Senin, 17 Juli 2017

Buni Yani Atau Tsamara Amany Yang Patut Di Contoh Oleh Anak Muda?

Buni Yani Atau Tsamara Amany Yang Patut Di Contoh Oleh Anak Muda?

Berita Dunia Jitu - Siapa layak menjadi contoh bagi anak muda, Buni Yani atau Tsamara Amany? Jangan membandingkan soal pikiran dan otak culas Buni Yani dan logika normal Tsamara Amany, karena tak sama. Namun melihat polah tingkah kelakuan dan niat busuk ideologis Buni Yani dan kiprah fenomenal Amany, bisa membuat teropong nasib tampak beda nyata bak Bumi dan langit jadi nyata. Buni Yani adalah lambang keculasan kesempitan berpikir masa lalu yang terkaget dalam menjalani dan menghadapi fenomena media sosial. Sementara Tsamara Amany belajar tentang logika dan melihat media sosial hanyalah sarana.

Mari kita tonton perbedaan antara Buni Yani dan menertawainya dengan Tsamara Amany dengan segala sepak terjang dan harapan politiknya dengan paparan yang mencerahkan dan menghentak kesadaran nurani, hati, pikir, rasa, logika, iman, ketakwaan, jati diri, kemanusiaan, kebangsaan Indonesia, pluralisme, keberagamaan, spiritual, seni, budaya, kearifan lokal, dan kebebasan jiwa selamanya.

Buni Yani menyadari dengan penuh kekaguman terhadap internet. Internet adalah sarana perjuangan dan alat untuk menghantam dan adu domba. Internet dengan media sosialnya adalah mainan baru yang dipelototi setelah gagal menjadi wartawan. Internet adalah keterkaguman yang memabukkan Buni Yani.

Kesadaran perjuangan menjual keyakinan dilakukan oleh Buni Yani. Buni Yani yakin bahwa dengan mengunggah pidato Ahok maka segala kisruh tentang Ahok bisa diakhiri. Maka serta merta dilandasi keyakinan luhur ingin menjadi pahlawan, maka dia up-load unggah pidato Ahok.

Buni Yani pun lantas menjadi pahlawan bagi para pengikut Islam radikal seperti HTI dan FPI. Buni Yani pun bertemu dengan berbagai pejabat seperti Anies Baswedan, dengan Rizieq, dengan semua pentolan tukang demo yang menghargai kepahlawanan Buni Yani. Buni Yani pun menjadi bintang cemerlang dan terbayang menjadi tokoh ala Erdogan atau Muhammad Mursi atau bahkan Haled Mashal atau Ismail Haniya pentolan Hamas.

Buni Yani pun menggampangkan dan meremehkan rakyat Indonesia. Dia menyebut dalam tuitan 11 Mei 2014 dengan mudah menyatakan “Jual agama itu paling gampang, maklum rakyatnya masih bego2 gampang ditipu.” Itu pendapat dan keyakinan Buni Yani yang berpendapat menjual agama paling gampang. Hanya orang yang cerdas keblinger yang melakukan twit seperti itu: jual agama.

Kisah sebagai wartawan yang dipecat membekas dalam diri Buni Yani. Belajar menjadi wartawan dengan framing kelas atas dan investigatif ala Tempo membuat Buni Yani kaget bukan kepalang ketika medsos marak. Kekagetan itu dilihat sebagai peluang bagi Buni Yani untuk eksis di media sosial. Mulailah kekepoan demi kekepoan jiwanya yang gersang mulai terhibur dengan adanya medsos. Dipecat dari Tempo Buni Yani pun melakukan gerilya di medsos dan akhirnya menghasilkan sikap kepo. Puncak prestasi Buni Yani adalah mengunggah penggalan video pidato Ahok yang menebarkan kebencian dan keributan.

Mimpi Buni Yani pun semakin tinggi mengangkasa begitu Ahok dipenjara. Buni Yani berharap bebas. Buni Yani berkhayal majelis hakim akan membebaskan dirinya. Hakim diharapkan seperti yang mengadili Ahok – namun reversal mendukung dirinya. Hakim yang berpihak pada kepahlawanan menjerumuskan Ahok. Hakim pun diharapkan berlaku adil, adil yang dimaksud adalah memihak kepada jasa besar Buni Yani mengunggah penggalan video pidato Ahok.

Buni Yani mengharapkan tekanan massa FPI menggeruduk sidang. Buni Yani bermimpi massa FPI, FUI, HTI, Muhammadiyah, partai agama PKS, Amien Rais, Anies Baswedan, Sandiaga Uno bahkan Prabowo dan Rizieq FPI hadir memimpin demo pembebasannya. Hasilnya, Buni Yani sendirian di Bandung menunggu bui 9 tahun. Buni Yani pun menangis dan mengemis belas kasihan. Namun Buni Yani kini telah ditinggalkan. Sendirian. Habis kecut asam sepah dibuang ke tong sampah. Tak berguna.

Netizen kelompok Bumi datar,kaum cingkrang, kaum sumbu pendek, kaum nyinyir, kaum daster Arabia di medsos membesarkan nama Buni Yani sebagai musuh Ahok, yang menjadikan Buni Yani sebagai kawan sohib si terdakwa chat mesum Rizieq FPI, sebagai alat kenaikan Anies dan Sandi, sebagai picuan gerakan gerombolan para pemimpi 212, dan aneka mimpi khalifah yang tak tahu juntrungannya, ternyata, para Netizen akhirnya melupakannya: seonggok manusia apkiran tanpa teman menunggu bui.


Lain halnya dengan Tsamara Amany. Amany yang terjun ke dunia politik menjadi fenomena kekuatan tersendiri. Melek teknologi informasi bukanlah menjadi alat baginya untuk sekedar mencari sensasi. Media sosial adalah alat politik yang diwarnai dengan ambisi dan mimpi besar membangun negeri. Parpol hendak dibawanya menuju ke arah yang lebih baik.

Amany percaya di tangan generasi mudalah Indonesia akan maju. Para kawula muda menjadi penentu kejayaan bangsa. Terjun ke dunia politik dijadikan alat untuk membangun bangsa. Politik dipahami sebagai alat positif untuk mengatur peri kehidupan bangsa. Ideologi bangsa dan kesatuan Indonesia menjadi landasan berpikirnya – bukan seperti Buni Yani yang menggunakan agama sebagai alat popularitas sempitnya.

Amany menjadi fenomenal karena darah nasionalismenya tetap menggelegak dan kepentingan tangan mafia tidak memanfaatkannya. Amany mulai berjaya sebagai pentolan partai karena di usia mudanya mampu secara konsisten dan cerdas terus menempa diri belajar berpolitik yang tegas dengan mengambil contoh para pempimpin besar – bukan belajar dari Buni Yani misalnya. Bukan pula belajar dari Prabowo yang hebat namun gagal menjadi presiden gegara di sekelilingnya muncul para sengkuni seperti koruptor Suryadharna Ali, misalnya.

Amany mungkin telah belajar keberanian dan konsistensi seperti Jo Cox. Amany pasti sudah tahu sepak terjang kekuatan besar keyakinan seperti Emmanuel Macron, berjuang keras revolusioner seperti Che Guevara dan seperti Bung Karno, berhati lembut seperti Umar bin Khatab, dan berhati singa seperti Richard the Lion Heart, cerdas tangkas berbicara seperti Barrack Obama. Sikap pengampun dan pemaaf seperti juga Nelson Mandela perlu ditiru. Amany pastilah belajar dari keberanian Kim Jong-Un, ajaran Mahatma Gandi, dan berhati lembut bisa didapat dari Mother Theresa. Pula belajar dari perjuangan cerdas Sahrir, Yamin, dan Tan Malaka.

Maka membandingkan Buni Yani dengan Tsamara Amany adalah hal yang sangat menarik. Kita dipertontonkan naiknya popularitas Buni Yani dan Tsamara Amany akibat peran mereka di media sosial. Tsamara Amany memulainya dengan berbagai komentar di media sosial. Sedangkan Buni Yani pun dengan mengunggah pidato Ahok.

Namun nasib berkata lain karena keduanya berbeda. Buni Yani adalah alat ideologi Islam garis keras dan politikus semprul, sementara Tsamara Amany membangun dengan integritas. Hasilnya Buni Yani menanti bui di hari tua rentanya, sambil mengenang gempita kejayaan demo utopis 411 dan 212 dan 313. Tsamara menanti kiprah gemilang dunia politik Indonesia di usia muda. Maka keduanya pun mengundang tawa; satu tawa kecut dan terbahak menertawai Buni Yani, lainnya tawa suka-cita melihat kiprah anak muda menghajar debat Fahri Hamzah. Salam bahagia ala saya.

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar