Senin, 31 Juli 2017
9 Lelucon Politik yang Menipu Maupun Menghibur Rakyat
Berita Dunia Jitu - Memaknai sebuah kata tentunya kita wajib untuk membuka pengertian kata itu melalui kamus atau pemakaian kata tersebut dalam suatu kalimat.
Seperti kata Lelucon, itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil melucu; tindakan (perkataan) yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka. Bilamana kita mau tinjau dari pemakaian kata lelucon dalam percakapan sehari-hari maka maksudnya akan berbeda-beda tergantung yang menyampaikan maupun yang menangkap makna lelucon. Lelucon umumnya adalah susunan perkataan yang bersifat lucu entah itu sederhana hingga yang bermakna kasar, efeknya bisa menyenangkan sebagian orang juga di waktu bersamaan bisa menyakitkan sebagian orang lainnya. Untuk yang menyakitkan sebagian orang lain itu umumnya lebih kepada menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka hadapi ataupun yang membuat orang lain menjadi yang dipersalahkan.
Pada Kamis yang lalu pada tanggal 27 Juli 2017 ada pernyataan menarik dari mantan calon presiden, Pak Prabowo Subianto perihal ambang batas pencalonan presiden 20 persen yang pernah melibatkannya pada pemilihan presiden 2014 yang lalu, berujar bahwa “Presiden Threshold 20 persen lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia. Saya tidak mau terlibat”.
Pernyataan Pak Prabowo itu sendiri menurut saya juga sebuah lelucon politik. Padahal keputusan ambang batas melibatkan partai pendukungnya baik pada saat pilpres 2014 maupun di parlemen. Menurut sidang pembaca sendiri bagaimana, lucu khan… eh ayo kamu yang lagi baca ini jangan tertawa terkekeh sendirian loh, nanti ada yang sakit hati.
Semenjak lepas landasnya titik reformasi 1998 hingga sekarang, menurut pengamatan saya cenderung bermunculan lelucon politik baik mulai dari pejabat publik dari golongan partai , petinggi partai hingga kader partai seakan-akan mementaskan sandiwara politik yang keluar dari skenario sehingga menjadi semacam lelucon politik. Pada umumnya lelucon ditempatkan sebagai bagian yang menyakitkan sebagaimana saya utarakan sebelumnya. Lelucon politik sepertinya muncul akibat kelelahan atau sudah uzur dalam bertarung politik sehingga komentar ngawur menjadi masuk ranah lelucon politik. Berbeda dengan lelucon politik yang menghibur rakyat sudah langka karena pengujar lelucon kemungkinan besar budayawan politik yang kompetensinya tak lekang dimakan usia, tetap tajam dan cerdas.
Berikut sembilan lelucon politik untuk menipu maupun menghibur rakyat yang monumental :
1. Saat Presiden Soeharto bertekad untuk mundur setelah 14 menteri calon Kabinet Reformasi mengundurkan diri sempat berujar kepada Pak Yusril,” Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti”. Pak Yusril menulis naskah pidato pengunduran diri Presiden Soeharto.
Namun pada sesaat pembacaan pidato, pengunduran diri berubah menjadi berhenti seperti penyampaian pidatonya:” Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini Kamis, 21 Mei 1998”.
Presiden Soeharto memahami bahwa dia bukan terpaksa mengundurkan diri oleh karena desakan gelombang reformasi dari masyarakat ataupun mahasiswa melainkan mantan Jenderal tersebut lebih menyukai kata berhenti dari jabatannya alias lengser keprabon sebagai akibat langsung dari pandangan negatif DPR dan fraksi…ngenes gak sidang pembaca. Ini termasuk kategori lelucon politik yang menipu rakyat.
2. Sesaat sebelum sidang MPR pada 20 Oktober 1999, para calon presiden sesuai TAP MPR wajib menyerahkan berkas pencalonan paling lambat pukul 07.00 hari itu. Pak Yusril Mahendra adalah calon presiden yang menyerahkan berkas pertama pada 06.30 atau 30 menit sebelum batas waktu.
Hingga batas waktu hanya berkas beliau yang masuk. Sidang MPR dibuka oleh Ketua MPR, Amin Rais yang mengumumkan, “ Telah ada 3 (tiga) calon presiden yaitu Yusril Izha Mahendra , Megawati Soekarnoputri dan Gus Dur. Saya mempersilahkan calon presiden pertama untuk berbicara”. Di sidang Pak Yusril menyerah terhadap desakan rekan-rekan partainya sehingga memilih mengundurkan diri dari pencalonan dan menyerahkan suaranya kepada Gus Dur. Akhirnya Gus Dur terpilih menjadi presiden RI, meskipun tanpa ada catatan tentang berkasnya sesuai TAP MPR, hanya modal ketetapan lisan Ketua MPR saat itu. Ini juga termasuk kategori lelucon politik yang menipu rakyat.
3. Saat Juli 2001 dimana Presiden Gus Dur menjelaskan perihal pembubaran pos kementerian dihadapan DPR berujar, “Beda DPR dengan taman kanak-kanak memang tidak jelas”. Meruncingnya konflik Presiden Gus Dur dengan dua partai besar di DPR yakni Golkar dan PDIP ditandai dengan keinginannya mengeluarkan dekrit pembubaran MPR/DPR serta pembekuan Golkar. Alhasil Presiden Gus Dur terkena pemakzulan alias diberhentikan oleh MPR karena tidak mempertanggungjawabkan memorandum DPR dan memenuhi panggilan MPR. Ini termasuk kategori lelucon politik yang menghibur rakyat.
4. Saat dalam wawancara di sebuah stasiun TV pada Jum’at 19 Desember 2008, Ibu Megawati menolak tudingan bahwa dia mendongkel Gus Dur dari kepresidenan berucap:”Bagaimana mungkin saya mendongkel Gus Dur, sebab dialah yang memiliki persoalan dengan DPR. Kalau sudah menjadi wakil presiden, ya jangan berusaha menjadi presiden”. Ibu Megawati mengenang ketika dirinya didapuk oleh partai menjadi Presiden namun ketika masanya Gus Dur yang tidak punya partai malah ngotot memintanya jadi wakil presiden. Kemudian terulang kembali saat Pak Matori menjabat ketua umum PKB minta beliau menjadi wapres sampai nangis-nangis. Ini termasuk kategori lelucon politik yang menghibur rakyat.
5. Dalam pidato rakernas PDIP menjelang pemilu 2009, Ibu Megawati mengucapkan sindiran kepada Pak SBY:” Pemerintah telah menjadikan rakyat seperti permainan, yaitu yoyo yang terlempar kesana kemari. Kelihatannya indah, tetapi dasarnya membuat rakyat tak menentu hidupnya”. Sebelumnya di tahun 2008, Ibu Megawati juga pernah mengkritik pemerintah penanganan pemerintah atas pengentasan kemiskinan seperti tarian poco-poco dengan berujar:”Maju satu langkah, mundur satu langkah.Maju dua langkah, mundur dua langkah. Artinya tak pernah berangkat dari tempatnya”.
Namun kritikan segera dijawab oleh anak buah Presiden SBY dari wakil fraksi Demokrat yang menimpali:”Permainan yoyo jauh lebih baik ketimbang pemerintahan Megawati pada masa lalu yang saya umpamakan seperti permainan gasing. Yoyo khan naik turun, sedangkan gasing hanya berputar-putar saja di tempat, malah melubangi tanah hingga rusak”. Ini termasuk kategori lelucon politik yang menghibur rakyat.
6. Saat berdialog dengan pimpinan redaksi di Istana Negara pada Maret 2013, Presiden SBY menegaskan tidak mengintervensi KPK perihal kasus Pak Anas Urbaningrum dengan berujar:” Sumpah, saya tidak mungkin intervensi. Semuanya fitnah”. Adapun sebelumnya dalam lawatan ke Arab Saudi pada Februari 2013, Presiden SBY menghardik: “Saya yakin KPK, yang jadi andalan dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, tidak tebang pilih. Dari tanah yang mulia ini saya mohon kepada KPK untuk bisa segera melakukan tindakan konklusif dan tuntas terhadap apa yang dilakukan sejumlah kader PD. Kalau memang dinyatakan salah, kita terima memang salah. Kalau tidak salah, kita ingin tahu bahwa itu tidak salah. Termasuk dalam hal ini Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang diperiksa KPK dan dicitrakan publik bersalah dalam kasus korupsi, meski KPK belum menjelaskan kasus ini”. Mengaku tidak intervensi melalui pernyataan politiknya jelas memaksa penetapan, jelas intervensi. Ini termasuk lelucon politik yang jelas menipu rakyat meski tersirat.
7. Saat rapat harian partai PAN di sebuah hotel Jakarta, Pak Amien Rais menyatakan, “ Kalau lonceng kematian demokrasi terlalu tajam. Saya angkat topi terhadap 10 tahun pemerintahan pak SBY. Pak SBY jauh lebih kuat dari pemerintahan Pak Jokowi. Pak SBY dipilih 60 persen rakyat Indonesia tapi tak sedikit pun mencampuri urusan parpol”.
Padahal saat pemerintahan Pak SBY, seringkali Pak Amin Rais menyentil Pak SBY perihal dana pemilihan umum Presiden 2014 yang terkait dana non budgeter dan dana asing hingga Presiden SBY berang seraya menghardik saat pertemuan dengan wartawan di Istana Presiden pada Mei 2007, “Lebih dua setengah tahun saya emban tugas sebagai Kepala Negara. Selama ini saya terus menahan diri dan tak ingin tanggapi komentar, kecaman, serangan dengan kata-kata bahkan tindakan memperolok-olok saya oleh saudara Amien Rais di berbagai forum dan kegiatan publik”. Jelas dosen sekaligus pendiri partai PAN ini punya tendensi hanya mencari keuntungan sendiri meski tak malu menjilat ludah sendiri. Pernyataan politiknya cenderung kontroversial dianggap sebagai lelucon politik yang menipu rakyat.
8. Pada Juli 2014, sesaat selesai proses pemungutan suara pilpres melalui hasil perhitungan quick count Pak Prabowo Subianto, mantan jenderal tersebut mengumumkan kemenangan,”Kami bersyukur, kami pasangan nomor urut satu,Prabowo-Hatta, mendapat dukungan dan mandat dari rakyat Indonesia”. Namun pada akhirnya KPU menetapkan berbeda yakni pasangan nomor urut dua yang menang pilpres, Pak Jokowi dan Pak JK. Kejumawaan klaim menang pilpres dengan meyakinkan karena semua survey menyatakannya unggul. Ini merupakan lelucon politik yang menghibur sekaligus menipu rakyat di saat bersamaan.
9. Pada februari 2017 yang lalu mantan Presiden SBY galau dan berkicau di akun twitternya, “Saudara-saudara ku yang mencintai hukum dan keadilan, saat ini rumah saya di Kuningan “digrudug” ratusan orang. Mereka berteriak-teriak. Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak untuk tinggal di negeri sendiri, dengan hak asasi yang saya miliki”.
Kapolda Metro Jaya bersama dengan jajaran kapolres dan kapolsek segera langsung ke daerah Kuningan dan mendapatkan demo tidak digelar di depan rumah (menyerudug) kediaman SBY melainkan jauh sekitar 100 meter. Para pendemo bubar melarikan diri setelah polisi datang. Polisi berhasil menyita sebuah mobil Nissan Terrano yang berisi ratusan nasi bungkus untuk pendemo dengan nomor plat B 2124 ZO yang berada di lokasi dan dibawa ke Polda.
Berdasarkan penelusuran polisi, pemilik yang tercantum di Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) bernama Yus Prasanto bukan Politisi PDIP sebagaimana yang tersebar di media massa. Konon menurut netizen, pemilik mobil adalah simpatisan partai Demokrat. Lagi-lagi bila mantan Jenderal yang menyampaikan lelucon politik tentunya bisa jadi menghibur sekaligus menipu rakyat di saat bersamaan.
Demikianlah sembilan plus satu ditampilkan, kumpulan lelucon politik yang menipu maupun menghibur rakyat Indonesia. Kecenderungannya petinggi partai yang jebolan panglima militer dan cendekiawan seperti dosen memang piawai berlelucon politik yang menghibur sekaligus menipu rakyat di saat bersamaan. Kali ini dalam wacana Pemilihan Umum Presiden 2019, mereka bertiga bersatu padu menunjukkan kepiawaiannya.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar