Berita dunia jitu - Pemirsa televisi belakangan ini hanya bisa mengurut dada ketika sensor yang dilakukan pihak penyelenggara siaran terkesan berlebihan. Bahkan, siaran pertandingan renang pun menjadi sangat tidak menarik hanya karena gambar atletnya kena blur alias dikaburkan.
Yang lebih parah lagi, film kartun yang nyata-nyata selama ini dianggap aman, tiba-tiba juga kena korban blur. Sedemikian parahkah moral para pemirsa televise hingga harus dilakukan blur sedemikian rupa. Lalu, sudahkah dilakukan evaluasi atas kebijakan itu? Apakah tindak kriminalitas terkait pornografi dan pornoaksi benar-benar menurun sejak kebijakan blur itu dilakukan?
Tentu hal tersebut memerlukan penelitian dan pengkajian mendalam. Namun faktanya, berita terkait pelecehan seksual dan sejenisnya, masih saja menghiasi media massa, lebih-lebih media sosial.
Tengok saja kegelisahan warga belantara maya ketika melihat penampilan Agnes Monica yang kemudian banyak dikaburkan. Busana yang sudah didesain khusus seolah tak ada artinya karena berganti dengan tumpukan noda putih seperti kena gumpalan tepung.
Tak ketinggalan pemilihan Putri Indonesia yang selama ini menyuguhkan keanggunan, juga berubah menjadi tayangan yang seolah-olah seronok. Busana elegan yang diperagakan lebih banyak ditutupi bak tumpukan kapas putih, sehingga tayangannya menjadi sama sekali tidak menarik.
Begitu juga acara masak-memasak yang dipandu Farah Quinn, akhirnya berubah seperti tayangan film porno. Kenapa? Alih-alih mengajarkan memasak, pemirsa justru terganggu dengan penutupan sebagian gambar pada tubuh chef cantik tersebut.
Maestro memasak Tanah Air yang satu ini memang dikenal memiliki tubuh aduhai bagi kaum adam. Cara berpakaiannya yang selalu membiarkan bagian dadanya sedikit terbuka, membuat pihak stasiun televisi harus melakukan sensor. Bahkan di acara yang saya tonton, hampir satu tubuh Farah Quinn disensor, karena memperlihatkan Farah Quinn sedang berenang menggunakan bikini, usai memasak.
Percayalah, tidak jelasnya gambar yang menampilkan Farah Quinn ini justru membuat pikiran penontonnya tersiksa. Kenapa? Rasa kepo alias penasaran merupakan sifat bawaan yang cukup mendominasi di dalam pikiran bawah sadar. Ketika melakukan pemburaman atas tayangan itu, sejatinya stasiun televisi itu sudah membuat sukses penontonnya terus bertahan di salurannya.
Pikiran bawah sadar, secara alamiah, akan menggabungkan sendiri potongan kata atau gambar yang tidak jelas, sesuai dengan persepsi dan imajinasinya sendiri. Diperintah atau tidak, pikiran bawah sadar akan selalu mencari padanan yang pas atas kata atau gambar yang tidak jelas.
Maka, meski tayangan yang menampilkan Farah Quinn itu diblur, di dalam pikiran bawah sadar para pria pada umumnya, tubuhnya tetap terlihat utuh, sesuai persepsi masing-masing. Kenapa? Sekali lagi, karena pikiran bawah sadar tidak suka dengan hal yang kurang jelas atau terpotong. Bagian yang tidak jelas dengan sendirinya akan direkonstruksi kembali supaya utuh. Terlepas bahwa rekonstruksi yang dilakukan itu benar atau salah.
Mau contoh? Ketika saya menuliskan ‘va*i**’, maka pikiran bawah sadar akan langsung bekerja, mencari kata yang tepat untuk mengganti bagian yang hilang atau bertanda bintang itu. Lantas, adakah di antara pembaca berhasil menebak kata ‘varian’ tersebut? Jika Anda benar menebak kata di atas, maka Anda normal. Jika salah, ya Anda tetap normal, karena itulah persepsi Anda.
Sekali lagi, ketika saya menuliskan ‘m*m*k’, maka Anda pun dengan bebas meneruskan kata ini. Yang saya maksudkan di atas adalah ‘mimik’. Maka benar tidaknya jawaban, sama sekali tidak menjadi persoalan. Yang penting pastikan pikiran bawah sadar Anda masih normal, karena bisa bekerja dengan cepat dan tanggap untuk mengurai sesuatu yang belum jelas.
Maka sejatinya, upaya pihak otoritas pengatur penyiaran yang ‘memaksa’ televisi mengaburkan gambar seronok, tak akan berpengaruh banyak. Sebab pikiran bawah sadar penonton sudah terbiasa menerjemahkan gambar secara bulat dan utuh sesuai persepsinya.
Akan lebih baik, lembaga pengatur siaran dengan tegas dan jelas meminta stasiun televisi membuat tayangan yang menampilkan pelakon dengan pakaian sesuai kaidah dan norma ketimuran yang dijunjung tinggi. Sehingga, tidak membiarkan pikiran bawah sadar liar dengan sendirinya dalam menerjemahkan gambar yang diblur.

Tidak ada komentar:
Write komentar