Minggu, 09 Juli 2017

Ahok Mengesampingkan Peluang Pilkada dalam Perspektif Pemasaran

Ahok Mengesampingkan Peluang Pilkada dalam Perspektif Pemasaran

Berita Dunia Jitu - Tujuan artikel ini adalah untuk evaluasi melalui perspektif elemen-elemen pemasaran dalam strategi pemasaran di pemilihan umum bagi calon pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden. Kita akan mereview mengenai keunggulan dan kelemahan Ahok ketika maju di pemilihan kepala daerah DKI Jakarta Februari dan April 2017 yang lalu.

Dalam pemasaran suatu produk setiap perusahaan harus menyusun strategi pemasaran dan analisis SWOT, selanjutnya menyusun taktik untuk menjual produk ke pasar dan bersaing secara frontal atau menghindar dari pesaing, tergantung strategi Anda terhadap analisis SWOT tersebut.

Begitu pula pasangan Ahok – Djarot layaknya sebuah produk yang dipasarkan kepada masyarakat pemilih yang berkompetisi dengan pasangan Anies – Sandi dan pasangan Agus – Sylvi di putaran pertama lalu berlanjut ke putaran kedua yang berhadapan dengan Anies, pada akhirnya telah kita ketahui mengalami kekalahan, terlepas kekalahan tersebut yang berkompetisi secara positif atau negatif, dimana seharusnya telah terprediksi.

Citra Pasangan Ahok – Djarot

Sekarang mari kita analisis citra Ahok, dengan membuat daftar positif maupun negatif citra Ahok maka kita akan mengetahui dimana positioning Ahok di benak masyarakat Jakarta yang berhak ikut pemilihan kepala daerah.

Ahok dari latar belakang suku Tionghoa yang minoritas di Jakarta
Ahok beragama Kristen, pemilih 90% muslim.
Ahok mempunyai rekam jejak yang bersih dari korupsi.
Ahok punya kinerja yang baik dan diakui masyarakat.
Ahok bicaranya ceplas-ceplos dan menyerang balik lawannya.
Ahok dituduh korupsi Sumber Waras tetapi tidak terbukti.
Ahok dituduh menista agama Islam.
Analisis SWOT

Metode analisis untuk identifikasi situasi dan kondisi sehingga berguna untuk merencanakan strategi pemasaran, dengan analisis SWOT ini dapat diambil langkah-langkah strategi untuk menghadapi ancaman dan memanfaatkan peluang-peluang yang dimiliki untuk keberhasilan dalam memasarkan produk. Analisis ini kita manfaatkan untuk identifikasi pasangan Ahok – Djarot dalam menghadapi pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Di bawah ini analisis SWOT sederhana terhadap Ahok.

Strenght / Kekuatan

Ahok mempunyai rekam jejak yang bersih dari korupsi.
Ahok punya kinerja yang baik dan diakui masyarakat.
Weakness / Kelemahan

Ahok dari latar belakang suku Tionghoa yang hanya minoritas di Jakarta
Ahok beragama Kristen, pemilih 90% muslim.
Ahok bicaranya ceplas-ceplos dan menyerang balik lawannya.
Opportunity / Kesempatan

Ahok di dukung oleh mantan ketua Muhammadiyah
Ahok di dukung oleh Habib Sting
Khatib-khatib DKI yang diberangkatkan umroh.
Threats / Ancaman

Ahok dituduh korupsi Sumber Waras tetapi tidak terbukti.
Ahok tukang gusur.
Ahok dituduh menista agama Islam
Berdasarkan analisis SWOT di atas maka diketahuilah kekuatan dan ancaman yang akan membuat pasangan Ahok – Djarot kalah dari Pemilihan kepala daerah Jakarta, yang telah kita ketahui pada akhirnya pasangan Ahok – Djarot tersingkir dari Pemilihan kepala daerah Jakarta. Sesungguhnya dari awal sudah jelas bahwa ancaman terbesar pasangan Ahok – Djarot adalah Ahok yang tertuduh menista agama Islam, sehingga membuat enggan bagi mayoritas masyarakat muslim untuk memilih.

Sangat disayangkan pasangan Ahok – Djarot melewatkan kesempatan dalam memperkuat opportunity / peluang seperti umpamanya dengan mencari cara untuk memperluas dukungan dari pengaruh habib Sting serta door to door mendekati pemimpin muslim melalui khatib-khatib yang diberangkatkan umroh untuk menjadi agen-agen ke masyarakat di sekelilingnya atau sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada para ulama yang dikenal luas masyarakat DKI Jakarta.

Selain menjalankan pendekatan-pendekatan dari opportunity di atas itu, pasangan Ahok – Djarot juga seharusnya melakukan repositioning dengan pendekatan-pendekatan melalui edukasi masyarakat oleh jajaran partai pendukungnya bahwa Ahok tidak asal gusur dan tidak menista agama Islam melalui diskusi atau seminar-seminar dengan tenda-tenda setiap daerah kecamatan.

Kampanye yang mendatangi daerah-daerah atau kelurahan-kelurahan hanya dengan bersalam-salaman itu hanyalah seremonial belaka dan tanpa memberikan manfaat, terbukti hanya dengan kampanye hitam masyarakat simpatisan pasangan Ahok – Djarot jadi takut ketika memilih pasangan Ahok Djarot.

Edukasi-edukasi itu ditujukan ke pasar-pasar sasaran seperti di bawah ini.

Pasar Sasaran

Dalam hal ini pasar sasaran adalah masyarakat pemilih yang bisa dikelompok-kelompokan berdasarkan:

Area masyarakat pemilih seperti kecamatan.
Diskusi ibu-ibu PKK masyarakat pemilih.
Temu muka para ulama-ulama.
Diskusi entrepreneur kelompok pemuda bangsa.
Diskusi online (streaming) di media sosial.
Dan sebagainya..
Beberapa poin dari pasar sasaran di atas telah dijalankan oleh pasangan Ahok – Djarot, tetapi sifatnya hanyalah seremonial karena hanya mendatangi sebuah daerah lalu bersalam-salaman saja, pasangan Ahok – Djarot sendiri tidak berorasi secara panjang lebar untuk menanamkan pesan-pesan politisnya, sehingga tidak tertanam persepsi di benak masyarakat bawah untuk mendobrak & memilihnya bila terdapat kampanye hitam.

Seperti yang sudah kita ketahui dan jelas terlihat ketika kampanye pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, pasangan Ahok – Djarot tidak memanfaatkan secara intensif peluang (opportunity) yang dimiliki dan mengembangkan secara luas dari:

Dukungan oleh mantan ketua Muhammadiyah.
Dukungan oleh Habib Sting dan pengaruhnya sekitarnya.
Mendapatkan dukungan khatib-khatib DKI yang diberangkatkan umroh.
Ternyata tim pasangan Ahok – Djarot malah melempem dan tidak berani keluar untuk melawan persepsi yang diciptakan bahwa Ahok adalah lawan dari umat muslim. Seharusnya Ahok melakukan pendekatan-pendekatan melalui 3 poin peluang yang telah dimilikinya, serta peran penting Djarot untuk menerobos peluang tersebut.


Demikian evaluasi pemilihan kepala daerah pasangan Ahok – Djarot dalam perspektif pemasaran. Semoga kedepannya persaingan-persaingan dalam pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden di Indonesia menjadi semakin kreatif dan menggunakan terobosan-terobosan yang dikembangkan melalui elemen-elemen pemasaran sehingga walau pun terjadi kampanye hitam maka bisa menemukan cara-cara counter atau solusi menghadapinya, dengan cara membuat analisis SWOT yang lebih detil daripada analisis SWOT yang saya buat sebagai contoh sederhana di atas.

Mendorong Munculnya Ahok – Ahok Lain

Indonesia semakin menghadapi tantangan-tantangan yang bertambah berat dalam bersaing dengan negara-negara di regional maupun dunia. Banyak hal bagi Indonesia harus semakin kompetitif seperti dalam olahraga saja sudah lama di Sea Games tidak menjadi juara umum. Dalam menarik investasi luar negeri bahkan muncul Vietnam yang mulai berbenah dan masuk dalam persaingan.

Jika di dalam negeri sendiri masyarakatnya saling curiga dan terkotak-kotak antar suku, ras dan agama. Perasaan-perasaan saling mencurigai tersebut lama-kelamaan akan semakin membesar dan akhirnya menjadi bumerang untuk kemajuan Indonesia.

Sudah bukan saatnya lagi mencurigai etnis Tionghoa terus menerus karena tidak nasionalisme atau karena agamanya. Kecurigaan terhadap etnis Tionghoa dan selalu dijadikan kambing hitam politikus maka bisa menjadi Chinaphobia seperti halnya Islamphobia di masyarakat Barat.

Saat ini sudah muncul seorang Ahok, seorang etnis Tionghoa dengan nasionalisme yang tinggi, kedepannya bukan tidak mungkin muncul Ahok – Ahok lainnya. Semua itu tergantung bagaimana masyarakat Indonesia yang saling mendukung dalam kebhinekaan Indonesia.

Begitu pula dengan pemerintah harus pro aktif untuk menyatukan anak bangsa, tidak memandang SARA. Menjalankan sebagai pemersatu bangsa, jangan ada lagi seperti Wakil Presiden Jusuf Kala yang mengeluarkan pendapat pribadi yang menengarai ketimpangan kaya miskin dari segi minoritas atau mayoritas.

Pelajaran Kebangsaan

Masyarakat Indonesia harus mengambil pelajaran dari pengalaman pemilihan kepala daerah DKI Jakarta lalu bahwa ternyata nasionalisme itu bukanlah milik orang-orang yang orangtuanya atau leluhurnya turun temurun di Nusantara, karena hal itu adalah nasionalisme sempit.

Nasionalisme jaman ini adalah yang berasal dari seseorang yang berjiwa patriot dan rela berkorban untuk negaranya, itulah nasionalisme sebenarnya, yang tumbuh dari seseorang yang berkepribadian murni dan tulus untuk membangun negerinya tercinta, negeri yang dipilih untuk tempat tinggal bagi keluarga dan keturunannya. Contohnya adalah seperti Barack Obama untuk negaranya Amerika dan merasa Indonesia sebagai negaranya yang kedua.

Di jaman ini mudah saja orang terbang dan kabur kemana pun di dunia ini ketika yang bersangkutan menghadapi perkara hukum. Orang semacam itu merupakan orang yang tidak mempunyai jiwa kebangsaan yang tinggi terhadap negaranya karena berjiwa kerdil, pengecut dan tidak ada sedikit pun jiwa patriot di dalam dirinya. Contoh orang-orang semacam itu banyak bertebaran seperti Marcos di Filipina yang kabur dan sampai meninggalnya di luar negerinya Filipina sedangkan Qory Aquino yang leluhurnya dari China daratan mau berjuang untuk Filipina.

Seluruh elemen bangsa seperti DPR, pemerintahan dan jajarannya dari yang paling atas hingga Kelurahan dalam hal ini pun belum berperan penuh sebagai perekat bangsa, karena para pemimpinnya dan personil-personilnya ada yang terpengaruh negatif dari stereotype suku tertentu sehingga melemahkan rasa kebangsaan tersebut, karena stereotype negatif suku-suku tersebut sebenarnya berasal dari politik adu domba peninggalan jaman penjajahan Belanda.

Marilah Belajar Dari Pengalaman Bangsa-Bangsa

Sejak abad lampau hingga menyongsong abad luar angkasa saat ini, perbedaan kepentingan adalah penyebab dari perpecahan suatu bangsa. Bila setiap anak bangsa lebih meninggikan kepentingan golongan daripada kepentingan berbangsa maka negara akan porak poranda seperti di Suriah.

Bahkan sejak jaman Daud telah memberikan pesan berikut ini: “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?”

Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar