Selasa, 03 Oktober 2017
Inilah Penyebab Perusahaan Asuransi Terkesan “Mempersulit” Klaim Asuransi
Berita Dunia Jitu - Karena ada yang meng-inbox di Fb terkait kasus pembayaran klaim asuransi, maka mampirlah saya ke sini untuk memberikan sedikit pencerahan buat yang gagal paham 😑 Ciyeee.. Sang pencerah. Hahaha
Tapi sebelumnya yang saya mau tekankan bahwa saya membahas ini untuk tambahan wawasan mengenai life insurance secara umum. Tidak mewakili perusahaan asuransi manapun. Ini murni pendapat pribadi mengenai apa yang saya ketahui di bidang ini karena kebetulan saya bekecimpung di bidang ini.
Itu pun awal saya bekerja di bidang ini tanpa paksaan & ajakan dari siapa pun. Tapi atas kemauan sendiri. Karena waktu menyusun skripsi ketika kuliah saya sempat mendapatkan beberapa data dari negara maju seperti Eropa & Amerika bahwa asuransi sangat berperan penting dalam ekonomi suatu negara sekitar 100 tahun lebih yang lalu.
Saat itu saya sempat kaget & bertanya, “100 tahun lebih yang lalu? Saya kemana saja? Apa itu asuransi? Koq sampai usia kepala dua begini saya tidak tahu sistem keuangan yang bernama asuransi?”
Setelah itu saya tinggalkan skripsi saya untuk sementara untuk cari tahu apa itu asuransi. Pas saya tahu apa itu asuransi & konsepnya saat itu juga saya memutuskan jika selesai nanti saya akan bekerja di bidang ini karena produknya bagus & akan sangat membantu masyarakat & ekonomi negara.
Yang jadi masalah, di Indonesia pengetahuan tentang asuransi itu sangat minim sekali. Meskipun orang punya polis asuransi biasanya banyak yang tidak paham konsepnya. Sehingga akan menilai asuransi dari perspektif untung rugi.
Tapi saya bisa paham karena memang masalah asuransi ini kita tidak diajarkan di sekolah. Jadi masih membingungkan buat yang memang hanya meraba-raba saja.
Tapi tentunya saya tidak bisa menolerir orang yang sok tahu kebangetan tentang asuransi. Apalagi ngotot dengan kesoktahuannya yang jelas-jelas salah lalu memprovokasi orang lain untuk tidak berasuransi. Jika kita yang gagal paham & tidak maju ya jangan ajak orang lain untuk gagal paham & tidak maju. Kalau susah itu jangan ajak-ajak orang ikut susah.
Kenapa? Asuransi itu misinya mulia sekali. Konsepnya kita saling membantu sambil membantu diri sendiri tentunya. Sistem asuransi seperti ini:
Beberapa orang mengumpulkan uang sesuai dengan kemampuan & manfaat yang mereka dapatkan tentunya disesuaikan dengan nilai yang dia setorkan. Biar adil. Jangan sampai ada yang kumpulnya sedikit tapi mau manfaat besar. Tentunya ini tidak adil bagi mereka yang mau bayar harga untuk mendapatkan manfaat yang besar.
Misalnya total yang disetorkan A baru senilai 10 juta selama menjadi peserta atau nasabah, tapi sudah masuk RS & tagihan RSnya 100 juta. Lalu dibayarkan seluruhnya oleh perusahaan asuransi dengan syarat & ketentuan berlaku tentunya.
Pertanyaannya, “Apakah A rugi ikut asuransi jika demikian adanya? Apakah jika A menabung di bank, bank akan membayarkan biaya RS sebesar 100 juta jika A sendiri baru menyetor 10 juta?”
Pastinya tidak, bukan?
Seharusnya jika A orang yang cerdas ia akan bertanya-tanya, “Saya baru setor 10 juta, lalu siapa yang menanggung 90 jutanya tanpa mencatatnya bahwa itu adalah utang yang harus saya kembalikan nantinya? Dan tanpa melukai harga diri saya! Tuyul? Kemurahan Tuhan?”
Anggap saja itu kemurahan Tuhan melalui kemurahan hati A & nasabah lainnya yang mau ikut terlibat dalam program asuransi untuk saling membantu mereka yang lebih dulu terkena risiko hidup yang tidak pernah sama sekali kita inginkan & prediksi kapan datangnya. Melaui asuransi saling membantu tanpa saling mengenal, tanpa pandang suku, agama & ras. Dan tidak ada embel-embel di belakang yang berbunyi, “Dulu kamu pernah saya bantu. Maka kamu harus bantu saya balik.”
Bayangkan jika A baru setor 10 juta, masuk RS tapi tidak sembuh juga. Dan akhirnya meninggal dunia. Keluar lagi uang klaim sebesar 1 milyard misalnya untuk menghidupi anak istrinya. Dan itu otomatis polis tutup alias tidak bayar lagi. Bayangkan bayar 10 juta, dapatnya 1 milyar! Jujur saja, ada tidak yang mau kasih kita uang segitu jika kita meninggal tanpa embel-embel untuk dikembalikan dengan cara dicicil. Jadi dimana sebenarnya ruginya ikut asuransi ketika asuransi menjamin apa yang tidak bisa kita prediksi & pastikan selama kita taat aturan?
Itulah mengapa ada syarat & ketentuan berlaku karena ini adalah uang para nasabah lainnya. Nasabah lainnya sih tidak masalah jika uangnya dipakai menolong yang lebih dulu membutuhkan dengan syarat mereka memang pantas untuk dibantu.
Jadi pihak perusahaan asuransi sebagai wakil dari para nasabah memastikan apakah para nasabah lain tidak dipecundangi dengan kecurangan seorang nasabah yang picik & hanya mau mementingkan diri sendiri.
Karena ada lho orang yang sudah tahu dia sakit keras baru mau masuk asuransi. Makanya ada masa tunggu untuk penyakit tertentu untuk menghindari para nasabah lainnya dirugikan jika ada nasabah yang cuma ingin ditolong tapi enggan menolong yang lainnya makanya nanti sakit baru masuk asuransi. Pakai acara bohong pula bahwa dia sehat. Pas klaim tidak dibayarkan karena ketahuan berbohong saat pengisian data di awal. Katanya sehat, padahal sudah sakit.
Jadi memang jika perusahaan asuransi menemui kejanggalan yang tidak lazim mereka akan meminta bukti bahwa nasabah ini sakit atau meninggal dunia. Kalau tidak begitu semua orang kan bisa mengaku-ngaku sakit biar dapat duit.
Jadi sudah menjadi hukum alam jika kita berlaku tidak adil maka kita juga akan diperlakukan tidak adil, bukan?
Maka berterima kasihlah kepada seluruh nasabah yang cerdas & berhati mulia yang mengikhlaskan uangnya dikelola secara profesional & berkeadilan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
Sekali lagi jika ada klaim yang tidak dibayarkan, sebagai masyarakat yang kritis & cerdas harusnya bertanya, “Kenapa tidak dibayarkan?” Apalagi per tahunnya perusahaan asuransi membayar klaim dalam jumlah yang cukup besar sekali! Trilliunan! Masa’ yang hanya belasan juta tidak dibayarkan?
Sama sekali tidak adil bukan jika 1 klaim tidak dibayarkan lalu menganggap perusahaan asuransi tidak mau bayar klaim atau menganggap asuransi itu tidak perlu? Itu persis ketika dalam 1 sekolah ada anak yang tidak lulus Ujian Nasional lalu menganggap sekolahnya tidak bagus apalagi menganggap sekolah itu tidak perlu. Toeng.
Perlu digarisbawahi bahwa klaim milyaran bahkan trilliun pun akan dibayarkan jika sesuai dengan syarat & ketentuan! Klaim seratus ribu rupiah pun tidak akan dibayarkan jika tidak sesuai dengan syarat & ketentuan!
Kenapa? Karena jika 100 ribu yang tidak sesuai syarat & ketentuan pun dibayarkan ini akan mengacaukan sistem hitung-hitungan risiko. Bisa jadi banyak yang ngaku-ngaku sakit & meninggal. Tentunya secara statistik ini akan berpengaruh juga dalam dunia kesehatan & aspek lainnya.
Maka bersyukurlah jika perusahaan asuransi cukup ketat masalah klaim. Karena memang untuk menjaga agar uang nasabah tidak digunakan salah.
Ada lagi yang bilang, “Mengasuransikan kematian sama saja dengan pengen cepat mati.” Toeng!
Banyak sekali orang yang gagal paham masalah asuransi. Mengira bahwa yang diasuransikan itu barang atau orangnya. Mohon dipahami, asuransi apapun itu, entah asuransi umum atau asuransi jiwa & kesehatan, yang diasuransikan bukanlah objeknya tapi nilai financial dari risikonya!
Misalnya seorang pencari nafkah berpenghasilan 10 juta per bulan. Jika amit-amit meninggal dunia, keluarganya masih tetap butuh biaya hidup untuk melanjutkan hidup meski pencari nafkah sudah tidak ada. Bagaimana caranya agar fungsi kepala keluarga dari aspek financial ini tetap berjalan minimal sampai anaknya bisa mandiri meski pencari nafkah sudah tidak ada lagi? Ya pakai asuransi! Asuransilah yang akan menghidupi keluarganya. Koq bisa? Ya bisa dong. Konsultasilah dengan pakarnya di bidang asuransi. Sama saya juga boleh 😄
Jika risiko hidup itu seperti sakit, kecelakaan & kematian bisa diprediksi & tidak ada dampak financial-nya sama sekali saya pun setuju semua orang tidak butuh asuransi.
Singkatnya asuransi itu adalah sistem keuangan sosial yang dikelola secara profesional & berkeadilan untuk mengatasi masalah dampak financial dari risiko yang kita semua tidak bisa prediksi atau tanggung sendiri karena belum siap.
Dan satu yang perlu digarisbawahi, biaya kesehatan & hilangnya kemampuan pencari nafkah adalah kondisi dimana biayanya sangat tidak tanggung-tanggung. Harta dijual pun rasanya beum cukup. Sampai banyak yang jual diri & organ tubuhnya karena masalah ini. Itulah pentingnya membutuhkan orang lain untuk saling membantu agar beban berat bisa menjadi ringan.
Ikut asuransi itu tidak rugi. Karena ketika kita masih sehat meski tidak pernah klaim toh kita tidak rugi karena kita masih bisa ngalor ngidul cari uang. Tapi ketika kita sakit pun tentunya tidak menguntungkan tapi setidaknya kita tidak jatuh lalu tertimpa tangga pula. Apalagi sampai harus menguras tabungan untuk berobat & jual harta. Itu pun kadang tidak cukup juga.
Itulah mengapa orang-orang di negara maju memiliki 4 – 7 polis per orang. Karena mereka paham, cepat atau lambat kematian itu akan tiba juga. Dan menurut survey WHO, 92% orang meninggal biasanya sakit lebih dulu. Artinya sebelum meninggal sudah butuh biaya besar. Dan setelah meninggal keluarga yang hidup juga masih butuh biaya.
Akhir kata, asuransi itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang realistis & cinta keluarga. Bukan orang yang materialistis.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar