Berita Dunia Jitu - Presiden Joko Widodo (Jokowi) , Rabu (5/7/2017) kemarin melakukan kunjungan kerja ke Jerman dan Turki dalam rangka menghadiri KTT G-20 sekaligus mengelar pertemuan dengan Presiden Erdogan.
Di luar kebiasaanya, dalam rombongan tersebut terdapat anak-anak , menantu dan cucu Jokowi. Foto Jokowi beserta ibu Iriana, disertai Gibran, Kahiyang dan Kaesang plus menantu Selvy Ananda dan Jan Ethes tersebar dengan cepat di medsos, dibagikan grup-grup pembenci Jokowi yang sampai detik ini belum mampu move on dan selalu mencari kesalahan Jokowi, salah satunya si FZ. Tak pelak, sindiran dan hujatan ditujukan kepada Jokowi disertai tudingan seperti pelesir dengan alasan kunjungan kerja, studi banding.
Seperti mendapatkan amunisi, para pembenci Jokowi girang riang gembira mendapatkan amunisi untuk membully presiden dan keluarganya.
Padahal tidak aneh jika presiden melakukan kunjungan kerja membawa rombongan keluarga.
Perlu diingat, selama tiga tahun menjabat presiden, baru kali ini Jokowi membawa rombongan keluarga lengkap sampai cucunya dalam lawatan kerjanya. Selama ini, dalam kunjungan kerjanya, Jokowi tidak pernah membawa semua anak , menantu dan cucunya. Misalnya pada bulan November 2015 saat kunjungan ke Australia, China, dan Myanmar, Jokowi hanya disertai ibu Negara dan dua anaknya. Sementara bulan Juli 2016 saat kunjungan kerja ke Jepang Jokowi juga hanya mengajak dua anaknya , Kaesang Pangarep dan Kahiyang Ayu.
Padahal jika mau, Jokowi bisa saja membawa keluarganya untuk ikut kunjungan kerja karena memang tidak ada larangan. Jadi wajar saja kalau presiden membawa rombongan keluarga dalam lawatan ke luar negeri.
Bukankah sejak lama sudah biasa tuh pejabat seperti presiden, wakil presiden, Menteri, kepala daerah, DPRRI /D, kepala dinas, pejabat lain mengajak keluarga saat kunjungan kerja ke luar negari? Dulu, tidak banyak yang mencela , kenapa sekarang rombongan presiden beserta keluarga di cela?Bahkan Wakil Ketua DPR Fadli Zon turut mengkritik Presiden Joko Widodo .
“Meski tidak ada larangan tegas, membawa serta seluruh anggota keluarga dalam kunjungan resmi kenegaraan adalah tindakan yang kurang pantas. Presiden mestinya bisa menjadi teladan mengenai hal ini,” katanya. http://www.republika.co.id/berita/dpr-ri/berita-dpr-ri/17/07/06/osnx7t368-fadli-zon-soroti-kunjungan-kenegaraan-jokowi
Fadli Zon lupa bahwa ia pernah mengatakan kalau pejabat Negara membawa keluarganya waktu kunjungan kerja itu wajar saja. Saat itu terdapat sejumlah anggota DPR RI yang turut membawa istri dan anaknya saat menghadiri Konferensi Ketua Parlemen Sedunia di New York, Amerika Serikat.
Jokowi tidak melanggar aturan
Keberadaan keluarga dalam lawatan kerjanya, tidak melanggar aturan apapun. Dalam UU No 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan Administratif Presiden dan Wakil Presiden Serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden pasal 3 disebutkan bahwa disamping gaji pokok dan tunjangan sebagaimana dimaksud pasal 2, kepada presiden dan wakil presiden diberikan a) seluruh biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan tugasnya; b) seluruh biaya rumahtangganya; c) seluruh biaya perawatan kesehatan beserta keluarganya.
Sementara seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 164/PMK.05/2015 tentang Tata Cara Perjalanan Dinas Luar Negeri, keluarga pejabat negara tidak ada larangan ikut dalam rombongan. Pasal 2 diuraikan “peraturan menteri ini mengatur pelaksanaan dan pertanggungjawaban perjalanan dinas bagi pejabat negara, PNS, PPPK, Anggota TNI, anggota Polri, Pejabat lainnya, dan pihak lain yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara”. Adapun penjelasan Pihak Lain sesuai pasal 1 ayat 10 menjelaskan yakni “orang selain pejabat negara, PNS, PPPK, Anggota TNI, Anggota Polri, dan pejabat lainnya yang melakukan perjalanan dinas termasuk keluarga yang sah dan Pengikut.”
Jelas bahwa keluarga presiden bisa diajak serta dalam lawatan kerja ke luar negeri alias tidak melanggar aturan.
Pun, Jokowi biasa melawat ke luar negeri dengan membawa rombongan dalam jumlah kecil, sehingga dari segi biaya lebih efisien. Jika dibandingkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelas beda jauh. Informasi dari Biro Pers, Media dan Informasi Istana Kepresidenan , Jokowi dalam lawatan pertama kali setelah dilantik , mengunjungi tiga negara, yakni China, Myanmar dan Australia hanya membawa 43 orang. Yaitu staf kepresidenan, delegasi dan wartawan. Bahkan, saking iritnya, Kepala Biro Pers dan Media Istana Kepresidenan tidak diajak Jokowi.
Coba kita bandingkan dengan jumlah rombongan SBY saat menjabat presiden, dalam agenda yang padat semacam KTT APEC, KTT ASEAN, jumlah rombongan bisa hampir dua kali lipat, atau bahkan bisa lebih dua kali lipat rombongan Jokowi saat ini. Selain wartawan, SBY kala itu biasanya juga membawa beberapa staf khusus, yang kadang masing-masing staf khusus tersebut membawa asisten masing-masing. Untuk tim khusus yang bertugas menyiapkan teleprompter untuk keperluan pidato di podium pun diajaknya serta . https://www.merdeka.com/peristiwa/beda-sby-dan-jokowi-saat-lawatan-ke-luar-negeri/jumlah-rombongan-sby-lebih-banyak-ketimbang-jokowi.html
Jadi meskipun membawa serta keluarganya, sesungguhnya biaya perjalanan dinas Jokowi cukup efisien dan masih dalam batas kewajaran. Jadi kalau masih ada yang mengkritiknya, bisa jadi mereka sebenarnya iri karena tidak diajak dalam rombongan presiden tersebut.

Tidak ada komentar:
Write komentar