Sabtu, 17 Juni 2017

Demi Keadilan Sosial Semua Mafia Di Lawan

Demi Keadilan Sosial Semua Mafia Di Lawan

Berita Dunia Jitu - Di tengah hiruk pikuk kericuhan selama bulan puasa mulai dari  Rizieq yang menolak pulang, angket DPR soal KPK, THR yang belum kunjung turun juga, hingga soal kapan jatuh hari lebaran. Teman saya seorang pengusaha kelas usaha kecil menengah begitu senang dengan kinerja Jokowi selama bulan puasa ini. Apa yang menyebabkan ia merasa senang?
Teman ya ini adalah ssaeorang pengusaha di bidang makanan. Ia mengemas rendang dalam sebuah dus sehingga bisa dijual online. Bukan bumbunya saja tapi lengkap dengan dagingnya, jadi konsumen tinggal makan saja tanpa perlu memasak lagi. Bahan utamanya sudah tentu daging sapi serta bahan lainnya adalah santan, bawang, cabai dan lain-lain.
Nah bulan puasa ini ia begitu senang sekaligus juga takjub pada kinerja Pak Jokowi serta jajarannya. Sejak 6 tahun usaha itu ia dirikan, untuk pertama kalinya pada bulan puasa tidak terjadi fluktuasi harga bahan-bahan di pasar. Semua harga stabil selama bulan puasa, setidaknya untuk daerah kita ini.
Saya pun baru tersadar karena selama bulan puasa ini kita disibukkan dengan berbagai isu politik hingga pornografi hingga lupa soal harga selama bulan puasa ini.
“Hebat Jokowi, gak salah pilih saya. Harga bisa stabil selama bulan puasa, daging sapi, bawang, cabe dan kelapa yang biasanya bergantian naik turun, sekarang stabil semua.” Begitu ujar teman saya ini.
Menurut dia, sebenarnya tahun lalu harga-harga kebutuhannya di pasar sudah agak stabil, ada kenaikan tapi perlahan dan tidak tinggi. Lalu ia membandingkan sebelum Jokowi menjadi Presiden.
“Kalau dulu, harga itu bisa tiba-tiba melonjak tinggi, gantian pula. Minggu ini daging tiba-tiba melonjak, minggu depan bawang melonjak tinggi, dan minggu depannya cabai. Sebagai pengusaha kecil menengah kondisi begini gak menyenangkan.”
Itulah sedikit cerita dari teman saya, sayangnya gak bisa saya taruh fotonya disini karena takut malah promosi dan melanggar ketentuan.
Kondisi harga bahan pokok yang tidak stabil akan sangat mengganggu para pelaku usaha terutama para pengusaha UKM (usaha kecil menengah). Padahal di Indonesia 95% tenaga kerja disediakan oleh UKM-UKM ini. Roda ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan oleh usaha-usaha skala UKM ini yang mampu menyediakan banyak lapangan kerja. UKM ini juga yang menyerap tenaga kerja lulusan SMA, SMP, bahkan SD.
Seperti teman saya ini, dikala bulan puasa permintaannya melonjak tinggi sehingga ia bisa mempekerjakan 15-20 orang. Mereka ini adalah penduduk sekitar usahanya kebanyakan ibu-ibu dengan suaminya yang berpendapatan rendah. Ibu-ibu ini juga sulit bekerja ditempat lain karena tingkat pendidikan mereka yang rendah. Bayangkan sebuah UKM kecil saja bisa membantu banyak rumah tangga.
Stabilnya harga di pasar hingga minggu ketiga Ramadhan juga dinyatakan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Ia mengklaim harga pangan pokok di tingkat ecer tidak bisa bergerak liar. “Dampaknya kan sekarang harga stabil cenderung turun,” klaim Enggar
Sejak April 2017, pemerintah sudah mulai bekerja dengan membuat rencana untuk pengendalian harga pasar. Empat menteri Jokowi mengadakan rapat, Menko Perekonomian, Darmin Nasution,  memanggil tiga anggota Kabinet Kerja yakni Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri ESDM Ignasius Jonandan Menteri BUMN Rini Soemarno. Rapat tersebut terkait dengan stabilisasi harga dan stok pangan di bulan Ramadan dan Lebaran.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, selain masalah harga dan pasokan pangan, rapat tertutup tersebut juga membahas pengendalian inflasi yang terkait dengan kebutuhan bahan pangan pokok.
“Bahas harga-harga, kemudian inflasi,” ucap Enggar singkat sembari bergegas masuk ke lift begitu keluar dari mobil dinasnya RI 33 di lobi kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (25/4/2017).
Kemudian pada bulan Mei pemerintah membentuk Satgas pangan yang fungsinya untuk mengawasi praktik kartel yang dikabarkan kerap membuat sejumlah harga pangan melonjak. Tidak tanggung-tanggung satgas pangan ini dibentuk melalui koordinasi Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, dan Bulog. Hal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah kali ini untuk mengendalikan harga bahan pokok.
Bahkan Kapolri Tito Karnavian secara langsung mengingatkan kepada para pelaku kartel bahwa kali ini pemerintah serius melakukan langkah-langkah preventif untuk pengendalian harga. Bayangkan Kapolri langsung mengawasi harga bahan pangan.
“Kami akan melakukan langkah preventif baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Tito kepada media di Jakarta.
Dia menegaskan kepada jajarannya di tingkat daerah untuk menindak tegas oknum yang kedapatan melakukan praktik kartel. Pihaknya akan melakukan evaluasi hingga ke tingkat Polda setiap dua minggu sekali.
“Sesuai dengan arahan Presiden yang menginginkan stabilitas harga pangan dan sembako sehingga tidak memberatkan rakyat,” imbuh dia.
Dia menambahkan pihaknya akan melakukan pengawasan bersama kementerian dan lembaga terkait hingga perayaan Idul Fitri pada Juni mendatang. Langkah tersebut menurutnya untuk memastikan proses distribusi pasokan pangan berjalan dengan baik.
Sementara Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar juga mengatakan hal yang sama. Kepolisian akan mengecek para distributor sembako untuk memastikan harga stabil. Ia juga meminta kepada para tengkulak dan masyarakat agar tidak memainkan harga sembako menjelang Ramadan 2017
“Iya benar-benar (diteliti) dari pemilik distributor apakah secara benar melakukan proses distribusi barang,” 
Polisi akhirnya turun langsung ke pasar-pasar untuk memantau harga-harga di pasar. Salah satunya seperti yang dilakuakn di Magetan ini.
Telah dilaksanakan kegiatan Patroli Pasar oleh 4 Anggota Sabhara dalam rangka antisipasi lonjakan harga Sembako di pasaran, Rabu(24/5).
Kapolsek Barat AKP Sutiyana, S.H melalui Ka.SPK Aiptu Zainal Arifin mengatakan” Pelaksanaan Operasi Pasar harus dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan situasi Pasar dan antisipasi lonjakan harga Sembako, sebagai tindak lanjut perintah pimpinan katanya” (tribratanews.polresmagetan.com, 2017)

Para penimbun pun kali ini tidak bisa menimbun dengan tenang karena Kepolisian dengan sigap menangkap mereka yang mencoba memainkan harga. Salah satunya adalah penimbun bawang ini.
“Pada tanggal 16 Mei 2017, Bareskrim Polri melakukan penindakan terhadap sebuah gudang di Jalan Marunda, Jakarta Utara,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya di Jakarta, Rabu, 17 Mei 2017 seperti dilansir Kantor Berita Antara.
Dilaporkan, gudang tersebut diketahui milik PT TPI yang berisi lebih dari 182 ton bawang putih. Tiga pelaku yang ditangkap merupakan pemilik gudang, pemilik barang dan supir truk.
“Bawang putih tersebut diimpor oleh dua perusahaan yaitu PT NBM dan PT LBU sejak bulan April 2017,” kata Brigjen Agung Setya. Pihaknya menduga pelaku sengaja menimbun bawang putih kemudian akan dijual pada saat harga naik. Adapun penyidik masih mendalami keterangan tersangka dan menganalisa seluruh dokumen yang ada. 
Jelang lebaran beberapa kebijakan dikeluarkan Kementerian Pertanian. Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk melindungi petani dan konsumen adalah dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk setiap komoditas strategis. Penetapan HET ini dilakukan untuk mengendalikan harga secara nasional dan mengendalikan inflasi,” kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian Agung Hendriadi
HET dinilai efektif menurunkan inflasi. Jika di bulan Mei 2016 sebesar 0,81% dan 0,86%, kini bulan yang sama tahun 2017 jauh lebih rendah, yaitu 0,55% dan 0,65%.
Ternyata penurunan inflasi bisa terwujud karena produksi pertanian yang meningkat signifikan. Ini telah saya bahas diberbagai tulisan sebelumnya. Produksi tersebut adalah produksi padi pada tahun 2014 sebesar 70,8 juta ton, tahun 2016 meningkat sebesar 79,1 juta ton.
Untuk jagung, pada tahun 2014 sebesar 19,0 juta ton, dan tahun 2016 sebesar 23,2 juta ton. Sementara bawang merah pada tahun 2014 sebesar 1,2 juta ton, tahun 2016 sebesar 1,3 juta ton.
Komoditas cabai di tahun 2014 sebesar 1,915 juta ton, pada tahun 2016 sebesar 1,918 juta ton. Daging sapi tahun 2014 sebanyak 0,49 juta ton, pada tahun 2016 sebanyak 0,52 juta ton.
“Gula pasir pada tahun 2014 sebanyak 2,58 juta ton, pada tahun 2016 sebanyak 2,72 juta ton,” lanjut Agung.
Selain menetapkan HET dan didukung oleh kenaikan produksi pertanian, pemerintah juga membuat MoU dengan perusahaan penggemukan sapi terkait impor sapi. Dimana dalam MoU tersebut setiap mengimpor lima ekor sapi bakalan, feedloter wajib mengimpor satu ekor sapi indukan. Untuk koperasi, menggunakan ketentuan rasio impor 1:10. Kesepakatan ini menguntungkan bagi pemerintah karena dengan perbanyakan sapi indukan, dapat mendukung upaya pemerintah meningkatkan populasi sapi lokal. (finance.detik.com, 2017)
Operasi pasar juga dilakukan dan berpengaruh terhadap kestabilan harga pangan. toko daging Nusantara PT Suri Nusantara bersama Bulog dan Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya melaksanakan operasi pasar daging tahap pertama di lingkungan masyarakat Jatisampurna Bekasi, Jawa Barat.
Dalam operasi pasar daging itu, harga jual untuk daging beku grade 2 menjadi sebesar Rp65 ribu per kilogram, adapun untuk grade 1 Rp75 ribu/kg, sedangkan khusus daging segar Rp90 ribu/kg. Harga jual itu di bawah harga pasar yang ditetapkan pemerintah. 
Bagi saya ini sesuatu yang luar biasa bagaimana semua jajaran terkait bekerja sama untuk mengendalikan harga. Kementrian, Kepolisian, Bulog, hingga pengimpor sapi saling bahu membahu agar harga tidak lagi fluktuatif.  Semua itu terjadi karena pemimpinnya berani mengambil keputusan dan berani menerima resikonya.
Pengendalian harga akan membuat Jokowi tidak disukai oleh para mafia yang memiliki dana besar. Mereka bisa saja bergabung bersama koruptor-koruptor dan pengusaha hitam lainnya untuk menggulingkan pemerintahan Jokowi. Mereka bisa menggelontorkan dana untuk membayar orang-orang lalu menghasut sebagian rakyat agar membenci Jokowi untuk kemudian mereka gerakan jika kesempatannya muncul.
Harga bahan-bahan di pasar yang stabil tentu menjamin keberlangsungan usaha kelas kecil menengah seperti milik teman saya tadi. Dia kali ini tampak senang karena tidak perlu lagi khawatir serta pusing soal harga saat bulan puasa.
“Terimakasih Pak Jokowi dan jajarannya” ujar teman saya. Semoga saja tulisan ini dibaca oleh beliau.
Disini kita bisa lihat kemana pemerintah berpihak, apa yang Jokowi dan jajarannya perjuangkan. Memang masih belum sempurna, masih ada yang harus diperbaiki. Akan tetapi melihat perubahan-perubahan yang menuju arah lebih baik, sepatutnya kita bersyukur dan berdiri bersama Pak Presiden untuk mewujudkan keadilan sosial di negeri ini.

Tidak ada komentar:
Write komentar