Berita Dunia Jitu - Para pentol korek api langsung mengesekkan kepala pentulnya dan langsung membakar dirinya. Para kaum Bumi Datar langsung bereaksi dengan otak ceteknya ketika Jokowi menungkapkan keinginannya dana haji yang tersimpan diinvestasikan untuk pembangunan infrastruktur.
Komentar kaum-kaum penyinyir itu macam-macam. Kalangan bawah yang bodoh, berkomentar tidak setuju karena memang mereka tidak paham. Mereka hanya tahunya orang menyetor untuk naik haji dan uangnya tidur di Bank sampai waktunya untuk pergi haji tiba. Sementara kalangan atas yang bergelar dan berpendidikan tinggi berkomentar tidak setuju karena mereka sirik, tidak suka pada Presiden Jokowi tanpa sebab, hanya ingin memperkeruh keadaan atau sengaja hanya untuk menghambat pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan sekarang.
Lucunya, ketika mendengarkan kata “Dana Haji”, pikiran mereka seperti langsung membayangan ritual ibadah lalu dihubungkan dengan haram dan halal, sampai kata mendzolimi umat juga terlontar. Fokus mereka persis seperti anak berumur 3 tahun yang hanya mampu mememori satu kata terakhir, yaitu “Haji”. Mereka tidak melihat bahwa ada dua kata, Dana dan Haji. Dan “Dana Haji” itu uang, bukan yang lain-lain dan tidak ada hubungannya dengan ibadah seseorang apalagi dengan haram, halal, surga dan dzolim. Or whatsoever!
Ini saya buktikan kalau kata “Dana Haji” itu adalah uang, bukan masalah ibadah. “Suryadharma Ali mengkorupsi DANA HAJI dari penyelenggaraan haji tahun 2011-2013 sebesar Rp 1.8 triliun”. Apakah dengan dikorupsi Rp 1.8 triliun, jemaah haji yang diberangkatkan tahun 2011-2013 ada yang tertinggal atau tidak jadi berangkat?? Padahal uang yang di curi oleh SDA sebanyak Rp 1.8 triliun itu hanya untuk memperkaya diri dan teman-temannya, loh! bukan untuk pembangunan infrastruktur. Dan uang sebanyak Rp 1.8 triliun itu, kalau satu jemaah membayar Rp 35 juta, itu artinya Rp 1.8 triliun adalah uang dari 51.429 jemaah!
Terbayang uang Rp 1.8 triliun kalau dipakai untuk pembangunan sudah bisa jadi apa?
Memahami Ide Jokowi Untuk Menginvestasikan Dana Haji Pada Pembangunan Infrastruktur.
Mengaca pada kasus korupsi dana haji yang dilakukan oleh Suryafharma Ali, saya yakin, ada banyak kasus-kasus korupsi kecil yang dilakukan oleh pengelola dana haji yang tidak terendus oleh KPK.
Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, mendapatkan kuota haji terbanyak sekitar 220 ribu orang per tahun. Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat melaksanakan ibadah haji dan terbatasnya kuota haji menyebabkan daftar tunggu (waiting list) menjadi semakin lama berkisar 15 sampai 25 tahun.
Saya pribadi lebih setuju untuk menggunakan dana haji yang diputarkan oleh bank syariah diinvestasikan pada pembangunan infrastruk. Karena uang sebanyak itu dikumpulkan pada Bank syariah kemudian sebagian dana tersebut DIINVESTASIKAN pada Surat berharga Syariah Negara atau SBSN. Sampai hari ini, saya tidak pernah membaca berita laporan tentang apa yang sudah Bank Syariah lakukan atau bangun atas keuntungan dari perputaran dana haji.
Sementara jika dana haji yang jumlahnya Rp 90 triliun diinvestasikan pada pembangunan infrastruktur, sarana ini akan akhirnya dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak kah kita mau memiliki kota yang bersih dengan fasilitas transportasi yang modern seperti di Korea atau Eropa?
Hanya Orang Goblok yang Menolak Pembangunan
Tidak perlu kita harus pergi ke Malaysia atau Korea untuk melihat seberapa maju kedua negara itu. Tinggal di googling saja, banyak foto yang bisa dilihat. Kalau saya pribadi cukup melihat mobil yang saya kendarai adalah produksi Korea. Saya sering menggelengkan kepala karena tidak percaya, bagaimana bisa Korea yang merdeka pada tahun yang sama dengan Indonesia dan negaranya lebih miskin dari Indonesia, bisa jauh lebih maju dan bahkan mampun mengimport kendaraan roda empat ke negara yang lebih kaya seperti Indonesia??
Pembangunan Indonesia dengan sengaja DITERLAMBATKAN oleh Rezim ORBA dan Rezim SBY. Ini karena uang negara, hasil dari pajak dan kekayaan alam Indonesia lebih digunakan untuk memperkaya dirinya dan para kroninya. Ribuan Triliun uang negara di curi selama 60 tahun oleh para pejabat pemerintah di semua lini. Mulai dari Lurah sampai Presiden. Termasuk aparat-aparat yang ada didalamnya.
Dan ketika ada seorang Presiden yang mau dan niat membangunan Indonesia, mengejar ketinggalan dari Korea dan Malaysia, dia memerlukan uang sebanyak jumlah uang yang dicuri oleh pejabat selama 60 tahun.
Dari mana dia harus menemukan uang sebanyak itu untuk mengejar ketinggalan pembangunan? Apakah harus menternakan beberapa orang dengan kemampuan menggandakan uang seperti Dimas Kanjeng supaya tidak menghutang pada dunia?
Bodoh sih boleh saja, tapi dengan belajar kita bisa jadi pintar. Tapi kalau orang sudah miara penyakit goblok, maka celakalah negara.
Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar