Berita Dunia Jitu - Lagi, kita dikejutkan dengan berita terorisme. Aksi terorisme masih saja membombardir dan mengacak-acak hati nurani kita. Setelah beberapa waktu lalu aksi terorisme terjadi di Terminal Kampung Melayu, kini serangan teror terjadi di Inggris. Sedikitnya enam orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan teroris di dua lokasi yang menjadi ikon kota London.
Serangan yang terjadi pada Minggu (4/6/2017) di London Bridge dan Borough Market itu disebut polisi sebagai aksi teror. Dua serangan itu diduga sebagai serangan yang terkoordinasi di selatan Sungai Thames. Polisi juga memastikan serangan di dua ikon kota London itu tidak ada kaitannya dengan penusukan di Vauxhall.
Kini, terorisme sudah menjadi musuh besar umat manusia di bumi. Terorisme bukan hanya aksi teror semata, namun pada kenyataannya tindak kejahatan terorisme juga melanggar hak asasi manusia sebagai hak dasar yang secara kodrati melekat dalam diri manusia, yaitu hak untuk merasa nyaman dan aman. Selain itu, terorisme juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada harta benda. Tindak kejahatan terorisme juga merusak stabilitas negara, terutama dalam sisi ekonomi, pertahanan, dan keamanan.
Sementara itu, secara sosiologis, tindak kejahatan terorisme merusak nilai spiritual dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Ironisnya, mereka menggunakan dalil agama sebagai pembenaran terhadap tindakan teror tersebut. Padahal, tidak ada agama apapun di manapun yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan dan membunuh rakyat yang tidak berdosa. Justru dengan melakukan aksi terorisme, pelaku malah mencoreng dan menodai agamanya.
Hal inilah yang mendasari pentingnya menyelesaikan permasalahan terorisme secara tuntas. Terorisme kian jelas menjadi momok dan ancaman bagi peradaban manusia. Apalagi, motif dan metode yang digunakan kini semakin bervariasi, sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia.
Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jutaan generasi muda kehilangan harapan masa depannya. “Kondisi ini membuat anak-anak muda frustasi dan marah. Rasa marah dan frustasi ini dapat berakhir dengan muculnya bibit-bibit baru ektremisme dan radikalisme,” kata Presiden.
Presiden lantas menyampaikan empat pemikirannya. Pertama, umat Islam se-dunia harus bersatu untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah. “Persatuan umat Islam merupakan kunci untuk keberhasilan memberantas terorisme; janganlah energi kita habis untuk saling bermusuhan,” ujar Presiden.
Kedua, kerja sama pemberantasan radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan, termasuk pertukaran informasi intelijen, pertukaran penanganan FTF (Foreign Terrorist Fighters), dan peningkatan kapasitas. “Semua sumber pendanaan harus dihentikan. Kita semua tahu banyaknya dana yang mengalir sampai ke akar rumput di banyak negara dalam rangka penyebaran ideologi ekstrem dan radikal. Semua aliran dana harus dihentikan,” tutur Presiden.
Ketiga, upaya menyelesaikan akar masalah harus ditingkatkan, ketimpangan dan ketidakadilan harus diakhiri, dan pemberdayaan ekonomi yang inklusif harus diperkuat “Terakhir, saya berharap bahwa setiap dari kita harus berani menjadi “part of solution” dan bukan “part of problem” dari upaya pemberantasan terorisme. Setiap dari kita harus dapat menjadi bagian upaya penciptaan perdamaian dunia,” ujar Presiden.
Sudah saatnya kita bersatu padu melawan aksi terkutuk terorisme. Kerjasama masyarakat internasional sangat diperlukan dalam menanggulangi dan melawan aksi busuk ini. Aksi terorisme bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan selalu bersikap waspada. Jangan sampai panik dan melakukan hal irasional manakala di lingkungan kita terdapat orang yang dicurigai sebagai pelaku terorisme.
Sumber

Tidak ada komentar:
Write komentar