Senin, 19 Juni 2017

Dibalik Peresmian Jembatan Gantung, Pesan Jokowi Untuk Mafia Export – Import Komoditas Indonesia

Dibalik Peresmian Jembatan Gantung, Pesan Jokowi Untuk Mafia Export – Import Komoditas Indonesia

Berita Dunia jitu - Saya sempat berpikir, “Apa ini? Jembatan kecil yang tidak bisa dilalui mobil…” Lalu musik dan kamera yang menyoroti dan mengiringi video peresmian jembatan Kali Galih Temanggung itu juga membuat penampakan jembatan itu seperti jembatan besar nan megah. Terlihat kokoh
Lalu muncul wajah Pak Jokowi yang senyam senyum sambil bilang, “….apa itu I love you, I love you disana!” Semua orang, termasuk saya tertawa! Dan dia melanjutkan pidatonya.
“Biasanya… biasanya Presiden itu sering meresmikannya yang gede-gede, jembatannya juga yang gede-gede, pasar juga yang gede-gede atau pabrik yang gede-gede. Kalau saya ya ndak, jembatan yang gede juga diresmikan tetapi yang kecil yang langsung dinikmati rakyat ini juga penting. Jangan dipikir jembatan seperti ini ngga penting, penting sekali untuk infrastruktur dari desa ke desa atau dari kecamatan ke kecamatan. Saya sudah mendapatkan keluhan ribuan desa kecamatan yang meminta jembatan gantung seperti ini. Kemaren juga dari Wonosobo …. karena dengan kecepatan seperti ini, dengan disambungkan akan ada kecepatan. Untuk logistik, untuk mobilitas orang cepet, mobilitas barang cepat. Karena sering saya sampaikan bahwa sekarang ini bukan lagi negara besar mengalahkan negara kecil, bukan negara yang kuat mengalahkan negara yang lemah, bukan! Sekarang ini negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat”. Dan tentu saja semua hadirin tepuk tangan.
Peresmian jembatan gantung ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi tidak tebang pilih dalam membangun infrastruktur di tanah air. Kondisi topografi tanah air mendorong pemerintah untuk membangun lebih banyak jembatan gantung. Sejak tahun 2015 pemerintah telah membangun 10 jembatan gantung di Banten dan 4 di Magelang. Namun menurut Jokowi yang paling membutuhkan jembatan gantung ini adalah Papua dan Sulawesi. Jembatan yang diresmikan Jokowi ini menelan biaya sekitar Rp 3 miliar sampai Rp 6 miliar. Dia pun memerintahkan jajaran terkait untuk mengutamakan pembangunan jembatan serupa.
Dari pertama kali Pak Jokowi mengatakan tentang negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat, saya sudah setuju. Saya sangat meyakini akan keampuhan seseorang yang mampu menaklukan waktu. dalam artian, mereka tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.
Presiden Jokowi adalah seorang yang sangat realistis. Dia sadar bahwa Indonesia sudah MENINGGALKAN dirinya dari kemajuan yang ditawarkan dunia. Tujuh puluh tahun merdeka, keterlambatan pembangunan terjadi hampir di semua lapisan dan lapangan. Lima tahun menjabat sebagai Pemimpin negara, dia berusaha keras mengejar ketertinggalan ini tanpa memperdulikan berapa utang yang harus dibayar oleh anak-cucu bangsa Indonesia kemudian!
Lagi-lagi saya setuju. Mulai dari Presiden pertama, Soekarno sampai presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, tidak ada cerita hutang luar negeri Indonesia berhasil dibayar lunas. Yang ada hutang presiden sebelumnye diwarisan ke presiden berikutnya dan begitu seterusnya TANPA memberikan hasil yang nyata pada rakyat Indoneisa. Hutang dibuat dan diterima hanya untuk memperkaya segelintir orang kroni-kroni mereka.
Di era Jokowi, Indonesia mungkin akan berhutang lebih besar dari apa yang Susilo Bambang Yudhoyono lakukan, tapi kita bisa melihat Jokowi mampu menjawab semua permintaan rakyat mulai dari Sabang sampai Merauke. pembangunan dilakukan secara besar-besar dan siginfikan. Lalu kenapa kita masih harus teriak-teriak dan keberatan dengan hutang-hutang yang Jokowi lakukan yang jelas-jelas semuanya diberikan pada rakyat?
Hal kedua lain yang menarik yang Jokowi sampaikan adalah masalah komoditas. Pada pidatonya Jokowi mengatakan bahwa Indonesia ini monoton, rutinitas, linier, tidak berani melihat peluang-peluang yang lain, sehingga terobosan terobosan itu tidak bisa dilakukan. Dia memberikan contoh tentang Cacao.
“Dulu cacao di Indonesia itu bludak tapi jualnya bingung. Exportnya bahan mentah.Sekarang diwajibkan harus ada industri cacao disini. Buat coklat. Industrinya berkembang. Tapi dikebun cacaonya tidak dikembangkan sehingga antara suply dan demand tidak seimbang sehingga kita sekarang ini import cacao. kan ngga boleh seperti itu. Harusnya daerah-daerah yang siap ditanami cacao, ya tanam. Daerah-daerah yang siap ditanami kopi, taman. Karena ini, komoditas ini ngga pernah turun di dunia. Permintaan export, permintaan dunia ngga pernah turun. Peluang-peluang seperti ini yang harus dilihat oleh kepala-kepala daerah, bupati, gubernur, karena yang tahu adalah bupati, gubernur. Jangan rakyat diajak misalnya tidak disini, ditempat lain, rakyat diajak nanam sawit, semuanya nanam sawit, begitu harganya jatuh, semuanya ikut jatuh. nanam karet, semuanya nanam karet, begitu harga karet jatuh kayak sekarang, semuanya jatuh. Harus bisa melihat dan kecepatan itu bisa dikalkulasi mana komoditas yang menguntungan dan mana yang tidak. Petani diajak untuk kesana. kalau ada yang lebih baik, kedepan lebih menjanjikan ya tanam itu. Kita terlalu lama berpikir linier, itu yang akan kita rubah agar negara kita baik propinsi baik daerah semuanya berlomba-lomba mengadu kecepatan. Karena sekali lagi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat dan kita tidak mau dikalahkan negara lain”
Bayangkan saja, dulu cacao banyak, tapi tidak bisa jual. akhirnya diexport dalam bentukk bahan mentah. Lalu industri dikembangkan, tapi cacao sudah teken kontrak untuk dijual export, walhasil suply untuk industri lokal cacao kurang, ujungnya Indonesia mengimport. Buat saya hanya ada dua kemungkinan, yaitu : menteri perdagangan dan Industrinya goblok atau strategy ini sengaja dilakukan untuk bisa mengambil keuntungan dari kesalahan perencanaan dengan cara menjadi pengimport atau pengexport komoditi yang sama. 
Praktek jahat yang merugikan petani dan negara ini tertangkap oleh Jokowi. Untuk itu dia dengan tegas mengatakan bahwa praktek semacam ini akan dia hentikan! Makin bertambah saja orang-orang yang akan memusuhi Pakde kita nih.
Pernyata Presiden Jokowi semakin mengukuhkan betapa pentingnya dia untuk wajib menjadi Presiden Indonesia di periode kedua. Karena sisa waktu dua tahun dia menjabat sebagai presiden Indonesia tidak akan mungkin cukup untuk menjalankan apa yang dia rencanakan. Kita tidak memiliki jaminan bahwa jika Jokowi kalah di Pilpres 2019, Presiden terpilih berikutnya akan memiliki pemikiran yang sama.
Praktek mengexport komoditas dalam bentah mentah lalu mengimport komoditas mentah kembali masuk ke Indonesia hanya akan menguntungkan “mereka” pihak swasta yang ditunjuk oleh oknum pemerintah. Iya kalau cacao yang di import bukan cacao yang sama yang Indonesia export. Bukan hal yang tidak mungkin, cacao yang sama yang di export dan di import kembali masuk ke Indonesia.
Cacao, kopi, karet dan masih banyak lagi komoditas Indonesia yang bisa diolah dan langsung di export dalam bentuk jadi selama pemerintah mendukung proses industri merubah komoditas mentah ke mokoditas jadi. Dan hanya dengan memiliki Presiden yang kuat dalam hal perencanaan, pengaturan, pelaksanaan dan pengawasan yang mampu mengejar ketinggalan dan melakukan percepatan pembanguan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Jokowi pada periode lima tahun ke depan!

Tidak ada komentar:
Write komentar