Rabu, 25 Oktober 2017

Indonesia Rumah Tumpah Darahku

Indonesia Rumah Tumpah Darahku

Berita Dunia Jitu - Rumah. Home Sweet Home kata orang sonoh. Artinya lokasi yang membuat kita merasa nyaman, tenang, damai, tenteram, sejuk. Tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri, apa adanya, tanpa khawatir penilaian dari eksternal. Adem. Karena apapun yang kita katakan/tidak katakan, apapun yang kita lakukan/tidak lakukan, apapun yang kita kenakan/tidak kenakan, ‘rumah’ akan selalu menerima kita apa adanya.

Rumah adalah lambang penerimaan dan cinta tak bersyarat. Rumah adalah lokasi hunian para malaikat tak bersayap. Rumahku istanaku. Rumahku habitatku. Rumahku ekosistemku. Rumahku eksistensi diriku. Rumahku tempatku selalu ingin berlari kembali pulang bak anak bungsu yang hilang.

Rumah dalam lingkup anak alay adalah kekasih jiwa. Soul mate. Sosok seseorang (lawan jenis, mudah-mudahan) yang selalu menghiasi hari dan malam. Yang terbayang begitu mata terbuka dan tetap mengada hingga kantuk menjelang, dan dilanjutkan dalam bunga mimpi menjelang fajar.

Rumah dalam lingkup individualisme adalah keluarga. Internal, orang-orang yang tersayang. Dari suami/istri, anak-anak, mertua, kakek dan nenek, adik dan kakak, dari dua kubu yang berbeda. Rumah kadang menyebalkan tapi selalu membuat kangen. Rumah berdasarkan aforisma bahwa selamanya tetes darah lebih kental dari tetes air dan minyak.

Rumah dalam lingkup Etis atau sosial adalah desa, kampung, kota di mana kita tinggal dan menetap. Kota yang mengikat kita dengan semua keburukan dan kejelekannya, tapi kita tak kuasa lepas darinya. Hingga kini. Rumah ini menuntut aksi aktif dan nyata dari kita. Rumah ini menuntut balas jasa.

Rumah dalam cakupan yang lebih luhur dan mulia adalah Negara. Artinya Indonesia. Zamrud khatulistiwa bak perawan desa cantik nan molek yang selalu dipergunjingkan dan diperebutkan oleh para jejaka di luaran sana. Konon lemparkan saja biji dan benih sembarangan, dan kembali lagi beberapa saat kemudian untuk memetik dan memanen. Begitu suburnya Ibu Pertiwiku.

Entah ini berkah atau kutukan. Tapi Indonesiaku kini meradang. Merintih keras dan mengerang. Indonesiaku mengaduh kesakitan dan meratap mengiba. Indonesiaku tengah diperkosa dan digagahi oleh sekumpulan jejaka dari luar tapal batas.

Indonesiaku menjerit melolong, sangat menderita melampui batas yang sanggup ditanggungkan. Bayangkan Ibu Pertiwi yang welas asih dan berjiwa mengabdi kemudian diludahi dan dikangkangi oleh anak-anak kandungnya sendiri. Di dalam rumahnya. Di atas kasur tempat anak-anaknya dilahirkan.


Indonesia adalah sekumpulan pulau, enam belas ribu dan lima puluh enam pulau berdasarkan data terakhir, yang setengahnya bahkan belum bernama. Indonesia terdiri dari 1200 lebih bahasa daerah dan 700 lebih suku. Belum termasuk busana adat, tarian daerah, senjata tradisional dan berbagai alat musik daerah.

Indonesiaku sangat kaya. Kaya keberagaman, keberagamaan, sangat majemuk, sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang massif, pemandangan alam yang bahkan bisa membuat para dewa-dewa di Olympus bersedia ‘turun derajat’ dan mengantri untuk menjadi warga negara Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Indonesia yang kutahu adalah saat hari raya Iedul Fitri para warga saling hantar-menghantarkan opor ayam dan ketupat, saat Iedul Adha saling berkirim daging kurban yang segar, saat Natal saling berbagi kue kering dan bingkisan, saat Imlek saling berkirim dodol cina, dan seterusnya.

Saat ada tetangga yang meninggal, semua datang melayat, ikut berdoa, menghibur dan menguatkan kerabat yang ditinggalkan, dan ikut mengangkat dan menghantarkan ke pekuburan atau krematorium. Tak ada pertanyaan dan sorot curiga tentang agamanya apa. Tuhannya siapa. Bidannya siapa. #Ehh.

Indonesiaku belum juga merdeka penuh. Indonesiaku masih terbelenggu radikalisme dan aksi intoleransi. Indonesiaku masih dirampok dan digarong bancakan dari dalam dan luar negeri. Indonesiaku masih jauh tertinggal dibandingkan tetangganya. Terkaya, terindah, tercantik, tersubur, terluas, terbesar, terbanyak, termajemuk, tapi sekaligus tertinggal, terbelakang, termiskin, terbodohkan dan teraniaya.

Beruntung sekarang Indonesia sudah mulai menggeliat dan berusaha untuk kembali hidup sehat. Revitalisasi, restrukturisasi, reformasi, revolusi mental yang diusung Presiden Jokowi, satu-satunya Presiden yang bukan berlatar belakang dari militer, akademis ataupun agamais.

Harapan terakhir, dan harapan satu-satunya untuk masa-masa kejayaan Indonesia kelak ada di tangan Jokowi. Beliau adalah pilihan yang terbaik yang tersedia untuk saat ini. Dan tugas kitalah, para manusia waras yang sudah bosan dan muak bersikap apatis dan apolitis dalam diam seperti selama ini, kita harus bersatu rapatkan barisan untuk mengawal program-program Jokowi bagi Indonesia sampai dengan tahun 2024 nanti.

Jokowi Untuk Indonesia, NKRI Harga Mati, Rayalah Indonesiaku.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar