Minggu, 18 Juni 2017

Revolusi Mental Pak Jokowi Rupa Zaman Ken Arok

Revolusi Mental Pak Jokowi Rupa Zaman Ken Arok

Berita Dunia Jitu - Politik dan hukum Indonesia terguncang. Ahok dipenjara. Angket KPK terus digeber. Para politikus korup anggota mafia monster politik Deep Blue pun terus merangsek. Bahkan kerikil kecil kelas cere atau teri Rizieq FPI kabur ke Arab Saudi – tempat save haven para pengikut Islam radikal, Wahabi. Itu berita yang membetot perhatian publik.
Publik pun terperangah menonton (1) ketidak-adilan hukum, (2) kaburnya Rizieq FPI, (3) demo berseri yang tak ada ujungnya seolah dibiarkan, (4) kesewenangan DPR pamer kekuatan alias show off of force dan bahkan penghalangan penegakan hukum atau obstruction of justice , (5) kesan Presiden Jokowi dan the Operators di bawah tekanan melawan mafia monster politik Deep Blue.
Lalu pertanyaan publik muncul. Mana hasil revolusi mental Presiden Jokowi? Mana? Mana wujudnya? Revolusi mental terus digeber. Namun 2.5 tahun hasilnya belum tampak. Mana? Publik tak sabar.Yang sekali lagi yang ditonton malah mental bobrok para pelaku Palawan hukum, seperti contoh kasus di atas; Ahok, angket KPK, dan kaburnya kerikil Rizieq FPI ke Arab sana.
Kalau soal fisik infrastruktur bisa terlihat jelas: jembatan, jalan tol, pelabuhan, waduk dan bendungan, bandara, listrik, trans-Papua, trans-Kalimantan dan tol Sumatera, jalus kereta api Makassar-Manado, pengendalian harga, dst.
Kalau revolusi mental? Mana hasilnya? Publik pun bingung mencari hasil kerja revolusi mental. Yang nyata, yang tangible dan kalau perlu intangible sekalian dipaparkan. Publik tak sabar melihat.
Kegeraman publik terus berlanjut. Tentang korupsi misalnya. Mana hasil revolusi mental sementara korupsi masih marak. Korupsi masih bersimaharajalela. Bahkan orang seperti Amien Rais pun disebut ikut menerima uang korupsi. Lho mana hasil revolusi mental terkait koruupsi? Kalau masih banyak orang mentalnya korup? Bahkan biang korupsi dan mother goddess dan godfather of corruption tengah dibidik KPK. Mana hasil revolusi mental Presiden Jokowi? Mana?
(Bagi Presiden Jokowi, ada strategi khusus menghantam biang alias the mother of all corruption practices in Indonesia. Dan biang ini adalah sumber korupsi terbesar selama puluhan tahun. Dia sudah menjadi koruptor sejak zaman eyang saya Presiden Soeharto.
Pun perang melawan manusia, dan para sekongkolnya ini sangat berat. Salah satu contoh, Petral yang dielus-elus oleh SBY dan tak berani membubarkannya karena mafia migas M. Riza Chalid bercokol di dalamnya, begitu dilibas Presiden Jokowi, maka perlawanan dari segala penjuru begitu gempita, bersama-sama. Seperti kejadian sekarang ini.
Untuk itu perlu pemahaman dan kecerdasan tingkat dewa dan koordinasi yang kuat menghantam para bromocorah, begundal politik yang menjadi spear head alias the mother of all corruption practices in Indonesia itu. Pun untuk itu Presiden Jokowi memerlukan KPK – dan tentu dukungan rakyat, setelah berbagai lembaga pun bobrok termasuk MK dan lain-lain.
Belum lagi kasus Ahok terkait keadilan di bidang hukum. Mana keadilan hasil dari revolusi mental Presiden Jokowi? Begitu publik geram. Mana kekuatan revolusi mental di peradilan hukum-politik dan politik-hukum?
Bahkan soal kerikil kecil Rizieq FPI, Presiden Jokowi terkesan kalah. Rizieq kabur ke negeri leluhur tempat Wahabi diajarkan. Rizieq reuni dengan sesama buronan teroris Zakir Naik, juga si tukang mencla-mencle si Amien Rais. Mana revolusi mental di bidang hukum? Polri tidak bertindak trengginas, cepat dan tepat. Ini dipertanyakan oleh publik.
(Dan, faktanya dalam politik selalu ada gap atau jurang pemisah antara fenomena yang ditangkap oleh publik dengan fakta yang tengah terjadi. Publik kadang tidak memahami dan bagi orang sekelas Presiden Jokowi, Presiden Jokowi justru mampu memahami tentang gap ini.
Sesungguhnya, bagi Presiden Jokowi, Rizieq FPI tidak memiliki nilai penting sama sekali. Rizieq FPI hanyalah kerikil kecil. Rizieq hanyalah bekas narapidana dan tersangka kasus pornografi. Nilai dan peran manusia Rizieq bahkan tak masuk dalam kadar high political priority – masuk prioritas politik penting pun tidak. Nothing. Rizieq FPI hanyalah pion yang kabur ke Yaman sekali pun tak memiliki nilai sama sekali secara politik bagi Indonesia.
Sebagai wujud cara pandang ini yang low and nothing political priority alias Rizieq tak memiliki nilai prioritas, justru Presiden Jokowi menyasar aktor intelektual dari semua gejolak politik yang lebih kompleks dalam permainan politik tingkat tinggi.
SBY yang berkoar-koar nggak karuan soal Ahok. Rizieq pun berteriak soal Ahok. Amien Rais berteriak soal Ahok. Pentolan Gerindra berjibaku menaikkan Anies. MUI terseret ke dalam politik dengan fatwa kontroversialnya. Demo berdana dan berseri dengan gaya angka keramat. Begitu ada angka 1 ribut mau bikin demo kayak anak kecil yang dapat mainan baru. Norak. Bukan strategis. Mental linear dan gampang ditebak; awam. Pun Prabowo berterima kasih pada Rizieq dan dihargai keberaniannya. Nah, dihargai keberaniannya, bukan strateginya.
Dalam politik, keberanian hanyalah fenomena, sementara strategi adalah essence (intisari) dan core (inti pati) dari tujuan. Maka keberanian konyol Rizieq menunjukkan dirinya hanyalah pion, cere, kecil, small pelaksana dari gerakan mafia monster politik seperti Deep Blue, yang well-organizedwell-financedwell-planned, dan kuat sekali.
Kenyataannya itu yang dihadapi oleh Presiden Jokowi. Itu yang dihadapi oleh program revolusi mental Presiden Jokowi. Berat? Ya. Berat. So? Itu kenyataan pahit fakta yang dihadapi Presiden Jokowi. Dan, celakanya, atau untungnya, Presiden Jokowi ada di pucuk sana sendirian dan berbeda: mental korup, culas, serakah, bebal, bahlul, penakut, plin-plan tidak ada dalam diri Presiden Jokowi. Presiden Jokowi adalah contoh revolusi mental itu sendiri.)
Lalu apa hasil dari revolusi mental Presiden Jokowi? Selain pelajaran Pancasila yang akan dicanangkan? Upacara bendara di sekolah? Gerakan rakyat sadar akan pentingnya pluralisme, kebersamaan, kebangsaan, toleransi? Mana?
Fenomena nyata ada di depan mata. Para angkara murka politik masih berkuasa di Indonesia. Revolusi mental tidak menyentuh mereka. Bahkan gara-gara nama-nama tenar politikus DPR disebut Miryam S Haryani, Hak Angket KPK dipaksakan, yang senyatanya pelintiran frasa ‘pelaksana undang-undang’ yang dipakai.
Padahal sejatinya KPK sebagai lembaga independen dan bukan pemerintah bukan target angket DPR. KPK pun tidak akan tunduk kepada tekanan DPR. Pakar hukum yang masih waras pun seperti Mahfud MD meminta KPK untuk tetap teguh pendirian untuk tidak melayani angket DPR. Dunia hukum meradang? Mana hasil revolusi mental?
(Perwujudan hasil revolusi mental sesungguhnya berupa tantangan mafia itu sendiri. Presiden Jokowi mewarisi kondisi  ipoleksosbudhamkan (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan) bobrok. Dari sejak sebelum menjabat Presiden RI 2014 dan saat Presiden Jokowi memerintah.
Tak heran, sejak awal publik bingung dengan sepak terjang Presiden Jokowi terkait revolusi mental. Bahkan, terkait kasus dan fenomena politik tampak Presiden Jokowi terkesan lambat, lelet, berhati-hati dan kurang tegas. Benarkah? Yang jelas kadang keputusan beliau suka bikin gemes.
Dari mulai kasus Ahok, hak angket KPK, dan bahkan yang paling hot kasus kerikil pion Rizieq FPI, Presiden Jokowi terkesan cool and slow down. Kenapa?
Karena sesungguhnya Presiden Jokowi saat ini tengah mewarisi Indonesia seperti zaman Tumapel-Kediri. Dengan situasi ipoleksosbudhankam yang sama sekali tak menguntungkan. Stabilitas politik dan ekonomi rentan akan kekuasan para bandit dan mafia geng monster politik ala Deep Blue.
Jokowi sekarang adalah Arok. Arok adalah seorang berkasta terendah sudra yang berkesempatan belajar dari para Begawan dan Pandita seperti Lohgawe. Maka Arok menjadi pribadi yang membumi, tahu kalangan politikus dan bahkan persekongkolan antara pemimpin agama dan para begal, kecu, dan perampok.
Belakangka, sang pendeta Negara Kediri yang ditempatkan di Tumapel menjadi tokoh agama yang korup. Belakangka menjadi penarik dan pemeras para budak penambang emas. Akuwu Tumapel Tunggul Ametung membiarkannya. Demi kekuasaan dan legitimasi fatwa keagamaan dari Pandita Belakangka terkait Siwa dan Buddha – yang cenderung digunakan untuk legitimasi kekuasaan Raja Kediri dan Akuwu Tumapel.
Politikus serupa Lohgawe, merangkap pendeta, kecu atau pengusaha budak semacam Banyak Ngah, Rawit, Riwut dan sebagainya, menjadi mesin penyokong kekuasaan Tunggul Ametung yang korup.  Tunggul Ametung bersekutu dengan pandita, koruptor, dan pengusaha rakus.
Perselingkuhan busuk (1) pengusaha atau saudagar kaya,  (2) pandita atas nama Dewa dan agama menjual maklumat dan ayat lontar dan fatwa, (3) politikus korup yang serakah, (4) dan gerakan melawan Kediri yang tidak tampak namun mencekam rakyat,  dan (5) Akuwu Tumapel, sebagai penguasa undang-undang, yang tunduk pada hasrat hedonisme dan tidak melayani rakyat.
Maka Ken Arok pun hadir menjadi pemimpin perlawanan terhadap Kediri – didukung oleh para pelawan Kediri dan Tumapel oleh sebagian kecil pandita yakni Lohgawe dan Mpu Purwa. Tumapel adalah lambang kemungkaran dan ketidakadilan di mata Arok dan rakyat jalata dan para pendekar kebenaran. Pun dengan demikian betapa berat perjuangan Arok membongkar dan ketika berada di tampuk kekuasaan; perjuangan kaum budak dan penderita di Tumapel dan Kediri.
Maka kini, di zaman Republik Indonesia ini, Presiden Jokowi mewarisi persekongkolan demikian. Para anggota DPR yang korup (bermuka dua atau tiga), para koruptor dan mafia, bandar nerkoba, dan para teroris bersatu melawan Presiden Jokowi. Pada saat yang bersamaan sesungguhnya inti dari revolusi mental target utamanya adalah mereka. Mereka adalah para koruptor, yang bobrok mental mereka. Meraka yang duduk di peradilan korup, pun bobrok rusak konstlet mental mereka. Mereka yang berkedok khilafah perusak NKRI, mental rusak.
Inilah tantangan Presiden Jokowi dalam revolusi mental. Presiden Jokowi melawan mereka, berupaya merevolusi dan meluruskan mental bejat mereka. Mereka yang berkuasa dan berselingkuh dengan kemungkaran; bukan rakyat kebanyakan. Justru para pemimpin negeri, malah para penguasa yang berdiri kokoh mengisap darah rakyat, mengisap darah negeri, merusak persatuan bangsa, intoleransi, anti Pancasila, penyebar fitnah, menghancurkan kebanggaan sebagai bangsa. Itulah target revolusi mental yang sesungguhnya.
Jadi dalam memahami Presiden Jokowi terkait kasus kerikil Rizieq FPI, itu hanya fenomena. Rizieq tak dianggap dan tak dihitung sama sekali oleh Presiden Jokowi. Disebut namanya pun tidak pernah oleh Presiden Jokowi. Kosong melompong tak ada memori sedikit pun dalam otak Presiden Jokowi terkait Rizieq. Nothing. Nol. Lewat.
Hanya pion cere kelas teri dalam politik si Rizieq itu. Tak berguna untuk dipikirkan. Lemah. Penakut. Pengecut tak berani menghadapi kasus remeh soal mesum, kotor, jorok, nista, nafsu badaniah alias pornografi. Buktinya membela diri sendiri pun Rizieq tak mampu. Tujuh juta pendukung pun surut menjadi hanya 150 orang. Rizieq ditinggalkan setelah master-mind menghitung Rizieq sudah game over.
Di sisi lain permainan antara fenomena dan fakta dipaparkan dengan cerdas; the Operators mulai bermain bahkan pemetaan sejak 411, 212, 313, lalu Pilkada DKI 2017 (nanti akan menyusul artikel tentang pergeseran anggota the Operators dan sikap the Supreme Operator). Pun Jenderal Tito berperan untuk memberi hiburan bagi rakyat; sesungguhnya tak penting Rizieq FPI bagi Indonesia. Rizieq FPI tidak pulang sampai kiamat pun Indonesia tak dirugikan sama sekali. Nothing.
Maka fenomena dan fakta politik tak mampu dicerna rakyat kebanyakan. Framing, spinning, dan menampakkan fakta yang sebenarnya fenomena, dengan di belakang itu ada gerakan dahsyat yang menghantam para begundal politik pun luput dari pemahaman rakyat dan juga para anggota monster politik Deep Blue.
(Fenomena dan fakta politik pada zaman Ken Arok dalam kaitan dengan Tumapel dan Kediri tergambar sama dengan kondisi yang kini tengah dilakukan dan dialami oleh Presiden Jokowi. Ken Arok kasta Sudra mendapatkan endorsement dan mentor politik-hukum dari sedikit orang waras Lohgawe dan Mpu Purwa. Presiden Jokowi yang hanya berasal dari tukang penjual mebel – yang mendapatkan mentor politik dari sebagian anggota the Operators.
Ken Arok menggerakkan revolusi mental pendeta, rakyat dan pengusaha waras untuk menjatuhkan kekuasaan bandit, penculik Ken Dedes, berkedok penguasa dan politikus alim, Akuwu Tumapel. Presiden Jokowi melawan koruptor, pengusaha nakal, bandar narkoba, teroris, dsb.)
Maka mana hasil dari revolusi mental Presiden Jokowi? Perlawanan para koruptor dkk. dengan (1) wujud korban dan martir seperti Ahok, atau (2) munculnya pion kecil kerikil semacam Rizieq FPI, atau (3) pun angket KPK. Kenapa? Mereka adalah target REVOLUSI MENTAL yang marah dan tidak mau berubah mental mereka. Pantas mereka geram ingin menjatuhkan Presiden Jokowi

Tidak ada komentar:
Write komentar