Rabu, 26 Juli 2017

Saya Bukan Pancasila, Saya Zulkifli Hasan

Saya Bukan Pancasila, Saya Zulkifli Hasan

Berita Dunia Jitu - Memang tidak habis kelakuan KETUA MPR RI dan juga Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, yang suka asal bicara tanpa dipikir pakai logika waras dan nalar yang normal. Sering sekali Zulkifli memberikan pernyataan-pernyataan nyeleneh seperti orang kampung terkait isu-isu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sayangnya, dia tidak sadar kalau dia adalah seorang Ketua MPR.

Kalau Zulkifli ini adalah Ahok, maka sudah bisa dipastikan banyak yang akan memprotes dan menggoreng mulut busuk dan basinya ini. Tetapi karena dia ada di kubu yang suka asal ngomong dan diberi stempel “halal”, maka saya saja yang akan terus memberitakan kebusukan mulut bani cocor busuk ini.

Zulkifli sebagai seorang Ketua MPR punya kegiatan dan kewajiban yang sudah jadi kekhususan MPR sejak jamannya almarhum Mantan Ketua MPR, Taufik Kiemas. Pada saat itu kegiatan utama yang menjadi kewajiban MPR adalah menyebarkan Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Zulkifli sering diundang dan juga membuat kegiatan untuk terus menyebarkan dan mensosialisasikan 4 pilar kebangsaan ini. Karena itu, wajarlah kalau Zulkifli diharapkan paham mengenai 4 pilar tersebut. Apakah benar kenyataannya Zulkifli paham?? Sepertinya secara teori bisa dikatakan paham, tetapi penerapan sangat jauh api dari panggangan.

Hal ini terlihat jelas secara spontan, ketika Zulkifli didapuk membuka seminar nasional bertajuk Islam dan Demokrasi yang diselenggarakan Universitas Islam As-Syafi’iyah di Gedung Bukopin, kawasan MT Haryono, Jakarta, Selasa 25 Juli 2017. Zulkifli menyinggung slogan yang disebut Presiden Joko widodo dan nyinyir tidak berkelas.

Dalam sambutannya, Zulkifli menyebut bahwa Pancasila sejatinya harus tecermin dalam perilaku seseorang. Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila tidak boleh dieks­ploitasi menjadi alat kepentingan politik sesaat. Dia pun menyinggung kembali fenomena yang terjadi di Pilkada Jakarta.

“Kalau yang bilang itu karena pilkada itu ngarang. Pancasila itu perilaku, bukan soal dukung-mendukung pilkada. Pancasila jika dipakai jadi perilaku barulah bisa menjadi pemersatu kita,” ujar Zulkifli dalam sambutannya.


“Kalau perilaku tepat, Pancasila bisa jadi pe­mersatu. Namun, kalau dipa­kai alat, itu bisa memecah belah. Saya bukan Pancasila, saya Zulkifli Hasan, belum pernah ganti nama,” ujar Zulkifli.
“Kalau mendukung ini disebut Pancasilais, kalau mendukung itu tidak Pancasilais. Ini tentu keliru. Kalau Islam yang baik, menjalankan agama yang baik, masak kamu dibilang radikal?” tuturnya.

Apakah Zulkifli sadar apa yang disampaikannya ini malah kembali akan mendapatkan serangan balik dari para pendukung Pancasila yang tersobek-sobek gara-gara Pilkada?? Darimana ceritanya, Zulkifli menyebut bahwa Pancasilais itu adalah orang-orang yang tidak menginginkan orang selain muslim jadi pemimpin?? Itu jelaslah tidak Pancasilais.

Harus bisa dibedakan, konteks bernegara dan beragama. Dan bukankah sudah ada juga tafsir sesuai konteks dari NU yang menyebutkan bahwa dari latar belakang surat Al Maidah 51 ada konteks kekhususannya. Kalau semua digeneralisir seperti itu, maka tafsirnya harus konsisten juga diterapkan dengan pemimpin perusahaan dan juga daerah lain, nyatanya hanya di Jakarta dan khusus menjegal Ahok.

Mengapa khusus Ahok?? Karena sudah dua kali Ahok dijegal gara-gara surat Al Maidah yang digoreng masuk politik. Satu lagi saat mengikuti Pilkada Bangka Belitung. Jelaslah kalau ini adalah akal-akalan lawan politik Ahok.

Jadi, apakah itu yang mau disebutkan sebagai orang yang Pancasilais?? Ngawur bin Dungu itu namanya. Karena itu, jangan salahkan kalau akhirnya orang-orang yang melarang dan mengkampanyekan non muslim tidak boleh jadi pemimpin suatu daerah dinilai tidak Pancasilais.

Zulkifli jelas saja tidak setuju kalau mereka disebut Pancasilais karena dia berada dalam kubu tidak Pancasilais tersebut. Dan Zulkifli terlihat jelas juga sengaja berbicara hal ini karena berbicara dalam forum Universitas Islam. Tampak memang kalau Zulkifli inilah yang dia sebut orang yang menggunakan Pancasila sebagai alat kepentingan politik sesaat.

Yang paling parahnya, dia seperti menyindir slogan yang dipopulerkan oleh Jokowi melalui video yang diunggah di laman Instagram pribadinya. Dalam video tersebut Jokowi menyampaikan bahwa Pancasila selalu mengalir dalam aliran darah dan detak jantung kita.

‘Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi, saya Indonesia, saya Pancasila, kalau kamu?’ tulis Jokowi dalam video berdurasi 34 detik tersebut.

Menyedihkan memang melihat kualitas Ketua MPR seperti ini. Nyinyir tidak berkelas dan merasa paling pintar. Malah kelakuannya ini membuat dirinya semakin tidak pantas menyandang jabatan sebagai Ketua MPR. NDESO!!

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar