Senin, 25 September 2017

Gatot Nurmantyo Yang Cerdas Mengungkap Kasus “Papa Minta Bedil-Bedilan”

Gatot Nurmantyo Yang Cerdas Mengungkap Kasus “Papa Minta Bedil-Bedilan”

Berita Dunia Jitu - Gatot Nurmantyo itu cerdas! Itu kesan yang saya tangkap dari dia. Setuju atau tidak, buat saya pribadi, Gatot Nurmantyo adalah seorang jendral yang setia dan patuh pada atasan. Saya tidak meragukan hal itu walaupun begitu banyak isu-isu miring yang berusaha menyerang dia. Tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar hanya karena Gatot seorang muslim yang taat dan sering menghadiri acara-acara keagamaan, bukan berarti Gatot pro pada “mereka”. Pun dengan pernyataan dia tentang 5000 pucuk senjata yang disinyalir dipesan oleh sebuah institusi diluar kemiliteran secara ilegal dengan mencatut nama presiden, bukan berarti Gatot sedang menuduh seseorang atau kelompok tertentu.

Coba perhatikan lingkungan dimana Gatot Nurmantyo mengatakan isu tentang pemesanan senjata ini! Dia mengatakan hal ini pada kesempatan silahturahmi bersama para purnawirawan petinggi TNI,dimana yang hadir diantaranya adalah Menkopolhukam Wiranto, mantan Wapres Try Sutrisno yang juga mantan Panglima ABRI, tiga mantan panglima TNI, yaitu Laksamana (Purn) Widodo AS, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, dan Laksamana (Purn) Agus Suhartono, Prabowo Subianto dan juga beberapa nama petinggi TNI lainnya. Dalam penjelasannya, menurut Panglima TNI ini, ada beberapa jendral-jendral yang secara nakal membantu kedatangan 5000 senjata ilegal tersebut dan dipastikan oleh Gatot bahwa pihaknya akan terus mengawasi dan bahkan akan melakukan tindakan bila terus masih dipaksakan mendatangkan senjata ilegal tersebut.

Ini catatan saya:

1. JIka Gatot Nurmantyo tidak cukup teliti, dia tidak akan pernah bisa mengidentifikasi adanya pemesanan senjata yang biasa digunakan oleh pihak non-militer secara ilegal oleh pihak swasta.

2. Kepemilikan senjata menjadi kewenangan TNI dan Polri. Bahkan, Polri pun tidak boleh memiliki senjata yang bisa menembak tank baja, menembak pesawat tempur, dan kapal laut.

3. Gatot hanya mengatakan “ada sebuah institusi”. Dia tidak pernah mengatakan apakah institusi itu adalah institusi negara atau pemerintah. Institusi bisa juga dimiliki oleh pihak swasta.

4. Gatot bicara di depan para petinggi TNI dan bukan pada forum umum. Seolah-olah pelakunya adalah orang dalam TNI sendiri.

Dari keempat poin di atas, jelas, sepertinya Gatot sedang memberitahukan “seseorang” bahwa usaha mereka untuk mendatangkan 5000 senjata secara ilegal itu hukumnya DILARANG. Dikatakan secara legalpun, pasokan senjata seperti itu, harus melalui TNI. Jadi pernyataan Gatot itu hanya ingin menegaskan bahwa dia, sebagai Panglima TNI, akan mengambil tindakan tegas jika hal tersebut dilakukan, tidak terkecuali apabila pelakukanya dari keluarga TNI sendiri. “Sehingga suatu saat apabila kami-kami yang yunior ini melakukan langkah yang diluar kepatutan pada senior, itu hanya tindakan kami sebagai Bhayangkari,” tegas Gatot


Namun, jujur saja, di satu sisi, cara komunikasi seperti ini memang agak kurang bijak. Karena apa yang terjadi kemudian, pernyataan Gatot malah menambah kegaduhan, walaupun informasi yang dia dapat berasal dari sumber yang dipercaya (A1). Disisi lain, Gatot sepertinya sedang merencanakan sesuatu yang memudahkan dirinya menghentikan pembelian senjata secara ilegal ini. Tapi apa mau dikata, pernyataan Gatot ini sudah menjadi viral dan dibicarakan dimana-mana. Banyak pihak-pihak berasumsi dan asumsi mereka menciptakan polemik yang panjang. Salah satu asumsi yang beredar adalah bahwa pihak pemesan adalah PKI.

Padahal, kalau menurut logika saya, pembelian senjata secara ilegal hanya bisa dilakukan oleh sekelompok mafia yang ingin mempersenjatai anggota-anggotanya. Saya tidak tahu, jenis mafia apa yang sekiranya ingin memiliki senjata di negara yang mengilegalkan kepemilikan senjata. Yang pasti, Presiden Jokowi sebagai pihak yang namanya selalu dipergunakan, mustahil melakukan pembelian senjata secara diam-diam. Untuk apa Jokowi membeli senjata secara diam-diam? Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Jokowi bisa saja dengan mudah menginstruksikan TNI untuk melakukan penyerangan. Apalagi mereka yang mengenal siapa Jokowi, pasti dengan sangat mudah bisa menebak bahwa hal ini seperti kasus “Papa minta saham” sedang terulang, cuma sekarang judulnya “Papa minta bedil-bedilan”.

Atau kalau bukan mafia, bisa saja pihak pro ISIS yang memesan dengan tujuan menyerang Indonesia seperti mereka menyerang pemerintahan Suriah.

Saya jadi senyum sendiri membayangkan orang-orang yang hadir pada acara silahturahmi itu dan mendengarkan pernyataan Gatot. Kira-kira apa yang Pak Wiranto, Tri Sutrisno, para mantan Panglima TNI dan Prabowo Subianto pikirankan yah? Adakah satu dari mereka akan berkata, “Sialan, gue ketahuan nih!” dalam hatinya?

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar