Berita Dunia Jitu - Bali adalah sebuah pulau dimana penduduknya sebagian besar beragama hindu. Di sini Islam tidak menjadi mayoritas. Ada juga penduduk yang beragama Kristen dan Katholik, serta Buddha. Masyarakat Bali sudah sangat terkenal dengan toleransinya. Antar pemeluk agama saling menghargai dan menghormati. Jika sedang Hari Raya Nyepi, Umat Islam menghormati dengan cara tidak menyalakan lampu. Begitu pun sebaliknya. Kerukunan antar umat beragama di Bali benar-benar terjaga. Oleh karena itu, masyarakat Bali sangat khawatir jika ada oknum yang mencoba meretakan kerukunan antara agama.
FPI adalah ormas yang sering meresahkan masyarakat. Selain sering mangadakan sweeping, FPI juga terkenal dengan ormas yang membenci dan mendiskreditkan agama lain. FPI tidak bisa diajak untuk hidup bertoleransi. Bagi FPI, umat Islam lah yang harus mendapat kemuliaan di Indonesia.
Kiprah FPI sudah sangat terkenal di Indonesia. Tidak sedikit daerah yang menolak keberadaan FPI. Mereka tidak ingin kerukunan antara agama yang sudah terjalin erat menjadi tererai berai. Salah satu masyarakat yang tidak suka dengan kehadiran FPI adalah masyarakat Bali.
Wajar jika tiba-tiba ada spanduk FPI dan Rizieq, masyarakat Bali langsung resah. Sebuah sepanduk bertuliskan Front Pembela Islam (FPI) dengan gambar Habib Rizieq Syihab terpasang di depan Masjid Nurul Huda, Dusun Munduk Kunci, Desa Tegallingah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Rabu (28/6). Warga sekitar mendadak heboh dengan keberadaan spanduk itu. Sebagian besar warga mengaku sama sekali tidak tahu kapan dan siapa pemasang spanduk bergambarkan pimpinan ormas FPI tersebut.
Diduga, secara terang-terangan FPI sudah berada di Desa Tegallingah. Padahal desa ini terkenal anti dan mencibir keberadaan FPI. Aparat desa setempat langsung menyikapi keberadaan spanduk itu.
Dari hasil koordinasi sejumlah aparat desa setempat, diketahui yang memasang spanduk tersebut adalah salah seorang warga setempat berinisial MAA. Aparat Desa langsung memanggil orang itu untuk mengkonfirmasi.
“Kami minta agar pihak Desa lebih cermat, mengawasi gerak-gerik warga. Jangan sampai ini terulang karena jelas ini meresahkan warga apalagi sekarang ada isu tidak-tidak. Kami ingin di desa kami kondusif, itu saja, tidak ada ini itu lagi,” ucap salah seorang warga yang ikut menyaksikan rembug permasalahan ini di rumah Kedus Munduk Kunci, Mustakim.
Sementara Perbekel Desa Tegallinggah, Ketut Mudarna mengaku sangat menyayangkan pemasangan spanduk FPI di wilayahnya. Dia berharap kejadian ini tidak terulang lagi.
“Kami menyayangkan adanya spanduk itu, kami mengajak dan mendukung program pemerintah untuk tidak ada kegiatan ormas-ormas yang merusak persatuan dan kesatuan,” kata Mudarna.
Mudarna menuturkan, pemasangan spanduk itu tanpa izin dari pihak Desa. Diduga dilakukan diam-diam pada pagi hari. Untuk itu, pihaknya sudah memanggil salah seorang warga yang terbukti memasang spanduk FPI di Desanya.
“Saya hanya ingin, desa kami kondusif, itu saja. Makanya, jangan sampai gara-gara kelakuan satu orang yang telah melakukan aksi ini, akan merembet ke yang laim dengan melibatkan berbagai pihak. Kami berharap, hal ini tidak terulang lagi.” ujar Mudarna.
Penasehat Cakra Murti yang juga Masyarakat Peduli Buleleng, Gusti Nyoman Widnyana yang hadir dalam rembug itu mengharapkan, pengurus masjid dan pengurus desa bersama-sama menjaga wilayah dengan tidak membiarkan warganya melakukan kegiatan yang bisa merusak kerukunan warga..
Dia juga meminta aparat kepolisian cepat tanggap menyikapi hal imi. Tujuannya, untuk menjaga ketertiban wilayah. “Jujur saja, karena dimana pun ormas FPI itu sudah dicap garis keras. Sebagian warga muslim Tegal Linggah pun tidak setuju dengan adanya ormas ini. Saya minta, semua pihak tegas, termasuk Polisi,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk menimbulkan keresahan di warga Desa Tegallingah, spanduk yang bergambar Logo FPI dan Habieb Rizieq akhirnya diturunkan oleh warga setelah dilakukan koordinasi dengan pengurus PHBI dengan Takmir Masjid Haji Anas dan Ketua Panitia Pelaksana penyambutan Hari Raya Idul Fitri, serta pengurus masjid Nurul Huda.
Sikap yang saya rasa luar biasa diperlihatkan masyarakat Bali. Tidak hanya non-muslim yang menolak spanduk FPI, bahkan umat Islam sendiri juga menolak. Umat muslim Bali tentu menyadari bahwa selama ini kerukunan antar umat beragama sudah sangat terjalin erat. Hal-hal yang berpotensi memicu keretakan antar umat beragama harus dibasmi. Jangan sampai muncul benih-benih keretakan. Terlebih, mereka telah hidup rukun bersama sejak lama. Umat muslim Bali jelas tidak akan mengorbankan kerukunan yang telah terjalin kuat.
Namun fakta munculnya spanduk FPI menunjukkan bahwa simpatisan-simpatisan FPI sudah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan ingin menyebarkan paham radikalisme yang dibawa FPI. Tujuan pemasangan spanduk di FPI tentu saja untuk membuat kersahan. Terlebih Bali adalah pulau yang penduduknya beragama Hindu serta banyak tempat-tempat hiburan. Sangat mungkin Bali menjadi sasaran dakwah FPI.
Mudah-mudahan sikap masyarakat Bali diikuti oleh masyarkat di daerah-daerah lain. Jangan ragu untuk menolak ormas yang hanya akan meretakan hubungan antar umat beragama.

Tidak ada komentar:
Write komentar