Kamis, 15 Juni 2017

TNI Yang Bekerja Sama Dengan Kelompok Bela Islam Harus Ditindak

TNI Yang Bekerja Sama Dengan Kelompok Bela Islam Harus Ditindak

Berita Dunia Jitu - Pada tahun 2016 saya mengobservasi secara ekstensif satu media yang bisa memberikan gambaran penuh mengenai aktivitas politik dan sosialisasi mereka, yakni Twitter. Saya tahu banyak sekali sosial media digunakan secara aktif oleh masyarat Indonesia dan Facebook menjadi salah satu media favorit untuk mendapatkan berita, twitter menjadi salah satu pemegang data indikator yang paling akurat ketika kita mengamati hal yang sangat kompleks seperti politik. Hal ini karena pertama, Twitter memiliki format micro blogging dimana masyarakat bisa mengepost berita-berita dan opini singkat. Data twitter lebih mudah dikuantifikasi dan dianalisis, seperti contohnya untuk menganalisis persoalan seperti kemacetan dan bencana. Kedua karena format Twitter jauh lebih terbuka dibandingkan format sosial media lainnya seperti Path, Instagram atau bahkan facebook. Ketiga karena Indonesia merupakan salah satu pengguna twitter terbesar saat ini, semua kalangan kini sudah mengakses twitter, jika dibandingkan 5-8 tahun lalu, dimana Twitter dan sosial media lainnya lebih banyak diakses kalangan muda, sehingga jangkauan untuk mengambil sample suara, kini lebih luas dan obyektif.
Tentu karena karena keterbukaan dan akses yang mudah dari Twitter memicu tindakan-tindakan yang menyimpang seperti penggunaan buzzer dan penyebaran hate speech yang bisa mengaburkan kesimpulan yang obyektif, namun ketika ditelusuri sebenarnya kelompok buzzer seperti ini sangat efektif dalam mengatur narasi dan suara politik. Ini cukup terbukti pada kemenangan Trump pada Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016 dan kemenangan Anies Baswedan dalam Pilkada DKI 2017. Keduanya merupakan calon yang memiliki kaum buzzer yang terkuat. Selain itu Pemilu Presiden 2014 juga demikian, hanya saja dulu, pasukan buzzer tidak disertai dengan menjamurnya berita online palsu dan tidak seorganisir seperti tahun ini. Namun ada kelemahan pasukan buzzeryang berbayar ini, terutama jika mereka dipegang oleh kelompok yang intellektualnya rendah, mereka sangat mudah ditebak dan kita bahkan bisa melihat siapa-siapa dalang dibaliknya.
Buzzer dimana-mana memang cukup seragam, dari atribut seperti profile picture, teknik dan pesan yang disampaikan, semua memiliki karakteristik yang sama. Beribu-ribu followers palsu yang sebenarnya saling berkaitan, dan cara-cara menyimpang agar topik mereka menjadi trending. Kita semua sudah tahu akan itu, terutama buzzer-buzzer yang membawakan atribut agama seperti yang terjadi pada pasukan bela Islam. Namun terdapat anomali yang cukup aneh pada seminggu menjelang setiap serangkaian aksi yang terjadi di jakarta yakni bagaimana buzzer-buzzer ini selalu membenci TNI dan membenci Polri. Tentu ini cukup aneh, karena TNI dan Polri seharusnya memiliki keberpihakkan yang sama. Tugas mereka seharusnya melindungi masyarakat dan bergerak sama-sama dibawah Presiden, namun mengapa kelompok bela Islam ini seolah-olah merasa sudah berada dibawah perlindungan TNI, walaupun mereka merusak fasilitas, rusuh dan menyebarkan kebencian yang mengancam persatuan NKRI? Dan mengapa seolah-olah agenda Bela Islam untuk memecah NKRI seolah-olah menjadi suatu yang didukung TNI atau paling tidak sang Panglima TNI Gatot Nurmayanto? Anda bisa melakukan search sekarang di Twitter sendiri, cari buzzer, saya yakin anda akan menemukan sejumlah pesan pesan ini.
Saya memiliki rasa hormat yang tinggi pada seluruh aparat hukum di Indonesia, baik itu Polri maupun TNI, namun pada serangkaian Bela Islam kemarin banyak sekali terjadi keanehan-keanehan, terutama mengenai pertarungan elit politik di Indonesia. Semua pihak dari peniliti dan juga masyarakat sudah menuliskan analisis, opini dan spekulasi mereka secara menyeluruh, hingga terjadi kesimpulan bahwa aksi tersebut bukan hanya mentargetkan Ahok tapi juga makar untuk Jokowi yang saya sebenarnya percaya penuh. Berbagai media-media opisisi, termasuk yang disebarkan oleh pihak Bela Islam selalu menjatuhkan isu bahwa mereka berambisi untuk menjatuhkan Jokowi, namun kembali pada anomali TNI lagi, ini bukanlah isu sepele yang bisa disebarkan begitu saja tanpa tanggung jawab. Rasa keberpihakkan kelompok-kelompok seperti FPI kepada TNI seharusnya TIDAK DIWAJARKAN oleh siapapun di Indonesia. Laporan dari CNN Indonesia sudah membahas mengenai masalah ini ketika Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak Letkol Czi Ubaidillah  melakukan pelatihan untuk kelompok FPI di Lebak, Banten.
Perselingkuhan TNI dengan kelompok Bela Islam ini akan, atau bahkan sudah berimplikasi kemana-mana, termasuk kembali, ketika kelompok bela Islam merasa terlindungi karena keberpihakannya dengan TNI. Mereka merasa sudah merasa diatas masyarakat, bahkan diatas otoritas aparat hukum seperti Polri. Mereka merasa bebas untuk merusak fasilitas dan menyuarakan kebencian yang berpotensi memecah NKRI. Sebaliknya, TNI juga memiliki hubungan dan juga pembelaan yang aneh pada kelompok Bela Islam. Coba pantau saja statement-statement media sayap islami seperti Republika dan media online palsu (fake news) yang berbau Islam lainnya terhadap TNI. Pastinya banyak sekali headline-headline yang cukup menyimpang, bias dan penuh distorsi, terutama dalam mendeskripsikan TNI dengan nada yang lebih positif. Jika dibadingkan dengan Polri, headline media dan buzzer Bela Islam selalu keras, direct dan cenderung datar. Indikasi dari media dan buzzer semua menandakan hubungan yang sangat tidak sehat antara aparat hukum dan golongan masyarakat.
Saya memilliki berberapa anggota keluarga, tetangga dan teman-teman yang berasal dari kalangan TNI, sehingga saya punya kehormatan yang tinggi terhadap badan ini, namun tidak bisa dpungkiri TNI memiliki sejarah pahit yang cukup panjang. Pertama karena TNI merupakan salah satu alat terkuat untuk mempertahankan rezim kediktaktoran Soeharto selama 30 tahun. TNI melakukan berbagai aksi yang melanggar HAM di Aceh, Timor Timur dan juga pada masyarakat Tionghoa pada tahun 1998, ini semua fakta yang tidak tidak bisa dihindari. Disatu sisi, TNI mendapatkan hormat yang cukup besar dari masyarakat, namun disisi lain kita semua tahu dibalik itu semua, TNI masih dijadikan alat yang efektif bagi kaum elit politik untuk melakukan kejahatan terhadap masyarakat. Ketika ada sosok seperti Gatot Nurmayanto muncul begitu vokal dan isunya beliau akan dijadikan ganjelan presiden setelah menjatuhkan Jokowi, seluruh rakyatpun sebenarnya sudah sadar dimana agenda ini akan dibawa melalui faksi-faksi TNI tertentu yang diperalat elit. Jika bukan karena badan intelijen yang dikepalai Polri memperingatkan Jokowi mengenai isu makar sebelum aksi terjadi, situasi bisa menjadi lebih parah lagi.
Masyarakat kini sudah semakin pintar dan terbuka, media juga semakin terbuka, terutama media online yang sudah tersebar luas membuat kita semua bisa kritis dan sadar dengan cepat. bahkan dengan Buzzer pun, kita tahu yang kelompok mana berada dibelakang siapa dan dengan kepentingan apa. Kemenangan Anies Baswedan bukan berarti kemenangan bagi para elit, namun justru kepasrahan bagi para elit dan kelompok Islam oportunis. Mereka bahkan harus membawa tokoh-tokoh yang melacurkan agama Islam seperti Habib Rizieq untuk memecah bangsa dan mencari kepentingannya. Mereka membuat sosok-sosok seperti SBY dan Gatot Nurmayanto seperti lelucon. Maka kini saya minta bagi TNI untuk kembali merefleksikan diri, sebagai badan yang terhormat, sebagai angkatan yang telah bersumpah untuk melindungi warga negaranya, bukan berpihak pada satu golongan masyarakat saja dan tidak hanya dijadikan alat oleh sekelompok elit kecil, untuk kembali mempertegas aliansinya. Kembalilah pada masyarakat dan negara. Kembalilah menjalin hubungan kemanusiaan dengan seluruh warga di negara kita, kembalilah dalam melayani presiden kita semua.
Saya tahu hubungan TNI cukup kompleks jika dihadapi oleh elit-elit besar yang sama-sama berada di TNI seperti SBY ataupun partai Golkar yang sama-sama memiliki sejarah menguasai rezim otoriter yang panjang, namun sebagai sebuah badan besar yang tetap miliki otonomi dan tanggung jawab terhadap keputusannya sendiri. Mohon ingatlah siapa yang akan anda harus lindungi dan siapa yang selalu mendukung anda secara material dan juga moral. Kami sebagai masyarakat akan selalu bekerja keras untuk membangun negara. Pajak dan pemasukkan negara dari dagang, ekspor impor yang semua mendukung TNI, merupakan hasil kerja keras kita semua. Pemimpin-pemimpin yang selalu pro pembangunan seperti Jokowi dan Ahok, sudah berupaya terus dalam meningkatkan dana dan fasilitas militer. Sehingga kami mohon, dalam pertarungan militer dan politik, tindaklah tegas sosok-sosok korup, boneka, munafik nan pemecah bangsa seperti Gatot Nurmayanto ataupun Letkol Czi Ubaidillah. Berhentilah menebarkan statement-statement yang ambigu mengenai isu-isu yang berkaitan dengan FPI. Rakyat pasti akan tahu.
Saya ingin mengulang pesan untuk kembali pada masyarakat. Saya tahu jika mayoritas institusi dan badan negara masih kurang melakukan pendekatan pada masyarakat. setiap upaya sosialisasi, program kerjasama dan proyek-proyek lainnya belum terlalu terbuka. Permasalahan keterbukaan merupakan salah satu aspek yang menurut saya membuat TNI dan badan lainnya lebih mudah diperalat oleh elit, terutama oknum-oknum tertentu yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi untuk terlibat dalam intrik politik yang melayani kepentingannya sendiri. Masyarakat dulu hanya bisa mengikuti arahan otoritas yang ada, namun kini masyarakat sudah lebih tahu akan tanggung jawab setiap badan dan institusi, masyarakat tahu bagaimana penggunaan etika kekuasaan dan masyarakat juga lebih tahu bagaimana kekuatan mereka sebagai rakyat ada pada badan-badan dan institusi seperti TNI.
Sebagai penutup saya harap bagi siapapun yang memiliki keluarga di TNI untuk menyebarkan pesan-pesan yang ada di tulisan ini. Indonesia bukan hanya terdiri dari kelompok Bela Islam dan elit-elit politik yang memperalat mereka saja. Mayoritas masyarakat sudah berkomitmen untuk NKRI harga mati, TNI merupakan salah satu pilar penting dalam menjaganya. Gabungan elit-elit korup beserta kelompok agama ini sudah jelas-jelas tidak melayani kepentingan NKRI, seharusnya TNI dari awal sudah mampu melepas diri atau paling tidak mendeteksi biang masalahnya dari dalam. Saya menyarankan mulai dari kejujuran dan menegaskan kembali komitmen TNI kepada masyarakat di media, keluarkan statement resmi yang mempersatu, selama ini semua berita dan statement-statement mengenai TNI terkubur oleh Pak Gatot Nurmayanto. Beliaulah kenyataannya mewakili suara TNI di media online saat ini pada masyarakat awam yang menurut saya tidak mencerminkan fakta dan suara-suara TNI yang sebenarnya. Untuk itu saya juga ingin sekali agar TNI menindak tegas Pak Gatot Nurmayanto yang mendukung kelompok pemecah NKRI. tuduhan penghianatannya terhadap presiden ketika ada isu makar. ditambah lagi upayanya dalam memulai kampanye Presiden tiga tahun terlalu dini,

Tidak ada komentar:
Write komentar