Sabtu, 23 September 2017
SetNov Akan Bernasib Sama Seperti Patrialis Akbar
Berita Dunia Jitu - Masih ingat Patrialis Akbar? Itu lho, Mantan Hakim Konstitusi yang beberapa waktu yang lalu pernah tertangkap tangan oleh KPK. Setelah melalui persidangan, Patrialis Akbar divonis delapan tahun penjara oleh majelis hakim pada Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (4/9/2017).
Patrialis juga diwajibkan membayar denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan. Selain itu, majelis hakim juga menjatuhkan hukuman tambahan berupa uang pengganti. Patrialis diwajibkan membayar uang pengganti Rp 10.000 dollar AS dan Rp 4.043.000, atau sama dengan jumlah suap yang ia terima.
Itu tadi sekilas vonis yang diterima oleh Patrialis Akbar karena terbukti menerima suap dari pengusaha impor daging, Basuki Hariman dan stafnya Ng Fenny.
Dari Patrialis Akbar ini, ada satu hal yang paling tidak bisa saya lupakan yakni beliau pernah bersumpah demi Allah tidak menerima uang dari Basuki. Begini sumpah lengkapnya :
“Saya mengatakan saya hari ini di dzolimi. Karena saya tidak pernah menerima uang 1 rupiah pun dari Pak Basuki. DEMI ALLAH. Ya, Saya betul-betul di dzolimi. Ya, nanti kalian bisa tanya sama Basuki. Apalagi Basuki itu bukan orang yang beperkara di MK. Tidak ada kaitannya dia dengan perkara itu”.
Nah, kenyataannya Patrialis Akbar divonis bersalah karena terbukti menerima suap. Itu bagaimana ceritanya? Sudah bersumpah demi Allah tapi terbukti bersalah. Dimana mau diletak muka seorang Patrialis Akbar? Malu, Bro!!!
Terkadang, demi menutupi kesalahannya, nama Allah pun dipermainkan seenak udel mereka. Apa mereka tidak takut kena azab Allah? Padahal mereka orang yang mengerti agama dan mereka tahu bahwa azab Allah sangatlah pedih.
Lain Patrialis Akbar, lain pula dengan Setya Novanto. Di tempat lain, nama SetNov disebut-sebut oleh Mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin terlibat dalam perkara proyek pengadaan E-KTP. Uniknya, seperti Patrialis Akbar, Setnov juga bersumpah tidak terlibat dalam kasus korupsi yang di duga merugikan negara sekitar Rp. 2,3 Triliun.
“Saya bersumpah tidak pernah membicarakan kasus e-KTP. Saya heran kenapa dikait-kaitkan,” ujar SetNov dalam keterangan pers, Selasa (7/3).
SetNov menuding Nazaruddin mengalami gangguan psikologis sehingga secara serampangan menuduhnya terlibat dalam perkara yang diduga merugikan negara sekitar Rp2,3 triliun. Setya juga menyebut Nazaruddin mendapatkan tekanan yang besar dari Demokrat.
“Kondisi psikologis Nazaruddin sedang ada masalah dengan partainya. Jadi semua orang dikait-kaitkan dan disebut-sebut. Saya pastikan pernyataan Nazaruddin tidak benar,” ujarnya.
Memang SetNov belum terbukti terlibat dalam perkara ini, tapi saya tetap menyayangkan SetNov yang dengan gampangnya bersumpah segala. Oke lah, kalau dia tidak bersalah. Lah, kalau nanti dia terbukti bersalah seperti Patrialis Akbar, bagaimana? Apa kata dunia?
Apalagi ketika akan di periksa, SetNov tiba-tiba diserang berbagai macam penyakit. Apakah ini kebetulan semata atau ini adalah tanda-tanda bahwa SetNov merasa tertekan? Biasanya, orang yang jiwanya tertekan adalah orang yang melakukan kesalahan. Orang bersalah yang tidak ingin kesalahannya diketahui orang lain.
Mudah-mudahan SetNov cepat sembuh dan bisa segera diperiksa. Kalau memang tidak bersalah, santai saja. Kalem. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kalau tidak sakit pun, tidak perlu mendadak umroh kayak si siapa itu namanya? Lupa saya. Katanya pergi umroh tapi sampai sekarang tidak pulang-pulang. Mau jadi seperti Bang Toyib agaknya.
Tapi kalau nanti terbukti bersalah, berarti Setnov akan bernasib sama seperti Patrialis Akbar. Sudah terlanjur bersumpah, eh ujung-ujungnya divonis bersalah.
Ini terkadang yang membuat saya heran, di Indonesia jika orang berpengaruh terlibat kasus, langsung mengangkat sumpah bahwa dia tidak terlibat. Setelah melalui pengadilan dan terbukti bersalah. Eh, muka nya kalem-kalem saja. Bahkan, ketika di giring ke sel tahanan pun masih sempat-sempatnya melambaikan tangan ke kamera wartawan. Orang seperti ini apa urat malu nya sudah putus kali ya?
Satu hal yang harus mereka ingat, manusia bisa mereka tipu tapi tidak dengan sang maha pencipta. Jangan sembarangan menggunakan namanya untuk melindungi kesalahanmu. Saat sang pencipta murka, kelar hidup mu.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar