Berita Dunia Jitu - Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah kami yang telah berlaku aniaya. Professor KH. Nazarudin Umar yang seorang Imam besar di Masjid terbesar, Professor Buya Safi’i Ma’arif yang tokoh islam terpandang, yang sering menginspirasi para pluralis, atau KH Mustofa Bisri, Ulama yang sekaligus budayawan karismatik, bahkan Professor Quraisy Shihab yang wawasan keilmuannya sulit ditemukan tandingannya di Indonesia, atau kesaksian para ulama dan ilmuwan yang tidak mungkin disebut satu persatu di halaman ini, belum cukup untuk kami jadikan rujukan, belum dianggap sejajar kapasitasnya dengan “Gerakan Nasional”, yang memperoleh dukungan seluas Nusantara, yang menggetarkan nyali para penegak hukum, yang menciutkan keberanian pemangku keadilan, dan membuat keder para pejabat untuk sekedar meredam intoleransi. Lalu dimanakah nurani kami, ya Tuhan Yang Maha adil ?
Pada awal-awal kasus tuduhan penistaan agama yang dikenakan kepada seorang Ahok, yang telah mencatatkan dirinya sebagai Gubernur pemberani, menghadapi hambatan dalam meningkatkan pelayanan kepada warganya. Gubernur yang dengan gigih melawan penyimpangan pengelolaan keuangan negara, dan tidak surut meskipun dihujat dan didemo oleh pihak yang tidak nyaman dengan kejujurannya. Semua prestasi yang mengkilap itu, seperti hilang seketika, bagai buih tertiup angin dan hilang ditelan kebencian. Ironisnya, dengan secepat kilat proses hukum secara penuh memenuhi hampir semua tuntutan para pelapor, dan dalam hitungan hari, sampailah di meja pengadilan yang riuh rendah, yang dengan sepenuh daya desakan dari para pengadu, vonis bersalahpun dijatuhkan.
Ketika Kejaksaan masih menyalakan lampu harapan untuk naik banding, dengan pertimbangan vonis yang tidak sesuai dengan tuntutan mereka, kami masih punya harapan, semoga itikad untuk menganiaya sesama umat manusia dapat dicegah. Tetapi sekarang ketika lampu harapan itu ternyata tidak mampu melawan tiupan angin kemarahan “mayoritas” umat, maka tiada lagi yang bisa kami tanggulangi. Vonis hakim sekarang sudah memiliki kekuatan tetap, tinggallah seorang individu yang teraniaya, menjadi simbol dari noda hitam sejarah keberagaman di Indonesia.
Ampuni kami ya Tuhan Yang Maha Pengampun, jika kami tidak mampu menangkap isyarat yang sangat sederhana sekalipun. Kami gagal mengartikan sikap Ahok, yang berketetapan mencabut upaya banding. Seharusnya kami mendesak mereka yang memiliki kewenangan, untuk menggunakan segala momentum yang tepat, agar kami terhindar dari kesan mengecewakan Tuhan. Jika kondisinya sudah sejauh ini, tidakkah kami sebenarnya termasuk mereka yang menganiaya sesama umat manusia ?
Sesal kemudian adalah kebiasaan, kata sesal tidak lazim jika dikatakan sebelum kejadian buruk terlanjur terjadi. Tetapi kata sesal yang kami rasakan ini, bersumber dari ketidak mampuan kami yang menjadi warga negara mayoritas, yang seharusnya menggunakan firman-Mu dengan sepenuhnya sebagai pedoman hidup kami, terutama dalam mengedepankan sikap memaafkan, sikap tenggang rasa dan sikap menyerahkan sepenuhnya kepada-Mu segala persoalan yang tidak mungkin kami putuskan sendiri. Engkau sendiri berfirman : Allah mengampuni orang yang berbuat dosa karena ketidak tahuan (surah An-Nahl : 119). Lalu bagaimana kami kelak mempertanggung jawabkan perlakuan kami saat ini ? Kekhilafan kami untuk meneladani Rasulullah SAW, yang telah memberikan maaf kepada mereka yang menganiaya beliau, kami justru memperlakukan dia yang berlaku memperjuangkan saudara-saudara muslim mendapatkan berbagai kemudahan urusan, kemudahan beribadah dan bermuamalah, seolah-olah sebagai musuh yang harus disingkirkan, dipenjara, dan dikucilkan.
Ya Allah ya Tuhan Yang Maha Agung, tinggikanlah derajat dia yang telah teraniaya oleh perilaku kami, dan ampunilah kami yang telah menjadikan dia menderita lahir dan bathin. Kami sadar sepenuhnya, Ahok bukanlah tipe individu yang menista Al Qur’an, bahkan kami yakin komentarnya tentang ayat-ayat Al Qur’an semata-mata dilatar belakangi oleh kecintaannya kepada kaum muslim.
Singkat kata, sekarang kami menyadari sepenuhnya, jika kejadian ini menyebabkan mereka yang diluar Islam merasa miris dan alergi dengan menyelidiki kalam-Mu di dalam Al Qur’an, gara-gara khawatir diperkarakan oleh umat muslim, lalu bagaimana mungkin mereka mau belajar tentang Islam ? Bagaimana mereka bisa memahami ajaran Islam yang rahmatan lil alamin ? Bukankah justru hal ini menjadi faktor penghambat bagi kami yang ingin mengajak mereka kembali ke jalan-Mu ? Dan bukankah pula hal ini menjauhkan mereka dari rahmat-Mu ? Kalau efeknya seperti ini, maka semakin besarlah rasa berdosa kami kepada mereka yang belum mendapatkan hidayah-Mu menjadi seorang muslim.
Mudah-mudahan kami segera menyadari setiap kekeliruan yang kami perbuat, dan mengkhidmati Islam sebagaimana yang Engkau perintahkan dalam setiap Firman-Mu. Amin ya Rabbul Alamin.

Tidak ada komentar:
Write komentar