Senin, 24 Juli 2017
Jokowi di Riau Kembali Tinjau Rumah DP 1 %, yang Nol Rupiah Semakin Tersindir!
Berita Dunia Jitu - Jumpa lagi di channel yang sama, gelombang berbeda. Siapkan hati Anda wahai para tukang nyinyir, pembenci Jokowi (dan Ahok) untuk menelan pil pahit dengan mulut memble sedikit menjontor, menyaksikan berbagai pencapaian dan keberhasilan Jokowi tiap-tiap hari. Pemimpin yang selalu kalian hina, tertawakan, diskreditkan, dan fitnah itu.
Yang waras ayo katakan amiiiin….!
Hari ini kita jumpai banyak sekali pemberitaan tentang betapa gencarnya Jokowi mengunjungi berbagai daerah di tanah air. Ia memang ingin sekali membangun daerah. Bagi Jokowi, membangun daerah adalah keniscayaan dalam memajukan Indonesia. Ini harus dilihat secara holistik, dan bukan parsial seperti kebiasaan kaum sumbu pendek bumi datar memahami suatu hal. Karena melihatnya parsial, mungkin sesuai kapasitas otak mereka, maka outputnya juga sering (atau bahkan selalu) setengah-setengah saja. Tidak utuh. Membingungkan dan menjerumuskan.
Ah, kita lupakan merekas sejenak, untuk kembali melihat apa yang dilakukan Jokowi……
Setelah menghadiri Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2017 di Riau, Presiden Joko Widodo menyerahkan sertifikat hak atas tanah program strategis nasional di Stadion Kaharudin Nasution, Pekanbaru, Riau. Presiden menyerahkan 6.000 sertifikat kepada warga Riau. “Di Provinsi Riau seharusnya 3,1 juta bidang untuk seluruh masyarakat, tapi sampai saat ini baru bisa diberikan 1,1 juta (bidang),” kata Presiden Jokowi.
Tak bisa disangkal, Jokowi sangat ingin mempercepat semua yang tidak seharusnya diperlambat. Istilah bahwa kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit sangat dimengerti Presiden Jokowi. Maka, Presiden pun berkata, “Saya perintahkan Menteri BPN dibantu gubernur untuk segera menyelesaikan 10 ribu sertifikat. Sekarang ini kita paksa dalam 1 tahun ini 140 ribu sertifikat.” Demi masyarakat, Jokowi tidak main-main. Tegas, cepat, cermat, dan penuh kepastian. You will ‘in’ with me, or ‘out’? Simple. Kementerian yang tidak siap bekerja, lebih baik koreksi diri cepat-cepat.
Untuk seluruh Indonesia, tahun 2017 pemerintah menargetkan akan menerbitkan 5 juta sertifikat. “Tahun depan 7 juta (sertifikat), tahun depannya lagi 9 juta (sertifikat),” itu bukan kata saya, tetapi kata Pak Presiden tercinta kita, Joko Widodo as known as (AKA) Jokowi. Superhero Indonesia.
Selain menghadiri perayaan hari anak nasional, dan setelah penyerahan sertifikat kepemilikan tanah, apalagi yang dilakukan Jokowi di Riau? Nah, rupanya salah satu agenda Presiden Joko Widodo pada hari Minggu, tanggal 23 Juli tahun 2017 ini, adalah untuk mengunjungi Kelurahan Karya Indah, di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Terus? Itu dia, Presiden meninjau proyek Program Sejuta Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan DP 1 persen.
Ho ho ho… setelah di Balikpapan Kaltim (boleh baca di sini: https://seword.com/umum/hari-ini-presiden-jokowi-resmikan-proyek-rumah-dp-1-persen-di-kaltim-tamparan-keras-bagi-pencetus-dp-nol-rupiah https://seword.com/umum/hari-ini-presiden-jokowi-resmikan-proyek-rumah-dp-1-persen-di-kaltim-tamparan-keras-bagi-pencetus-dp-nol-rupiah/), Jokowi sukses berkunjung dan meninjau langsung proyek rumah murah DP 1 persen, yang secara tak langsung menempelak penggagas proyek mimpi indah rumah DP Nol Rupiah (yang ternyata diperuntukkan bagi mereka dengan gaji minimal 7 juta), kini hal itu terjadi kembali. Luar biasa Presiden kita ini. Badannya kurus, tetapi otaknya gemuk dan berisi.
“Di lokasi ini dibangun 1.147 rumah, sudah selesai dibangun 700 dan laku keras, yang antri banyak sekali,” kata Presiden. Melihat antusiasme tersebut, Presiden Jokowi lalu kemudian menyatakan akan terus meninjau proyek Program Sejuta Rumah. Sebelumnya, Presiden telah meninjau proyek tersebut di sejumlah daerah, seperti Karawang, Tangerang, dan Balikpapan.
“Semua kota akan saya lihat semuanya, ini semua sudah bergerak. Nanti kalau peminatnya banyak, masyarakat ingin subsidi, kita tambahin lagi tahun depan,” kata Presiden. Ini benar-benar bukan pemimpin omdo yang sarat janji manis, tetapi pahit dalam hal mewujudkan janji-janji tersebut. Presiden kita ini punya hati yang tulus dalam melayani dan bekerja. You ought to do what you ought to do!
Tujuan penambahan pemberian subsidi ini tak lain adalah untuk mewujudkan cita-cita pemerintah dalam meningkatkan jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki rumah. “Arahnya ke sana subsidi pemerintah, DP 1 persen dan bantuan uang muka,” ungkapnya. Tetapi, meskipun rumah bersubsidi dengan harga terjangkau, namun Presiden memuji kualitas bangunan rumah tersebut.
Selain itu, Presiden juga menyatakan bahwa sasaran konsumen dari rumah murah ini adalah mereka yang berpenghasilan antara Rp3-4 juta. Sehingga biaya angsuran setiap bulannya sangatlah ringan jika dibandingkan dengan biaya sewa rumah sebesar Rp600 ribu/bulan. Cicilan untuk 15 tahun, kurang lebih Rp.900 ribu/bulan, kalau yang 20 tahun bisa ‘hanya’ Rp.780 ribu/bulan. Sangat affordable tentunya.
Turut mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman dan Bupati Kampar Aziz Zainal.
Sekarang, Anda boleh bertanya sejujur-jujurnya pada diri Anda sendiri. Apakah Presiden Jokowi tidak berbuat apa-apa bagi negeri ini? Apakah Presiden kita tidak memperhatikan kebutuhan rakyat banyak? Apakah Jokowi hanya duduk manis di menara gading, atau hanya sibuk belanja-belanja di Kelapa Gading Mall lalu tidak bekerja keras membangun negeri ini? Jawablah secara jujur.
Bagi saya, Jokowi telah dan sementara berupaya membangun negeri ini. Ia membangun dari daerah, dari pinggiran, dari perbatasan. Ia juga amat giat memberdayakan semua komunitas yang ada supaya punya peran penting dalam memajukan negeri ini. Jokowi juga sementara berupaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, dan menciptakan keadilan sosial dalam arti yang sesungguh-sungguhnya, bukan hanya yang terdengar indah dalam pidato dan koar-koar ketika musim kampanye.
Salah satu keberhasilan seorang pemimpin adalah membuat program yang outputnya dapat dirasakan dan dinikmati warga secara maksimal, tidak perlu pakai formula macam-macam yang hanya manis pada pendengaran dan pandangan pertama namun pahit ketika hendak dilaksanakan. Jokowi berhasil membangun banyak infrastruktur yang dapat dinikmati orang banyak, termasuk rumah DP satu rupiah ini.
Bahkan ia sudah mulai membangun, tanpa berkoar-koar dengan intonasi yang amat sangat meyakinkan, nada suara yang cetar membahana, dan leher ditegakkan seolah lagi berkata jujur penuh keyakinan, kepala sedikit terangkat. Tidak seperti itu. Oleh karena mengapa? Oleh sebab Jokowi memang typical “pekerja” keras, dan bukan orator ulung, atau pembual kelas kakap. Bukan juga pemberi harapan palsu.
Ketika ia berjanji untuk buatkan rumah murah DP 1 persen bagi warga kurang mampu (tidak perlu yang nol rupiah omong kosong), maka ia tepati janjinya itu. Sesederhana itu. Jokowi ‘menjual’ komitmen. Jokowi membagikan harapan serta optimisme. Jokowi menawarkan solusi.
Apa ada yang masih ingat kata-kata Jokowi berikut ini, “Kita pelayannya masyarakat. Kayak konsumen yang datang ke kita, layaknya raja.”? Kutipan ini dia sampaikan di suatu hari saat inspeksi mendadak yang dilakukannya ketika ia masih Gubernur DKI Jakarta (tahun 2012). Ia mengatakan, dirinya bisa tiba-tiba datang ke kantor kelurahan dan kecamatan kapan saja. Kunjungannya bukan untuk marah-marah melainkan hanya ingin cari tahu dan mencatat apabila ada yang tidak beres.
Jokowi mengingatkan agar birokrasi selalu melayani masyarakat. Menurutnya masyarakat harus dilalayani laiknya raja dan birokrat berperan sebagai pelayan warga. Ia lalu mempratikkan itu terlebih dahulu. Ia tidak berpidato panjang lebar tentang bagaimana melakukan hal-hal yang patut diteladani, namun ia sendiri mencotohkan kerja yang dapat diteladani. Ia menjadi teladan dengan melakukan apa yang seharusnya seorang ‘pelayan’ lakukan, bukan dengan orasinya tetapi melalui kerja nyatanya.
Nah, bagi yang tukang nyinyir. Bagi yang nyimpan kebencian akut. Yang memelihara dendam membara. Yang hatinya dipenuhi iri, dengki, dan bersumbu amat sangat pendek. Seperti si Jonru, Fahri, Fadli Zon, Ahmad Dhani, Rizieq, dan para kompradornya. Jawablah satu pertanyaan pendek bagi semua kalian: Apakah Jokowi tidak membangunan apa-apa untuk negeri ini? Apakah tidak ada pencapaian apapun yang berhasil Jokowi lakukan? Kalau belum bisa jawab sekarang nggak apa-apa, simpan saja untuk nanti!
Bagaimana? Apakah hal di atas itu bukan sebuah pencapaian? Yang bilang bukan, berarti Anda belum bangun dari tidur nyenyak Anda. Masak harus disiram pakai air baru bangun? Kalau emang butuh disiram tinggal ngomong saja. Banyak yang siap siram itu kepala yang bungkusnya gede tetapi isinya kecil kerdil. Hanya saja, kalau nggak ada isinya sama sekali percuma juga disiram. Mubazir. Buang-buang air. Yes!
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Write komentar