Kamis, 21 September 2017

Stop Penyebaran Isu PKI Di Indonesia!

Stop Penyebaran Isu PKI Di Indonesia!

Berita Dunia Jitu - Licik. Selicik-liciknya rubah berekor sembilan pun masih kalah licik. Licin. Selicin-licinnya belut berlumur oli hitam pekat pun masih kalah licin. Jahat. Kejam. Tega. Sadis. Hiperbolis. Terstruktur. Masif. Sistematis. Dinamis. Konstan. Persisten. Aduh biyuuung….

Rakyat Indonesia marah. Protes dan resah. Warga dunia maya pun jengkel. Gelisah dan gerah. Setidaknya itu yang tersaji di linimasa di semua media sosial selama dua hari terakhir ini. Itu fakta yang tertangkap dan bisa dicerna dengan mudah.

ILC alias ‘reality show’ yang selalu tampil beda. Ditayangkan di TV Onoh yang berslogan “kami memang beda”. Dalam ketololan dan kemiringan sudut pandang yang berbeda dengan manusia penghuni bumi bulat.  ILC semakin mengukuhkan dirinya sebagai acara kampungan tak mendidik, info pelintiran yang menyesatkan, framing sembarangan sesuai pesanan, dan selalu ingin terlibat di garda terdepan membahas isu-isu kekinian yang kontroversial dan menyengat.

Masih jelas di ingatan kita tayangan ILC terkait Saracen, dimana para tersangka ujaran kebencian disediakan panggung untuk mengklarifikasi dan membacakan pledoi-nya secara live dan real time selama 1 jam lebih. Tanpa disaring. Tanpa bukti pembanding. Tanpa opini berimbang dari pihak-pihak yang dirugikan dengan kehadiran Saracen. Seluruh rakyat Indonesia dirugikan dengan masifnya isu hoax dan ujaran kebencian terkait RAISA (Ras, Agama, Intoleransi, Suku, dan Antargolongan) bukan hanya penduduk DKI Jakarta.

Meskipun catatan kecil yang patut diapresiasi adalah kehadiran Pendekar Penjual Seprai  dengan jenggot geripis berkibar, dengan bibir bergetar berkata, “Sa..sa..sayaaa Tidak Takuuut”. Dan berbuah 3 gugatan hukum yang sekarang sedang menjerat dirinya.

ILC Bicara Tentang Isu PKI? Akui saja di sisi mana kau berdiri!

Di mana ada isu PKI di situ pasti ada Kivlan Zen. Yang dengan bertambahnya umur semakin berdelusi dan berhalusinasi bahwa Pasukan PKI sebanyak 15 juta orang sudah di depan mata. Indonesia darurat PKI. Indonesia dijajah Komunis. Indonesia harus diselamatkan. Anak muda mengenakan kaos berlogo palu dan arit. Di dalam sebuah gedung dinyanyikan lagu Genjer-genjer. Ada pertemuan rutin di sebuah lokasi di Jakarta yang diadakan oleh para kader PKI. Indonesia harus diselamatkan. (Fix. Demensia.)

Yang pernah beredar fotonya menggunakan kaos berlogo palu dan arit setahu saya justru si botak Ahmad Dhani. Manusia yang nggak penting untuk disebutkan. Bahkan yang membawakan karangan bunga dan berfoto sambil nyengir penuh kebanggaan di depan nisan Karl Marx di areal Highgate Cemetery, London, Inggris ya si Fadli Zon. Sang Congor.

Jujur, saya malas menonton ILC. Dan saya tidak menonton sama sekali tayangan ILC malam itu. Saya hanya mengikuti dari reaksi dan komentar teman-teman di berbagai grup, forum diskusi dan media sosial. Bukan karena saya muak. Bukan karena saya sudah memblokir channel  Tv Onoh secara permanen di rumah. Bukan karena deretan narasumber yang dihadirkan. Bukan karena topik PKI dan Komunis yang akan diperbincangkan. Bukan. Salah semua. Tapi karena saya tidak punya televisi di rumah. Ituuh.

Dari berbagai info yang masuk, kesimpulannya jelas. Di mana ada isu PKI di situ ada Kivlan Zen. Dan sekarang ditambah kehadiran Jendral Gatot dengan quote-nya yang sangat menginspirasi dan luar biasa cerdas mantap dunia akherat, “Emang Gue Pikiriiin?”. Jenius. Awesome! (Dibaca:
Asyeem!).


ILC menayangkan sederetan manusia yang mempercayai bahwa kebangkitan PKI itu nyata di Indonesia. ILC juga menggiring narasi dan melemparkan bola panas ke Istana (tepatnya untuk menyerang Jokowi). Cukup mengundang manusia-manusia yang butuh panggung, kasih honor secukupnya, sediakan ruang dan waktu untuk menceritakan ilusi dan khayalannya. Dan sediakan beberapa tokoh yang hanya mampu berkomentar standar, sangat normatif, diplomatis, dan munafik.

Untungnya ada Sukmawati Soekarnoputri di situ. Saya menonton cuplikan klip berdurasi 20 menit selama Sukmawati berbicara. Dan saya terperangah, kagum, bangga. Beliau yang lebih nyaman mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang seniwati ini bukan wanita yang lemah. Beliau kuat, tegas, berani, berkarakter dan sangat berintegritas.

Kesimpulan yang saya dapatkan, Ibu Sukmawati mengatakan opininya dengan lantang bahwa peristiwa G30S/PKI itu jelas upaya kudeta Soeharto untuk menjatuhkan Soekarno, ayahnya. Titik. Beliau berkata ia adalah saksi sejarah, saat itu ayahnya sedang sibuk mengurusi Irian Barat dan Kalimantan Utara yang sekarang menjadi Brunei Darussalam. Di masa-masa itu Bung Karno lebih banyak mengadakan rapat rahasia dengan Jenderal Yani.

Bahkan menurut Sukmawati kesalahan PKI lebih terletak kepada pimpinan-pimpinan partainya yang menyetujui Operasi Gestapu itu. Bukan di anggota akar rumputnya, tapi beberapa pentolan partai yang melenceng. Dan ideologi komunis itu sendiri memang tidak akan bisa dilenyapkan, karena ideologi/pemahaman/pemikiran itu tidak kasat mata, terlebih di era demokrasi dan keterbukaan arus informasi seperti sekarang.

Tapi kalau kebangkitan PKI itu sangat tidak relevan, dan jelas absurd. Karena PKI sudah dinyatakan terlarang dan semua anggotanya bahkan yang dituduh sebagai simpatisannya pun sudah di-genosida massal saat rezim Soeharto. Sementara Ibu Sukmawati berbicara, terlihat kamera menyoroti reaksi Mayjen K yang semakin ‘kunyuk’. Beberapa kali K mencoba menyelang, dan diskak-mat langsung oleh Sukmawati, “Saya belum selesai berbicara, Orde baru yang sudah selesai. Terima kasih.”

Bravo. Ini baru ‘the real bloodline’ dari Sang Proklamator. Bukan yang malah jadi tersangka kasus makar tempo hari di 411. Dari Sabang sampai Merauke kata Bung Karno, Dari Miangas sampai Pulau Rote kata Jokowi, mari kita menjadi bangsa yang Berdikari. (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Hentikan semua provokasi dan isu soal hantu-hantu komunis dan PKI. Ancaman yang nyata di depan mata adalah kaum radikal, politikus-tikus korup nan semprul, para mafia ekonomi, bandar narkoba, dan bani galau pengusung khilafah.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar