Jumat, 04 Agustus 2017
Edisi Milad Gus Dur ke-77
Berita Dunia Jitu - Tanggal 4 Agustus merupakan hari istimewa bagi Indonesia. Hari ini adalah milad K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4.
Eh, benarkah Gus Dur lahir tanggal 4 Agustus? Saya percaya tulisan Muhhammad Bakhru Thohir di NU online. Menurutnya, Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi tanggal itu adalah kalender Islam, yakni bahwa Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan ke depalan dalam penanggalan Islam. Sebenarnya, tanggal 4 Sya’ban 1940 atau tepatnya tanggal 7 September.
Dalam berbagai buku memang tertulis Gus Dur lahir tanggal 4 Agustus 1940 seperti dalam buku berjudul Tertawa Ala Gus Dur, Humor Sang Kyai: The Humor Code yang ditulis oleh Imron Nawawi. Juga dalam buku Ensiklopedi Pelajar dan Umum karya Gamal Kamandoko. Namun perbedan itu bukan hal yang harus dipersoalkan sebab memang itulah Gus Dur. Beliau adalah pribadi yang “kontroversial”. Karena kontroversialnya, Gus Dur menjadi sosok yang dikamumi, termasuk saya dan keluarga sangat mengagumi beliau namun juga banyak yang dimusuhi beliau (bahkan keluarganya dan juga pada NU).
Ssaya masih ingat pada tahun 2001 bagaimana Gus Dur dimusuhi oleh lawan-lawan politiknya. Amien Rais yang “mengangkat” Gus Dur, akhirnya “membanting” keras dengan menggulingkannya dari kursi presiden melalui sidang umum MPR tanggal 23 Juli 2001. Manuver politik Amien Rais pada waktu itu menyakitkan bagi pengagum Gus Dur, namun menjadi sorak kegirangan bagi musuh-musuh politik Gus Dur.
Masih ingat dengan Rizieq Shihab yang saat ini sedang “menikmati kemenangan” sebagai juara satu lomba lari dari kenyataan itu? Pada saat Gus Dur menjadi Presiden RI, Gus Dur pernah menyampaikan supaya FPI dibubarkan. Setelah Gus Dur diturunkan dari jabatannya dalam sidang umum MPR di bawah kendali Amien Rais, Rizieq Shibah mengejek Gus Dur dengan mengatakan,” Waktu Gus Dur jadi Presiden, dia ingin membubarkan FPI tapi mengapa Gus Dur yang bubar. Bukan FPI yang akan bubar tapi kami yang akan membubarkan Gus Dur”. Bahkan Rizieq menuduh Gus Dur sebagai antek Yahudi. Sebagai antek Yahudi, beliau harus dilawan. “Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur akan kami lawan.” Takbir…
Wow… apakah ada kaitan antara Rizieq dan Amien Rais sehingga mereka sama-sama memiliki cara pandang buruk terhadap Gus Dur? Amien Rais mempolitisir situasi politik dan menggulingkannya melalui parlemen. Shihab merasa penggulingan Gus Dur sebagai kemenangan FPI menghadapi Gus Dur yang pernah mewacanakan pembubaran FPI. Entahlah di mana kaitannya. Kala itu (antara 2001 – 2016) sulit menemukan kaitan di antara mereka. Namun kita dapat melihat kemesraan antara Rizieq Shihab dan Amien Rais dalam peristiwa politik akhir-akhir ini, termasuk perjumpaan Amien Rais dan Rizieq Shibab di tempat pelariannya.
Ke-dua tokoh di atas adalah pribadi-pribadi yang menunjukkan permusuhannya pada Gus Dur. Bagaimana sikap Gus Dur? Ketika beliau digulingkan dari kursi presiden, beliau mengalah dan tidak mempertahankan jabatannya. Prinsip itu dilakukan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Presiden memang jabatan yang presitise namun itu hanya jabatan duniawi. Sikap ini merupakan bentuk kebesaran jiwa. Demikian juga dengan caci maki yang dinyatakan lawan-lawan politiknya. Dengan jiwa yang besar Gus Dur memaafkan mereka.
Bagi saya dan keluarga, Gus Dur kami dikagumi. Pemikiran-pemikiran beliau masih hidup meski beliau sudah wafat. Bahkan pemikiran-pemikiran beliau makin bersinar menyinari Indonesia dan dunia yang suram akibat fanatisme, politisasi agama, keserakahan.
Pemikiran Gus Dur mengenai keadilan, kedamaian dan toleransi sangat dihormati oleh bangsa Indonesia, bahkan seluruh dunia. Maka tidak heran bila banyak kampus ternama (dalam dan luar negeri) memberikan gelar kehormatan kepada beliau. Hal itu sebagai bentuk apresiasi pada pemikiran-pemikiran dan tindakan Gus Dur menyikapi pluralisme.
Pluralisme dimaknai sebagai keadaan masyarakat yang majemuk, berkaitan dengan berbagai ragam perbedaan dalam masyarakat. Pemikiran tentang pluralisme sudah jalankannya sejak tahun 1980-an. Saat itu pemerintah RI mulai menunjukkan gejala pemerintahan yang sektarian. Kebijakan sektarian dibuat oleh pemerintah demi dukungan politis. Bagi Gus Dur, pluralisme tidak dapat dipisahkan dari demokrasi. Demokrasi bukan sekedar menjaga negara secara prosedural, tetapi bagaimana nilai-nilai demokratis mendorong kehidupan yang adil dan beradab.
Gus Dur menolak politisasi agama. Bagi beliau, nilai terpenting dari agama adalah bagaimana seseorang memaknai dan menempatkan dirinya di dunia untuk bisa mengelola dan mengatur hidup demi kebaikan hidupnya. Agama mesti dijalankan dengan prinsip humaniter, bukan sekedar formalitas. Karena itu agama mesthi mencerminkan sikap kesetiakawanan, solider, menekankan hubungan dialogis dan pluralis.
Sebelum Gus Dur wafat, beliau berpesan bagi kita semua untuk menjaga Indonesia. Indonesia harus tetap eksis. Eksistensi negeri ini sangat mungkin dengan menciptakan Indonesia yang demokratis, menghargai perbedaan, dan bersikap toleran.
Selamat milad Gus, kami bangga padamu. Sebagai bentuk rasa bangga, kami akan terus mengkaji pemikiran-pemikiranmu, meneladani tindakanmu bagi hidup berbangsa yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, bersatu, bermufakat dan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar