Sabtu, 22 Juli 2017

Pak Jokowi Itu Komunis , Wahabbi , Atau Syiah?

Pak Jokowi Itu Komunis , Wahabbi , Atau Syiah?

Berita Dunia Jitu - Suka atau tidak suka, dunia itu udah kadung terpolar ke dalam dua kotak: Barat dan Timur. Polarisasi ini sudah berlangsung selama berabad-abad. Berbagai perspektif muncul untuk membandingkan sekaligus mencari hubungan antara Barat dan Timur. Barat dan Timur bisa dianalisis dari sudut sains dan teknologi, sosial dan budaya, ekonomi, agama dan keyakinan, ideologi, hingga spiritualitas.

Secara mudah, sering dianggapkan bahwa Barat adalah simbol kemajuan. Sejak modernisme digaungkan, sekularisme dan kapitalisme diagungkan, Barat meluncur sendirian ketika Timur masih terperosok pada jurang mitologi dan keterbelakangan. Bahkan makna “keterbelakangan” ini sendiri muncul dalam perspektif Barat. Filsafat materialisme yang diturunkan ke dalam bangunan sains dan teknologi meniscayakan Barat untuk maju sendirian.

Tentu saja kekuatan Barat tidak dibiarkan sendirian. Dari rahim yang sama, ialah materialisme, Timur menemukan celah yg menjadi titik lemah ideologi Barat. Lahirlah Sosialisme yang menjadi basis ideoligis Timur vis-a-vis kapitalisme Barat. Amerika yang kapitalis sebagai simbol kemajuan Barat mendapatkan “lawan yang setimpal” pada diri Uni Soviet yang sosialis waktu itu. Begitu Uni Soviet runtuh, Kapitalisme merajalela. Namun, keruntuhan Uni Soviet ini tak serta merta meruntuhkan basis ideologinya. Di sinilah komunisme berkembang dan menjadi ideologi yang dianut macam Rusia, Cina, dan Korea Utara.

Melihat Barat dan Timur, dengan demikian, sesungguhnya melihat perseteruan dua anak kandung materialisme. Barat yang kapitalis. Dan Timur yang sosialis-komunis. Pertanyaanpun muncul di sini: Apakah masih relevan melihat dan membandingkan Barat dan Timur dalam konteks pertarungan ideologi yang semacam itu? Bukankah tidak semua Barat adalah kapitalistik dan tidak semua Timur adalah sosialistik-komunik? Lalu dimana menempatkan Dunia Ketiga di antara dua kutub kekuatan itu? Masih adakah sekarang ini kapitalisme murni? Sosialisme murni? Komunisme murni?

Ah, ini kajian yang panjang. Butuh beberapa cangkir kopi dan segelas susu untuk membahasnya. Tetapi apa hubungannya dengan pernyataan Mr. Presiden kita??

Sebenarnya sih terlalu sayang otak ini menjelaskan ideologi-ideologi besar yang ada di dunia, di hadapan kaum sumbu pendek yang makin pendek aja. Taunya mereka ya… paling teriak-teriak awas PKI, waspada PKI, padahal mereka sendiri gak jelas. paham atau nggak dengan teriakannya itu.

Tetapi yang jelas Jokowi itu paham loh. Paham bahwa udah lama bangsa ini “menghamba” pada Barat, yang secara ekstrim bisa dikatakan berarti menghamba pada kapitalisme, walaupun ideologi bangsa adalah Pancasila!

Jokowi ingin “menjungkalkan” penghambaan itu. Tetapi sekaligus sadar jika pilihannya condong ke Timur (Rusia, Cina, Korea Utara), maka otak-otak sengkleh  akan semakin meneriakinya, “Tuch kan, bener, dasar PKI!”


Jokowi yang pinter ini pun secara gesit membangun hubungan dengan Saudi. Biar mereka nyinyir, “Tuch kan, Jokowi wahabbi!”

Secara gesit, Jokowi mempererat hubungan dengan Iran. Lalu mereka nyinyir lagi, “Tuch kan bener, dasar Syiah!”

Jadi Jokowi itu Komunis?
Atau Jokowi itu Wahabbi?
Atau Jokowi itu Syiah sih??

Begitu Jokowi ketemu Obama, mereka nyinyir lagi, “Tuch kan, bener, dasar antek Amerika!”

Oalah, mbokde mbokde. Namanya aja otak sengkleh. Gak tau peta ideologi. Gak tau pertarungan global. Suka nyinyir dan tertelan dengan gaya induksinya sendiri. Modar sendiri.

Seperti yang dikatakan Jokowi saat memberi sambutan pada penutupan Mukernas Bimtek DPRD PPP di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta malam ini (Jumat 21/07/2017):

“Kenapa saya sekarang banyak mendekat ke Timur Tengah? Raja Salman, ke Syeik Muhammad Uni Emirat Arab, saya sudah bertemu berapa kali. Sudah bertemu dengan Syeikh Amin di Qatar, bertemu Presiden Mesir, bertemu Presiden Afghanistan. Pertemuan-pertemuan itu penting sekali untuk menjaga keseimbangan, agar warna kita ini tidak terlalu berada pada sisi ini dan sisi ini.”

Jokowi tidak ingin sikap pemerintah Indonesia terlalu condong ke pihak atau negara tertentu. “Tidak terlalu ke-barat-barat-an, tidak terlalu ke-Tiongkok-tiongkok-an dan tidak terlalu ke-Jepang-jepangan. Sehingga keseimbangan itulah yang terus ingin kita lakukan,” katanya.

Sementara Jokowi riang gembira. Gak mau terlalu condong ke sini atau ke sana. Dadaaaaaaaa………

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar