Jumat, 07 Juli 2017
Lagi-lagi Jangan Mau Dibohongi Gerombolan SumPek
berita Dunia Jitu - Ya Ampun, kata #Ndeso lagi booming, benar-benar Ndeso, saya pun jadi teringat kampung halaman yang dulu bernama Ujung Pandang, sekarang bernama Makassar, di kampung saya ini pernah populer kata “Makassar Bisa Tonji” yang kalau diterjemahkan dan ditafsirkan bisa menjadi “Makassar Bisa juga berprestasi bahkan Go Internasional” hehehe itu tafsiran saya saja, kurang lebih begitu. Tapi intinya hidup ini benar-benar Ndeso, meski kecebong juga perlu revolusi diri, dan pasti secara alamiah akan berubah. Lalu bagaimana dengan Sumbu Pendek Penghuni Bumi Datar?, kabarnya sih mereka akan melakukan revolusi besar-besaran. Yaitu revolusi pamer Sumbu. Hiha… Ndeso.
Salah satu teman di Makassar setelah mendengar kata Ndeso ini, ia bertanya “Apakah kejadian ini bisa dibilang java-cetris?”, rupanya pertanyaannya masih bersifat sentris-sentrisan, masih klasik, Ndeso kan?, padahal kita ini sudah Indonesia, berbeda-beda tapi tetap satu ikatan ideologi bernama Pancasila, maka dukunglah pemerintah dalam menegakkan nilai-nilai Pancasila, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tentu bukan hanya mengucapkan simsalabim lalu terjadi pemerataan kesejahteraan. Kita harus Kerja-kerja-kerja, nasib suatu bangsa bisa berubah kalau bangsa itu sendiri yang mengubahnya (usaha), seperti dalam Quran surah 13 ayat 11.
Apalagi kalau pemerintah masih bekerja dengan begitu giatnya, lalu masih banyak yang nyinyir-nyinyiran, maka tentu saja nyinyir tersebut tidak membantu pembangunan, malah menjadi penghambat berdirinya bangunan nasionalisme yang sedang akan berdiri kokoh, dan sangat disayangkan juga kalau para provokator yang menyulut tukang nyinyir itu ada dalam rumah rakyat, yang kerjanya setiap hari mencari celah agar pemerintahan bisa digerogotinya, meskipun mereka terlihat intelek tapi gayanya sumpek (sumbu pendek), betapa tidak, selalu saja ada pernyataan-pernyataannya yang bisa dibilang “koplak”, dan yahh..lagi-lagi Ndeso.
Ahh…sudahlah, kalau kita menanggapinya dengan serius bisa-bisa kita ketularan menjadi Sumpek (sumbu Pendek) juga, kita tanggapi saja dengan bercandaan, karena dunia ini sudah seperti panggung para pelawak yang ber-stand-up comedi ria, namun esoknya masih tegang urat lehernya sebab masih bingung bagaimana menentukan arah tujuan skenario yang dibebaskan untuk memilihnya, dan hanya ada dua pilihan, Sumpek Ndeso (sumbu pendek dan benar-benar Ndeso) atau “Sumbu Panjang”, yang sumbu-sumbunya dapat menyebarnya sinar kecemerlangan sehingga melihat hidup ini secara holistik, bukan secara datarnya bumi yang justru malah membekukan otak dan meradangnya akal serta kejang-kejang syarafnya, seperti terjadi korslet.
Oh…di sebelah ruang kelas sana terdengar bisik-bisik “Hei Daenk, sepertinya Tuhan sedang tertawa karena ada makhluk yang memaksa dua arah berbeda menjadi satu, ngotot lagi, dan Sepertinya Tuhan pun geleng-geleng melihat kelakuan makhluk yang memaksa Toleransi dalam wadah intoleransi atau sebaliknya, khan pusing juga. Ini sama juga dengan makhluk-makhluk yang meneriaki Aparat sebagai thoghut, kafir harbi, musuh islam, dan lain-lain, tetapi doyan lapor ke Aparat untuk merengek-rengek memaksa Aparat menjewer orang yang tidak disukainya?, kan Ndeso” Duh lagi-lagi kata Ndeso ini keluar secara automatic dari mulut teman yang lahir di Makassar. Olala..
Tapi, begitulah, ini guyonan namun juga sangat bersifat serius, pasalnya, sifat intoleran sangat menonjol pada orang-orang yang merasa diri telah mewakili Tuhan sehingga berhak menghukum siapa saja yang dianggapnya berbeda, atau paling tidak kalau mengusik sifat Intolerannya otomatis langsung bereaksi, seperti kata Ndeso ini yang dilontarkan akibat dari “kekonyolan” dan Suku Sumbu Pendek penghuni Bumi Datar.
Sampai kapankah virus-virus seperti itu menggeroti bangsa ini?, berbicara dan ingin menerapkan toleransi malah disikapi dengan “NDESO”, yah…lagi-lagi begitu. Sulit untuk move on dari suatu keadaan yang sebenarnya menyakitkan ke keadaan yang rileks, santai dan selalu tersenyum melihat pelangi yang warnanya kaya keragaman.
Keadaan yang tidak menyenangkan itu sebenarnya diciptakan oleh diri sendiri. Misalnya : Melihat orang memakai mobil bagus, seharusnya bisa senang karena ada nilai seni dari desain mobil itu sehingga menambah hikmah jiwa bahwa betapa kreatifnya Tuhan yang telah menciptakan akal sehingga manusia bisa merubah benda-benda yang tadinya hanya melompong menjadi benda seni dan bisa mobile lagi, namun kalau sebaliknya, jiwa merasa resah karena ingin juga memiliki mobil bagus namun belum ada kemampuan materi untuk mewujudkannya, jika keresahan ini terus dipelihara maka lama-lama menjadikan jiwanya benar-benar Sumpek (Sumbu Pendek), tinggal dipicu saja korek langsung terbakar. Hiha…lagi-lagi Ndeso.
Demikian pula halnya dengan masalah perbedaan atau beda keyakinan, orang-orang yang sumpek atau Intoleran itu akan selalu resah karena melihat perbedaan keyakinan itu, dan keresahannya itu dipelihara terus sehingga segala cara dilakukan untuk memuaskan keresahannya, mulai dari serangan di sosial media hingga di sosial masyarakat benar-benar melakukan aksi yang sangat membahayakan, contohnya adalah ISIS dan para fansnya serta yang berafiliasi dengannya, mereka ini adalah orang-orang yang membuat dirinya tidak nyaman sendiri, dan kita lihat aksi-aksi konyol dan merusak sering dilakukan, dan untuk menutupi aksi bobroknya itu mereka berlindung atas nama agama. Agama benar-benar dibatasi, membuat dirinya resah sendiri. Ndeso kan?, padahal semua manusia secara default terlahir sudah berbeda, bahkan sidik jarinya pun sudah beda.
Ketika Kaesang berguyon bahwa ideologi seperti itu Ndeso, secara aksiomatis atau benar dengan sendirinya, tiba-tiba terjadi atau langsung muncul orang yang Ndeso itu, dengan pede-nya ia melapor dan merasa sedang membela Islam, Dasar Ndeso, hehehe. Laporannya itu makin membuat dirinya tidak nyaman, dan tentu saja waktu untuk istirahatnya terganggu, dan kasus-kasusnya kembali diungkit, makin pening pala berbie deh.
Orang-orang yang seperti ini mungkin masih banyak di sana, masih resah, masih gelisah, dan masih merasa sedang mewakili agama, dan diwujudkannya lewat aksi-aksi intoleran. Benar-benar Ndeso. Bukannya kita bisa tersenyum jika melihat keragaman ini membentuk makna yang lebih dalam tentang kebesaran Allah SWT?, andaikan mereka tidak Sumpek (Sumbu Pendek) tentu saja senyumannya bercahaya, membuat alam semesta senantiasa berseri, bahkan rasa cintanya akan senantiasa terpancar. Ohh…kenapa ini bisa terjadi ya?, ya Rasulullah..
Semoga setelah kejadian Ndeso ini, akan berkurang kesumpekan, dan tidak lagi Ndeso.
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Write komentar