Berita Dunia Jitu - Di Kabupaten Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat selat sempit sepanjang 800 meter yang memisahkan Pulau Flores dan Adonara. Selat ini dinamakan selat Larantuka. Selat Larantuka terkenal dengan keganasan arus lautnya. Masyarakat Kota Larantuka (Flores) dan Tanah Merah (Adonara) menamainya Aro Gonsalus (Arus Gonsalus). Keganasan arus Gonsalus dapat disaksikan langsung dari pinggir pantai. Arusnya keras, bergerak lurus, kadang berputar dan sewaktu – waktu dapat berubah arah. https://www.youtube.com/watch?v=k6PYlk07QRA Ganasnya arus Gonsalus membuat masyarakat di dua pulau ini berhati – hati jika ingin menyeberang. Alat transportasi yang digunakan yaitu: perahu motor dan sampan. Jika menggunakan sampan, warga memanfaatkan daya dorong arus untuk menyeberang. Dibutuhkan keberanian dan insting yang tepat untuk membaca pergerakan arus, memanfaatkan peluang dan memberi sentuhan yang pas pada saat mendayung, sehingga ketika arus laut berubah arah, sampan yang ditumpangi pun sudah berada di seberang.
Akhir – akhir ini pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disibukkan dengan persiapan pembangunan sebuah jembatan yang menghubungkan Pulau Flores dan Adonara. Jembatan tersebut diberi nama Pancasila-Palmerah. Menurut rencana jembatan Pancasila-Palmerah akan dibangun di selat Larantuka tepatnya di atas arus Gonsalus. Panjang jembatan 800 meter dan lebarnya 15 meter. Jembatan ini dilengkapi dengan turbin yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut. Jika terealisasi maka Pancasila – Palmerah bakal jadi jembatan penghubung pulau yang pertama di NTT dan Jembatan laut pertama di Indonesia yang dilengkapi turbin pembangkit listrik.
Rencana pemerintah Propinsi NTT membangun jembatan Pancasila – Palmerah menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat NTT mendukung namun ada juga yang menolak. Masyarakat beralasan jembatan tersebut belum waktunya untuk dibangun. Selain persoalan dana, masih banyak pekerjaan dan perbaikan infrastruktur lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Perkiraan dana yang digunakan untuk pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah mencapai Rp. 5,1 triliun. Sementara APBD NTT untuk tahun 2016 hanya mencapai Rp 3,8 triliun. Hal inilah yang mengundang berbagai reaksi di kalangan masyarakat NTT. Namun demikian rencana pembangunan jembatan Pancasila – Palmerah sepertinya semakin mendekati kenyataan.
Pembangunan jembatan Pancasila – Palmerah sebenarnya bukan rencana mendadak. Rencana itu sudah ada dan tertuang dalam rencana tata ruang wilayah Kabupaten Flores Timur pada tahun 2008. Baru setelah kepemimpinan Gubernur NTT saat ini, Drs. Frans Lebu Raya, gagasan membangun jembatan itu muncul kembali. Ide membangun jembatan Pancasila-Palmerah pun semakin diperkuat dengan kesanggupan PT Tidal Bridge, Belanda, yang menawarkan kerjasama baik dalam pembangunan maupun pembiayaan. Hasil survei yang dilakukan Tidal Bridge sungguh mengejutkan. Selat Larantuka ternyata menyimpan potensi arus laut yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Karena itu Tidal Bridge menawarkan pembangunan jembatan yang dilengkapi dengan turbin yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut
Arus laut di selat Larantuka memiliki kecepatan antara 4-8 meter per detik. Ini sudah melewati ketentuan yang ditetapkan para ahli. Arus laut dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik apabila kecepatannya mencapai 2 meter sampai 2,5 meter per detik. Arus selat Larantuka berpotensi menghasilkan energi listrik sampai dengan 300 MW. Sedangkan kebutuhan listrik untuk seluruh Pulau Flores hanya mencapai 92 MW. Karena itu Tidal Bridge tidak ragu menginvestasikan modalnya untuk membangun jembatan Pancasila-Palmerah yang dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik.
Di tengah pro dan kontra pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah, kabar baik datang dari PT Tidal Bridge. Biaya pembangunan Jembatan yang menghubungkan Pulau Flores dan Adonara di Kabupaten Flores Timur ditanggung seluruhnya oleh Pemerintah Belanda, termasuk pemasangan turbin pembangkit listrik. Hal ini disampaikan oleh CEO Tidal Brigde dari Belanda, Erik Van Den Eijnden pada acara pemaparan progres dan desain pembangunan Jembatan Pancasila-Palmerah, pada tanggal 13 Maret 2017
Pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah merupakan ide pemerintah propinsi NTT. Dalam perjalanan memperoleh dukungan dari pemerintah pusat. Pada forum bisnis yang dihadiri pengusaha Indonesia, Belanda dan Presiden Joko Widodo di Den Haag tanggal 22 April 2016 lalu, disepakati kerja sama bisnis sektor infrastruktur, agribisnis, energi, dan maritim senilai 600 juta dolar AS. Dari tiga sektor itu, investasi paling besar adalah pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah dan turbin pembangkit listrik di Larantuka Kabupaten Flores Timur senilai 400 juta dolar AS
Diperkirakan pembangunan jembatan sudah dapat dilaksanakan pada akhir tahun 2017 nanti.
Pemerintah Propinsi NTT tentu punya alasan membangun jembatan. Lancarnya transportasi di kedua pulau secara otomatis berdampak pada sektor perekonomian. Masyarakat desa di Pulau Adonara dapat memanfaatkan jembatan untuk menyeberang ke Kota Larantuka, menjual hasil bumi, membeli kebutuhan hidup serta menyelesaikan berbagai urusan seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan kantor dan lain – lain. Sebaliknya kehadiran jembatan dengan pembangkit listrik dapat menyelesaikan masalah listrik di Kota Larantuka. Namun beberapa pihak justru menilai kehadiran jembatan Pancasila-Palmerah tidak memberi keuntungan apa – apa bagi masyarakat.
Terlepas dari pro dan kontra, sebagai putera NTT penulis berharap direalisasikan atau tidaknya pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah, tidak mengurangi semangat kita untuk terus membangun NTT yang lebih baik. Jika Pancasila-Palmerah nanti dibangun, sebagai warga negara yang baik mari kita dukung keseluruhan proses pembangunannya. Tetapi jika tidak, mari kita terima juga dengan lapang dada. Mungkin benar, belum waktunya NTT punya jembatan antar pulau. Mungkin benar, belum waktunya Indonesia punya jembatan yang dilengkapi pembangkit listrik tenaga arus laut. Anggap saja ini pekerjaan yang tertunda. Bukan berarti NTT dan Indonesia tidak bisa mengupayakannya. Rencana, wacana dan berbagai upaya yang sudah diusahakan selama ini akan menjadi jejak yang membekas dari generasi ke generasi. Bahwa: di selat Larantuka, di atas arus Gonsalus, jembatan Palmerah-Pancasila pernah berdiri kokoh walau hanya sebatas di angan para pendahulu.

Tidak ada komentar:
Write komentar