Rabu, 19 Juli 2017
Fenomena Penghijauan Palsu
Berita Dunia Jitu - Pengrusakan alam kian massif terjadi di Indonesia. Hutan-hutan digunduli untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit dan kayu akasia. Penggundulan hutan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Sekarang penebangan hutan marak terjadi di Papua yang memang hutannya masih banyak perawan.
Penggundulan hutan secara besar-besaran ini berdampak pada masyarakat. Tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tapi juga sampai ke perkotaan dan luar negeri.
Kebakaran hutan skala besar tahun 2015 yang lalu menyebabkan beberapa kota besar di Indonesia diselimuti kabut asap tebal. Di antaranya Jambi, Palembang, Riau, Kalimantan dan bebearap kota lainnya. Termasuk di daerah saya Bengkulu. Pada waktu itu di Bengkulu juga mengalami kabut asap kiriman dari Sumatera Selatan dan dan Jambi.
Bahkan, asap sampai membuat negara tetangga, Malaysia dan Singapura ikut-ikutan kabut. Hal ini membuat protes kedua negara tersebut. Sampai ada guyonan Indonesia adalah negara pengimpor asap. Namun kita tidak bisa menyalakan bangsa sendiri karena ada juga beberapa perusahaan dari negara Malaysia dan Singapura yang ada di Indonesia lahannya ikut terbakar.
Ditengah maraknya terjadi kerusakan hutan, di kota-kota besar, seperti Jakarta muncul fenomena penghijauan palsu. Di beberapa pusat perbelanjaan dipajang pohon cemara dan pakis palsu. Dilihat memang pohon-pohon palsu ini menambah keindahan, namun tidak berdampak apa-apa bagi lingkungan.
Memang dari segi perawatan lebih mudah. Pohon ini tidak menghasilkan daun yang berguguran. Sehingga cleaning service tidak perlu repot-repot membersihkan dedaunan yang jatuh. Selain itu juga tidak perlu disiram, karena merupakan benda mati. Namun, pohon palsu ini tidak menghasilkan oksigen dan tidak pula mampu menyerap polusi seperti pohon asli.
Di beberapa pusat keramaian juga banyak penghijauan palsu berupa gambar-gambar pohon dan hutan di backdrop-backdrop ukuran raksasa. Ini juga tidak bermanfaat apa-apa bagi lingkungan selain hanya untuk menyegarkan pandangan mata.
Di beberapa Bank ada juga backddrop seperti hal tersebut yang ditambah dengan embel-embel go green. Mungkin saja ini bertujuan untuk menaikkan citra Bank, bukan untuk mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan.
Kita sendiri tahu bahwa peran Bank terhadap pengrusakan lingkungan di Indonesia cukup besar. Hanya saja pihak Bank tidak secara langsung menebangi hutan dan berkebun kelapa sawit. Namun Bank adalah penyandang dana terbesar perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kayu pulp di Indonesia. Bisa jadi dana dari Bank yang katanya go green tersebut digunakan untuk melakukan penghancuran hutan.
Realitasnya bank tidak terlihat serius menyelamatkan lingkungan di Indonesia. Mungkin saja ada, namun tidak seberapa. Palingan hanya melakukan penanaman pohon yang seremonial dan tidak berkelanjutan. Kita belum melihat ada komitmen dari pihak Bank untuk tidak memberikan dana kepada perusahaan yang merusak lingkungan.
Penghijauan palsu dan slogan-slogan go green tidak akan bermanfaat apa-apa jika tidak ditindaklanjuti. Bahkan Soe Hok Gie pernah berkata bahawa dia tidak percaya dengan slogan-slogan. Karena lingkungan Indonesia yang lebih baik tidak akan terwujud hanya dengan slogan-slogan apalagi dengan pohon palsu.
Alam Indonesia akan lebih baik kalau semua masyarakat Indonesia menjaganya. Kita boleh saja membuat slogan go green tapi setelah melakukan tindakan nyata untuk alam. Jangan sampai hanya OMDO alias omong doang.
Ada perusahaan yang mendapat penghargaan taat lingkungan, mengajak masyarakat cinta lingkungan dan membuat backdrop besar berisi pentingnya penyelamatan lingkungan. Gak tahunya masyarakat sekitar mengeluh, karena sumber air mereka tercemar oleh limbah perusahaan tersebut. Inilah yang disebut dengan lain di mulut lain di hati.
Masyarakat harus jeli melihat perusahaan-perusahaan yang banyak melakukan kampanye terhadap lingkungan namun mendapat rapor jelek dalam pengelolaan lingkungan. Bisa jadi kampanye penyelamatan lingkungan tersebut bagian dari kamuplase untuk menutupi aib sendiri yang telah merusak lingkungan.
Mari kita saman-sama jaga lingkungan, tidak hanya sekedar memajang pohon palsu dan gambar-gambar hutan di dinding. Lakukan tindakan nyata untuk Indonesia. Cinta tanah air tidak akan sehat hanya dengan slogan-slogan. Jaga alam dengan tindakan nyata. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar