![]() |
Berita Dunia Jitu - Kemarin polisi menggerebek percetakan yang diduga mencetak buku yang isinya mengenai paham ISIS. Penggerebekan ini menurut kabar berita adalah merupakan pengembangan kasus serangan ke pos jaga Mapolda Sumut
Dari percetakan itu polisi kemudian menemukan sekitar 155 buku tulis tentang doktrin terhadap anak yang isinya diduga mengandung paham ISIS. Baca: Percetakan Buku ISIS?
Anak-anak menjadi sasaran utama pembentukan paham radikal. ISIS yang sudah berpengalaman merekrut anak-anak dan remaja, tentu sangat tau dan paham betul soal menyebar pemahaman mereka lewat buku anak. Pintu masuk paling moncer tentu saja lewat pendidikan. Dampaknya baru akan terasa beberapa tahun dari sekarang. Tetapi kualitas dampaknya akan sangat dahsyat, calon-calon martir bom bunuh diri lahir, menjadi senjata ampuh ISIS.
Sudah sejak beberapa tahun lalu ajaran-ajaran mengandung paham radikal masuk ke Indonesia. Sasarannya adalah anak-anak. Sejumlah buku pendidikan agama dan budi pekerti yang berisi paham radikal bahkan sudah beredar di beberapa SMA, utamanya di JABAR. Orang tua murid ada yang sudah menemui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar untuk menindaklanjuti ke beradaan buku – buku ini. Kenapa? Karena memang bahaya dan kita tak boleh anggap enteng.
Muatan pada buku tersebut jelas-jelas akan berdampak pada intoleransi kehidupan antarumat beragama. Apa sikap anak-anak ini ketika beranjak dewasa dan mengetahui bahwa di luar diri mereka ada banyak kawan mereka yang menganut sikap keagamaan yang berbeda?
Bibit radikalisme tak akan nampak sebelum dia tumbuh lalu bersemi. Banyak di antara kita yang masa bodoh dan diam saja, menunggu sampai semuanya telah terlambat. Menunggu sampai anak-anak kita sudah mahir teriak “bunuh…bunuh….” sebegitu mudahnya. Dan ini fakta. Kita terlenap pada kekurangpahaman dan ketidakmengertian terhadap ancaman. Bibit radikalisme tak seharusnya kita biarkan tumbuh.
Bibit yang mulai tumbuh sudah nampak pada saat satu hari sebelum sidang terakhir Ahok. Dalam sebuah pawai obor, terdengar suara nyanyian datang dari sekelompok anak kecil yang menyanyikan “….Bunuh Ahok….Bunuh Ahok….” hal mana sangat menyedihkan dan mengerikan karena anak kecilpun sudah diajari untuk membunuh.
Penyebaran paham radikalisme tak boleh dianggap enteng. Mereka bekerja dalam senyap, namun gerakan serta pola mereka efektif. Masuk dalam buku pelajaran dan menyusup ke dunia pendidikan adalah sebuah strategi jitu. Meminjam judul lagunya Elvis Presley, It’s now or never….. Bagi mereka sekaranglah waktunya atau tidak sama sekali. Bagi kita, sekaranglah waktunya untuk menghentikan mereka atau terlambat sama sekali.
Mulai sekarang dan ke depan, pemerintah Indonesia dibawah komando Presiden kita yang hebat (bagi yang nggak mau mengakuinya silakan ke laut saja…..nanti ditenggelamkan Bu Susi di sana) Jokowi harus benar-benar fokus untuk soal satu ini.
Dalam membuat buku ajar agama, sudah seyogianya pemerintah melibatkan tokoh-tokoh agama yang posisinya jelas. Kalau buku-buku yang mengandung paham radikalisme yang sudah beredar itu meskipun dikeluarkan oleh Kemendikbud, tidak jelas siapa kontributornya dan sejauh mana pemahaman agamanya, kan begitu. Menurut saya Kemendikbud kecolongan ini, dan itu sudah sejak beberapa tahun lalu. Entah siapa Mendikbudnya kala itu. Males saya cari tau, coba Anda pembaca telusuri saja sendiri.
Seorang penulis buku ajar tidak boleh orang sembarangan, tetapi harus yang tahu perkembangan siswa dan memiliki filsafat yang baik. Pasalnya, jika penulis buku ajar salah menuliskan dan itu diajarkan kepada siswa, maka untuk memperbaikinya akan sangat sulit. Tidak hanya soal penilaian dan pengawasan terhadap buku ajar yang harus diperketat, tetapi sebuah buku ajar, apalagi yang mengenai keyakinan harus juga punya standar jelas dalam pembuatannya dan siapa yang membuatnya. Kita jangan main-main soal pendidikan moral, agama, serta budi pekerti.
Apa Tanggapan GNPF-MUI Terhadap ISIS dan Paham Radikalisme Masuk Indonesia?
Beberapa waktu yang lalu pihak Kepolisian mengusut dan mendalami peruntukan dana yang dikirimkan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) ke Turki. Penggunaan dana tersebut diduga berkaitan dengan kasus dugaan penyalahgunaan dana Yayasan Keadilan untuk Semua lewat rekening yayasan di Bank BNI Syariah. Ada dugaan dana ini dipakai untuk membantu ISIS. (Baca:Kapolri Sebut Ketua Yayasan Keadilan untuk Semua Jadi Tersangka)
Bachtiar Nasir sebelumnya mengatakan bahwa ada dana Rp 3 miliar yang dikelola untuk aksi bela Islam pada 4 November dan 2 Desember 2016 yang lalu. Nah rupanya dana tersebut berasal dari donasi masyarakat yang ditampung di rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS).
Meskipun belum terbukti apa-apa, mendengar apa pendapat GNPF-MUI terhadap ISIS dan juga penyebaran buku mengandung paham radikalisme di Indonesia patut kita tunggu. Saya sarankan mereka mengemukakan apa pendapat mereka tentang ISIS dan paham radikalisme secara terbuka diliput media. Ini penting supaya tidak ada dusta di antara kita.
Yakinkan kami, bahwa kalian tidak mendukung ISIS dan paham radikal. Sama, yakinkan Presiden Jokowi juga hal yang sama. Sebab kalau ini tidak clear, bisa ‘bahaya’ pertemuan kalian dengan Presiden Jokowi yang baik hati dan murah senyum itu.
Bukankah katanya GNPF-MUI mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah. Bahkan sampai meminta akses berkomunikasi segala. Ingat, Presiden kita ini sangat sibuk, dia pasti akan selalu memastikan pembangunan di daerah pinggiran, jadi jangan sita waktu dia terlalu banyak untuk hal-hal yang nggak terlalu jelas, kurang konkrit serta bersifat ‘bumbu penyedap’ semata.
Nggak percaya kalau Presiden Jokowi super sibuk (membangun daerah)? Nih lihat saja di sini biar semuanya menjadi semakin jelas: Jokowi Membangun Dari Pinggir
Akhirnya, supaya tidak berlama-lama, kita yang mendukung Jokowi harus meminta ketegasan jawaban GNPF-MUI terhadap paham radikalisme yang masuk Indonesia lewat banyak jalur, termasuk lewat buku pelajaran. Lalu apa komentar mereka tentang ISIS? Apakah mendukung, setengah mendukung, menolak halus, atau menolak keras? Kita tunggu.

Tidak ada komentar:
Write komentar