Rabu, 25 Oktober 2017

Janji Manis Anies-Sandi

Janji Manis Anies-Sandi

Berita Dunia Jitu - Warga DKI Jakarta yang terhormat, ijinkan penulis untuk membuka kembali lembaran-lembaran lama yang sudah usang dan ijinkan penulis untuk mengisahkan ulang tentang apa yang telah di lalui, didengar dan dinikmati oleh warga DKI Jakarta sendiri.

Ini kisah romantisme masa lalu yang sempat membuat warga DKI Jakarta terbuai janji-janji manis Anies-Sandi dan rela meninggalkan Ahok-Djarot sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur berprestasi.

Maaf bila hasil penelusuran terhadap lembaran-lembaran lama dan kisah-kisah romantisme yang penulis utarakan sedikitnya menyenggol perasaan warga DKI Jakarta. Tulisan ini tidak bermaksud mengganggu dan menggugat romantisme kepemimpinan yang sedang dirayakan oleh Anies-Sandi dan euforia warga DKI Jakarta, tetapi penulis hendak membangkitkan memori warga DKI Jakarta dari hingar-bingar pilkada yang sukses menyedot perhatian publik, membuat warga terbelah dan penuh emosional.

Atas kesuksesan warga DKI Jakarta dalam menentukan pemimpin idaman diucapkan profisiat, terima kasih, selamat berkarya bersama pemimpin baru semoga DKI Jakarta menjadi lebih baik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya, menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih realistis dalam mewujudkan janji-janji.

Kita semua tahu diawal kempemimpinan, Anies-Sandi sedang memeras otak untuk merealisasikan janji-janji manis semasa kampanye. Menyeka keringat berjuang melawan banjir yang terus melanda DKI Jakarta, mengurai kemacetan, merancang pembangunan yang ramah terhadap warga dan berusaha membangun komunikasi dengan rakyat dari hati ke hati tanpa kekerasan, tanpa penggusuran dan tanpa penyingkiran warga. Akankah semuanya terwujud?

Peliknya persoalan DKI Jakarta tidak menutup kemungkinan akan memaksa Anies-Sandi untuk menelurkan kebijakan-kebijakan yang tidak populis bahkan melenceng dari apa yang sedang didambakan oleh rakyat DKI Jakarta.

Impian dan harapan seakan pupus, ketika diawal kepemimpinan Anies-Sandi sudah tidak berhasil menunjukan keramahan, kelemahlembutan, kebijakan yang berpihak pada rakyat dan janji-janji yang tidak terealisasi.

Diawal kepemimpinan Anies-Sandi telah menunjukan sikap yang tidak bersahabat mulai dari pidato yang penuh kontroversi hingga kebijakan-kebijakan lain yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan.

Anies-Sandi seperti sedang dirundung masalah, Anies-Sandi sudah dituntut janji manisnya ketika berkampanye. Di antaranya, janji menutup hotel Alexis yang diduga menjadi tempat prostitusi, dan sempat disebut Ahok ada 'surga dunia', kemudian janji menyetop megaproyek reklamasi Teluk Jakarta, hingga ditagih janji buruh yang menuntut UMP Rp 7 juta.

Janji-Janji manis Anies-Sandi belum sempat dipenuhi, kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memerintahkan Wali Kota Jakarta Selatan menggusur empat lahan terakhir di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan, yang selama ini menghambat proyek stasiun Mass Rapid Transit (MRT) di Fatmawati. Eksekusi pembebasan lahan akan dilakukan pekan depan.


Memang dikisahkan ada diplomasi dan negosiasi yang berhasil melunakkan hati salah seorang pemilik lahan namun kesepakatan tentang harga yang belum diputuskan akan menghabat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT). Ini masuk kategori diplomasi tidak tuntas alias gagal, lantas apa yang dibanggakan dari diplomasi ini?

Kebijakan penggusuran perdana yang dicetuskan Anies Baswedan kelihatan bertentangan dengan jargon-jargon politik dimasa-masa kampanye, “membangun tanpa harus menggusur dan menggeser”.

Masalah lanjutan yang akan menghambat janji-janji Anies-Sandi adalah soal reklamasi pantai. Dalam kampanye-kampanye politik Anies-Sandi juga menyatakan dengan enteng dan tegas bahwa reklamasi pantai harus dihentikan karena tidak memberi dampak langsung bagi nelayan tetapi merugikan nelayan. Lantas apa solusinya? Belum jelas jugakan?

Terhadap persoalan reklamasi pantai, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, harus melanjutkan proyek reklamasi pantai Utara Jakarta.

"Enggak ada urusan, mau siapapun pemerintahnya, harus menghormati kajian yang dikeluarkan oleh institusi yang kredibel. Enggak bisa kita seleramu karena kamu jadi pejabat baru, langsung mau ganti-ganti semua, enggak boleh," ujar Luhut di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Penegasan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjadi momok bagi Anies-Sandi yang secara elegan, tegas dan berwibawa telah meyakinakan warga DKI Jakarta bahwa Proyek reklamasi pantai akan dihentikan. Akankah Anies-Sandi menghentikan reklamasi pantai dan memenuhi janji-janji kampanye tanpa mengorbankan rakyat DKI Jakarta?

Kita tunggu kiprah Anies-Sandi selanjutnya, mudah-mudahan janji manis tidak berbuah pahit.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar