Senin, 10 Juli 2017
Menutupi Fakta, Penyokong Penguasa 30 Dan 10 Tahun Lakukan Manipulasi Logika
Berita Dunia Jitu - Di media sosial Twitter beredar klaim – klaim dari penyokong rezim sebelum Jokowi, Partai Demokrat di wakili oleh Jubirnya, mantan aktifis HAM , Rachland Nashidik. Kubu Orde Baru menggunakan account fiktif, Soeharto.co .
Kedua kubu ini menarik untuk diamati posting-postingannya berkait dengan hasil kinerja masing – masing “tuannya” selama berkuasa. Kubu mantan berkuasa 10 tahun seakan tak mau dianggap tidak melakukan sesuatu, Nasidik mengklaim proyek-proyek infrastruktur Jokowi saat ini adalah hasil perencanaan masa SBY. Kubu Orde Baru dengan account Soeharto.co konsisten mem-posting hasil kerja Orde Baru untuk rakyat selama Soeharto berkuasa. (itu mantan mertua Partai Gerindra, Prabowo).
Soeharto.co menyuarakan kesuksesan era Soeharto melakukan swasembada pangan (padi) dan bentuk – bentuk kerjasama – kerjasama dengan pihak asing seperti Jepang dalam pembangunan Indonesia. (anehnya tidak disitir ya di akhir masa jabatanya Soeharto meninggalkan Indonesia dalam kondisi bangkrut).
Sedangkan kubu PD dengan gagah berani menyatakan proyek Infrastruktur era sekarang adalah inisiasi tim pemerintahan SBY (tidak disitir ratusan proyek mangkrak setelah SBY habis masa pemerintahannya dan kasus korupsi yang menyelimuti proyek – proyek itu). Check postingan Rachland di Twitter banyak sekali postingan “nyinyir”nya.
Penulis tidak mau bermain dengan data -data untuk mendukung fakta, sebab banyak sekali data di dunia maya yang mudah diakses oleh warganet. Jadi bisa membandingkan sendiri hasil pencapaian tiap rezim. Penekanan tulisan ini adalah mengkritisi logika – logika sesat yang dilancarkan pendukung Orba dan Partai Demokrat.
Pernyataan kedua kubu tersebut melupakan satu indikator, yaitu waktu (timeline) pemerintahan. Jelas pemerintahan Jokowi baru seumur 2,5 tahun, baru mau masuk tahun ketiga, tapi gempuran – gempuran atas kebijakannya melebihi gempuran saat Soeharto dan SBY pertama menjabat. Mau bukti ? Baca saja sejarah tahun – tahun pertama kedua Presiden itu berkuasa.
Apakah logis membandingkan penguasa 30 dan 10 tahun dengan penguasa baru memerintah 2,5 tahun? Secara timeline tidak logis, akan sangat adil bila menggunakan waktu tersingkat dan capaiannya sebagai indikator penilaiannya.
Apakah ada yang berani berdebat bila menggunakan 2 indikator tersebut ?
Semua mantan rezim boleh merasa paling berjasa dalam pembangunan nasional Indonesia, tapi perlu dicermati dengan cermat, apakah perencanaan dan eksekusi seperti yang direncanakan. Perencanaan boleh saja meleset, namun berapa margin error sebuah perencanaan. (jaman Orba berapa ? jaman SBY berapa ?)
Rezim Orba populer dengan perencanaan pembangunan dengan label Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Sangat wajar rezim Orba bisa membuat perencanaan seperti itu dengan kekuasaan otoriter, Soeharto mampu mempertahankan kekuasaannya sampai 30 tahun sejak menggulingkan rezim Soekarno.
Setiap 5 tahun dapat dipastikan akan selalu menang dalam kontestasi Pemilu, meski event pemilu diberi predikat “jujur dan adil” , faktanya tak demikian. Sudahlah itu masa lalu bagian dari sebuah perjalanan sejarah negeri ini, tapi kita tidak boleh melupakan sejarah kita sendiri.
Rezim paling kedua adalah rezim SBY dengan masa pemerintahan 10 tahun (2 periode), SBY sukses menggalang dukungan dari partai – partai politik dan organisasi non-partai lainnya dengan manis. Sehingga tidak banyak gejolak / kisruh politik yang membelenggunya. Soal pembangunan ? Rapor di akhir pemerintahan SBY terbuka untuk dinilai oleh siapa pun yang berpikir jernih.
Indonesia memiliki banyak Profesor dan Doktor lulusan perguruan tinggi ternama di dunia, baik dari AS atau Eropa. Di Bappenas banyak ditemui pejabat dengan gelar S3 dari berbagai bidang ilmu dan pengalaman kerja puluhan tahun. Tapi mampukah mereka melaksanakan tanpa didukung oleh sebuah kekuasaan ?
Setiap rezim pasti memiliki tim penasehat ekonomi, seperti era Soeharto memiliki think tank dari lulusan Universitas Barkeley (populer dengan sebutan “Mafia Barkeley). Mereka yang memberikan landasan teori dan praktis perencanaan pembangunan Soeharto di awal pemerintahan.
Apakah betul Soeharto melakukan pembangunan hanya mempertimbangan masukan dari tim ekonominya saja ? Apakah Soeharto tidak mengambil inisiasi yang sudah dilakukan oleh jaman Soekarno atau idenya sendiri ? (bisa dinilai dari warisan rezim Soeharto di jaman sekarang). Era Orde Lama terlanjur digambarkan secara negatif oleh sejarawan Orde Baru, sehingga capaian – capaiannya terkubur dalam dosa – dosa politik yang disetting oleh rezim Orba.
Demikian halnya di era SBY, intinya berhasil atau tidaknya sebuah perencanaan bergantung dengan “eksekutornya”, jaman Orba adalah Soeharto, jaman SBY adalah SBY sendiri. Tidak adil bila menyalahkan menteri -menteri era mereka sebagai penyebab kegagalan eksekusi pembangunan atau perencanaannya. Presiden adalah pengambil keputusan semua kebijakan dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya kepada rakyat.
Jadi siapa sebenarnya eksekutor terbaik dari ketiga rezim tersebut ?
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Write komentar