Selasa, 03 Oktober 2017

ISU Gagal Total, Habibina Rijik Kembalilah

ISU Gagal Total, Habibina Rijik Kembalilah

Berita Dunia Jitu - September telah berlalu, biarkan Oktober menuliskanya. Negara tampaknya sedang dipenuhi orang-orang yang berziarah pada PKI. Lihatlah, lihatlah makam-makam PKI yang harum semerbak seperti taman yang dipenuhi bunga-bunga nan cantik mewangi. Diantaranya ada mata yang sedang mencari dimana kah nisan Whiji Tukul berada. Dan sebagian juga sedang berpuja-puji dipantai lepas, bangkai-bangkai pki yang ikut membiru bersama deru ombak berpuisi indah diperadaban senja.

Semua sudah usai, maka tak usah lagi bicara tentang PKI. Biarlah menjadi sejarah dan mari membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Belakangan, politik Indonesia tidak lagi “sehat”, perang wacana adalah perang yang dapat menimbulkan benturan fisik dan psikis. Sebetulnya perbedaan pandangan bukanlah suatu yang mengerikan, namun pada kenyataannya yang terjadi dalam politik Indonesia sejak pilkada DKI bahkan sejak Pilpres 2014, penuh dengan kegaduhan.

Saya memandang, bahwa mengkritik pemerintah adalah hal yang wajar dalam konteks bernegara. Namun kritikan yang konstruktif (yang membangun) itu sama sekali tak terlihat. Justru yang ada adalah mencelah, mencaci maki, memfitnah, bahkan sesama saudara sendiri yang berbeda pandangan saling hantam dengan kata-kata yang tidak menghendaki solusi.

Dalam melihat situasi tersebut, saya jadi berpikir, bahwa yang terjadi saat ini adalah lebih kepada persoalan untuk merebut dominasi kekuasaan. Rezim saat ini sedang sibuk bekerja, dan yang tidak bisa dipungkiri bahwa betapa banyak rakyat yang mencintainya. Rasa cinta tersebut tentulah bukan tumbuh secara kebetulan, tetapi proses dari kinerja kepemimpinan rezim saat ini dengan hasil-hasil nyata serta kedekatannya dengan rakyat (masyarakat) ditambah pula kesederhanaanya, tentulah sosok yang sangat dirindukan oleh warga Indonesia. Terbukti betapa banyak yang mencintai Jokowi.

Kemudian ada sebagian yang haus kekuasaan, tentu paham akan hal ini. Maka rasanya sulit bagi mereka untuk mengkritik dengan konstruktif (membangun) dan tetap menjaga kewarasan. Karena keserakahan tanpa batas, maka cara apapun menjadi sah untuk dilakukan, termasuk ujaran kebencian, memfitnah, mencelah dan sebagainya. Ironisnya dibungkus pula dengan “agama”. Yo kita bahas para politisi, ahk gak usah, bosen tau gak, politik kita sedang lucu-lucunya.

Alangkah Lucunya Politik di Negeriku

Sebetulnya ujaran kebencian dan berbagai celaan dalam dunia politik saat ini, yang kemudian dibungkus pula dengan agama, membuat sebagian dari kita “cekikikan”. Saya mungkin termasuk salah satunya. Dari jenazah dalam kampanye sampai kepada hantu PKI, tak tinggal pula patung-patung. Yang lebih membuat cekikikan lagi, dari berbagai isu yang dimunculkan untuk mendiskreditkan pemegang kekuasaan saat ini, satu-persatu Gagal Total atau Gatot, Mati Total atau Matot. Tot tot tottttttt.

Mau diceritakan satu-satu, namun apalah daya semua warga justru sudah lebih tahu, ini jika kita buat grafik, kecerdasan warga di era kepemimpinan saat ini meningkat cukup signifikan, haihaiiii. Lihat saja popularitas dan elektabilitas Pak Presiden bukan malah menurun tapi malah menanjak dan memukau, menjadi sorotan dunia pula. Hal ini tentulah tak bisa melepaskan betapa banyak warga mencintai Presiden saat ini, meski isu-isu yang mendiskreditkanya atau yang mempunyai tujuan untuk melengserkannya, terus-menerus dihujamkan.

Isu Sara terhadap Basuki, Presiden jangan intervensi, si Jokowi justru mampu menjawabnya dengan santai, Isu hutang negara, eh si Jokowi justru menjawabnya dengan pertumbuhan ekonomi dan hasil nyata pembangunan, isu menzalimi mayoritas, eh si Jokowi justru bagi-bagi sertifikat dan jaminan kesehatan serta pendidikan, isu tunduk pada investor asing, si Jokowi jawab dengan 51% saham freeport, Isu patung, si Jokowi seperti ora urus, ngapain patung diajak brantem, isu China, haihai si King Salman Arab justru datang ke Indonesia dan ke China pula, isu tak berpihak pada muslim, loh yang dilakukan soal pembangunan dan jaminan malah banyak dinikmatin muslim, isu konflik Rohingnya, jrengggg bantuan-bantuan buat Rohingnya, kita paling kece, isu kenaikan listrik, daerah terpencil yang selalu gelap gulita bertahun tahun lamanya, kini tampak terang benderang, isu takut dengan asing aseng, eh kapal-kapal pencuri kan pada tenggelam, isu mendzalimi dan mendiskriminasi ulama, eh Jokowi justru akrab dengan para ulama. Akupun cekikikan ketawa, apalagi nih, apalagi ya (sambil berpikir).


Wadauuuu isu kebangkitan PKI lah yang menjadi pilihan utama di bulan september, dengan teriakan Nobar untuk mengingat sejarah, bahkan sampai patung pak tani pun dituduh PKI, tak ada pula yang Nobar Jagal, Senyap, atau berinisiatif membuat movie dokumenter untuk DI/TII ataupun Permesta, jika mengingat sejarah adalah dasar untuk Nobar, masa mengingat sejarah pakai milih-milih, haihaiii duhh aduhhhh duhhh, eh ternyata si Jokowi justru ikut nobar pakai jaket merah pula. Lenyaplah sudah tuduhan rezim PKI yang dibangun secara massive dan terstruktur sejak 2014 yang lalu. Aku pun kembali ngakak. Kuhisap dalam-dalam tembakau Nusantara sambil melukis wajah-wajah lama yang kini tampak modernis dng beragam rupa tetapi tak berubah soal mental budak dan serakah. Ohhh Alangkah lucunya politik di negeriku ini.

Para elit politisi, parpol-parpol dan ormas-ormas yang mungkin paling agamis, yang dalam satu kesatuan masa aksi dengan simbol-simbol angka, sedang geleng-geleng kepala. Bisa jadi mereka sedang berdiskusi kembali, “Bagaimana ini, isu apalagi yang akan kita angkat?”. “Bagaimana ini, agenda kita untuk hegemoni kekuasaan semakin berantakan?”. Yo mbok silakan kalau mau kritik negara jika ada ketimpangan dan ketidakadilan, itu wajar dan sangat sah, akan tetapi yang membangun dan solusi yang ditawarkan apa?, ojo main hantu-hantuan apalagi kafir-kafiran, itu lucu.

Dari beragam isu yang ada, jelas sekali banyak konspirasi yang penuh dengan konsesus terselubung. Mereka lupa, era sekarang emak-emak pun bisa masak sambil mengakses informasi, yang berarti masyarakat sekarang tak bisa lagi dijejali begitu saja sekaligus menumbuhkan ketakutan seperti rezim “isih penak jamanku toh?” yang mana akses informasi hanya satu arah untuk melanggengkan kekuasaannya.

Akhir kata dari tulisan yang carut marut ini dengan berbagai typo yang saling santun, serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, alumni 212 saya pikir layak dibuatkan Tugu Patung, kemudian kepada habibina Rijik, situasi negara sudah aman, maka kembalilah. Kami semua kangen atau teriaklah disana “saya tak akan pulang”, eh kembali aja deh, kembalilah. Kasian dong dengan para dalang, dan wayang-wayang seperti Buni apa Boni ya, lupa aku, eh satu lagi ada deh yang bilang sa..sa..saya tidak takut. Apalagi dengan para pasukan yang sudah berpanas-panasan ngalahin skuad huru-hara. Kembalilah ya Habibina Rijik, apakah revolusi mental haram juga? maka kembalilah mentalmu juga kudu di revolusi.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar