Berita Dunia Jitu - Gunung Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, meletus dua kali pada Minggu (4/6/2017). Gunung yang memiliki ketinggian 2.891 mdpl itu mengeluarkan material debu vulkanik yang bertiup ke arah timur.
Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi Sumbar di Bukittinggi mencatat letusan pertama terjadi pada 10.01.36 WIB. "Letusan pertama mengeluarkan asap warna abu-abu tebal, tekanan lemah, dengan amplitudo enam milimeter dan lama gempa 35 detik," kata Petugas Pos PGA Marapi, Hartanto, dilansir Antara.
Ketinggian asap di letusan pertama diperkirakan mencapai 300 meter. Selanjutnya letusan ke dua terjadi pada pukul 10.22.41 WIB mengeluarkan asap warna abu-abu tebal dengan ketinggian mencapai 700 meter.
"Letusan yang ke dua tampak lebih besar karena pengaruh hembusan angin dan bertiup ke arah timur atau arah Kabupaten Tanah Datar," katanya.
Letusan ke dua tercatat gempa dengan lama 22 detik dengan amplitudo empat milimeter dan tekanan lemah. Kemudian pada pukul 10.50.32 WIB terjadi hembusan dengan asap berwarna putih ketinggian 100 meter dan tidak ada seismik.
"Letusan yang terjadi adalah wajar karena status Waspada," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulisnya.
Dia mengatakan tidak ada peningkatan status gunung api. Statusnya Waspada (level II) sejak 3 Agustus 2011 hingga saat ini. Meski demikian masyarakat di sekitar Gunung Marapi dan wisatawan diimbau tidak mendaki Gunung Marapi pada radius 3 kilometer dari kawah atau puncak.
Sejauh ini ini tidak ada pengungsian. Permukiman masyarakat berada di luar dari radius 3 kilometer sehingga kondisinya aman yang tidak perlu mengungsi.
"Erupsi ini termasuk tipe vulkanian kecil berupa lontaran bom vulkanik yang menyebar sekitar kawah, juga disertai kepulan abu hitam tebal yang menyebar sesuai arah angin. Erupsi ini merupakan ciri khas Marapi yang jarang disertai awan panas dan letusan berlangsung dalam waktu singkat," kata Sutopo.
Sementara itu empat Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terkena dampak dari semburan abu vulkanik akibat erupsi. Keempatnya adalah Batipuh, Pariangan, Sungai Tarab, dan Salimpaung.
Camat Pariangan, Suhardi menyampaikan sebagian wilayahnya terkena semburan abu vulkanik namun warga tetap beraktifitas seperti biasa karena "kapundan" (sebutan warga atas abu vulkanik) sudah hal biasa bila Gunung Marapi mengalami erupsi.
"Kita tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menggunakan penutup hidung bila beraktifitas di luar rumah," katanya.
Hal senada juga disampaikan Wali Jorong Babusalam, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Bonar Winata, di mana wilayahnya juga terdampak abu vulkanik, namun warga tidak panik dan tetap beraktifitas seperti biasa.
Salah seorang warga Nagari Koto Tuo, Kecamatan Salimpaung, Azwarman mengatakan bahwa rumahnya dan rumah warga sekitar juga terkena abu vulkanik Gunung Marapi. Namun abu namun tidak begitu tebal sehingga belum mempengaruhi aktifitas sehari-hari.

Tidak ada komentar:
Write komentar