Minggu, 30 Juli 2017
Gerakan Moral Ala SBY, Yang Amoral, Kepada Jokowi
Berita Dunia Jitu - Mendengar secara seksama dari kata perkata dan kalimat perkalimat saat SBY dan Prabowo bertemu dan lakukan konfrensi pers, membuat hati ini, meradang. Frasa abuse of power yang disematkan SBY saat itu, sungguh tidak mencerminkan seorang tokoh apalagi negarawan. Mengapa? SBY tidak menjelaskan secara jelas, gamblang dan konstrukruktif frasa abuse of power yang dilakakukan pemerintahan Jokowi.
Dengan memotret ke belakang, saat SBY berkuasa selama 10 tahun kekuasaan, apa yang diwariskan SBY untuk Indonesia? Dan perubahan apa yang dilakukan SBY untuk mengenjot kemiskinan? Apakah label statistik bodong yang digambarkan SBY, seakan- akan kemiskinan menurun, padahal angka statistik didesign untuk melestarikan kekuasaan?
Apa kabar Hambalang, apa kabar Century dan apa kabar listrik mangkrak? Apakah warisan luhur SBY ini, yang menjadi kebanggaan? Dan apakah korupsi merajalela zaman SBY tolah ukur kesuksesan SBY dalam selama 10 tahun? Barangkali ahli psikolog perlu memikirkan hal ini, kekuasaan yang akut, sulit menerima kenyataan hidup hari ini. Alangkah lebih baik, merenungkan, agar suatu kejahatan tidak ada desepsi diri yang total, sehingga kejahatan bukan sesuatu yang netral, tetapi harus ada penyeselan menuju perubahan.
Potret korupsi Hambalang dan Century seperti ini adalah bagian dari elite capture alias cara lihai mengambil uang negara untuk belanja-belanja tak produktif, untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Korupsi sebagai elite capture ini sama saja dengan perampasan uang negara melalui mekanisme legal. Itulah sekelumit gerakan moral SBY, selama 10 tahun berkuasa. Menerikan gerakan moral, tetapi sesungguhnya amoral.
Sangat jelas dan gamblang, uraian di atas, kesuksesan SBY memimpin 10 tahun secara moral tidak pantas, disampaikan ke Jokowi. Bagaimana mungkin, orang yang jelas- jelas menabrak moral, selama berkuasa 10 tahun dengan gagah dan beraninya menggaungkan gerakan moral. Kalau moralnya saja sudah rusak, bagaimana mungkin, apa yang dilakukan dan yang dikatakan SBY, yang sangat jago memainkan politik santun sebuah gerakan moral. Gerakan moral, akan terlihat jernih, dan putih, apabila, kata dan perbuatannya sejalan, itulah gerakan moral
Kita patut kuatir gerakan moral ala SBY, yang merebah dengan berhadapan dengan arus deras globalisasi media saat ini. Kekuatiran itu berkaitan dengan terancamnya nilai-nilai moral bangsa, akibat masifnya hegemoni nilai-nilai moralitas sesungguhnya, yang acap kali bertentangan secara diametral dengan standar moralitas yang amoral, dengan kata lain kata moral yang tidak diimplementasikan dalam tindakan.
Tesis partai demokrat, saya menyakini bahwa, karena SBY memiliki pengalaman pasca berkuasa selama 10 tahun jadi presiden Republik Indonesia, maka wajar kalau SBY memberi kritik kepada Jokowi yang sedang menjalankan kekusaan sekarang. Pertanyaan reflektifnya adalah dimana gerakan moral, SBY dengan kata abuse of power kepada Jokowi, dibandingkan dengan tindakan selama 10 tahun kekuasaan SBY? Dan abuse of power apa yang dilakukan Jokowi? Bukankah itu, dijelaskan dengan konstruktif dan jernih, kalau itu abuse of power?
Itu gerakan moral yang amoral pak SBY. Secara moral tidak sepantasnya bapak sampaikan itu, apalagi, dengan situasi yang cukup strategis menemui Prabowo Subianto dan menyampaikan itu di depan media. Dan mungkin, Prabowo Subianto tidak mengetahui, itu sangat menguntungkan SBY secara politis. Tetapi yah sudah, biarkan mereka saling bercengkrama moralitas ala mereka, yang sesungguhnya amoral.
Maka gerakan moral yang digaungkan SBY, menjadi kebebasan pepesan kosong ketika tidak disertai ketegasan, pemahaman komprehensif, dan kesadaran moral dalam berkuasa. Tanpa tendensi menuduh siapa yang salah dan benar, apa lagi ditandai gerakan moral yang sesungguhnya amoral.
Alangkah lebih baik pak SBY, mengetahui, pura- pura tau, pura- pura tidak tau atau tidak tau sama sekali soal moralitas. Kalau pak SBY, tidak tau atau pura- pura tau, maka dengan senang hati saya, akan mengulitinya, apa itu moralitas.
Berbicara moralitas, seorang pemimpin, tak hanya kuat secara kategoris, tetapi juga kuat secara prinsipiil dalam semangat pelayanan dan pengorbanan, serta berkomitmen pada kemaslahatan bangsa, bukan kepentingan parsial.
Selain itu, seorang pemimpin juga perlu kesadaran menarik jarak antara the power in itself dan diri pelaku agar tak terjadi abuse of power; menghargai kekuasaan sebagai milik rakyat, yang dipercaya sementara waktu dan demi kebaikan umum, bukan untuk disewenang-wenangkan, apalagi dipertahankan selamanya.
Dan itulah moralitas Jokowi, derap langkah Jokowi dalam mewujudkan moralitas suatu bangsa. Menggaungkan, #SayaIndonesia #SayaPancasila, sebuah gerkan moral Jokowi, agar masyarakat bersatu dan menjaga keutuhan NKRI ini. Lewat nawacita Jokowi, pembangunan infrastruktur, dimana- mana untuk kesejahteraan rakyat, sebuah gerakan moral Jokowi untuk Indonesia sejahtera dari Sabang sampai Merauke. Kecuali, ada segelintir orang yang buta mata dan hati melihat dan merasakan gebrakan yang dilakukan Jokowi. Gerakan moral Jokowi inilah, bukan hanya kata tetapi dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat dan masyarakat pun merasakannya.
Pertanyaan reflektif saya adalah, sudahkah SBY lakukan itu? Gerakan moral yang bukan sekedar kata tetapi perbuatan. Lantas, gerakan moral apa yang dimaksud SBY, dengan mengatakan abuse of power kepada Jokowi? Silahkan rakyat menilai, gerakan moral SBY dengan kekuasaa 10 tahun mewariskan sejarah, Hambalang, Century dan Listrik mangkrak. Dengan gerakan moral yang yang dilakukan Jokowi lewat nawacita dan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah di Indinesia yang masif dilakukan untuk kesejahteraan rakyat.
Dari uraiaan di atas, dapat simpulkan, siapa yang sesungguhnya menjunjung tunggi moralitas dan siapa yang sesunggunya, menggaungkan moralitas, tetapi sesungguhnya amoral.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar