Rabu, 20 September 2017
Prabowo Menyebut Bantuan Jokowi Hanya Pencitraan
Berita Dunia Jitu - Pilpres 2019 belum dimulai, namun sinyal kekalahan Prabowo sudah mulai terlihat. Sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Prabowo sama sekali tidak pantas untuk seseorang yang ingin menjadi capres. Prabowo salah dalam memposisikan diri terhadap Jokowi. Posisi yang dipilihnya justru menjadi blunder besar.
Prabowo mungkin belum sadar bahwa sekarang zamannya sudah berbeda. Teknologi informasi yang semakin pesat membuat dunia memasuki era keterbukaan. Lewat kamar tidur, kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di seluruh dunia. Publik semakin susah untuk dibohongi.
Memilih peran untuk terus menjelek-jelekkan Jokowi hanya menjadi blunder besar untuk Prabowo. Orang semakin paham bagaimana busuknya watak Prabowo. Apa yang Prabowo katakan tentang Jokowi, semua berbeda dengan fakta. Di satu sisi, fakta tersebut sudah diketahui oleh banyak orang. Semakin Prabowo terus menjelek-jelekkan Jokowi dan faktanya tidak seperti itu, maka sama saja seperti menggali kubur sendiri.
Prabowo bukanlah seorang petarung sejati yang elegan. Bahasa sederhananya, Prabowo tidak memiliki mental juara. Prabowo hanya memiliki syahwat berkuasa yang tinggi, namun tidak didukung oleh mental juara.
Sangat berbeda jauh sikap yang ditunjukkan Jokowi dan Prabowo. Jokowi begitu tenang menghadapi tekanan yang datang kepadanya. Mental Jokowi begitu mantap dalam pertarungan yang setiap hari dihadapi olehnya.
Sebaliknya, Prabowo sama sekali tak bisa tenang menghadapi tekanan. Saya tidak bisa membayangkan jika Prabowo nanti menjadi presiden dan tekanan terus datang bertubi-tubi. Apakah yang akan diperbuat oleh Prabowo?
Presidential Threshold 20% disikapi berlebihan oleh Prabowo. Dirinya tidak mampu menahan diri untuk meluapkan gejolak emosinya dengan mengatakan presidential threshold sebagai lelucon politik.
Prabowo semakin tidak bisa mengendalikan diri saat bisnis Saracen terkuak. Beberapa orang-orang terkait Saracen ternyata memiliki hubungan dengan Gerindra dan Anies-Sandi. Terkuaknya sosok Asma Dewi yang diduga sebagai bendahara Saracen semakin membuat Prabowo sulit untuk menggendalikan diri.
Prabowo mungkin tidak menyadari bahwa gelagat dirinya akan terbaca oleh masyarakat. Nampaknya dia perlu belajar dari Setya Novanto yang begitu licin dalam menghadapi serangan. Jika Prabowo tetap tenang, mungkin kondisi akan lebih baik. Publik tidak akan menduga-duga lebih jauh dan menungghu hasil penyidikan polisi untuk mengungkap dalang dibalik Saracen.
Blunder Prabowo muncul ketika dia tiba-tiba dia turun gunung ikut aksi bersama FPI dan teriak lantang mendiskreditkan Jokowi. Bantuan Jokowi untuk Rohingya dianggap sebagai sebuah pencitraan. Prabowo mungkin tak pernah sampai berpikir bahwa pernyataan ini semakin menjatuhkan dirinya.
Prabowo kurang cermat melihat keadaan sehingga kemudian memilih langkah yang keliru. Dia mungkin tidak sempat mengamati satu persatu komentar lawan maupun kawan soal konflik Rogingya. Dia mungkin tidak membaca komentar nyinyir Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang terus mendiskreditkan Jokowi karena dinilai tidak peduli dengan Rohingya. Padahal sebelum dua orang tersebut ngoceh di medsos, Jokowi dalam senyap telah melakukan aksi membantu Rohingya.
Komentar Prabowo bahwa bantuan Jokowi adalah pencitraan adalah luapan emosi yang tidak terkendali akibat tidak mampu memenangkan pertarungan. Praktis, komentar ini semakin menunjukkan betapa liciknya Prabowo dan Fadli Zon.
Tidak bisa dipungkiri, Prabowo berkali-kali dipecundangi oleh Jokowi. Serangan-serangan Prabowo berhasil dimentahkan oleh Jokowi dengan cara yang elegan. Tidak jarang, Jokowi justru berhasil melakukan maneuver yang semakin menerjunkan elektabilitas Prabowo.
Terbongkarnya Saracen dan Asma Dewi yang diduga sebagai bendahara Saracen menjadi sinyal kekalahan telak Prabowo. Ancaman dari terbongkarnya Asma Dewi semakin mengangga lebar. Tidak hanya Gerindra, Anies-Sandi pun seperti itu.
Prabowo semakin benci kepada Jokowi karena terus berkali-kali mempercundangi dirinya. Prabowo hanya bisa membenci dan tak bisa melakukan maneuver. Kebenciannya diratapi dengan cara menjelek-jelekkan Jokowi. Dengan cara itu, hatinya mungkin akan sedikit merasa puas. Namun sayang, dia tidak menyadari bahwa pernyataannya justru menjadi blunder besar.
Tidak perlu kita terlalu jauh membahas kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang presiden. Tak perlu kita menilai Prabowo memiliki kompetensi yang layak atau tidak untuk menjadi seorang presiden. Dari sudut pandang sikap dan mental saja sudah terlihat. Apa yang ditunjukkan Jokowi dan Prabowo sangat berbeda jauh. Kita bisa melihat sendiri sikap dan mental siapa yang pantas disandang oleh seorang presiden.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar