Berita Dunia Jitu - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab rupanya tidak seburuk yang kita pikirkan. Bayangkan saja, di tengah pelariannya ke Arab Saudi, dia masih bisa menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia. Kita harus menghargai kepedulian Rizieq Shihab ini. Kita harus berhenti melakukan bullying kepada Rizieq Shihab. Sebagai pihak yang dipikirkan, sudah selayaknya kita juga menunjukkan kepedulian yang sama kepada Rizieq Shihab dengan cara menjawab pesan-pesan yang disampaikan oleh dia.
Ketua Fraksi PKS dalam lawatannya ke Mekah, Arab Saudi menjumpai sang Habib dan menyampaikan 3 pesan dari Rizieq. Halah palingan juga pesannya tidak penting. Apa saja pesan tersebut dan bagaimana sebaiknya kita memberikan jawaban yang “hangat” kepada Rizieq Shihab?
Pesan pertama dari Rizieq Shihab yaitu tegakkan supremasi hukum di Indonesia dengan adil.
Jawaban untuk pesan pertama dari Sang Habib sebaiknya diawali dengan sebuah pertanyaan. Akankah supremasi hukum akan tegak dengan adil seadil-adilnya jika seorang yang dinyatakan sebagai tersangka malah melarikan diri keluar negeri dan tidak memenuhi panggilan aparat yang berwajib? Supremasi hukum di Indonesia tak akan pernah tegak jika ada warganya yang tidak taat hukum dan justru menghindari proses hukum dengan mengatasnamakan kriminalisasi.
Supremasi hukum justru hanya akan tegak jika banyak warga negara bersikap seperti Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut rela memenuhi panggilan polisi meskipun banyak pihak yang mengatakan dia tidak menistakan agama Islam dan Al Quran. Sedangkan Rizieq sendiri yang jelas-jelas menghina ideologi Pancasila dengan olok-olok Pantat Cina mangkir dari panggilan polisi.
Sidang Ahok yang berangkai dihadiri oleh yang bersangkutan dengan sikap yang kooperatif. Rizieq, jangankan datang sidang, dipanggil Polisi saja ngacir keluar negeri. Maka, supremasi hukum apa yang diharapkan oleh Rizieq? Pasti supremasi hukum versi Rizieq yang meloloskan dia dari hukuman yang mesti diterimanya. Hahaha..
Pesan kedua dari Rizieq Shihab yaitu waspada dengan gerakan komunis dan kebangkitan PKI.
Jawaban untuk pesan kedua dari sang Habib bisa ditanggapi dengan agak alay. Helloww… Hari gini masih mimpi sama kebangikan PKI dan komunisme. Nggak nyambung keleus. Presiden Jokowi saja sudah tegas mengatakan bahwa siapapun yang menemukan benih-benih komunisme dan bisa menunjukkannya di depan wajah Presiden, langsung Gebuk saja. Tidak ada kompromi. Apa yang disampaikan oleh Rizieq bisa menimbulkan sebuah asumsi bahwa mungkin Jokowi tidak serius dengan pemberantasan komunisme.
Penulis ingin bertanya kepada para pembaca, apakah pembaca (yang merasa kelompok sapi-sapian tidak usah menjawab) merasa pernah menemukan organisasi PKI melakukan kegiatan-kegiatan yang diketahui publik secara terang-terangan seperti menyelenggarakan konser bareng Raisa, bagi-bagi takjil selama Ramadhan, atau bedah film bersama. Kalau pernah, coba ingat-ingat lagi, itu sungguh kenyataan atau halusinasi? Di negara-negara haluan komunisme saja, ideologi ini sudah tercampur dengan kapitalisme. Masa di Indonesia yang mana PKI dan komunisme pernah dihajar habis-habisan bisa tumbuh subur dan berbunga-bunga. Kan konyol itu. Sudahi halusinasi itu. Ayo waras.
Pesan ketiga dari Sang Habib yaitu dia sehat dan tetap semangat.
Pesan yang ini sebaiknya dijawab dari pengalaman penulis soal sehat dan semangat. Teman penulis pernah bilang “Kalau kamu belum menghadapi hal-hal yang sulit, semangatmu patut dipertanyakan.” Kali ini, kita harus berpikir bersama dan membuktikan bersama semangat Rizieq Shihab. Bagaimana kalau dia diajak pulang ke tanah air dengan paksa. Bagaimana kalau dia diajak pulang ke tanah air untuk meneruskan proses hukumnya. Apakah masih sehat dan semangat? Kalau masih, maka kesehatan dan semangat dari Sang Habib layak diacungi jempol dan diapresiasi.
Tahukah habib bahwa kami semua merindukan semangatmu persis ketika engkau orasi saat aksi-aksi yang berjilid itu? Kemana engkau sekarang? Laskar-laskarmu pasti menantikan kehadiranmu dengan penuh semangat. Kami pun sangat rindu dengan omongan-omongan kasar ceramah-ceramahmu. Apakah kau masih menjadi raja singa seperti dulu bib? Ayo bib, jawab, jangan diam saja. Nanti aku aduin ke Kak Emma lho.
Apa kami harus menyanyi “Cepat pulang. Cepat kembali jangan pergi lagi…” ~
Tidak ada komentar:
Write komentar