Minggu, 09 Juli 2017
Hati-hati Jangan Terlalu Membenci Jokowi, Kepopuleran Semakin Merambat
Berita Dunia Jitu - Nasruddin menjadi orang penting di istana dan selalu sibuk mengatur urusan dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki ditugaskan untuk menyajikan hidangan yang sangat lezat.
“Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah?” tanya raja kepada Nasruddin. “Teramat baik, tuanku raja.” Jawab Nasruddin.
Maka raja meminta dimasakin sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk kesekian kalinya memasak masakan yang sama, raja pun berteriak, “Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!”
Nasruddin pun menyahutinya, “Memang ini sayuran terburuk di dunia, uugh!”
“Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu adalah sayuran terbaik?” Dengan kalem Nasruddin berujar, “Memang benar tuanku. Tetapi saya ini kan pelayan raja, bukan pelayan sayuran.”
Di suatu pagi seorang pakar filsafat menyampaikan pendapat, “Segala sesuatu harus dibagi sama rata.” Lalu di saat yang sama seorang pendengar yang skeptik pun berkata, “Aku tak yakin hal itu bisa dilaksanakan.”
“Tapi pernahkah engkau mencobanya?” Balas si ahli filsafat tadi.
“Aku pernah,” sahut Nasruddin yang juga kebetulan lagi berada di situ. “Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan.”
“Bagus sekali,” kata sang ahli filsafat, “Dan bagaimanakah hasilnya gerangan ketika engkau berlaku adil seperti itu?” Nasruddin menjawab, “Oh hasilnya? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk.”
Nasrudin Hoja adalah seorang sufi yang diyakini hidup di sekitar abad 13 di Turki, pada masa kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol (bukan si Mongol Stress yah). Ia biasanya tampil dengan keledainya. Kisah Nasruddin sudah dikenal hampir di seluruh dunia.
Apa hubungannya kisah ini dengan Jokowi? Tidak ada. Nasruddin bukan kenalannya Jokowi, buka juga kenalan saya. Sama sekali tidak. Hanya saja saya tergelitik menuliskan cuplikan kisah Nasruddin ini, setelah menonton video Youtube Kaesang yang cerdik, cerdas namun tetap berisi kelucuan. Nasruddin yang cerdik dan kocak. Anak-anak Jokowi juga cerdas dan kocak.
Kaesang lalu dilaporin ke polisi karena isi video ndesooooo-nya itu. Rasa-rasanya (maaf) hanya orang goblok yang bakalan bilang video Kaesang itu berisi penodaan agama dan atau mengandung ujaran kebencian.
Mereka yang membenci jokowi selalu saja mencari cara. Entah sengaja atau tidak, kini sasaran mulai diarahkan ke orang-orang dekat Jokowi, misalnya ke anak Jokowi. Hari ini orang bisa punya 1001 macam alasan atau cara dan dalil pembenaran terhadap apapun yang mereka hendak lakukan.
Memang amatlah benar bahwa kebencian, penghinaan, makian, dan ketidaksukaan tidak harus dibalas dengan kata-kata kasar dan emosi tingkat dewa. Kerap kali, justru semuanya itu mestinya disikapi saja dengan santai, bahkan kalau perlu cukup dengan menertawakan orang-orang bersumbu pendek itu sebebas-bebasnya.
Dibalik semua hinaan dan kebencian orang, pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Roda kehidupan pasti akan terus berputar. Ada kekuatan maha dahsyat yang memutarnya, seturut kehendak DIA yang maha mencipta tentu saja. Bila roda kehidupan itu sudah berputar tak ada satu kuasa apapun yang sanggup menghalanginya.
Jokowi Semakin Dibenci Semakin Dicinta
Siapa orang paling jujur menurut Bung Karno? Jawabannya adalah Johannes Leimena. Bung Karno sekali waktu berkata, “Ambillah misalnya Leimena…….saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.”
Kita tentu mempunyai banyak tokoh, tetapi sangat tidak banyak tokoh yang jujur dan berhati nurani. Mestinya, kalau ada tokoh-tokoh seperti itu, harus kita dukung dan teladani. Bukan begitu? Begitu bukan? Jokowi dan Ahok adalah dua di antara sedikit pemimpin yang pantas diteladani di negeri ini.
Lain Bung Karno, lain Bung Karni, lain Bung Michael, lain pula bung-bung yang lain. Semua kita tentu saja punya pandangan sendiri tentang tokoh atau pemimpin yang kita anggap serta yakini baik, jujur, dan punya hati nurani. Anda punya tokoh lain ya silahkan saja. Jangan protes saya bila dari sejak semula saya begitu mengagumi dan amat mendukung Jokowi dan Ahok.
Dan selama ini intuisi saya (meski berbeda dengan Bung Karno) jarang keliru. Saya ‘merasakan’ dengan sungguh bahwa Pak Jokowi adalah orang (pemimpin) yang baik, jujur, dan punya hati nurani.
Terserah apapun penilaian Anda, namun itulah yang saya rasakan. Aura ketulusan, kebersahajaan, dan rasa peduli putra dari Solo yang sudah Tuhan tempatkan di Jakarta untuk memimpin Indonesia ini begitu kuat terpancar.
Tulisan ini bisa jadi akan menjadi santapan empuk para pembenci, yang taunya hanya mencela, menghina, memaki (sama sekali jauh dari kesan mengkritik. Kritik dan menghina itu beda jauh lho ya).
Tidak apa-apa, semua berhak bersuara lantang. Sekalipun ada ‘ular naga besar’ yang akan menganggap saya ‘kecebong’ ya monggo saja. Apapun julukan Anda sematkan toh tidak akan mengubah hasil…..hehehehe. Kodok tetap enak bila digoreng, bebek tetap enak jika dipanggang. Anjing menggongong khafilah berlalu. Pemerintah ‘mengonggong’ khilafah ke laut…..Halah pribahasa apapula ini hehehe
Saya pernah berjalan lumayan lama di jalanan New York saat udara beku minus belasan derajat celcius, sambil diterpa angin dingin bernama The Siberian Blow. Saat itu, mantel tebal berlapis-lapis pun seakan tak kuasa menahan dinginnya udara. Semua terasa membeku sehingga bila kaki tertusuk duri pun tak terasa sakitnya.
Jadi, kalau hanya sekedar tusukan para pembenci Jokowi, raga ini sudah terlalu beku untuk merasakannya. Namun akan segera cair, bila mana ada kata-kata membangun, memotivasi, menyegarkan, yang saya terima. Sekarang sudah saatnya kita saling membangun dan menyokong pemerintahan Jokowi. Jangan biarkan dendam tahun 2012 menyertaimu, mengiringi langkahmu sampai hari ini. Buang itu jauh-jauh, kawan.
Beban negara ini adalah beban bersama. Karena itu, bertolong-tolonganlah kalian menanggung beban……
Bagi para pembenci, ingat sajalah bahwa semakin ia dibenci, maka semakin ia dicintai. Semakin ia dihalang-halangi, sukses pekerjaannya akan semakin merambat.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar