Minggu, 24 September 2017
Ikut Komunis Bonus Kuota, Mau?
Berita Dunia Jitu - Heboh PKI terus saja berseliweran di media-media sosial. Tapi sampai hari ini tak ada satupun orang ataupun kelompok yang tertangkap dan terbukti berkaitan dengan PKI.
Tidak ada satupun negara komunis yang masih bertahan di muka bumi ini. Cina? Kalau dulu di Cina satu orang menyimpan dua telor ayam dianggap kemewahan sekarang orang kaya di Shanghai lebih banyak dari pada di New York.
Jack Ma mungkin tetap menjadi pemandu wisata kalau Cina masih menerapkan komunisme di negaranya.
Uni Sovyet bubar, tembok Berlinpun runtuh tahun 1989. Komunis terbukti gagal.
Kalau PKI muncul lagi memangnya siapa yang mau daftar jadi anggotanya?
Orang jaman sekarang harus ada iming-imingnya baru mau bergabung dengan suatu kelompok.
Pilkada saja masih banyak yang berharap dapat duit dari nyoblos, sekalipun yang dicoblos memang pilihannya. Apalagi disuruh ikut PKI.
Andai PKI boleh berdiri lagi di negeri ini, mungkin iklannya “Bergabunglah bersama kami, bonus kuota 20 GB setiap bulan”. Paling yang ikutan gabung anak-anak alay atau yang cari makannya dari hoax. Lumayan, kuota buat tebar-tebar hoax.
Negara bebas begini saja masih banyak yang merasa kurang bebas, bagaimana mau komunis.
Seorang pilot pesawat tempur Uni Sovyet, Letnan Viktor Belenko membelot ke Amerika tahun 1947.
Saat masih dalam pemeriksaan di markas militer Amerika Serikat Letnan Belenko dibelikan makanan yang berada di depan markas tersebut. Ia menyangka makanan itu dibeli dari restoran mewah karena ia tak pernah merasakan makan enak.
Saat Uni Sovyet masih ada, sudah jadi rahasia umum di negara itu kalau ibu-ibu pejabatnya suka titip belanjaan kepada para diplomat yang dinas ke luar negeri. Para pejabatnya sendiri dan keluarga mereka hidup mewah.
Jadi komunis itu sendiri juga cuma alasan mengekang rakyat.
Orang sekarang inginnya bebas sebebas-bebasnya. Malah suka kebablasan.
Saat Soeharto jatuh tahun 1998, seorang tukang becak motor di Medan menerobos lampu merah sambil teriak, “Reformasiii..!”.
Itu contoh orang sekarang tidak mau dikekang lagi, sampai kadang suka kebablasan.
Fitnah dan menghina dianggap kebebasan berbicara. Banyak yang tidak bisa membedakan antara menghina dengan mengkritik.
Jaman Orde Baru kalau bicarain Soeharto di warung dijamin pemirsa di warung bubar. Semua pada takut disangka ikut-ikutan.
Sekarang orang seenaknya ngomongin pejabat hingga presiden di media sosial. Yang ditangkap yang memfitnah. Mengada-ada.
Coba anda bilang di media sosial kalau pembangunan Jokowi lambat atau jelek, tidak apa-apa.
Fitnah lain cerita. Andapun kalau difitnah punya bini delapan padahal cuma tiga pasti marah juga.
Di dunia internasional sendiripun komunis tidak pernah dibicarakan lagi. Sudah usang. Semua berlomba bagaimana memperkaya negaranya.
Yang suka teriak-teriak PKI bangkit itu sebenarnya mempermalukan bangsa sendiri. Sudah PKI-nya entah dimana, gosipnya murahan pula. Masa orang dipaksa percaya?
Kalau masih ada yang ingin komunis bangkit lagi di Indonesia apa itu tidak menjadi tertawaan dunia?
Gosip lain sajalah. Misalnya ‘Istana dususupi Alien’. Atau, ‘Beberapa menteri terindikasi agen galaksi tetangga’. Seperti film Men in Black. Gila sekalian.
Seorang teman pernah bercerita tentang bagaimana mereka melakukan pembebasan lahan untuk membangun sebuah komplek pertokoan di daerah kumuh.
Cara yang efektif agar penduduknya mau melepas rumah dan tanahnya dengan harga murah kala itu adalah menghembuskan gosip bahwa banyak penduduk disitu yang pernah terlibat PKI.
Karena ketakutan merekapun melepas rumah dan tanahnya dengan murah dan minggat secepat mungkin. Bukan karena mereka memang pernah terlibat PKI, tapi jaman itu orang bisa seenaknya menuduh.
Masa hari gini kita mau percaya hal-hal begitu lagi? Masa kita tidak pintar-pintar juga? Kalau mau nuduh harus ada bukti. Pemerintah saja tidak bisa membendung arus informasi. Kalau cuma nuduh tanpa bukti itu namanya fitnah.
Mereka yang suka fitnah-fitnah itu kejam luar biasa. Mereka tak perduli rakyat pada berkelahi.
Kalau dirunut, ‘perintah’ fitnah itu juga berasal dari orang-orang elit. Mereka bukan orang susah, bukan pula menengah. Tamak. Mungkin setanpun tak mau dekat mereka. Takut disangka mereka yang bujuk.
Pelaku fitnah di lapangan juga orang-orang bodoh. Dapatnya seperak dua perak tapi negara gaduh. Kalau terjadi kekacauan mereka kira bisa ikutan lari naik jet pribadi. Paling dikasih duduk di sayap, diikat tali rafia bekas.
Jadi kalau orang jaman sekarang sebegitu inginnya bebas, bagaimana mungkin mau memberi tempat kepada paham komunis yang serba ketat dan kejam?
Kalaupun bonus kuota 20 Giga per bulan, bebas 24 jam, anda mau?
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar