Kamis, 27 Juli 2017

Pertemuan Antara Prabowo Dan SBY

Pertemuan Antara Prabowo Dan SBY

Berita Dunia Jitu - 27 Juli 2017 ini akan terjadi pertemuan yang kata elite Partai Demokrat merupakan sejarah bangsa antara Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas. Sebenarnya isi pembicaraan mereka pasti tak jauh-jauh dari persoalan yang sedang menguat akhir-akhir ini. Mulai dari Perppu ormas, presidential treshold yang kata Fadli Zon menghambat Prabowo jadi Capres, hak angket KPK, hingga peta koalisi untuk Pilpres 2019.

Prabowo tahun ini akan berusia 66 tahun. Di tahun 2009 usianya akan genap 68 tahun. Tentu itu masa-masa kritis karena tak mungkin baginya menunggu hingga 2014 untuk bisa jadi Presiden RI karena usianya saat itu akan mencapai 73 tahun. Memang Jusuf Kalla saat maju mendampingi Jokowi di 2014 juga saat itu usianya sudah 72 tahun, tapi kondisi kesehatan setiap orang kan berbeda. Selain itu jelas yang diincar Prabowo adalah kursi kepresidenan di mana pasti dibutuhkan stamina kuat dan prima dalam 5 tahun menjalankan tugasnya.

SBY pun jelas punya kepentingan. Sebagai orang yang selalu mulus kariernya baik di militer maupun saat jadi politisi tentu SBY ingin dinastinya ada yang meneruskan dan partai politik yang Ia dirikan juga langgeng sepak terjangnya. Dari sekian sosok yang pernah menjabat sebagai Presiden sepertinya hanya Pak Karno lah yang sukses punya penerus pemimpin yakni sang putri, Megawati. Bahkan Megawati saja belum tentu nanti bisa bernasib sama seperti ayahnya. Dari posisi seorang ayah juga tentu SBY ingin menata masa depan mereka.

Meski sempat dirumorkan tidak akur pasca kekalahan Pilpres 2014, kini Prabowo dan SBY punya banyak kepentingan yang sama. Selain ambisi untuk 2019, banyak poin yang mereka harus bekerja sama untuk bisa melawan Jokowi. Misalnya saja soal Perppu. Bukan rahasia kalau di Pilkada lalu calon yang diusung Demokrat maupun Gerindra banyak dibantu oleh ormas Islam yang bisa disebut masuk golongan radikal. Suka nggak suka ormas-ormas ini dan termasuk simpatisannya adalah salah satu ‘kawan baik’ yang dibutuhkan mereka untuk membentuk opini, mendapat simpati publik, dll.

Soal presidential treshold, dengan jumlah kursi legislatif yang mereka miliki otomatis butuh berkoalisi kalau ingin mengajukan calon. Sepertinya koalisi itu adalah Gerindra, PKS, PAN, Demokrat. Gerindra dan PKS sudah berduet di Pilkada DKI Jakarta dan kemenangan Anies-Sandi tentu melecut semangat dua partai untuk lanjut bekerjasama. PAN, entah mungkin karena faktor besan, juga sebelumnya bersama Demokrat di berbagai ajang politik nasional meski setelah Agus kalah akhirnya mereka merapat ke koalisi Gerindra-PKS juga. Oh jangan lupa ada Amien Rais sebagai mbah-mbahane PAN yang meski sepuh tapi masih gatel menancapkan kuku di panggung politik. Ngomong-ngomong kok saya jadi mulas ya membayangkan isi koalisi ini.


Mau ditambah lagi kenapa mereka butuh ngobrol? Tentu soal sepak terjang KPK selama ini. Jangan silau dulu kalau Gerindra dan Demokrat tidak ikut dalam hak angket. PAN pun kabarnya akan mundur.Tidak ikut hak angket bukan berarti jejak mereka dalam urusan korupsi bersih. PAN mungkin agak tenang untuk mundur karena Amien Rais tak lagi dalam posisi diusik KPK. Coba deh disenggol dikit saja nanti pasti kembali menyerang KPK. Demokrat? Waduh banyak kasus yang sudah terbongkar, yang belum kemungkinan juga ada. Belum lagi kemarin Yulianis, anak buah Nazaruddin, menyebut bahwa ada kecurigaan tentang hubungan ‘teman’ antara Ibas dengan Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Memo dan Pepo tentu tak mau kalau sampai anaknya terciduk dalam urusan seperti ini, jadi menjadi bagian dari kekuasaan penting. Karena Jokowi koppig tentu pilihannya adalah Prabowo sebagai lawan paling mungkin Jokowi di 2019.

Tak hanya itu, bagi saya pribadi tentu SBY ada rasa jengkel karena hasil kerja Jokowi selama ini sangat boom di mata masyarakat. Dan akhirnya banyak yang membandingkan dengan jaman SBY. Sebenarnya ini wajar karena pasti seorang pemimpin dibandingkan dengan pendahulunya. Tapi SBy gitu loh dikalahkan bukan hal yang menyenangkan bagi dirinya.

Apakah mungkin ada wacana menaikkan Agus Harimurti mendampingi Prabowo di 2019 mendatang? Hmmm dua orang berlatar belakang ‘tentara nggak kelar‘ kalau dipasangkan seperti apa ya? Tapi rasanya terlalu prematur kalau Agus langsung dipasangkan untuk posisi Cawapres. Selain puja-puji yang menyebutkan Agus cerdas dan dapat penghargaan di militer kok saya belum melihat kemajuan Agus di depan publik tanpa embel-embel Yudhoyono di belakangnya atau jualan kalau dia ganteng. Bahkan dia mencoba engaged dengan followersnya di Instagram dengan gaya seperti Ridwan Kamil pun jatuhnya maksa. Agus masih butuh mencari format pencitraan yang cocok untuknya.

Yang jelas bersiap sajalah kalau setelah pertemuan ini maka buzzer-buzzer dan cyber army akan makin menggila di media sosial. Entah apa lagi yang nantinya akan coba di-spin oleh mereka. Kita tunggu saja hasil pertemuan bersejarah ini.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar