Berita Dunia Jitu - Orang bijak pernah berkata, ketulusan hati dan kerja keras akan selalu mendapatkan ganjaran yang menggembirakan. Ketulusan dan kerja keras tidak akan pernah gagal karena akan selalu dilindungi oleh yang Maha Kuasa. Tetapi kalau hanya berpangku tangan dan bicara tanpa aksi yang jelas maka tidak akan pernah datang yang namanya keberhasilan dan kesuksesan.
Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) membuktikan kebenaran hal itu. Jokowi yang sudah sejak jauh-jauh hari rapat untuk mempersiapkan antisipasi harga dan segala kesiapan menjelang bulan puasa, benar-benar menunjukkan sebuah komitmen untuk membuat bulan puasa kali ini lebih aman dan nyaman. Masalah harga kebutuhan pokok pun diantisipasi dengan sinergisitas antar kementerian.
Itulah mengapa ketika memasuki bulan puasa Kementerian Perdagangan membuat kesepakatan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) terkait tiga harga barang kebutuhan pokok. Yang disepakati adalah harga eceran tertinggi (HET) untuk tiga bahan pokok, yaitu gula, minyak goreng, dan daging beku kerbau impor India, yang dijual di toko ritel modern.
Tidak hanya itu, Kemendag pun terus melakukan pengawasan dan pengecekan harga barang di pasar-pasar tradisional. Bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kepolisian, Kemendag tiada kenal lelah terus melakukan pengendalian harga barang kebutuhan pokok.
Itulah mengapa saat ini harga cukup stabil meski sempat ada gejolak harga bawang putih. Gerakan polisi untuk ikut mengawasi juga memberikan pengaruh yang sangat besar. Bahkan Polri membentuk satgas pangan sebagai bentuk komitmen mengawasi distribusi bahan pangan dan mengendalikan harganya.
Pengawasan yang dilakukan oleh kepolisian ini tentu saja dengan harapan mereka bisa telusuri kalau ada importir nakal serta pedagang pengumpul yang berusaha mempermainkan harga. Biasanya mereka bermain dengan melakukan penimbunan dan setelah harga naik baru akan mengeluarkannya sedikit demi sedikit.
Kinerja tiga kementerian ini dalam menjaga harga kebutuhan pokok ini dapat kita lihat saat sebanyak 182 ton bawang putih impor asal India dan China disita polisi dari sebuah gudang di Marunda, Bekasi, Jawa Barat.
Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, terungkapnya kasus ini diketahuinya dari informasi yang diberikan oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Ketika Enggar mengetahui adanya penimbunan ini, ia pun segera menghubungi Amran pada Rabu dini hari.“Jadi Pak Mendag Subuh-Subuh hubungi saya perintahkan. Ini belum Salat Subuh. ‘Pak Mentan, tolong ada penimbunan.’ Oke kami bergerak dengan kepolisian,” kata Amran di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/5/2017).“Kami tadi bagi tugas, saya diperintahkan Pak Mentan kemarin untuk stabilisasi bahan pokok, kita lakukan, pagi-pagi bilang itu urusan Pak Mendag saya lakukan. Saya akan tangkap itu orang. Begitu digerebek, langsung dikasih tahu lagi, langsung PT itu saya cabut izinnya. Enggak ada urusan,” Jelas Enggar.
Ketegasan Kemendag dan Kementan ini memang patut kita apresiasi. Pencabutan izin akan memberikan efek jera sehingga ke depan tidak ada lagi importir nakal yang mempermainkan harga. Bayangkan saja 182 ton bawang putih ditimbun itu sudah pasti akan membuat harga bawang putih meroket naik. Apresiasi juga kita berikan kepada polisi yang berhasil mengungkapkan penimbunan tersebut.
Itulah mengapa, saat melakukan sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/6/2017), Presiden Jokowi memberikan apresiasi atas kerja keras Kementan, Polri, dan Kemendag untuk mempertahankan stabilitas harga barang kebutuhan pokok.
Jokowi melihat bahwa mereka mampu menciptakan stabilitas pada harga bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Jokowi minta stabilitas harga bahan pangan tersebut dipertahankan. Jangan hanya stabil pada bulan puasa 2017 saja, melainkan harus diciptakan sistem agar stabilitas harga pangan terus terjaga.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalau kita lihat, harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran tahun ini berada dalam posisi yang sangat baik, stabil,” ujar Jokowi saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/6/2017).“Jadi, Menteri Pertanian (Amran Sulaiman), Pak Kapolri (Jenderal Pol Tito Karnavian) dan Menteri Perdagangan ( Enggartiasto Lukita) yang telah bekerja keras untuk stabilitas harga kebutuhan pokok,” lanjut dia.
Saya sendiri merasakan stabilitas harga tersebut. Tinggal di Kota Pekanbaru, saat belanja terakhir ke pasar, Kamis (22/6/2017), hanya dengan uang 50 ribu saya bisa membeli cabai merah, rawit, bawang merah dan putih untuk stok seminggu (untuk makan 3 orang). Belum lagi harga ikan yang stabil karena memang ketegasan Menteri Susi yang membuat ikan sekarang tidak sulit ditangkap.
Saya sendiri sempat terkejut ketika tahu harga cabai merah dijual dikisaran 14-16 ribu per kilonya. Jika dulu saat pemerintahan sang mantan disuruh tidak makan cabai, maka sekarang saya malah bisa makan cabai banyak dengan harga segitu. Bagaimana pun orang Indonesia makan tanpa cabai sama dengan makan sayur tanpa garam. Hambar rasanya.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengklaim, harga barang kebutuhan pokok stabil, bahkan cenderung menurun. Hanya harga daging sapi yang memang sangat sulit untuk dikendalikan di bawah 100 ribu untuk daging sapi segar.
Sebelumnya saya ragu kalau pemerintahan Jokowi bisa mengendalikan harga saat bulan puasa dan menjelang idul fitri. Bukan apa-apa, permainan harga oleh kartel dan para importir nakal seperti sulit dihilangkan dari negeri ini. Menteri Susi sendiri sudah mengakui bahwa permainan kartel di komoditi garam juga sulit untuk ditaklukan.
Musuh terbesar dari kenaikan harga pangan memang para pedagang pengumpul dan impotir nakal ini. Mereka selalu memikirkan keuntungan diri sendiri dan mengorbankan kepentingan orang banyak. Susahnya karena mereka ini dipelihara dan dibiarkan menggurita bertahun-tahun.
Seperti yang disampaikan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman ketika berhasil mengamankan importir nakal yang ketahuan menimbun bawan putih berikut ini..
“Masa ada satu orang menikmati, tapi menyengsarakan jutaan orang,” tuturnya.
Itulah yang menjadi mimpi dan juga PR besar pemerintahan Jokowi. Menggenapkan semua sila di Pancasila. Terkhusus di sila kelima yang memerintahkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa terkecuali daerah dan masanya. Mau bulan puasa, mau pas natal dan tahun baru, keadilan sosial harus ditegakkan.
Tidak boleh lagi ada permainan harga dan monopoli yang membuat hanya satu orang menikmati tetapi menyengsarakan jutaan orang. Pemerintah harus tegas terhadap oknum-oknum seperti itu dan jangan dibiarkan apalagi dipelihara karena memberi uang pelicin.
Terima kasih Menteri Pertanian (Amran Sulaiman), Pak Kapolri (Jenderal Pol Tito Karnavian) dan Menteri Perdagangan ( Enggartiasto Lukita) untuk kerja kerasnya. Pengabdian yang tulus yang anda lakukan tidak akan sia-sia. Semua akan tercatat sebagai sebuah penghargaan bukan hanya dari kami, tetapi juga oleh Yang Kuasa.
Terima kasih juga Pak Jokowi yang telah dengan tegas memerintahkan pengendalian harga ini dan telah memilih menteri dan kapolri yang bisa bekerja dan tidak kenal lelah turun ke lapangan mengawasi apa yang menjadi kebijakan pemerintah. Benar memang kalau kabinet ini adalah kabinet kerja.

Tidak ada komentar:
Write komentar