasus Ahok yang bisa merugikan Presiden Jokowi, maka justru terjadi tarik-menarik untuk memenjarakan atau membebaskan Buni Yani.

Nah, makanya Presiden Jokowi dan pecinta anti intoleransi tengah berupaya membui Buni Yani. Sementara kelompok Islam radikal – yang makin tidak laku – kelompok simpatisan Prabowo, SBY akan berusaha untuk membebaskannya.

Kesimpulan
Maka fenomena Hary Tanoe membelot ke Presiden Jokowi sebenarnya adalah gambaran kehancuran politiknya. Pun juga kesadaran akan gelombang kekuatan yang arahnya berubah. Jika Hary Tanoe saja menyadarinya, maka sekelompok manusia seperti aliansi Islam radikal, SBY, dan Prabowo yang berdana besar akan sadar. Tidak adanya dukungan dari MUI dan Ma’ruf Amin untuk Buni Yani akan menghempaskannya ke terali besi. Demikian the Operators dan Ki Sabdopanditoratu. Salam bahagia ala saya.

Sumber


Tidak ada komentar:
Write komentar