Sabtu, 29 Juli 2017
Inovasi Disruptif Ala Indonesia
Berita Dunia Jitu - Rahmad berdiri gemas di dalam kamar. Tadinya dia dan isteri sudah mau pergi untuk makan sate pak Kumis kesukaannya, tetapi mendadak teman-teman isterinya datang. Sudah satu jam mereka ketawa-ketiwi di meja makan, sementara perut dan nafsunya sudah keroncongan di dalam kamar. Amarahnya nyaris tak tertahankan lagi ketika mendadak pintu kamar dibuka, dan isterinya menyodorkan sate pak Kumis. Lho…? “..kan ada gojek mas..” sahut isterinya manja. Samar-samar dari balik pintu terdengar suara ketawa-ketiwi teman-teman isterinya sambil melahap sate pak Kumis…
Konon kabarnya IDIH (Ikatan Dukun Indonesia Heboh) sedang gelisah. Kalau dulu itu, “Cinta ditolak, dukun bertindak!” kini frasa itu sudah diganti dengan “Cinta ditolak, Gojek bertindak!” Akibat menolak cinta, seorang lelaki terpaksa kehilangan pekerjaan, teman, duit dan juga harga dirinya! Sipelaku ternyata tak perlu repot-repot mencari ayam hitam maupun putih, jarum pentul, jeruk purut maupun bertemu dengan sang “dukun cabul”, tetapi cukup dengan sebuah aplikasi berbasis digital yang jaringannya juga bisa nyantel dengan WIFI tetangga…
Walaupun peringkat sebagai salah satu negara terkorup di dunia belum terlalu beranjak bagus, namun Indonesia tetap mengikuti trend yang sedang happening di dunia modern, termasuk bisnis digital. Industri-industri kreatif yang digawangi oleh anak-anak muda bermunculan dan berkolaborasi dengan dunia digital untuk mengeksplorasi kemampuan mereka yang luar biasa hingga batas maksimal. Bisnis online adalah salah satunya.
Industri fashion konvensional maupun retail-retail fashion kelas bawah-menengah sekarang ini mendapat serangan bertubi-tubi dari bisnis retail online. Perbedaan harga jual yang diakibatkan oleh putusnya mata rantai pemasaran adalah salah satu kunci pokok hancurnya bisnis retail konvensional. Hal ini dapat kita lihat dari perbedaan alur perjalanan bisnis ini.
Produk fashion umumnya berasal dari industri konveksi yang berbasis kuantitas (banyak) untuk menekan biaya produksi. Untuk satu produk, konveksi lazim membuat 3-4 size (ukuran) dan mungkin 3-4 warna. Produk konveksi kemudian dijual kepada grosir besar dengan sistim konsinyasi (titip jual) kredit dan tunai (sebagian bisa diretur dengan produk lain) Dari grosir besar kemudian dijual ke grosir kecil maupun ke pengecer/toko penjualan. Jadi ada 2-3 mata rantai pemasaran sebelum produk fashion sampai ke tangan konsumen.
Sama halnya seperti produk tertentu seperti misalnya sepatu (punya banyak ukuran) produk fashion itu mustahil akan terjual semuanya! Maka pengusaha konveksi pasti akan memasukkan produk yang tidak laku tersebut kedalam biaya produksi untuk keseluruhan produk mereka. Misalnya, biaya pembelian kancing untuk 100 baju adalah Rp 200 ribu. Biaya kancing tidak dicatat Rp 200 ribu/100 baju = Rp 2 ribu/baju tetapi Rp 200 ribu/50 baju = Rp 4 ribu/baju, misalnya kalau mereka memakai patokan 50% produk tidak terjual.
Jadi dari sisi biaya produksi saja, HPP (Harga Pokok Pembelian/Produksi) sudah lebih tinggi dari harga sebenarnya untuk mengakomodasi produk yang tidak laku. Grosir besar, grosir kecil dan pedagang eceran tentu saja masih “waras” untuk mengambil untung. Jadi dari hitung-hitungan sederhana saja, kita sudah tahu berapa biaya produksi sebenarnya dari sebuah baju yang kita beli dari sebuah pedagang eceran. Kalau belinya Rp 200 ribu, maka HPP-nya berkisar Rp 50 ribu. Ketika menjadi produk retur beberapa waktu kemudian, pengusaha konveksi tidak akan ragu untuk menjualnya dengan harga Rp 30 ribu!
Bisnis online tidak terikat kepada jarak, ruang dan waktu, tetapi terikat kepada jaringan koneksi! Tidak ada batasan waktu “buka toko” untuk berbelanja, maupun sekedar “lihat-lihat saja” Pada toko konvensional sekiranya ada konsumen yang berjam-jam mengamati sepotong baju yang dipakai oleh manekin, pastilah akan mendapat perlakukan kurang senonoh dari pramuniaga atau pemilik toko! Sebaliknya dengan toko online. Sekiranya ada sesuatu yang hendak diamati, misalnya model kancing yang terdapat pada sebuah baju, maka konsumen cukup mengaktifkan “mode zoom” pada gadgetnya…..
Ketika satu mata rantai perdagangan putus, maka itu akan selalu membawa konsekwensi penurunan harga! Kini harga produk online jauh lebih murah daripada toko retail, karena produk mereka dapatkan langsung dari konveksi, atau industri konveksi sekaligus juga menjadi toko online! Ketika toko online mendapat produk retur konveksi yang masih bagus, maka mereka akan mendapatkan “durian runtuh!” mengapa? Karena di jagad maya tidak ada batasan warna dan ukuran. Bahkan mungkin kalau ada yang menawarkan sepatu hanya sebelah pun, kemungkinan akan ada juga yang tertarik… jadi semuanya hanya masalah waktu saja sampai ada yang klik….!!!
Salah satu kelebihan toko online bagi konsumen adalah, konsumen tidak perlu berkunjung ke outlet toko. Konsumen cukup klik, dan produk yang diinginkan akan dikirim kemudian ke tempat konsumen. Ditengah galaunya bisnis produk fashion konvensional pada saat sekarang ini, bisnis online ini menjadi penyejuk bagi industri konveksi. Nilai bisnis ini memang masih kecil. Tapi wajar mengingat bisnis ini masih baru, tetapi pasti akan terus berkembang, dan pasti akan menjadi pesat.
Perubahan cara berbisnis akibat era digital ini ternyata membawa perubahan besar bagi dunia bisnis secara keseluruhan. Tergerusnya pendapatan para pengusaha retail fashion konvensional ternyata juga menyeret ke sektor properti dan keuangan. Ketika usaha tutup, maka ruangan di mall dan ruko-ruko tempat usaha juga akan menganggur. Dunia usaha selalu di dukung oleh sektor perbankan untuk mendukung bisnis mereka. Ketika dunia usaha terguncang maka industri perbankan juga akan terganggu.
Alam selalu menawarkan keseimbangan. Ketika ada yang berduka, pasti akan ada yang bersuka! Bahkan ketika ada yang mati, maka usaha peti mati, kembang dan tukang gali makam akan “hidup” Ketika ada yang jatuh sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit, maka dokter, para medis, rumah sakit dan industri obat-obatan akan bersyukur, karena mereka akan bisa membawa rezeki bagi anak dan keluarga mereka di rumah…
Industri online ini ternyata membawa rezeki yang berlimpah bagi jasa kurir! Industri jasa kurir kini bahkan menawarkan jasa pengambilan barang gratis dari tempat toko online untuk di distribusikan ke banyak tempat di seluruh Indonesia bahkan juga ke luar negeri! Akan tetapi di satu sisi, industri online ini memberi kerugian juga bagi pemerintah cq Dirjen Pajak. Pendapatan pajak dari sektor retail konvensional jelas tergerus, sementara pengusaha online tidak memungut pajak dari konsumen. Ini tentu saja akan menjadi PR bagi pemerintah….
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar