Berita Dunia Jitu - Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan,dan kebiasaan melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Berbicara tentang pendidikan formal, tidak bisa dipisahkan dari yang mengajar dan yang diajar. Pihak yang mengajar dikatakan tenaga pendidik. Pihak yang menerima pengajaran adalah murid atau siswa.
Survey yang dilakukan oleh Global Pisa mengatakan bahwa pendidikan Negara tetangga Singapura berada pada urutan teratas, sedangkan Indonesia berada pada papan bawah bersama dengan Negara-negara Brasil, Peru, Lebanon, Tunisia, Kosovo, Aljazair, dan Republik Dominika. Singapura mendapatkan peringkat tertinggi karena semua guru di Singapura mendapatkan pendidikan dan pelatihan di Institut Nasional Pendidikan, yang dikelola oleh Nanyang Technologikal University.
Tentu saja pendidikan di Singapura menjamin bahwa guru mendapatkan standar pendidikan yang sama sebelum menjadi tenaga pengajar. Fokus yang ditetapkan di nagara Singapura untuk memajukan pendidikan terletak pada guru.
Saya sangat yakin bahwa banyak guru-guru di Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni untuk memberikan kualitas pengajaran yang baik. Masalahnya saat ini adalah tidak meratanya kualitas tenaga pengajar di Indonesia. Hal ini juga diakui oleh menteri pendidikan Muhadjir Effendy.
Bagaimana dengan para siswa di sekolah? Kualitas pendidikan yang mereka peroleh sangat bergantung kepada para pengajar. Banyak juga para orang tua yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan yang diperoleh anak-anak mereka dengan memberikan les tambahan di luar jam pelajaran sekolah.
Saat ini untuk memberikan tambahan les pelajaran dari luar sekolah akan sangat sulit diberikan. Karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sedang menggodok Permendikbud sebagai dasar kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan. Beban belajar yang selama ini 40 jam dalam sepekan menjadi 38 jam atau bahkan lebih sedikit. Perubahan yang sangat mencolok penetapan jam pulang sekolah dari yang biasanya pukul 14.00 menjadi pukul 16.00.
Para siswa akan menghabiskan waktu sekitar 8 jam 30 menit di sekolah. Saat ini waktu siswa untuk memulai pelajaran di sekolah adalah 07.30. Bisa dipastikan bahwa jam belajar siswa di sekolah sudah sama dengan jam bekerja para pekerja di kantor yaitu 8 jam kerja. Apakah para siswa tidak akan menemukan kejenuhan dengan waktu yang sangat lama di lingkungan sekolah?
Jadi saya teringat sebuah pertanyaan yang sering saya dengarkan pada waktu baru menyelesaikan perkuliahan. Begini pertanyaannya “Kerja dimana sekarang?”. Jadi para sisiwa nanti sudah bisa diberi pertanyaan tentang pekerjaan mereka, karena sudah memiliki jam yang sama dengan para pekerja.
Bagaimana dengan mental dan psikologis para siswa? Apakah dengan lamanya waktu mereka di sekolah akan memberikan perkambangan yang positif bagi pertumbuhannya? Sementara untuk siswa Sekolah Dasar masih memiliki keinginan yang kuat untuk menghabiskan waktunya bermain bersama dengan teman-teman sebayanya.
Ada beberapa hal positif yang dapat dilihat dari Permendikbud yang sedang digodok. Salah satu adalah beban bagi orang tua untuk memberikan les tambahan bagi anak di luar jam sekolah akan semakin berkurang. Pundi-pundi keuangan yang biasanya digunakan untuk membayar guru les tambahan akan semakin berkurang. Beban orang tua yang waktu kerjanya dari jam 08.00 sampai jam 17.00 bisa memberikan pengarahan kepada anaknya untuk menunggu orang tua di sekolah agar bisa pulang bersama. Tetapi hal ini sangat beresiko. Waktu hari sabtu adalah hari libur bagi anak-anak sekolah bisa digunakan sebagai hari bersama untuk keluarga.
Ini adalah beberapa hal positif. Tetapi menjadi perhatian adalah bahwa anak-anak telah menjadi korban dari sebuah program pemerintah. Bukankah lebih baik lagi kita bisa mencontoh Negara Singapura yang merupakan Negara tetangga dengan tingkat pendididan yang baik. Pemerintah harusnya berpikir lebih keras lagi bagaimana meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Pemerataan kualitas tenaga pengajar juga harusnya menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah, yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan kualitas keseluruhan anak-anak bangsa.
Pasti para orang tua dan masyarakat akan sangat setuju bila salah satu tujuan peningkatan pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga pengajar. Jadi kecemasan orang tua tentang mutu pendidikan yang diberikan oleh guru yang disekolah bisa teratasi. Karena baiknya kualitas seseorang belum tentu ditentukan dari semakin banyaknya kuantitas.

Tidak ada komentar:
Write komentar