Rabu, 12 Juli 2017
Membandingkan Halayudanya Majapahit Dengan Jusuf Kalla
Berita Dunia Jitu - Tokoh Ramapati/Mahapati atau Halayuda tidak bisa dipisahkan begitu saja dari narasi panjang Kerajaan Majapahit. Beberapa catatan mengisahkan bahwa dia adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan Raden wijaya beserta orang-orang terdekatnya, semisal Lembu Sora, Nambi, Ranggalawe, Arya Wiraraja dan juga Kebo Anabrang. Darinya kita bisa membaca bahwa seberapapun besarannya, nilai perjuangan tokoh ini memang ada.
Namun selain kisah perjuangannya bersama “gank Wijaya” juga terselip kisah-kisah kejahatannya yang menggadaikan kerajaan/negara demi kepentingan pribadi beserta golongannya. Setelah berhasil memecahbelah kekuatan “sahabat-sahabatnya” yang dia anggap bisa menjegal ambisi pribadinya, pada akhirnya Halayuda atau Ramapati terkubur oleh ulahnya sendiri.
Tulisan ini hendak mencoba membandingkan “Narasi “ Halayuda atau Ramapati/Mahapati dengan tokoh kita yang juga senantiasa dekat dengan orang-orang pemerintahan, dia adalah Jusuf Kalla. Diterima atau tidak, akibat kelihaian dia berbisnis dan berpolitik, Jusuf Kalla bisa dekat dengan beberapa pemimpin negeri tercinta ini. Dia pernah menjadi wakil presiden SBY dan kini dia menjadi wakil presiden Joko Widodo. Mungkin sejatinya dia juga berhasrat menjadi orang nomor satu negeri ini, namun “Wahyu Kanalendran” Jusuf Kalla ini memang hanya sebagai wakil alias orang nomor dua.
Kembali ke topik tulisan ini, yaitu mencoba membandingkan Jusuf Kalla dengan salah satu tokoh kerajaan Majapahit, yaitu Ramapati/Mahapati atau Hallayuda. Halayuda adalah tokoh cerdas di eranya. Dengan kecerdasannya, dia bisa melakukan gerakan-gerakan bawah tanah yang tidak segera terbaca oleh raja hingga terjadi huru-hara.
Pemberontakan Ranggalawe menjadi tiik awal upaya Halayuda menyingkirkan saingan-saingan politiknya. Dengan jurus adu domba dan menyentuh nurani patriotisme Ranggalawe, Halayuda berhasil menjerumuskan Ranggalawe memberontak. Dan di sana, dalam pemberontakan Ranggalawe, Halayuda sekaligus mengadu domba Lembu Sora dan Kebo Anabrang. Akibat Lembu Sora merasa kecurangan Kebo Anabrang yang menikam keponakannya, Ranggalawe) yang sudah tidak berdaya, maka Halayuda menggorang isu kelicikan Lembu Sora ini hingga Lembu Sora tersingkir atau disingkirkan dari sekitar pemerintahan kota raja.
Itu semua belum usai, Nambi, sang Mahapatih yang sedang cuti, diminta memperpanjang cutinya dan kemudian informasi yang disampaikan ke raja adalah upaya makarnya Nambi. Kemampuan Mahapati/Ramapati atau Halayuda “menggoreng issu” sangat cerdas dan akibatnya raja termakan provokasi atau hasutan Halayuda.
Kemampuan cerdas lain dari Halayuda adalah menghimpun kekuatan bersamaan dengan jabatannya. Kelompok Rakrian yang dicuci otaknya berhasil menjadi begundalnya dan menyamar sebagai prajurit Majapahit. Mereka adalah Ra Kuti, Ra Semi, Ra Wedeng, Ra Yuyu serta si tabib Ra Tanca. Mereka semua adalah prajurit mahaputra Majapahit namun jiwanya bukan untuk negeri (raja) melainkan untuk sang Mahapati.
Meskipun di akhir-akhir kisah Mahapati dia dirongrong juga oleh “anak buahnya” namun sepak terjang tokoh ini merugikan dan bahkan mengancam Majapahit. Beruntung segera hadir Gajah Mada (bukan Gadj ahmada lho ya..) yang berhasil menghalau semua sepakterjang Mahapati atau Halayuda.
Tokoh Halayuda atau Ramapati/Mahapati ini sekarang seolah menitis pada diri Jusuf Kalla. Dia selalu bisa dekat dengan orang-orang dekat pemerintahan. Seperti di awal tulisan ini, dia pernah menjadi wakil dua presiden berbeda. Bukankah Halayuda juga demikian? Dari Rama Wijaya, Jayanegara hingga Tribuwana Tunggadewi? Dan di sana dia selalu berupaya merongrong kewibawaan negerinya sendiri?
Halayuda hanya berambisi politik, murni politik, sementara Jusuf Kalla, dia nampaknya juga memanfaatkan ruang politiknya demi ambisi ekonomi. Dan kesemuanya itu hanyalah bertujuan satu, kepuasan diri dan kelompoknya. Kepiawaian Halayuda dan Jusuf Kalla di ruang politik sungguh sangat mumpuni. Jika Halayuda bisa dekat dengan tiga raja Majapahit, Jusuf Kalla bis amenjadi wakil presiden untuk dua presiden berbeda.
Kemampuan Halayuda mengadu domba, bahkan rekan-rekan seperjuangan luar biasa. Seperti di awal tulisan, bahwa persahabatan bagi Halayuda hanyalah keuntungan maka jika itu menghalangi keuntungannya, maka disikatlah siapa saja itu. Tidak peduli sahabat-sahabatnya berjuang tulus iklas demi negeri yang dicintainya.
Pun begitu dengan Jusuf Kalla. Bisnisnya lebih utama daripada jiwa nasionalismenya. Ketika isu papa minta saham populer, ada dugaan bahwa Sudirman Said yang adalah orangnya Jusuf Kalla lebih dahulu mencoba mendekati Freeport demi keuntungan bisnis Jusuf Kalla. Kemudian ketidakcocokannya dengan presiden Jokowi yang mulai nampak benderang semenjak pilkada DKI Jakarta. Itu semua seolah menggambarkan bahwa Jusuf Kalla (sepertinya) adalah Halayudanya Indonesia.
kemampuannya menggoreng isu secara diam atau sunyi patut diperhitungkan. bisa jadi isu-isu liar yang bergulir di ruang media negeri ini ada dalam kontrol Jusuf Kalla, meskipun perlu bukti yang kuat.
Semua semakin jelas ketika Sudirman Said yang pernah diangkat Jokowi sebagai menteri ESDM kemudian dipecat karena tidak becus bekerja, dikemudian hari malah membelot ke Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan malah setelah menang dijadikan tim sinkronisasi. Orang semakin jelas melihat ada di posisi mana Jusuf Kalla dalam konstelasi pemerintahan RI, bahwa dia benar adalah wakil presiden Jokowi namun berdiri di pihak oposisi.
Hal itu semakin cerah terlihat saat isu pemindahan ibukota negara bergulir. Sebagai wakil presiden seharusnya dia mendukung ide presiden, bukannya malah mengkounter dan itu kemudian dijadikan amunisi lawan-lawan politik presiden Jokowi. Semuanya semakin menjelasakan, seperti apa jiwa nasionalisme Jusuf Kalla, meskipun di adalah wakil presiden.
Jika narasi Halayuda dalam sejarah Majapahit berakhir tragis, beberapa sumber mengatakan dihukum cincang, maka patut disimak, akan seperti apa akhir karier politik Jusuf Kalla untuk Indonesia. Meskipun terkadang penulis menginginkan bernasip seperti kisah Halayuda, namun sisi kemanusiawian penulis mengharap, Jusuf Kalla segera bertobat dan berbalik mencintai negerinya dan bukan mencintai bisnisnya.
Patut ditunggu bersama, akan seperti apa nasip tokoh pendek dan berkumis tebal ini, akankah dia akan meneruskan gerilya politik dan bisnisnya meski merusak negeri, atau akan bertobat dan tidak mengalami kisah Halayuda? Ikutan mas Ebiet sajalah, mari bertanya pada rumput yang bergoyang. Yang pasti, marilah kita semua, para pembaca seword dan juga seluruh warga negara Indonesia yang waras, senantiasa sadar bahwa ancaman keutuhan negeri ini justru dari dalam yang lebih berbahaya.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar