Sabtu, 08 Juli 2017
Hebat Pak Djarot Naik Taksi Ke Kantor
Berita Dunia Jitu - Gilak!!! Kata itu yang segera terbersit di kepala dan keluar dari mulut, ketika membaca berita Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat naik taksi ke kantor hari ini.
Apa yang aneh? Kalau saja peristiwa seperti itu terjadi berulang kali dan dilakukan oleh hampir setiap pejabat publik, sudah barang tentu tak ada yang aneh. tetapi, ketika hal itu amat sangat jarang terjadi maka itu bisa jadi anomali.
Sekarang ini mudah sekali untuk kita menemukan pejabat dan mereka yang merasa pejabat atau keluarga pejabat menggunakan sirine saat melaju di jalan, baik di jalan biasa mau pun di jalan bebas hambatan. Seolah mereka tak ingin dihambat oleh kemacetan. Padahal ketika Jokowi, ini presiden lho ya, dengan iring-iringan kendaraannya melaju tak pernah membunyikan klakson apalagi sirine.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berdasarkan Instruksi Gubernur Nomer 150 tahun 2013 memberlakukan aturan bahwa setiap hari Jumat pertama mobil pribadi dilarang masuk ke dalam Balai Kota. Djarot bisa saja tak mengendarai mobil pribadi. Ia bisa saja memakai kendaraan dinas. Toh ia memang menjabat sebagai gubernur. Tetapi, ini yang membuatnya jadi berbeda. Djarot tak memanfaatkan posisinya sebagai pejabat untuk melakukan pelanggaran. Alih-alih melanggar aturan dengan berbagai dalih, Djarot justru memberi contoh yang baik bagaimana seorang pejabat seharusnya bersikap.
Sikap Djarot ini sangat berbeda dengan Anies yang belum resmi menjabat sebagai gubernur. Dengan kondisi yang sama, berhadapan dengan kemacetan Jakarta, Djarot memilih naik taksi. Sementara Anies menggunakan helikopter. Apa tak ada pengusaha yang bersedia untuk meminjamkan helikopter buat Djarot setiap Jumat pertama di awal bulan, agar bliyo tak harus bermacet-macet dan terpaksa naik taksi apalagi bajaj? Pasti ada. Tapi Djarot bukan tipe pejabat yang senang memanfaatkan jabatan.
Djarot mengatakan bahwa ia praktis saja dalam hal ini, ngapain dibikin ribet. Pernyataan sederhana ini tidak muncul dari pengalaman hidup sesaat. Kesederhanaan selalu merupakan hasil dari proses panjang. Oleh karena itu, jika Djarot mengatakan bahwa urusan pergi ke kantor dengan menggunakan taksi atau kendaraan umum sebagai hal yang praktis, kita dapat dengan mudah menerimanya.
Kemacetan di Jakarta memang bisa bikin tekanan darah naik. Pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang tak diimbangi dengan pertambahan ruas jalan semakin memperparah kemacetan. Belum lagi perilaku yang tak cerdas dari para pengguna jalan. Berjalan zig zag, berhenti tak pada tempatnya. Itu semua menjadikan jalan di Jakarta tak ramah.
Dalam rangka untuk mengurangi dampak kemacetan itulah kebijakan untuk tak membawa kendaraan pada setiap hari Jumat pertama diberlakukan. Bila nanti jumlah kendaraan umum sudah semakin banyak dan dikelola dengan baik, bukan tak mungkin hari tak membawa kendaraan pribadi untuk PNS akan ditambah.
Yang membuat tindakan Djarot menggunakan taksi saat ke Balai Kota adalah peristiwa itu dilakukan hanya berselang beberapa hari dari peringatan hari ulang tahunnya. Galibnya orang yang berulang tahun mendapat hadiah. Ini sebaliknya, seolah-olah, Djarot yang memberi hadiah untuk warga Jakarta.
Hadiah yang Djarot berikan bukan berupa materi tetapi teladan. Dengan kata lain, Djarot sedang menambahkan lagi standar mutu untuk setiap orang yang menjadi pejabat di wilayah Jakarta. Keteladanan harus datang dari setiap pemimpin, sebab kepemimpinan itu bukan soal memerintah melainkan soal kepedulian pada setiap orang yang ada di dalam pemerintahannya.
Standar yang diberikan oleh gubernur Jakarta periode ini memang tidak main-main. Sepanjang sejarah Jakarta yang berusia 490 tahun, baru kali ini Jakarta punya tiga gubernur dalam satu periode. Keistimewaannya bukan hanya pada jumlah dan masa jabatan, tetapi yang jauh lebih mendasar adalah dalam hal keteladanan. Jokowi, Ahok dan Djarot memberikan warisan baru bagi para penggantinya : keteladanan yang baik bagi mereka yang ada di dalam pemerintahannya.
Dalam hal ini, Anies – Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih dapat saja berkilah dengan mengatakan bahwa mereka punya cara dan gaya sendiri dalam menjalankan roda pemerintahan di Jakarta kelak. Tentu saja mereka bebas untuk mengatakan hal itu. Tetapi, ketika mereka gagal untuk menjalankan keteladanan sebagaimana yang sudah dicanangkan oleh para gubernur Jakarta periode ini, maka mereka akan kehilangan momentum.
Semoga saja ketika Anies – Sandi tahu bahwa Djarot naik taksi ke Balai Kota mereka tak mengumpat dalam hati : hell…, sementara warga Jakarta justru akan mengatakan hal yang lain : hell..ooo….
Masih ada banyak waktu dan kesempatan bagi Anies-Sandi untuk menyiapkan diri agar dapat melayani warga Jakarta dengan hati, sebagaimana yang sudah mereka umbar selama masa kampanye yang lalu. Yang jelas, Djarot sudah membuktikan bahwa ia memang layak jadi pemimpin.
Betul yang Pak Djarot bilang, praktis aja kok….soalnya adalah: mau atau tidak…
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar