Minggu, 06 Agustus 2017

Antara Daya Beli Atau Pola Membeli

Antara Daya Beli Atau Pola Membeli

Berita Dunia Jitu - Sebuah fakta unik telah terjadi di negeri ini, ditengah menurunnya daya beli masyarakat Indonesia pada awal tahun 2017, bahkan telah diungkapkan secara resmi oleh menteri keuangan bahwa daya beli masyarakat Indonesia menurun. Tapi berdasarkan catatan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa kepemilikan saham oleh investor domestik mengalami peningkatan, bahkan melebihi kepemilikan asing.

mari kita melihat dan jelaskan kembali apa yang terjadi sebenarnya…?

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Jika anda membeli saham berarti anda membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut dan anda berhak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen, jika perusahaan membukukan keuntungan.

Kepemilikan saham di Indonesia selama ini terlalu banyak dimiliki asing, berarti hanya sedikit rakyat Indonesia yang memiliki perusahaan yang berdiri di negeri sendiri, kita hanya sebagai kaum pekerja yang menjadi pekerja di negeri sendiri.

Pada 16 September 2015, berdasarkan informasi yang saya baca bahwa direktur pengembangan BEI Nicky Hogan pernah mengatakan kepemilikan saham domestik baru mencapai 36% sementara sisanya dimiliki oleh asing, sehingga kondisi pasar modal khususnya pasar saham sangat tergantung kepada kepemilikan asing.

Selanjutnya informasi dari CNN Indonesia pada Minggu, 29 Januari 2017 menulis bahwa kepala divisi komunikasi perusahaan PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono mengatakan bahwa kepemilikan saham domestik telah mencapai 45,88%, yang merupakan angka tertinggi pada saat itu karena capaian investor domestik tertinggi dalam rentang 10 tahun terakhir hanya 41,2% yang terjadi pada tahun 2012.

Saya termasuk terkejut dengan fakta yang baru-baru ini saya dapat, bahwa komposisi kepemilikan efek oleh investor asing dan lokal pada tahun ini mengalami perubahan tren dibanding tahun lalu, data dari Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) bahwa kepemilikan lokal lebih besar dari kepemilikan asing. Per 21 Juli 2017, porsi kepemilikan investor lokal di pasar modal sebesar 52,54% sedangkan investor asing hanya 47,46%, KSEI juga mencatat bahwa nilai investasi investor di pasar modal Indonesia pada 2017 mencapai Rp 3.942 triliun, naik 16,59% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Fakta yang sangat mengejutkan, ditengah informasi lesu nya daya beli masyarakat Indonesia, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa investor domestik di pasar modal menunjukkan hasil yang positif, bahkan meningkat cukup signifikan pada tahun 2017, yakni dari 36% pada tahun-tahun sebelumnya menjadi 52 persen.

“Peningkatan persentase investor domestik di pasar modal menunjukkan perkembangan cukup bagus. Pada tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 35 persen dan 65 persen lainnya dikuasai investor asing, namun sekarang sudah berbalik lebih banyak dikuasai investor domestik,” kata Pjs Kepala Unit Pelayanan Pelanggan 2 KSEI Abdul Azis Albakkar di Malang, Jawa Timur, Jumat (10/3/2017).


Sebagai salah seorang dari pelaku pasar di BEI, fakta tersebut membuat saya berpikir dengan apa yang terjadi dengan ekonomi Indonesia pada saat ini, benarkah terjadi pelemahan daya beli masyarakat atau hanya terjadi perubahan pola membeli masyarakat, yang sebelumnya merupakan masyarakat konsumtif dan sekarang menjadi masyarakat produktif dan memikirkan investasi untuk masa depan.

Perubahan-perubahan pola pikir masyarakat tersebut tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan keuangan yang dikeluarkan pemerintah, kerja keras Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Perusahan Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) yang telah bekerja keras mensosialisasi dan melakukan edukasi terkait fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes).

Berdasarkan fakta yang ada sekarang, tahun 2017. Rakyat Indonesia sudah banyak memiliki bagian dari perusahaan yang berdiri di negeri ini, ketergantungan kepada dana asing akan semakin kecil, berkat kerja keras dari semua pihak terutama pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan ekonomi dan keuangannya, secara tidak kita sadari bahwa ditengah daya beli masyarakat Indonesia yang turun terjadi peningkatan daya beli masyarakat dalam hal kepemilikan perusahaan.

Kebijakan pemerintah, terutama pengampunan pajak (Tax Amnesty) juga mempengaruhi dominasi jumlah investor domestik mengalahi jumlah investor asing. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) per 13 Januari 2017 sebanyak 903.034 orang atau tumbuh 106,58 persen year to date. Di mana, pada Januari tahun lalu jumlah investor tercatat hanya 444.319 orang, lalu naik drastis sebulan setelah program Tax Amnesty dimulai yakni mencapai 782.511 orang pada Agustus. Jumlah investor pun terus bertambah bulan-bulan berikutnya, yakni September capai 816.811 orang, Oktober 848.482, November 875.940, dan Desember saat periode II berakhir capai 894.116.

Rakyat Indonesia semakin cerdas, rakyat semakin pintar karena didukung oleh pemerintahan yang cerdas dan pintar pula. Hanya kaum sumbu pendek yang hidup di bumi datar yang tidak menyadari fakta tersebut, tidak menyadari kebenaran yang terjadi, karena mereka hanya percaya teori berdasarkan hati daripada fakta yang sudah terbuka didepan mata.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar