Senin, 24 Juli 2017
Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia Melonjak Drastis. It’s Wonderful Indonesia
Berita Dunia Jitu - Jika kita tanya pada orang di Indonesia atau bahkan luar negeri mengenai pariwisata Indonesia, satu kata yang sudah hampir pasti mengisi benak mereka adalah “Bali”. Yap, Bali baru-baru ini dinobatkan sebagai peraih peringkat pertama untuk kategori Best Destination 2017 versi TripAdvisor (sangat keterlaluan kalau tidak tahu website favorit para turis ini) mengalahkan London, Paris, Roma, Barcelona dan destinasi lainnya.
Tapi sayangnya dari sekian pulau di Indonesia yang jumlahnya melebihi 17.000 pulau, hanya Bali yang paling terkenal. Anehnya Bali lebih terkenal dibanding Indonesia. Bahkan beberapa turis berpikir Bali adalah sebuah negara yang berdiri sendiri, terpisah dari Indonesia. Branding Bali sudah sangat kuat sebagai destinasi liburan kelas wahid. Sayangnya ini tidak diikuti daerah lain di Indonesia. Dan jujur, selain Bali, pengelolaan pariwisata di daerah lain masih kalah jauh.
Dan satu hal miris lainnya adalah, meski alam Indonesia sangat indah dengan luas yang luar biasa, harusnya potensi pariwisata negara ini bisa lebih dimaksimalkan. Tapi sayang pariwisata Indonesia kalah jauh bahkan dengan negara tetangga. Apalagi dibanding dengan pariwisata Eropa, lebih baik jangan bahas. Malu.
Singapura yang luasnya hanya seupil di peta tapi bisa menjaring 15 juta wisatawan, Malaysia menjaring 24 juta wisatawan. Thailand adalah raja pariwisata Asia Tenggara karena tahun 2016 lalu mampu mendatangkan 32 juta turis mancanegara. Sedangkan Indonesia? Sayangnya masih kisaran 12 juta turis. Dan seolah tak puas bikin malu, Vietnam saja mampu menjaring hampir 12 juta turis, setara dengan Indonesia.
Bisa kita bayangkan sendiri, ada apa sebenarnya dengan pariwisata Indonesia? Dari sekian banyak pulau, hanya mengandalkan Bali yang hingga sekarang berkontribusi menyumbang 40 persen dari total kunjungan wisatawan ke Indonesia. Ini saya bicara wisatawan mancanegara (wisman) bukan wisatawan domestik. Mengapa harus wisman? In ada kaitan dengan devisa, mereka bawa uang masuk ke dalam negeri. Contohlah Thailand, satu turis katakanlah habiskan 10 juta Rupiah, maka total uang masuk ke Thailand adalah sekitar 330 triliun. Bayangkan uang segitu yang masuk per tahun.
Indonesia ada Bali, Lombok dan Borobudur, tapi tempat lain kurang terekspos. Kurang dikenal. Bandingkan dengan Thailand dengan wisata andalan seperti Bangkok, Pattaya, Chiang Mai, Chiang Rai, Phuket, Hua Hin, Krabi, Koh Samui, Koh Phangan, Koh Tao, Koh Lipe, Koh Lanta.
Bali memang jadi andalan dan sering dapat penghargaan, tapi kalau berbicara mengenai jumlah kunjungan, Bali masih kalah dengan Phuket yang luasnya jauh lebih kecil. Phuket dikunjungi 7-8 juta wisman per tahun. Sedangkan Bali tahun 2016 hanya 4,9 juta wisman. Tolongkan jangan Bandingkan dengan Bangkok yang bisa dikunjungi 18 juta turis, menjadikannya peringkat dua kota dengan kunjungan turis terbanyak di dunia di bawah London yang dikunjungi hampir 19 juta turis. Bayangkan hanya satu kota doang bisa kedatangan turis sebanyak itu.
Mau bukti lain? Mata saya benar-benar terbuka saat liburan di Siem Reap, Kamboja pada 2 bulan lalu. Tujuan utamanya adalah mengunjungi Candi Angkor Wat dan Ta Phrom (tempat syuting film Tomb Raider) yang fenomenal itu. Mungkin kita bisa berkilah, di Magelang juga ada Candi Borobudur dan Prambanan yang lebih cantik dan keren. Lebih baik tak usah bandingkan, karena sama-sama keren meski di Kamboja candinya lebih banyak variasi.
Mari kita hitung jumlah turis yang berkunjung. Borobudur dikunjungi 300.000 wisman tahun lalu, bandingkan dengan Angkor Wat yang dikunjungi hampir 2,5 juta wisman. Dan hebatnya warga Kamboja tak perlu bayar alias gratis masuk ke sana. Jadi Angkor Wat benar-benar hanya bergantung pada wisman. Dan perlu juga diketahui, menurut versi TripAdvisor, saking populernya Angkor Wat masuk peringkat 1 Landmark wisata favorit. Borobudur bahkan tidak masuk 25 besar.
Dari sini, kita bisa simpulkan ada yang salah dengan pengelolaan pariwisata di negeri ini. Entah apa yang dilakukan pemerintah dulu hingga tak bisa menyadari potensi pariwisata Indonesia. Mungkin hanya tidur dan terlena dengan keindahan alam Indonesia, tanpa promosi, berharap wisman akan datang dengan sendirinya. Sebuah kesadaran bodoh. Padahal saya yakin dengan alam Indonesia, minimal Indonesia bisa menjaring 40-50 juta wisman tahun ini bila pemerintah dulu BECUS. Tahu Prancis? Negara ini kedatangan 82 juta wisman tahun lalu, menjadikannya destinasi wisata nomor satu di dunia. Bayangkan uang yang mengalir ke negara itu. Hitung sendiri yah, jangan ngiler.
Tapi sudahlah, masa lalu biarlah berlalu, setidaknya Pemerintahan Jokowi membuat kita menyadari entah apa saja kerja pemerintah dulu terkait pariwisata. Tak usah ungkit lagi. Mari kita tatap masa depan.
Jokowi langsung menetapkan visi mendatangkan 20 juta wisman pada akhir tahun 2019? Mampukah? Sangat mampu, asalkan kerjanya konsisten seperti sekarang. Di awal-awal pemerintah langsung ngebut cepat, misalnya membebaskan visa untuk turis yang hingga kini sudah mencapai 174 negara (kalau tidak salah). Promosi slogan ‘Wonderful Indonesia’ di negara-negara lain pun kian gencar. Perlahan-lahan hasilnya mulai tampak dari kenaikan jumlah turis sebesar 19-20 persen dibanding pertumbuhan yang hanya 6-8 persen pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ditargetkan 15 juta wisman. Kenaikan 3 juta wisman bukan hal sulit dan sangat mungkin diraih.
Presiden Jokowi menempatkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama, leading sector dan core economy bangsa Indonesia. Dia juga katakan DNA Indonesia ada di pariwisata. Sepertinya Jokowi paham akan hal ini, didukung oleh Alvin Toffler dalam bukunya ‘The Third Wave’ mengatakan pariwisata akan menjadi primadona bisnis masa depan. Kecenderungan orang berwisata pun makin meningkat dan sudah menjadi kebutuhan utama. Zaman sekarang siapa sih yang tidak suka travelling?
Selain itu pemerintah juga mencanangkan 10 tempat wisata baru yang disebut 10 Bali baru sehingga tidak melulu hanya Bali yang diandalkan. Ke-10 destinasi wisata tersebut antara lain Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Belitung, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung di Banten, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Mandalika di NTB, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Pulau Morotai di Maluku Utara dan Labuan Bajo di NTT. Di 10 kawasan wisata tersebut akan dibangun infrastruktur untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung.
Terima kasih pula untuk kerja keras Menteri Pariwisata Arief Yahya. Hasilnya indeks daya saing Indonesia melesat naik 8 poin, dari posisi 50 besar dunia ke peringkat 42 berdasarkan The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017, yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF) April lalu. Sebuah peningkatan drastis padahal tahun sebelumnya Indonesia ada diperingkat 70 lalu naik jadi 50 dan sekarang 42. Di waktu yang sama, Malaysia turun 1 posisi di posisi 26, Thailand naik 1 poin di peringkat 34. Tahun 2019, Arief menargetkan posisi 30 besar dunia. Selain itu, dari kompetisi lainnya, Wonderful Indonesia selalu juara dalam berbagai kompetisi sehingga makin dikenal dunia.
Jika konsisten, maka 20 juta wisman bukan hal muluk untuk dijaring. Ditambah dengan promosi yang gencar, penambahan flight dengan bekerja sama dengan airline, pembangunan infrastruktur yang memadai, ditunjang dengan SDM yang mumpuni, bahkan 50 juta turis pun bukan hal muluk. Saya percaya potensi pariwisata Indonesia bisa 10 kali lipat dari sekarang hanya saja kurang disadari pemerintah dulu.
Dengan ini, saya selaku travel addict, sangat mengapresiasi kerja pemerintahan sekarang dalam membenahi pariwisata. Semoga di masa depan nama Indonesia lebih dikenal, lebih banyak opsi wisata lain yang tak kalah terkenal seperti di Thailand. Jangan seperti dulu yang orang luar bingung di mana letak Indonesia, tapi begitu ditanya Bali, semua mengangguk tahu.
Keep up the good work.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar