Kamis, 28 September 2017
FPI Memanfaatkan Kesempatan Di Tengah Kesempitan Melalui Isu PKI
Berita Dunia Jitu - Umur saya saat ini menginjak 40 tahun. Pada usia ini isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia masih sering terdengar. Padahal seingat saya isu ini sudah saya dengar sejak saya berusia 8 tahun. Mengapa saya ingat pada usia ini? Pada umur 8 tahun saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu, ibu saya dan beberapa ibu dari team penggerak PKK kampung bersama-sama pergi ke bioskop untuk nonton bareng film Pengkhianatan G 30 S-PKI. Saya diajak serta dengan ibu-ibu itu.
Saat film diputar, banyak orang yang menyaksikan film itu menangis tersedu-sedu. Ada yang marah dan mengumpat. Seingat saya adegan yang paling membuat banyak orang marah adalah saat ada seseorang mengatakan,”Darah itu merah Jendral…” sambil menyayat si jendral. Saya juga ikut larut dalam kemarahan meski waktu itu tidak tahu banyak apa maknanya.
Maklum orang kampung (kata orang), berhari-hari setelah menyaksikan film itu ibu-ibu yang nonton bareng memperbincangkan film sadis itu. Saya juga demikian. Di antara teman-teman SD, saya bercerita tentang film yang durasinya panjang itu.
Dalam berbagai perjumpaan, pak kepala desa, pak guru, pak kepala sekolah, pak RT, RW, kadus dan sebagainya senantiasa mengatakan: waspadalah kebangkitan Partai Komunis Indonesia.
Di kelas, pak kepala sekolah mengatakan bahwa PKI itu bisa masuk ke berbagai sendi kehidupan. Mereka yang dulu ikut gerakan PKI, darahnya sudah tercemar dengan zat-zat tertentu. Mereka sudah disuntik dengan suntikan PKI. Dampaknya pasangan (suami-istri) dan seluruh keturunan dari PKI berdarah komunis. Maka setiap orang yang ada di dekat mantan tahanan politik (tapol) bernama PKI harus waspada. PKI itu menular. Maka menjauh dari mantan tapol ini adalah keharusan.
Hati-hatilah dengan kebangkitan PKI, itulah yang disampaikan oleh pak kepala sekolah dan banyak orang pada zaman Orde Baru.
Sejak saya SD hingga kini isu bahaya laten komunis masih saja ada, bahkan sejak Jokowi menjadi presiden yang disusung PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, isu itu malah tambah santer.
Namun apakah isu itu menjadi kenyataan?
Setiap tahun, isu PKI yang akan bangkit dan menguasai Indonesia seolah matra tahunan yang dihembuskan dari berbagai arah. Dari timur hingga ke barat. Dari utara sampai ke selatan, semua arah itu mendengar desahan bahaya laten komunis. Ada banyak pihak yang sengaja memakai isu ini untuk menunjukkan bahwa seolah bangsa ini darurat komunis. Mereka lupa bahwa isu separatisme dari infiltrasi gerakan radikal yang mengatansamakan Islam (bukan Islam sebagai agama) juga tumbuh dengan subur. Namun mengapa PKI seolah momok yang paling menakutkan?
Melihat fenomena ini, saya mengutip pemikiran buya Syafii, cendikiawan muslim yang bijak. Beliau menuliskan bahwa isu kebangkitan PKI yang masih dijadikan jargon untuk berkuasa oleh sementara politisi adalah pertanda dari keadaban politik bangsa ini masih rendah dan murah.
Dengan mengadu domba mereka yang dianggap pro PKI dan yang anti PKI lahirlah benturan antar sesama anak bangsa. Dalam situasi saling bermusuhan itu nantinya datang pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan demi mendapat keuntungan bagi diri sendiri.
Salah satu pihak yang hendak memanfaatkan keadaan adalah Front Pembela Islam.
Pemimpin tertinggi ormas ini sedang mengasingkan diri di negeri yang jauh. Pelariannya karena tersandung betis perempuan membuatnya takut kembali ke Indonesia. Rupanya dari tanah seberang itu ia rindu pulang kampung. Seperti tulisan yang sering saya baca di body truck berbunyi,”Pulang malu, nggak pulang rindu”, itulah suasana batin pemimpin tertinggi FPI. Dengan apa ia bisa pulang kampung dan kembali eksis di Indonesia? Isu PKI adalah kendaraan yang paling memungkinkan dipakai saat ini.
Kepada Jawa Pos, Rizieq Shihab menyampaikan pesan,”Siaga revolusi! Gerombolan PKI panik dan kalap. Untuk itu, habaib dan ulama serta umat Islam harus segera konsolidasikan umat karena kemungkinan terburuk bisa terjadi setiap saat”.
Senada dengan Rizieq bosnya, Ketua umum Front Pembela Islam Ahmad Sobri Lubis mengatakan,”Kebangkitan komunis di Indonesia ini sudah jelas nyata, sudah tidak bisa dimungkiri lagi. Tidak bisa dibilang itu hanya isu, tidak bisa. Ini sudah jelas, terang-benderang”.
Saya menduga FPI akan memakai isu kebangkitan PKI untuk membawa kembali imam besar mereka yang saat ini ada di Arab Saudi. Atas dasar itu, mereka akan melakukan aksi-aksi yang menunjukkan bahwa seolah mereka penjaga NKRI. Mereka juga akan melakukan provokasi, penyebaran propaganda bahwa pemerintah abai dengan PKI. Dengan begitu pemerintah ini sah untuk digulingkan. Paling tidak itulah yang kemungkinan diserukan di aksi 299.
Berdasar hal ini, saya juga melihat bahwa FPI bisa dipakai oleh pihak-pihak yang pro pada kebangkitan Orde Baru yang mungkin rindu mengambil alih kekuasaan negeri ini. Jika demikian, kita harus katakana: Tidak! Tidak pada FPI dan tidak pada Orde Baru!
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar