Kamis, 15 Juni 2017

Jangan Menabung Lagi, Ini Sebagai Gantinya

Jangan Menabung Lagi, Ini Sebagai Gantinya

Berita Dunia Jitu - Masyarakat Indonesia memang gemar menabung, meski banyak pakar dan konsultan finansial terus menggembar-gemborkan bahwa menabung itu sebenarnya banyak ruginya. Sampai-sampai tokoh sekaliber R.Buckminster Fuller berkata,”Kekayaan kita dicuri melalui uang kita. Mengapa menabung uang?” Fuller jelas tidak senang dengan yang namanya menabung.
Menabung di bank memang mendapatkan bunga. Namun apa daya, masyarakat kita tak banyak yang tahu, meski ada bunga tabungan, uang kita sebenarnya menyusut.. Banyak dari kita hanya sadar sebatas sadar di bibir kalau bunga untuk tabungan itu memang terlalu kecil.
Inflasi adalah pencuri nilai uang kita. Inflasi lebih tinggi dari bunga tabungan. Inflasi menggerus nilai uang kita. Bunga tabungan terlalu kecil jika dibandingkan dengan inflasi. Uang kita secara nominal memang tidak berubah, tetapi nilai uang merosot seiring dengan pergantian waktu. Tak hanya merosot, kita sejatinya malah minus.
Karena itu syair lagu lawas milik penyanyi kondang Titik Puspa yang berjudul “Menabung” itu sudah tidak relevan lagi. Lagu itu relevan pada zamannya agar orang gemar menabung, tetapi jelas “menipu” untuk zaman ini.
Bing beng bang yok kita ke bank/Bang bing bung yok kita nabung/tang ting tung hey jangan dihitung tau tau nanti kita dapat untung”. Ending syair ini tidak mengenakkan: tau-tau dapat untung, tapi nyatanyabuntung. Lagu yang sempat dipopulerkan oleh Saskia dan Geofani ini relevan di zamannya, tetapi tidak hari ini. Oleh sebab itu, kalau perlu syair itu dikonstruksi secara baru dengan platform modern.
Anak-anak pun tahu kalau menabung itu banyak potongannya dan ada biaya administrasi ini-itu serta bunga kecil yang sejatinya tergerus inflasi. So, don’t let inflation eats your money!
Namun pertanyaannya kini: kenapa masyarakat kita terlalu nyaman dengan budaya menabung? Terbukti, tingkat inklusi jasa perbankan mencapai 63,63 persen, sedangkan pasar modal baru di angka 1,25 persen. Orang masih nyaman dengan tabungan dan produk peranakan perbankan.
Para pakar finansial lantas banyak bicara soal solusi pemaksimalan saldo dengan hasil yang melebihi bunga tabungan hingga deposito. Sayangnya, mereka tak mencoba menelaah soal keengganan masyarakat meninggalkan budaya menabung dari pespektif dari yang biasanya.
Sosiolog Emile Durkheim pernah mengelaborasi kasus semacam ini dengan pendekatan fakta sosial. Dalam kerangka berpikir seperti inilah penulis berusaha menyibak keengganan masyarakat beranjak dari budaya menabung ke platform modern yang lebih bisa memaksimalkan hasil saldo.
Dalam pandangan Durkheim fakta sosial tidak sama dengan konsep fakta yang dipahami oleh orang awam (orang kebanyakan).
Dalan hidup sehari-hari fakta terkait dengan semua yang tampak dan ditangkap pleh pancaindra (empiris). Namun, fakta sosial ala Durkheim dipahami sebagai semua cara bertindak, berpikir, dan merasa yang ada di luar individu, bersifat memaksa dan umum.
Budaya menabung dalam konteks fakta sosial tak terkait dengan kepentingan dan motif individu yang memang ingin menabung. Kepentingan dan motif merupakan sesuatu yang bersifat internal dari seorang individu, sedangkan gemar menabung sebagai fakta sosial sifatnya eksternal dan memaksa sebagai hasil proses sosialisasi.
Menabung sebagai hasil proses sosialisasi, selain melalui lagu-lagu seperti karya Titik Puspa di atas, juga internalisasi pentingnya menabung dalam keluarga dan sekolah seperti keharusan menyisihkan uang jajan di celengan atau sepotong ruas bambu. Sosialisasi melalui dunia pendidikan dan keluarga ini sukses benar.
Sifat memaksa pun terlihat dari stigma yang dikenakan oleh masyarakat kepada seseorang yang merasa, bertindak dan berperilaku yang tidak sesuai dengan fakta sosial. Kalau tidak menabung, stigma yang melekat adalah pemboros. Internalisasi sukses besar, meski tentu membutuhkan waktu dan tak semudah membalik telapak tangan.
Jalan serupa harus dijalani untuk memoncerkan pemaksimalan hasil saldo. Internalisasi melalui sosialisasi masif perlu dicanangkan di keluarga dan dunia pendidikan agar orang meninggalkan budaya menabung.
Beragam perusahaaan jasa keuangan kini terus bermunculan seiring dengan perkembangan teknologi. Platform-platform keuangan yang mampu meningkatkan saldo bermunculan, termasukplatform yang baru-baru ini diluncurkan bernama IPOTPAY.
IPOTPAY hadir dengan fitur-fitur unggulannya mulai dari pembayaran, pembelian, transfer uang,smart calendartop up e-wallet, mutasi saldo, histori transaksi hingga pengaturan savings.
IPOTPAY memaksimalkan hasil saldo nasabah dengan fleksibilitas tanpa batas melalui layanan penempatan dana secara otomatis di reksadana pasar uang dengan hasil setahun terakhir di kisaran 7-9% per tahun (gross).
Sejauh penulis amati, variasi platform ini cukup unik dan bisa menjadi tambatan baru setelah meninggalkan budaya menabung. So, jangan menabung lagi. Don’t let inflation eats your money!

Tidak ada komentar:
Write komentar