Senin, 10 Juli 2017
Yusril Sebut Negara di Jurang Keruntuhan
Berita Dunia Jitu - Semakin mendekati pilpres 2019 semakin kelihatan cara-cara busuk berupa pembodohan publik untuk menipu rakyat agar tidak pilih Jokowi jadi Presiden lagi pada Pilpres 2019 mendatang.
Segala jenis Hoax, baik itu soft Hoax maupun hard Hoax, dan isu abal-abal pun dikemas sedemikian rupa seolah-olah dunia sebentar lagi akan kiamat jika Jokowi masih jadi Presiden di negeri ini.
Cara-cara akal bulus tersebut bukan hanya dilakukan oleh para pembenci Jokowi yang kurang pendidikan seperti si pelapor Kaesang itu, akan tetapi juga menular menjangkiti kalangan intelektual dan terpelajar seperti Yusril Ihza Mahendra ini.
Pendidikan tinggi dan menjadi pakar hukum serta gelar Profesor dibidangnya tidak membuat seseorang menjadi pintar. Contohnya Yusril Ihza Mahendra ini. Mau menipu rakyat kecil agar tidak pilih Jokowi jadi Presiden lagi kok lewat media sosial. Memangnya rakyat kecil akar rumput mainannya mereka media sosial?
Dan yang konyolnya lagi, media yang jadi rujukannya Yusril untuk menyerang Presiden Jokowi dicomot dari situs inilah dot com (maaf ya tidak pakai hyperlink, nanti mereka yang keenakan kecipratan hits dari tulisan ini).
Inilah dot com adalah situs milik Muchlis Hasyim Jahja yang dulu bikin Tabloid Obor Rakyat untuk menyerang Jokowi selama masa pilpres 2014 yang lalu.
Tentu masih segar dalam ingatan tentang Tabloid Obor Rakyat itu, Tabloid yang berisi fitnah yang keji dan kampanye hitam terhadap Jokowi yang mereka kirim ke pondok-pondok pesantren, masjid, dan mushola di berbagai kota di Indonesia.
Ribuan eksamplar Tabloid Obor Rakyat ini dicetak di perusahaan percetakan milik Muchlis Hasyim di Bandung, PT Mulia Kencana Semesta. Perusahaan ini adalah salah satu dari Inilahcom Group milik Muchlis Hasyim Yahya.
Miris memang, media abal-abal dengan pemberitaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya kok dipakai rujukan oleh seorang intelektual sekaliber Yusril Ihza Mahendra ini. Mau dibilang kuper, nanti salah lagi.
Setelah saya baca isi pemberitaan tersebut, terlihat jelas sekali modus pemberitaan abal-abal dengan menyertakan pengamat dari negeri antah berantah yang tidak terverifikasi keahliannya.
Mereka bilang bahwa rakyat Indonesia saat ini sengsara lahir dan bathin akibat Presiden Jokowi menggenjot pendapatan dari dalam negeri dengan mencabut subsidi gas dan listrik untuk menutupi beban utang luar negeri sehingga bikin rakyat makin sengsara dan merana.
Tidak sampai disitu saja, mereka juga menakut-nakuti bahwa setiap saat sewaktu-waktu aset-aset pemerintah bisa disita oleh pemberi utang karena negara tidak bisa membayar kewajiban bunga dan utang yang jatuh tempo.
Mereka lalu menuding bahwa akibat dari ulah Presiden Jokowi memalak rakyat secara ugal-ugalan, maka daya beli masyarakat pun menurun drastis. Inilah yang dinamakan HOAX yang sesungguhnya, menyajikan berita yang dipoles dengan data abal-abal tanpa menyebut sumber data yang akurat, kredibel dan sah.
Sesuai narasi besar Seword untuk melawan Hoax, maka dalam tulisan ini akan saya telanjangi pemberitaan inilah dot com itu sampai tidak ada sehelai benang pun yang tersisa.
Pertama, mereka menyebut defisit APBN mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dimana tinggal secuil lagi akan melewati ambang batas defisit yang ditetapkan Undang-undang tentang Keuangan Negara yakni 3% dari PDB.
Pertanyaan saya, angka 2,92% itu hitungnya dari mana? Dapat data itu dari mana? Asal tembak atau dapat data dari kementerian terkait yang resmi, sah dan akurat sumbernya? Kalau tidak jelas sumbernya, itu namanya menipu. Semua agama mengajarkan bahwa menipu itu dosa. Sudah itu aja, titik.
Kedua, media milik Muchlis Hasyim Yahya itu menuding bahwa pencabutan subsidi listrik mendorong inflasi hingga 5%. Mereka lalu bilang bahwa seluruh defisit APBN akan ditutupi dengan utang, sementara utang pemerintah semakin menganga sehingga mengancam keberlangsungan dan keselamatan negara.
Sekarang gantian saya yang menelanjangi kengawuran mereka. Bank Indonesia menyebut bahwa proyeksi inflasi per Juli 2017 berdasarkan survey pemantauan harga BI, yaitu di kisaran 3,98 persen secara tahunan. Lantas darimana para dodlipet itu bilang inflasi 5%? Dari kebon pisang kak Emma kah?
Ketiga, mereka menuding bahwa di era Presiden Jokowi utang luar negeri berlipat kali ganda dibandingkan era para Presiden sebelumnya. Entah media itu pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu sama sekali alias o’on bahwa utang pemerintah sebuah negara tidak hanya dilihat dari nominalnya belaka, akan tetapi juga ditinjau dari rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara yang bersangkutan.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang perekonomiannya setara dengan negara kita, rasio utang Indonesia justru jauh lebih rendah. Turki misalnya. Mereka memiliki rasio utang 31,7 persen pada akhir 2016. Pada periode yang sama rasio utang Thailand tembus 43,6 persen, Malaysia 56,6 persen, dan Brazil 78,3 persen.
Selain itu, utang pemerintah saat ini jelas hasilnya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan infrastruktur yang jelas hasilnya terpampang di depan mata dan bermanfaat bagi kemaslahatan rakyat banyak.
Silahkan dibandingkan dengan utang di era SBY selama 10 tahun lamanya. Apa yang diperoleh negara ini? Hasilnya hanya mewariskan prasasti berupa proyek mangkrak dimana-mana dengan nilai ratusan trilyun rupiah sehingga jadi beban bagi Presiden Jokowi untuk membereskan semua warisan proyek mangkrak tersebut.
Keempat, dimana-mana portal berita tidak disertai dengan opini penulis berita. Yang terjadi justru aneh bin ajaib di berita itu mereka selipkan opini bahwa kehidupan Presiden Jokowi semakin makmur, sejahtera, bahagia, sentosa senantiasa.
Mereka menilainya dari pembayaran zakat Presiden Jokowi hingga Rp 45 juta, artinya penghasilan Jokowi mencapai Rp1,8 miliar per tahun. Ini yang saya bilang Jaka Sembung bawa golok, yang dibahas apa, larinya ke mana. Portal berita rasa opini.
Namun dari semua kengawuran-kengawuran media itu, yang paling konyol ya Yusril ini, seorang intelektual berpendidikan tinggi malah dengan sengaja ikut menyebar Hoax di akun Twitter miliknya tanpa melakukan check and re-check apakah berita yang dia sebar itu HOAX atau bukan.
Dan juga bagaimana mungkin seorang pakar Tata Negara dan Profesor Hukum sok tahu soal masalah ekonomi, Defisit, Surplus, Mikro & Makro Ekonomi, Inflasi, Deflasi, Produk Domestik Bruto (PDB) dan lain sebagainya? Ini sama saja sopir angkot tapi sok tahu mengenai spesifikasi Helikopter.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar